pratamagta

Friday, January 13, 2012

BUNUH DIRI MASSAL 2012 ( part.4 Bagaimana Akan Dilaksanakan )


lanjutan dari Bunuh Diri Massal part 3
Sebelumnya, saya memohon maaf yang sebesar-besarnya kepada semua yang membaca tulisan ini. Saya telah membunuh mimpi. Bagi saya, membunuh mimpi seseorang adalah salah satu dosa paling besar, dan harus masuk neraka paling dasar. Saya membuat puluhan ribu orang memupus mimpi mereka. Bagaimana tidak? Kapasitas Gedung MPR/DPR hanya sekian ratus, sekian ribu… Sementara itu, ada hampir tigapuluh ribu orang yang ingin ikut bunuh diri secara massal bersama saya. Seperti sudah saya katakan sebelumnya. Semua yang mendaftar akan diseleksi.
Ada beberapa alasan bunuh diri yang menjadi favorit saya. Kalaupun tidak jadi favorit, ada beberapa yang mencuri perhatian.
RAMANDA
Saya ingin, sekali saja, duduk di kursi MPR/DPR. Saya sudah mengerahkan segala kemampuan dan uang, sampai-sampai orang menganggap saya gila setelah mengeluarkan 8 miliar dan gagal jadi anggota DPR. Sekarang saya sudah rela mati, asalkan sempat duduk di sana. Terima kasih karena telah memindahkan tempat dari Monas ke MPR/DPR.

SIDHASADYA
Tentu saja karena takdir. Apalah arti sebuah nama? Untuk saya, nama ini penting. Sidha berarti mati. Saya sedia mati.

