lanjutan dari BUNUH DIRI MASSAL 2012 PART 2
Tanggalnya
sudah ditetapkan.
Harinya
otomatis demikian.
22 Oktober
2012. Pukul 10 pagi Waktu Indonesia Bagian Barat.
Tempat
pelaksanaanya juga sudah ditentukan, malah sejak awal saya merencanakan menggelar
kegiatan akbar ini di Lapangan Monas kan?
Tapi kadang,
rencana tak semulus paha perempuan. Selalu saja ada bopeng bekas terkena
knalpot motor dipaha-paha mulus yang mudah dielus itu. Susi masuk ke kantor
saya, membawa surat panggilan kepolisian. Saya diminta datang ke Polda Metro.
Maka,
disinilah saya berada sekarang, dalam sebuah ruangan berpendingin, dibalik meja
jati dengan tumpukan map diatasnya. Seorang perwira menatap muka saya dengan
mimik berkerut.
“Acara anda
itu,” katanya seraya membetulkan letak ikatan dasi merahnya agar sejajar dengan
benik kemeja. “Kegiatan apa ini?” dia melirik pada selembar kertas diatas meja
kerjanya, “Bunuh Diri Massal 2012!”
Saya
mengangguk dengan mantap. Sang perwira kembali menatap saya, sinar matanya
menyiratkan keheranan, absurd, begitu pasti benaknya berpikiran. Tapi kemudian,
laki-laki itu melanjutkan apa yang hendak dia katakan sejak awal; “Menurut
telepon dari Bapak Kapolda, dan atas arahan Bapak Kapolri, tidak bisa
dilaksanakan di Lapangan Monas!”
Tentu saja
saya terkejut setengah mati. “Apa? Kenapa?!”
“Pokoknya,
kegiatan Anda itu, tidak bisa digelar di Lapangan Monas!”
“Alasannya
apa?” Tanya saya ngotot.
“Bapak ini
bagaimana sih?” ujar sang perwira seraya berdiri dengan kedua telapak tangan
menekan meja jatinya, “Terakhir kali ada organisasi yang menggelar sebuah acara
di lapangan Monas, berakhir dengan kerusuhan, padahal acara yang digelar
mengusung tema nasionalisme, kebersamaan!” ujar sang perwira berapi-api. “Bisa
dibayangkan jika sekarang Anda mau menggelar kegiatan yang bertema kematian
seperti ini? Bunuh Diri Massal 2012?”
“Lho, jangan
salahkan panitia yang menggelar kegiatan dong? Mau acara nasionalisme, mau
kematian, tugas Polisi kan mengamankan jalannya kegiatan? Bukannya terus
melarang-larang, kalau dituruti, pertandingan sepakbola juga maunya kalian
larang kan? Terus apa yang sebenarnya kalian pelajari di akademi kepolisian?
Kalau cuma melarang, pacar saya juga bisa!”(maaf ya yank ini just cerpen ajha
hehehehe oke lanjutin dulu ya lagi seru nih...) sahut saya ketus. “Nah, dari
pada melarang-larang begitu, mending kalian ikut bunuh diri aja sekalian
bersama kami! Gimana?”
Wajah sang
perwira merah padam.
Lalu
keluarlah kalimat andalan yang sepertinya diajarkan di hari pertama, semester
pertama, di bangku akademi kepolisian itu; “Saya hanya menjalankan perintah.”
“Perintah
siapa?”
“Ya perintah
atasan.”
“Begini ya
pak, kami ini mau bunuh diri.” Kata saya berusaha tenang, “Mohon kerjasamanya,
sekali ini saja pak, saya dan ribuan peserta lain itu cuma mau bunuh diri,
tolong jangan dipersulit.”
“Mohon Anda
mengerti saya juga, saya hanya menjalankan perintah atasan.”
“Nyari
kerjaan sulit, nyari makan apalagi, minyak langka, listrik kurang pasokan,
sekarang mau bunuh diri aja dipersulit. Saya nggak ngerti Negara ini maunya
apa!”
“Saya
peringatkan saudara untuk hati-hati kalau bicara!” seru sang Perwira seraya
menggebrak meja.
“Bapak
kenapa emosi? Mau menembak saya?” Tanya saya, “Pak denger ya, saya ini mau
bunuh diri, mau mati pak, heran deh.”
Sang perwira
terdiam. “Gimana kalau kita cari solusinya bersama-sama?” tawar sang perwira.
“Saya dan jajaran kepolisian akan mendukung kelancaran kegiatan anda itu, tapi
jangan dilakukan dilapangan Monas.”
“Oke,” sahut
saya, “Tapi dimana dong?”
“Berapa
jumlah peserta?”
“Sampai saat
ini, sudah 25 ribu orang pak.”
“Dua puluh
lima ribu orang?!”
Saya
mengangguk.
“Hmm, banyak
juga ya?”
