Fajar baru saja merekah di ufuk timur, menyelimuti langit dengan semburat merah muda yang lembut, seperti sapuan kuas pada kanvas yang masih mengantuk. Di depan rumahnya, Arya duduk di teras, menikmati semilir angin pagi yang membawa aroma embun dan wangi bunga melati dari halaman. Ia memandang lurus ke depan, namun pikirannya melayang jauh, tertuju pada seseorang yang sedang mempersiapkan diri untuk ujian kenaikan kelas hari ini.
Di tangannya, sebuah ponsel yang sejak tadi ia genggam dengan gelisah. Ia ingin mengirim pesan pada Anna, kekasih hatinya, yang saat ini mungkin sedang berjuang dengan perasaan gugup dan tekanan ujian. Namun, Arya ragu. Ia takut pesannya justru akan mengganggu konsentrasi Anna. Ia pun menahan diri, memilih untuk menatap layar ponselnya tanpa henti, berharap pesan yang tak terkirim itu bisa tersampaikan lewat getaran hatinya.
Arya menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan debar jantungnya yang terus berpacu. Ia beranjak dari kursi, melangkah ke halaman dan berdiri di bawah pohon mangga yang rimbun. Matahari mulai menampakkan sinarnya, menghangatkan tubuh Arya yang berdiri tegap dengan kedua tangan terlipat di depan dada.
"Ya Allah," bisiknya lirih, "berikan kemudahan dan kelancaran untuk Anna. Berikan dia ketenangan hati dan pikiran yang jernih agar bisa menghadapi ujiannya dengan baik. Jangan biarkan dia merasa cemas atau ragu. Jadikan usahanya selama ini berbuah manis, seindah bunga yang bermekaran di taman."
Sejenak, Arya terdiam, membiarkan doa itu meresap ke dalam hatinya. Ia tahu, Anna telah berusaha keras, belajar hingga larut malam dan mempersiapkan segala sesuatunya dengan tekun. Arya hanya bisa berharap dan berdoa, mendukung dari kejauhan dengan penuh cinta.
Ponselnya kembali bergetar di tangan, memberinya dorongan kecil untuk membuka layar. Ia menuliskan pesan sederhana namun penuh kasih: "Semangat, Anna. Aku yakin kamu bisa."
Setelah menimbang beberapa saat, Arya akhirnya mengirim pesan itu. Ia berharap, pesan singkat itu bisa menjadi penyemangat bagi Anna tanpa mengganggu konsentrasinya.
Arya kembali duduk di teras, kali ini dengan perasaan yang sedikit lebih tenang. Ia memandang langit yang semakin cerah, menyimpan harapan besar dalam hatinya. Pagi itu, doa dan harapannya melayang bersama angin pagi, menyampaikan cinta dan dukungannya kepada Anna yang sedang berjuang di ruang ujian. Cinta yang tak terucapkan, namun terasa begitu nyata di antara mereka.
#pratamagta