Life is God’s game, humans are the pawns. Tapi gue bukan pion. Gue udah menentukan cara gue hidup. Menurut gue, gue jugalah yang seharusnya menentukan cara gue mati. Bukan supir truk yang mabuk, bukan pembunuh berantai, bukan sel kanker.
Ketika membaca formulir pendaftaran yang terakhir, saya segera mengidolakan si pendaftar yang bernama Jojo itu. Ingin sekali saya mengangkat gagang telepon yang ada di depan saya dan menghubungi nomor ponsel Jojo yang tertera pada lembaran ini.
Awalnya, saya kira, mereka semua ingin berpartisipasi dalam bunuh diri massal ini karena sudah tidak tahu apa yang harus dilakukan dalam hidup mereka. Ketika kita menyetir ke suatu tempat yang jauh dan kehilangan arah, kadang-kadang kita ingin berhenti dan mengambil arah putar balik. Kembali ke tempat semula, kembali ke awal, ketika kita tahu kita takkan pernah mencapai tujuan dan sudah terlalu lelah akan sebuah rintangan. Ternyata, Jojo justru menilai sebaliknya. Ia ingin bunuh diri untuk melengkapi hidupnya. Tidak karena putus asa, tetapi hanya ingin menentukan sendiri cara ia mati, kapan ia mati, di mana ia mati. Bunuh diri untuk menyempurnakan hidupnya.
Saya jadi kembali berpikir. Sejak awal perencanaan acara bunuh diri massal sampai hari ini, belum ada satupun dari kami yang mencetuskan bagaimanabunuh diri massal akan dilaksanakan. Ada banyak cara untuk bunuh diri. Minum racun atau obat tidur sebanyak-banyaknya, menembak diri melalui mulut atau pelipis kepala seperti di film-film, lompat dari atas gedung tingkat 30 atau 25 saja juga bisa dilakukan. Cara terakhir cukup menarik. Ada begitu banyak gedung pencakar langit yang dibangun di Jakarta. Mengapa bangunan-bangunan itu dibangun dengan sekian banyak lantai? Bisa saja untuk memfasilitasi orang-orang yang ingin bunuh diri, bukan? Jadi, kenapa tidak dimanfaatkan?
Sayangnya, lokasi juga sangat menentukan bagaimana kita akan melaksanakan hal ini. Gedung MPR/DPR sangat besar. Bisa saja kami meminta beberapa orang profesional, bahkan yang sudah ada di dalam penjara karena kasus bom Bali dan bom lainnya, untuk membuatkan bom berskala besar yang mampu membunuh satu atau dua ribu orang. Kalau tidak bisa, kami akan meminta mereka untuk membuat sepuluh bom, masing-masing mampu membunuh tiga ratus orang, itu juga sudah lumayan. Tapi, negara ini sudah miskin. Acara ini akan kehilangan esensinya apabila prosesi bunuh diri nantinya justru menyulitkan negara. Saya pribadi sebenarnya ingin meringankan beban presiden dengan mengajak ribuan orang untuk bunuh diri bersama-sama.
Mungkin program Keluarga Berencana tidak perlu lagi digalakkan. Hal itu selalu sulit, bukan, karena orang-orang Indonesia menganut faham “banyak anak, banyak rejeki”? Sebaiknya mereka menukar program KB dengan acara bunuh diri massal. Dana yang dibutuhkan tidak banyak. Hanya perlu menyediakan tempat, menyediakan kertas untuk formulir, dan sebuah line telepon untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang masuk. Kami di sini bekerja secara sukarela, tentu saja. Toh, dalam hitungan hari, kami akan mati bersama-sama di dalam gedung beratap hijau tersebut.
Saya kembali melihat satu demi satu formulir pendaftaran yang sudah diisi, meski jumlahnya ada ribuan. Bagaimana acara ini akan dilaksanakan? Membakar Gedung MPR/DPR? Menyewa penembak jitu untuk menembak ribuan orang satu persatu? Menyediakan ribuan senjata api agar peserta bisa menembak bagian manapun dari tubuh mereka? Menyiapkan berliter-liter racun arsenik agar kami semua dapat meninggal semulia Munir? Atau menyemprotkan gas beracun ke dalam Gedung MPR/DPR dalam jumlah yang tidak masuk di akal?
Cara-cara bunuh diri yang ditulis oleh calon peserta semuanya biasa-biasa saja. Tidak ada satupun yang spektakuler. Minum racun. Tembak mati. Memutus urat nadi dengan silet. Buat apa ikut bunuh diri massal jika ingin bunuh diri dengan cara seperti itu? Lakukan saja di kamar Anda. Saya segera mencari formulir milik Jojo dan…
Cuma gue yang boleh tau bagaimana gue akan mati.
***
 Mendadak, segala sesuatunya meledak diluar perkiraan.
Pertama, keputusan bahwa kegiatan ini akan digelar di Gedung MPR/DPR ternyata membuat jumlah peserta menjadi meningkat. Hampir 30 ribu orang kini terdaftar sebagai calon peserta!
Susi, sekretaris panitia, kini tak sempat lagi mampir ke salon sepulang dari kantor. Sekarung formulir pendaftaran yang datang setiap saat, membunuh waktu luang Susi. Ah, kasian saya melihatnya, hingga saya berpikir untuk merekrut anak magang bekerja dalam kepanitiaan.
Dan anak magang itu adalah gadis kecil berumur 17 tahun!
Dia datang membawa gulungan kertas besar, masuk ke ruangan saya dengan berbalut kaos putih ketat bertuliskan huruf kapital besar berwarna merah; SUICIDE IS ROCK!
Bah!
Pusing saya melihat anak magang satu ini. Dalam hati, saya jadi penasaran, sesungguhnya dia tahu nggak sih makna dari tulisan yang tertera persis diatas buah dada-nya yang belum tumbuh sempurna itu?
“Ini gulungan peta-nya pak.” Kata si anak magang. Saya segera meraihnya, Perwira Polisi yang tempo hari berbicara dengan saya untuk memutuskan tempat kegiatan dilaksanakan, mengirimi gulungan cetak biru Gedung Parlemen Indonesia. Lalu handphone saya berdering.
“Pak Ketua?”
“Siap.”
“Sudah terima cetak birunya?”
“Siap. Right on my desk.”
“Jadi begitu ya pak Ketua.”
“Begitu bagaimana?”
“Loh, saya sudah nitip pesan pada panitia yang ngambil peta itu dikantor saya tadi, dia belum bilang?”
Saya melirik tulisan diatas buah dada itu; SUICIDE IS ROCK yang bergerak kesana-kemari. Si anak magang nyengir kuda!
“Saya bilang, kapasitas gedung parlemen kita terbatas, hanya untuk seribu orang Pak Ketua.”
“Begitu ya?”
“Jadi, Anda harus menyeleksi peserta yang 25 ribu itu menjadi seribuan orang Pak Ketua.”
“Pendaftarnya sudah 30 ribuan orang.” Selaku.
“ Hah ? Segitu banyaknya pak ? ”
“Ya, segitu meningkat pesat sejak Anda memutuskan kegiatan akan dilangsungkan di gedung parlemen.”
“Gila!” sahut sang perwira polisi dari seberang, “Mereka sadar kan kalau mereka ke Gedung Parlemen untuk mati, bukan untuk jadi anggota dewan?”
“Yah, mungkin, banyak yang ingin mati secara terhormat Pak.” Sahut saya.
“Gila!” Teriak sang perwira, membuat saya refleks menjauhkan handphone dari telinga sendiri, “Orang-orang sudah pada gila rupanya!”
*

