BUNUH DIRI MASSAL 2012 ( part.3 Perubahan Lokasi ) ~ pratamagta

Friday, January 13, 2012

BUNUH DIRI MASSAL 2012 ( part.3 Perubahan Lokasi )

lanjutan dari BUNUH DIRI MASSAL 2012 PART 2

Tanggalnya sudah ditetapkan.
Harinya otomatis demikian.
22 Oktober 2012. Pukul 10 pagi Waktu Indonesia Bagian Barat.
Tempat pelaksanaanya juga sudah ditentukan, malah sejak awal saya merencanakan menggelar kegiatan akbar ini di Lapangan Monas kan?
Tapi kadang, rencana tak semulus paha perempuan. Selalu saja ada bopeng bekas terkena knalpot motor dipaha-paha mulus yang mudah dielus itu. Susi masuk ke kantor saya, membawa surat panggilan kepolisian. Saya diminta datang ke Polda Metro.
Maka, disinilah saya berada sekarang, dalam sebuah ruangan berpendingin, dibalik meja jati dengan tumpukan map diatasnya. Seorang perwira menatap muka saya dengan mimik berkerut.
“Acara anda itu,” katanya seraya membetulkan letak ikatan dasi merahnya agar sejajar dengan benik kemeja. “Kegiatan apa ini?” dia melirik pada selembar kertas diatas meja kerjanya, “Bunuh Diri Massal 2012!”
Saya mengangguk dengan mantap. Sang perwira kembali menatap saya, sinar matanya menyiratkan keheranan, absurd, begitu pasti benaknya berpikiran. Tapi kemudian, laki-laki itu melanjutkan apa yang hendak dia katakan sejak awal; “Menurut telepon dari Bapak Kapolda, dan atas arahan Bapak Kapolri, tidak bisa dilaksanakan di Lapangan Monas!”
Tentu saja saya terkejut setengah mati. “Apa? Kenapa?!”
“Pokoknya, kegiatan Anda itu, tidak bisa digelar di Lapangan Monas!”
“Alasannya apa?” Tanya saya ngotot.
“Bapak ini bagaimana sih?” ujar sang perwira seraya berdiri dengan kedua telapak tangan menekan meja jatinya, “Terakhir kali ada organisasi yang menggelar sebuah acara di lapangan Monas, berakhir dengan kerusuhan, padahal acara yang digelar mengusung tema nasionalisme, kebersamaan!” ujar sang perwira berapi-api. “Bisa dibayangkan jika sekarang Anda mau menggelar kegiatan yang bertema kematian seperti ini? Bunuh Diri Massal 2012?”
“Lho, jangan salahkan panitia yang menggelar kegiatan dong? Mau acara nasionalisme, mau kematian, tugas Polisi kan mengamankan jalannya kegiatan? Bukannya terus melarang-larang, kalau dituruti, pertandingan sepakbola juga maunya kalian larang kan? Terus apa yang sebenarnya kalian pelajari di akademi kepolisian? Kalau cuma melarang, pacar saya juga bisa!”(maaf ya yank ini just cerpen ajha hehehehe oke lanjutin dulu ya lagi seru nih...) sahut saya ketus. “Nah, dari pada melarang-larang begitu, mending kalian ikut bunuh diri aja sekalian bersama kami! Gimana?”
Wajah sang perwira merah padam.
Lalu keluarlah kalimat andalan yang sepertinya diajarkan di hari pertama, semester pertama, di bangku akademi kepolisian itu; “Saya hanya menjalankan perintah.”
“Perintah siapa?”
“Ya perintah atasan.”
“Begini ya pak, kami ini mau bunuh diri.” Kata saya berusaha tenang, “Mohon kerjasamanya, sekali ini saja pak, saya dan ribuan peserta lain itu cuma mau bunuh diri, tolong jangan dipersulit.”
“Mohon Anda mengerti saya juga, saya hanya menjalankan perintah atasan.”
“Nyari kerjaan sulit, nyari makan apalagi, minyak langka, listrik kurang pasokan, sekarang mau bunuh diri aja dipersulit. Saya nggak ngerti Negara ini maunya apa!”
“Saya peringatkan saudara untuk hati-hati kalau bicara!” seru sang Perwira seraya menggebrak meja.
“Bapak kenapa emosi? Mau menembak saya?” Tanya saya, “Pak denger ya, saya ini mau bunuh diri, mau mati pak, heran deh.”
Sang perwira terdiam. “Gimana kalau kita cari solusinya bersama-sama?” tawar sang perwira. “Saya dan jajaran kepolisian akan mendukung kelancaran kegiatan anda itu, tapi jangan dilakukan dilapangan Monas.”
“Oke,” sahut saya, “Tapi dimana dong?”
“Berapa jumlah peserta?”
“Sampai saat ini, sudah 25 ribu orang pak.”
“Dua puluh lima ribu orang?!”
Saya mengangguk.
“Hmm, banyak juga ya?”
“Itulah pak, kenapa saya menggelar acara tersebut di Lapangan Monas.” Kata saya kemudian, “Bapak nggak perlu khawatir, semua peserta sudah mengisi formulir lengkap, termasuk menyertakan nama anggota keluarga yang akan mengurus jenazah-jenazah mereka nantinya.”
“Hmm, begitu ya?”
Saya mengangguk.
“Tapi tetap tidak bisa dilakukan di Lapangan Monas, itu sudah petunjuk Bapak Kapolri sejak kejadian rusuh tempo hari.”
“Lho, bapak harusnya senang, kami bunuh diri itu sudah mengurus diri kami sendiri, disebuah tempat yang saya urus ijinnya.” Kata saya memberi penjelasan pada sang perwira, “Kami nggak bunuh diri sembarangan lho pak, dengan meledak ditempat-tempat umum!”
“Iya, saya menghargai itu.” Kata sang perwira, “Tapi perintah tetap perintah, jangan di Lapangan Monas.”
“Kami juga nggak menggelar sembarang kegiatan dipinggir-pinggir jalan hingga bikin macet jalanan pak!”
“Perintah atasan!”
*