“Itulah pak, kenapa saya menggelar acara tersebut di Lapangan Monas.” Kata saya kemudian, “Bapak nggak perlu khawatir, semua peserta sudah mengisi formulir lengkap, termasuk menyertakan nama anggota keluarga yang akan mengurus jenazah-jenazah mereka nantinya.”
“Itulah pak, kenapa saya menggelar acara tersebut di Lapangan Monas.” Kata saya kemudian, “Bapak nggak perlu khawatir, semua peserta sudah mengisi formulir lengkap, termasuk menyertakan nama anggota keluarga yang akan mengurus jenazah-jenazah mereka nantinya.”
“Hmm, begitu
ya?”
Saya
mengangguk.
“Tapi tetap
tidak bisa dilakukan di Lapangan Monas, itu sudah petunjuk Bapak Kapolri sejak
kejadian rusuh tempo hari.”
“Lho, bapak
harusnya senang, kami bunuh diri itu sudah mengurus diri kami sendiri, disebuah
tempat yang saya urus ijinnya.” Kata saya memberi penjelasan pada sang perwira,
“Kami nggak bunuh diri sembarangan lho pak, dengan meledak ditempat-tempat
umum!”
“Iya, saya
menghargai itu.” Kata sang perwira, “Tapi perintah tetap perintah, jangan di
Lapangan Monas.”
“Kami juga
nggak menggelar sembarang kegiatan dipinggir-pinggir jalan hingga bikin macet
jalanan pak!”
“Perintah
atasan!”
*
Pembicaraan
itu deadlock.
Kutu kupret
memang! Saya memaki dalam hati. Mau bunuh diri aja susah. Kami berdua terdiam,
sang perwira tampak berpikir keras. Sementara saya tetap ngotot agar ijin
pelaksanaan kegiatan tetap dikeluarkan.
“Bagaimana
kalau acara saudara itu dilaksanakan di ruangan tertutup?” kata sang perwira
pada akhirnya, memberikan usulan.
“Itu
petunjuk siapa? Atasan juga?”
“Enak aja,
itu saran saya sendiri.”
“Maksudnya
di aula gitu?”
“Iya.” Jawab
sang perwira, “Sebuah tempat tertutup yang tidak bisa dilihat publik."
“Memang
menurut bapak, ada tempat representatif yang mampu menampung 25 ribu orang
sekaligus?”
“Gimana
kalau Stadion Gelora Bung Karno?”
“Bunuh diri
di Stadion?”
“Iya.”
“Bapak ini
gimana sih,” ujar saya cepat, “Bapak melarang Persija main di Stadion Gelora
Bung Karno, sekarang bapak mengijinkan saya menggelar acara Bunuh Diri Massal
disana, bapak mau ribuan supporter The Jak Mania merasa dianaktirikan dan
melancarkan protes lalu mengganggu kekhusyukkan kami bunuh diri?” lanjut saya,
“Bapak mau kami semua mati penasaran?”
Kening sang
perwira berkerut abis. “Iya ya, benar juga apa kata saudara.”
*
Lima menit,
ruangan berpendingin itu kembali hening. Saya sih tetap berharap, kegiatan
akbar Bunuh Diri Massal itu tetap digelar di Lapangan Monas. Tapi ternyata,
sang perwira menemukan ide baru lagi, ide yang ditemukannya tanpa arahan
atasan, karena tiba-tiba, mimik wajahnya berseri.
“Saya tahu
sekarang, di mana kegiatan saudara itu bisa dilaksanakan tanpa mengganggu
masyarakat dan memancing kerusuhan dari pihak mana pun.” Katanya dengan
semangat.
“Di mana
pak?”
“Kita gelar
di Gedung Majelis Perwakilan Rakyat!”
“Gedung
MPR/DPR?” Tanya saya takjub.
“Ya!” Seru
sang perwira, “Anda dan 25 ribu peserta kegiatan itu rakyat juga kan? Rakyat
yang hendak menentukan hak pilihnya, mau hidup terus di Negara ini atau tidak,
iya kan?”
“Ya!” sahut
saya.
“Kalau
begitu, Gedung MPR/DPR lah yang paling tepat. Lakukan disana, saya akan urus
ijin dan tetek bengek lainnya. Itu gedung milik rakyat, tempat rakyat juga.”
“Bapak dulu
berprestasi ya di Akademi Kepolisian?”
“Kenapa
saudara bertanya begitu?”
“Karena
bapak cerdas!”
Semua sudah siap sekarang.
Waktu sudah ditentukan, tempat sudah
ditetapkan, ijin sudah diurus.
Pada tanggal 22 Oktober 2012
Bertempat di Gedung MPR/ DPR akan
dilaksanakan kegiatan akbar Bunuh Diri Massal 2012. Masih ada formulir untuk
Anda yang ingin berpartisipasi, memeriahkan acara ini.
Jadi, tolonglah, jangan ada yang
bunuh diri duluan, sendirian, itu benar-benar nggak keren!
Baca terusannya ya, silahkan klik DISINI