Banyak hal yang membuat orang-orang menjadi gila.
Dan tugas si anak magang untuk menyiapkan laporan pada si perwira polisi yang meminta data latar-belakang peserta yang disebutnya ‘sudah pada gila’ itu.
“Seribu orang peserta, datang dari Sidoarjo, Jawa Timur. Mereka korban Lumpur Lapindo pak.”
“Seribu orang lain masuk kategori korban dan lain-lain.”
“Maksudnya dan lain-lain?”
“Yaaah, bapak tahulah,” kata si anak magang, “Korban gusuran, korban kenaikan harga-harga. Korban ketidak-adilan negeri ini.” Terang si anak magang lagi, “Karena kategorinya banyak, saya kelompokkan menjadi ‘Korban Dan Lain-Lain.”
“Hmmm, cerdas kamu!” puji saya. "Korban cinta, adakah yang masuk kategori korban cinta?"
Si anak magang menggeleng. Dari 30 ribu orang dan belum ada satu pun korban cinta? Sial!
Tiba-tiba pintu ruangan saya terbuka, Susi, sekretaris saya masuk bersama seorang laki-laki paruh baya.
“Pak Ketua.” Kata Susi, “Ini professor itu.”
Saya segera berdiri menyambut uluran tangan dan senyum hangat si Profesor. “Apakabar?” sapa saya, sang professor mengangguk.
“Saya sudah siapkan apa yang Pak Ketua minta.” Ujar si professor. Wow! Bisik saya dalam hati, tanpa basa-basi, benar-benar ilmuwan sejati. Sang professor segera membuka tas koper hitamnya, dikeluarkannya beberapa gulungan kertas, dan dibukanya diatas meja, persis diatas cetak biru gedung parlemen.
“Ini rencananya.” Kata sang professor kemudian. Saya memperhatikan gambar dalam gulungan kertas yang terbuka itu. “Saya akan membuat Gedung Parlemen menjadi kamar listrik raksasa!” serunya.
“Wow! That’s rock!” seru si anak magang terlonjak dari tempatnya berdiri. Suicide is Rocknya bergoyang-goyang kesana kemari. Sementara saya merasa sangat excited dengan rencana si professor yang sangat brilian itu. Konsepnya memang berawal dari sesuatu yang sederhana, kursi parlemen sering disebut sebagai kursi panas. Jadi tak ada salahnya, kegiatan Bunuh Diri  itu nantinya akan menerapkan istilah tersebut. Panas yang mematikan!
“Bagaimana?” Tanya si professor. Saya mengangguk-angguk.
“Bravo, prof!” puji Susi seolah mewakili saya.
“Ya, hanya tinggal satu masalah besarnya.”
“Apa?” Tanya saya.
“Ijin Gedung Parlemen?”
“Sudah saya kantongi Prof. Para anggota dewan sedang reses pada tanggal itu, kalau pun tidak, mereka mungkin sedang berkunjung ke luar negeri, studi banding Prof.”
“Atau kita buat reses sekalian? Hahaha.” Sang Profesor berusaha bercanda.
“Berapa daya listrik yang dibutuhkan Prof?”
Kening sang Profesor berkerut. Kerut yang tak akan kembali walau sudah diolesi kosmetik pencerah kulit bermerk sekalipun. “Itu dia…” kata sang Profesor tertahan.
“Prof?”
“Ingat akhir pekan kemarin sebagian Jakarta mati lampu?”
“Ya?”
“Itu saya sedang melakukan uji coba, hingga membuat sebuah gardu meledak, dan uji coba saya berantakan!” terang sang Profesor. “Pasokan listrik di Jakarta tak akan cukup untuk merealisasikan rencana ini.”
“Maksud Profesor?”
“Jika rencana ini dijalankan, maka pada hari pelaksanaan kegiatan, seluruh listrik di Jakarta akan padam, karena semua akan dialirkan ke Gedung Parlemen.”
“Berapa besarnya itu Prof?”
“Sekitar 150 Kilo Volt!”
“Wow! That’s rock!”
Aku melirik si anak magang.
“Susi…” panggil saya pada sekretaris saya yang berambut semakin kucel karena mulai jarang ke salon itu. “Bisa kamu ajak si anak magang ini keluar ruangan?”
Tanpa dua kali permintaan, Susi segera meraih pergelangan tangan si anak magang, lalu menariknya keluar ruangan.
“Kita punya masalah besar, bukan begitu Prof?”
Sang professor mengangguk.
“Masalah kekurangan daya listrik memang tak akan pernah terselesaikan,” kata si Profesor.
“Kenapa?” Tanya saya.
“Karena Pemerintah takut, stok listrik yang berlebihan, akan dipakai oleh rakyat untuk menyetrum diri Pemerintahnya sendiri!”
“Wow! That’s rock, professor!” seru saya. “Di negeri ini, ide yang nyetrum aja bisa dianggap berbahaya.”
bersambung ke part 5..... KLIK DISINI  untuk membaca