Pembicaraan itu deadlock.
Kutu kupret memang! Saya memaki dalam hati. Mau bunuh diri aja susah. Kami berdua terdiam, sang perwira tampak berpikir keras. Sementara saya tetap ngotot agar ijin pelaksanaan kegiatan tetap dikeluarkan.
“Bagaimana kalau acara saudara itu dilaksanakan di ruangan tertutup?” kata sang perwira pada akhirnya, memberikan usulan.
“Itu petunjuk siapa? Atasan juga?”
“Enak aja, itu saran saya sendiri.”
“Maksudnya di aula gitu?”
“Iya.” Jawab sang perwira, “Sebuah tempat tertutup yang tidak bisa dilihat publik."
“Memang menurut bapak, ada tempat representatif yang mampu menampung 25 ribu orang sekaligus?”
“Gimana kalau Stadion Gelora Bung Karno?”
“Bunuh diri di Stadion?”
“Iya.”
“Bapak ini gimana sih,” ujar saya cepat, “Bapak melarang Persija main di Stadion Gelora Bung Karno, sekarang bapak mengijinkan saya menggelar acara Bunuh Diri Massal disana, bapak mau ribuan supporter The Jak Mania merasa dianaktirikan dan melancarkan protes lalu mengganggu kekhusyukkan kami bunuh diri?” lanjut saya, “Bapak mau kami semua mati penasaran?”
Kening sang perwira berkerut abis. “Iya ya, benar juga apa kata saudara.”
*

Lima menit, ruangan berpendingin itu kembali hening. Saya sih tetap berharap, kegiatan akbar Bunuh Diri Massal itu tetap digelar di Lapangan Monas. Tapi ternyata, sang perwira menemukan ide baru lagi, ide yang ditemukannya tanpa arahan atasan, karena tiba-tiba, mimik wajahnya berseri.
“Saya tahu sekarang, di mana kegiatan saudara itu bisa dilaksanakan tanpa mengganggu masyarakat dan memancing kerusuhan dari pihak mana pun.” Katanya dengan semangat.
“Di mana pak?”
“Kita gelar di Gedung Majelis Perwakilan Rakyat!”
“Gedung MPR/DPR?” Tanya saya takjub.
“Ya!” Seru sang perwira, “Anda dan 25 ribu peserta kegiatan itu rakyat juga kan? Rakyat yang hendak menentukan hak pilihnya, mau hidup terus di Negara ini atau tidak, iya kan?”
“Ya!” sahut saya.
“Kalau begitu, Gedung MPR/DPR lah yang paling tepat. Lakukan disana, saya akan urus ijin dan tetek bengek lainnya. Itu gedung milik rakyat, tempat rakyat juga.”
“Bapak dulu berprestasi ya di Akademi Kepolisian?”
“Kenapa saudara bertanya begitu?”
“Karena bapak cerdas!”
Semua sudah siap sekarang.
Waktu sudah ditentukan, tempat sudah ditetapkan, ijin sudah diurus.
Pada tanggal 22 Oktober 2012
Pukul 10 pagi Waktu Indonesia Bagian Barat.
Bertempat di Gedung MPR/ DPR akan dilaksanakan kegiatan akbar Bunuh Diri Massal 2012. Masih ada formulir untuk Anda yang ingin berpartisipasi, memeriahkan acara ini.
Jadi, tolonglah, jangan ada yang bunuh diri duluan, sendirian, itu benar-benar nggak keren!
Baca terusannya ya, silahkan klik DISINI



Beri tanggapan klik DISINI ya, jangan pelit - pelit
kembali ke PESAN PENULIS