Beri tanggapan klik DISINI ya, jangan pelit - pelit
kembali ke PESAN PENULIS

BUNUH DIRI MASSAL 2012 ( part.3 Perubahan Lokasi )

lanjutan dari BUNUH DIRI MASSAL 2012 PART 2

Tanggalnya sudah ditetapkan.
Harinya otomatis demikian.
22 Oktober 2012. Pukul 10 pagi Waktu Indonesia Bagian Barat.
Tempat pelaksanaanya juga sudah ditentukan, malah sejak awal saya merencanakan menggelar kegiatan akbar ini di Lapangan Monas kan?
Tapi kadang, rencana tak semulus paha perempuan. Selalu saja ada bopeng bekas terkena knalpot motor dipaha-paha mulus yang mudah dielus itu. Susi masuk ke kantor saya, membawa surat panggilan kepolisian. Saya diminta datang ke Polda Metro.
Maka, disinilah saya berada sekarang, dalam sebuah ruangan berpendingin, dibalik meja jati dengan tumpukan map diatasnya. Seorang perwira menatap muka saya dengan mimik berkerut.
“Acara anda itu,” katanya seraya membetulkan letak ikatan dasi merahnya agar sejajar dengan benik kemeja. “Kegiatan apa ini?” dia melirik pada selembar kertas diatas meja kerjanya, “Bunuh Diri Massal 2012!”
Saya mengangguk dengan mantap. Sang perwira kembali menatap saya, sinar matanya menyiratkan keheranan, absurd, begitu pasti benaknya berpikiran. Tapi kemudian, laki-laki itu melanjutkan apa yang hendak dia katakan sejak awal; “Menurut telepon dari Bapak Kapolda, dan atas arahan Bapak Kapolri, tidak bisa dilaksanakan di Lapangan Monas!”
Tentu saja saya terkejut setengah mati. “Apa? Kenapa?!”
“Pokoknya, kegiatan Anda itu, tidak bisa digelar di Lapangan Monas!”
“Alasannya apa?” Tanya saya ngotot.
“Bapak ini bagaimana sih?” ujar sang perwira seraya berdiri dengan kedua telapak tangan menekan meja jatinya, “Terakhir kali ada organisasi yang menggelar sebuah acara di lapangan Monas, berakhir dengan kerusuhan, padahal acara yang digelar mengusung tema nasionalisme, kebersamaan!” ujar sang perwira berapi-api. “Bisa dibayangkan jika sekarang Anda mau menggelar kegiatan yang bertema kematian seperti ini? Bunuh Diri Massal 2012?”
“Lho, jangan salahkan panitia yang menggelar kegiatan dong? Mau acara nasionalisme, mau kematian, tugas Polisi kan mengamankan jalannya kegiatan? Bukannya terus melarang-larang, kalau dituruti, pertandingan sepakbola juga maunya kalian larang kan? Terus apa yang sebenarnya kalian pelajari di akademi kepolisian? Kalau cuma melarang, pacar saya juga bisa!”(maaf ya yank ini just cerpen ajha hehehehe oke lanjutin dulu ya lagi seru nih...) sahut saya ketus. “Nah, dari pada melarang-larang begitu, mending kalian ikut bunuh diri aja sekalian bersama kami! Gimana?”
Wajah sang perwira merah padam.
Lalu keluarlah kalimat andalan yang sepertinya diajarkan di hari pertama, semester pertama, di bangku akademi kepolisian itu; “Saya hanya menjalankan perintah.”
“Perintah siapa?”
“Ya perintah atasan.”
“Begini ya pak, kami ini mau bunuh diri.” Kata saya berusaha tenang, “Mohon kerjasamanya, sekali ini saja pak, saya dan ribuan peserta lain itu cuma mau bunuh diri, tolong jangan dipersulit.”
“Mohon Anda mengerti saya juga, saya hanya menjalankan perintah atasan.”
“Nyari kerjaan sulit, nyari makan apalagi, minyak langka, listrik kurang pasokan, sekarang mau bunuh diri aja dipersulit. Saya nggak ngerti Negara ini maunya apa!”
“Saya peringatkan saudara untuk hati-hati kalau bicara!” seru sang Perwira seraya menggebrak meja.
“Bapak kenapa emosi? Mau menembak saya?” Tanya saya, “Pak denger ya, saya ini mau bunuh diri, mau mati pak, heran deh.”
Sang perwira terdiam. “Gimana kalau kita cari solusinya bersama-sama?” tawar sang perwira. “Saya dan jajaran kepolisian akan mendukung kelancaran kegiatan anda itu, tapi jangan dilakukan dilapangan Monas.”
“Oke,” sahut saya, “Tapi dimana dong?”
“Berapa jumlah peserta?”
“Sampai saat ini, sudah 25 ribu orang pak.”
“Dua puluh lima ribu orang?!”
Saya mengangguk.
“Hmm, banyak juga ya?”
“Itulah pak, kenapa saya menggelar acara tersebut di Lapangan Monas.” Kata saya kemudian, “Bapak nggak perlu khawatir, semua peserta sudah mengisi formulir lengkap, termasuk menyertakan nama anggota keluarga yang akan mengurus jenazah-jenazah mereka nantinya.”
“Hmm, begitu ya?”
Saya mengangguk.
“Tapi tetap tidak bisa dilakukan di Lapangan Monas, itu sudah petunjuk Bapak Kapolri sejak kejadian rusuh tempo hari.”
“Lho, bapak harusnya senang, kami bunuh diri itu sudah mengurus diri kami sendiri, disebuah tempat yang saya urus ijinnya.” Kata saya memberi penjelasan pada sang perwira, “Kami nggak bunuh diri sembarangan lho pak, dengan meledak ditempat-tempat umum!”
“Iya, saya menghargai itu.” Kata sang perwira, “Tapi perintah tetap perintah, jangan di Lapangan Monas.”
“Kami juga nggak menggelar sembarang kegiatan dipinggir-pinggir jalan hingga bikin macet jalanan pak!”
“Perintah atasan!”
*

Pembicaraan itu deadlock.
Kutu kupret memang! Saya memaki dalam hati. Mau bunuh diri aja susah. Kami berdua terdiam, sang perwira tampak berpikir keras. Sementara saya tetap ngotot agar ijin pelaksanaan kegiatan tetap dikeluarkan.
“Bagaimana kalau acara saudara itu dilaksanakan di ruangan tertutup?” kata sang perwira pada akhirnya, memberikan usulan.
“Itu petunjuk siapa? Atasan juga?”
“Enak aja, itu saran saya sendiri.”
“Maksudnya di aula gitu?”
“Iya.” Jawab sang perwira, “Sebuah tempat tertutup yang tidak bisa dilihat publik."
“Memang menurut bapak, ada tempat representatif yang mampu menampung 25 ribu orang sekaligus?”
“Gimana kalau Stadion Gelora Bung Karno?”
“Bunuh diri di Stadion?”
“Iya.”
“Bapak ini gimana sih,” ujar saya cepat, “Bapak melarang Persija main di Stadion Gelora Bung Karno, sekarang bapak mengijinkan saya menggelar acara Bunuh Diri Massal disana, bapak mau ribuan supporter The Jak Mania merasa dianaktirikan dan melancarkan protes lalu mengganggu kekhusyukkan kami bunuh diri?” lanjut saya, “Bapak mau kami semua mati penasaran?”
Kening sang perwira berkerut abis. “Iya ya, benar juga apa kata saudara.”
*

Lima menit, ruangan berpendingin itu kembali hening. Saya sih tetap berharap, kegiatan akbar Bunuh Diri Massal itu tetap digelar di Lapangan Monas. Tapi ternyata, sang perwira menemukan ide baru lagi, ide yang ditemukannya tanpa arahan atasan, karena tiba-tiba, mimik wajahnya berseri.
“Saya tahu sekarang, di mana kegiatan saudara itu bisa dilaksanakan tanpa mengganggu masyarakat dan memancing kerusuhan dari pihak mana pun.” Katanya dengan semangat.
“Di mana pak?”
“Kita gelar di Gedung Majelis Perwakilan Rakyat!”
“Gedung MPR/DPR?” Tanya saya takjub.
“Ya!” Seru sang perwira, “Anda dan 25 ribu peserta kegiatan itu rakyat juga kan? Rakyat yang hendak menentukan hak pilihnya, mau hidup terus di Negara ini atau tidak, iya kan?”
“Ya!” sahut saya.
“Kalau begitu, Gedung MPR/DPR lah yang paling tepat. Lakukan disana, saya akan urus ijin dan tetek bengek lainnya. Itu gedung milik rakyat, tempat rakyat juga.”
“Bapak dulu berprestasi ya di Akademi Kepolisian?”
“Kenapa saudara bertanya begitu?”
“Karena bapak cerdas!”
Semua sudah siap sekarang.
Waktu sudah ditentukan, tempat sudah ditetapkan, ijin sudah diurus.
Pada tanggal 22 Oktober 2012
Pukul 10 pagi Waktu Indonesia Bagian Barat.
Bertempat di Gedung MPR/ DPR akan dilaksanakan kegiatan akbar Bunuh Diri Massal 2012. Masih ada formulir untuk Anda yang ingin berpartisipasi, memeriahkan acara ini.
Jadi, tolonglah, jangan ada yang bunuh diri duluan, sendirian, itu benar-benar nggak keren!
Baca terusannya ya, silahkan klik DISINI



Beri tanggapan klik DISINI ya, jangan pelit - pelit
kembali ke PESAN PENULIS

BUNUH DIRI MASSAL 2012 ( part.2 Alasan Bunuh diri )


lanjutan dari BUNUH DIRI MASAL 2012 PART 1
Seperti hari-hari belakangan ini, batre handphone saya lebih cepat habis dari biasanya, telepon masuk setiap satu menit sekali, bahkan saat tengah online, masih juga ada telepon yang mengganggu via nada sela. Mereka yang beruntung, akan langsung bisa berbicara dengan saya, seperti suara yang satu ini, suara cewek;

Halo?
Ya...
Saya mau...
Maaf, aku segera menyela kata-kata si cewek. Peserta kegiatan Bunuh Diri Massal ini hanya untuk laki-laki, ujarku.
Oh tentu, saya bukannya hendak mendaftar, tapi ingin mewawancari Ketua Panitianya.
Ups, begitu ya? Baiklah. Apa pertanyaannya?

Kenapa anda bisa sampai punya gagasan untuk mengadakan kegiatan Bunuh Diri Massal itu?
Hmm, kata saya sedikit memutar otak. Begini, Orang-orang yang menabrakkan diri pada kuda besi yang tengah melaju dengan kencang! Sejak kecil, saya selalu menemukan potongan tubuh manusia yang tercerai berai disantlap kuda-kuda besi yang tak mampu berhenti mendadak itu. Kuda-kuda besi yang lajunya dilindungi undang-undang, sehingga kapan pun di hendak lewat, semua harus berhenti. Setiap pagi, siang, sore, malam, saya selalu melihat orang-orang berkerumun di jalur kereta api. Semua bahu-membahu mengumpulkan potongan tubuh manusia, darah berceceran. Orang-orang yang bunuh diri. Hampir setiap hari. Selalu menghantui saya setiap malam. Mimpi buruk saya saat tidur. 

Hingga saya selalu punya pertanyaan dalam benak saya sejak kecil.
Apakah itu?

Ketakutan apa yang menghinggapi orang-orang yang bunuh diri itu, sehingga mampu mengalahkan ketakutan mereka saat memutuskan untuk berdiri dihadapan kuda besi yang melaju kencang dan meremukkan tubuh mereka?

Bisa diulang? Halo? Putus-putus mas...
Ketakutan seperti apa?
Saya, sampai sekarang, tak pernah menemukan jawabannya.
*

Semuanya laki-laki. Peserta acara akbar ini, harus laki-laki. Dan, saya memutuskan untuk menyeleksi satu demi satu, mereka yang mendaftar pada acara ini;

Ratusan bahkan meningkat menjadi ribuan, sejak iklan televisi Bunuh Diri Massal itu disiarkan di televisi; BUNUH DIRI ADALAH PERBUATAN! Formulir pendaftaran mengalir terus dengan deras. Meja kerja saya menjadi tenggelam oleh tumpukan formulir. Dan saya sudah bertekad, untuk membaca satu-demi-satu formulir-formulir itu. Mataku langsung tertuju pada kolom isian, alasan kenapa mereka ingin ikut acara Bunuh Diri Massal ini;

ANDI;
Saya tak sanggup lagi hidup di dunia, saya menderita leukimia.

SOFYAN;
Hidup sangat berat. Harga-harga mencekik dan membuat saya tak mampu lagi mencukupi kebutuhan keluarga saya. Biarlah saya mati bersama-sama kalian!

ANWAR;
Saya ingin membantu negara ini mengurangi angka pengangguran.

Saya cuma mau mati. MATI! HIDUP MATI!

YOSEP;
Memang, apa enaknya hidup di negeri ini?

JATMIKO;
Saya tinggal sebatang kara dan sakit-sakitan. Dari pada merepotkan.

BAMBANG;
Saya menanggung banyak hutang. Ijinkan saya mati.

EKO;
Negeri ini, negeri yang subur tapi tak mensejahterakan, menjadi rakyatnya bagaikan hidup di neraka. Jadi, lebih baik saya ke neraka yang sebenarnya bersama kalian.
*

Sekian ratus lembar formulir sudah saya baca.
Sekian ratus alasan sudah saya simak.
Tapi hati saya merasa kosong, ada jawaban yang saya harapkan, tapi tak saya dapatkan di lembaran-lembaran formulir itu. Hey, kita mau mati bersama-sama, tidakkah ada yang ingin mati karena alasan tak bisa membanggakan orang tua??

Apakah itu tak lagi menjadi alasan yang indah untuk mati?
Sialan keparat! Kenapa nggak ada yang ingin mati karena orang tua atau  Demi cinta? Dasar keparat semua! Saya mengobrak-abrik tumpukan kertas diatas meja. Hingga membuat Susi, sekretaris panitia mendobrak pintu masuk ruangan saya.

Ada apa pak?
Coba kamu perhatikan lagi semua alasan peserta.
Cek satu persatu, jika ada diantara peserta itu yang menyatakan bahwa alasan bunuh dirinya karena tak di hargai orang tuanya. Kamu bilang ke saya, mengerti?
Susi mengangguk.
*

Susi yang baik, kata saya seraya tersenyum, saya ingin menemukan orang yang mau mati karena tak bisa membanggakan orang tua atau karena cinta..... Dan semoga ada.
baca selanjutnya silahkan KLIK DISINI

Beri tanggapan klik DISINI ya, jangan pelit - pelit
kembali ke PESAN PENULIS

BUNUH DIRI MASSAL 2012 ( part 1 . sayalah sang ketua )


            Saya, mengeluarkan kartu nama saya. Tertera jelas nama dan jabatan saya di kartu itu; Ketua Panitia Bunuh Diri Massal 2012.. dan setiap orang yang saya temui, saya bagikan kartu nama itu. Target saya adalah orang – orang yang berwajah sayu, bermuka pucat, mimik wajah yang putus asa. AAHH saya adalah pahlawan bagi mereka, dari pada kita hidup dengan penuh keputus asaan, mari kita bersama sama berpartisipasi dalam acara paling akbar di tahun ini. BUNUH DIRI MASSAL 2012. Bersama saya

Dan ternyata sambutannya luar biasa, handphone saya yang nomornya tertera di kartu nama saya itu, hampir setiap saat berbunyi, menanyakan apakah masih ada tempat untuk mereka yang ingin berpartisipasi, oh tentu saja, saya akan menggelar event akbar ini di Lapangan Monas. Tentu saja ribuan orang boleh berpartisipasi, tidak ada istilah kehabisan seat, setiap orang berhak untuk memutuskan hidupnya mau diakhiri sekarang atau nanti, menyerah pada takdir atau memutuskannya sendiri, hidup adalah sebuah pilihan bukan?

Maka, suatu pagi yang kelam dan sendu, dengan rintik gerimis hujan yang jatuh berebutan, saya mendapatkan ide dahsyat itu. Kegiatan akbar bunuh diri massal 2012 ini harus bisa masuk Museum Rekor Indonesia, semua orang harus melihat kegiatan akbar ini sebagai sejarah, sejarah bahwa kehidupan membawa keputusasaan. Ya, keputusasaan adalah panglima komando tertinggi dalam acara ini. Maka, agar dilirik MURI, saya bermimpi ribuan, bahkan jutaan orang terlibat dan memeriahkan acara akbar ini. Akhirnya saya mengangkat telepon, memesan ribuan spanduk dan merancang iklan televisi serta iklan cetak. Berapapun biayanya, akan saya bayar setelah kegiatan selesai dilaksanakan.

Jadi, kalau kamu laki-laki, dan hatimu hancur berkeping tanpa sisa. Kenapa kamu nggak ikut acara saya ini? Bunuh Diri Massal 2012. Tak ada uang pendaftaran untuk berpartisipasi, syaratnya hanya satu untuk ambil bagian dalam acara ini, kamu haruslah LAKI-LAKI dengan hati yang tak ada lagi!


Sekarang, saya akan beri kamu waktu untuk berpikir, mau ikut acara ini atau tidak. Nanti, saya lanjutkan lagi. Berpikirlah, dari sekarang. Karena hidup adalah menentukan pilihan...

Perhatikan sekali lagi kartu nama saya; Ketua Panitia Bunuh Diri Massal 2012. Artinya, saya akan didepan, memimpin acara itu dilaksanakan. Gimana, ikut?
baca lanjutannya, klik disini


Beri tanggapan klik DISINI ya, jangan pelit - pelit
kembali ke PESAN PENULIS

Wednesday, December 28, 2011

Cintanya Menyelamatkan Jiwa

Tertunduk layu ketika padam.
merintih merasa sesuatu yang kejam.
menyalahkan waktu tak kan mampu
membisu tak berarti aku adalah semu

gelap dan semua menghilang
bukan khiasan
makna ini lugas dan tegas
hilang semua pandangan
beranjak beberapa waktu

tetesan air mata tak tertahan
menahan bukan berarti hilang
kepenatan pikran
kepekaan menatap kenyataan
mengendalikan pikiran
lepas, keluar dari kenyamanan
dan saya tak nyaman.

mencoba membuka waktu
sejenak terlintas sosok manis itu
meneduhkan jiwa
menentramkan pikiran

jika hari ini adalah hari terburuk untukku
maka ijinkanlah hari ini jadi hari terbaik untuknya
aku mencintainya
dan aku mengingat cintanya
disela sela kepenatan pikiranku_

Wednesday, December 21, 2011

Lantas Siapa yang Peduli_

ketika detak waktu terdengar sangat keras

 ketika suara patah ranting mampu memecahkan telingaaku

berada dalam kesunyian yang sangat dalam

mengerti panasnya api 

mengerti dinginnya salju

menatap langit berharap hujan

melawan diri berharap dapat


seperti layaknya bara api yang membesar

seperti dedaunan yang tercabik paruh
lantas ketika saya tenggelam

tenggelam dan kelam

lalu kenapa?lantas kenapa?

kenapa jika seperti lapuk?


lalu apa lagi?
siapa yang akan peduli?


jika aku menatap langit dengan tatapan sayup,


siapa yang akan mengerti??

apa yang saya rasakan hanya saya yang bisa mengerti. 


lantas saya harus bagaimana? 
saya bukan orang penting. 
saya hanyalah orang lain untuk orang lain
jadi apa saya harus mengeluh? 
siapa yang akan mendengar? ? 
sedangkan semut saja enggan mendengar jeritan ini


dan saya tak butuh hanya kata. 
saya butuh duri untuk saya injak. 
saya butuh tembok untuk saya pukul. 
dan seperti itulah rasanya_

Saturday, December 17, 2011

Keteduhannya membius Hatiku_

Merendap perlahan dalam lantunan lirih
Bak semerbak rangkaian kembang
tertunduk jiwa melawan getir tebu
seperti debu dan terbang 
angin sahabat dari berbagai alur
ketika seseorang menjadi sebab
dan ketika waktu menjawab akibat

terdiam menikmati tiap detik terlewati
ketika hati bertanya dan semua terungkap apa adanya
aku mencintai dia

kesabaran akan berbuah manis
kesetiaan akan memunculkan keindahan
ketulusan dasar dari segalanya

benar ketika daun mulai menghijau
benar ketika ranting menguat

Tuhan selalu menegur kita dengan cara yang tak kita duga.
dengan penuh rencana.

dan sekali lagi aku yakin
aku sangat mencintai gadisku
tak perlu kau tau berapa lama aku mengejar
tak perlu kau tau bagaimana aku menjaga hati
namun, kalian harus tau 
sedalam apa cintaku pada Gadisku_

keteduhannya mampu membius ku

Monday, December 12, 2011

Selamat Ulang Tahun #Ayah

Aku berdoa untuk seorang lelaki yang telah menjadi bagian hidupku
Seorang lelaki yang telah mengajarkanku bagaimana mencintaiMu
Seorang lelaki yang hadir dalam setiap doa setelah shalatku
Seorang lelaki yang meletakkan namaku dalam lantunan doanya untukMu
Seorang lelaki yang hidup bukan hanya untuk dirinya sendiri, tetapi juga untuku, Ibu, adikku, dan untukMu
Seorang lelaki yang selalu menasehatiku untuk membakar kelemahan dan kekuranganku
Seorang lelaki yang membutuhkan senyumku untuk mengatasi sedihnya
Seorang lelaki yang membutuhkan dukunganku sebagai peneguhnya
Seorang lelaki yang menjadi pemimpinku di saat aku kehilangan arah
Seorang lelaki yang membutuhkan doaku untuk kehidupannya
Seorang lelaki yang selalu mengingatkanku akan mimpi besarku
Seorang lelaki yang menjadi pahlawan dalam keluargaku
Seorang lelaki yang ku ingin untuk mendampingiku menuju JannahMu
Dan aku berdoa untuknya

Berikanlah kekuatan kepadanya untuk melewati cobaanMu, agar ia mampu bangkit tiap kali badai menerpa

Berikanlah ia kehidupan yang mulia, sehingga ia dapat memuliakanMu
Berikanlah ia hati yang senantiasa ikhlas dan kuat menerima amanah-amanahMu
Berikanlah ia dada yang lapang, sehingga ia dapat sabar dalam mendidik anak titipan dari Mu

Berikanlah ia umur yang berkah, sehinga tiap detik waktunya tak sia-sia di mata Mu

“Allah  tidak  membebani  seseorang  melainkan  sesuai  dengan  kesanggupannya.  Ia mendapat  pahala  (dari  kebajikan)  yang  diusahakannya  dan  ia  mendapat  siksa  (dari kejahatan)  yang  dikerjakannya.  (Mereka  berdoa)

:”Ya  Tuhan  kami,  janganlah  Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau berikan kepada orang- orang yang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tidak sanggup kami memikulnya. Beri maaflah kami; ampuni kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir”.”(QS. Al-baqarah : 286)

“Apabila  seorang  anak  Adam  meninggal  dunia,  maka  amalnnya  terputus,  kecuali  3 macam,  yaitu  : harta  yang  diwakafkan,  ilmu  yang bermanfaat, atau anak  shaleh  yang mendoakan dirinya” (HR Muslim)
Ya Allah. Jadikanlah aku anak yang shaleh, sehingga aku dapat menjadi pembuka gerbang surga untuknya. Ya Allah. Lindungilah orang yang kucintai dan mencintaiku dengan cintaMu.
Amiiinn….


Ya Allah… Hindarkan ayahku daripada segala kepayahan yang merungsingkan, pemikiran yang membingungkan dan pengalaman yang menyedihkan di sepanjang tahun² yang akan datang ini.
Kurniakan kepadanya keselamatan dalam pemeliharaan-Mu yang dapat melindungnya dari sebarang kejahatan, keburukan dan kerunsingan.

Ya Allah, panjangkan umurnya dalam keimanan, sehatkan tubuh badannya dengan kecemerlangan akal juga berikan dia kesenangan harta benda yang penuh keberkatan.

Ya Allah, ampunkanlah segala kesalahannya, dan terimalah segala kebaikannya dan Rahmatilah kehidupannya dunia dan akhirat.

Amin Yarabbil-alamin
Met ultah ayah

"maaf anak mu ini tidak pandai merangkai kata kata
tapi hanya doa yang bisa terucap dari bibir ini"


Met Ultah Ayah