lanjutan dari Bunuh Diri Massal part 3
Sebelumnya, saya memohon maaf yang sebesar-besarnya kepada semua yang membaca tulisan ini. Saya telah membunuh mimpi. Bagi saya, membunuh mimpi seseorang adalah salah satu dosa paling besar, dan harus masuk neraka paling dasar. Saya membuat puluhan ribu orang memupus mimpi mereka. Bagaimana tidak? Kapasitas Gedung MPR/DPR hanya sekian ratus, sekian ribu… Sementara itu, ada hampir tigapuluh ribu orang yang ingin ikut bunuh diri secara massal bersama saya. Seperti sudah saya katakan sebelumnya. Semua yang mendaftar akan diseleksi.
Sebelumnya, saya memohon maaf yang sebesar-besarnya kepada semua yang membaca tulisan ini. Saya telah membunuh mimpi. Bagi saya, membunuh mimpi seseorang adalah salah satu dosa paling besar, dan harus masuk neraka paling dasar. Saya membuat puluhan ribu orang memupus mimpi mereka. Bagaimana tidak? Kapasitas Gedung MPR/DPR hanya sekian ratus, sekian ribu… Sementara itu, ada hampir tigapuluh ribu orang yang ingin ikut bunuh diri secara massal bersama saya. Seperti sudah saya katakan sebelumnya. Semua yang mendaftar akan diseleksi.
Ada beberapa
alasan bunuh diri yang menjadi favorit saya. Kalaupun tidak jadi favorit, ada
beberapa yang mencuri perhatian.
RAMANDA
Saya ingin, sekali saja, duduk di kursi MPR/DPR. Saya
sudah mengerahkan segala kemampuan dan uang, sampai-sampai orang menganggap
saya gila setelah mengeluarkan 8 miliar dan gagal jadi anggota DPR. Sekarang
saya sudah rela mati, asalkan sempat duduk di sana. Terima kasih karena telah
memindahkan tempat dari Monas ke MPR/DPR.
SIDHASADYA
Tentu saja karena takdir. Apalah arti sebuah nama?
Untuk saya, nama ini penting. Sidha berarti mati. Saya sedia
mati.
Life is God’s game, humans are the pawns. Tapi gue
bukan pion. Gue udah menentukan cara gue hidup. Menurut gue, gue jugalah yang
seharusnya menentukan cara gue mati. Bukan supir truk yang mabuk, bukan
pembunuh berantai, bukan sel kanker.
Ketika
membaca formulir pendaftaran yang terakhir, saya segera mengidolakan si
pendaftar yang bernama Jojo itu. Ingin sekali saya mengangkat gagang telepon
yang ada di depan saya dan menghubungi nomor ponsel Jojo yang tertera pada
lembaran ini.
Awalnya,
saya kira, mereka semua ingin berpartisipasi dalam bunuh diri massal ini karena
sudah tidak tahu apa yang harus dilakukan dalam hidup mereka. Ketika kita
menyetir ke suatu tempat yang jauh dan kehilangan arah, kadang-kadang kita
ingin berhenti dan mengambil arah putar balik. Kembali ke tempat semula,
kembali ke awal, ketika kita tahu kita takkan pernah mencapai tujuan dan sudah
terlalu lelah akan sebuah rintangan. Ternyata, Jojo justru menilai sebaliknya.
Ia ingin bunuh diri untuk melengkapi hidupnya. Tidak karena putus asa, tetapi
hanya ingin menentukan sendiri cara ia mati, kapan ia mati, di mana ia mati.
Bunuh diri untuk menyempurnakan hidupnya.
Saya jadi
kembali berpikir. Sejak awal perencanaan acara bunuh diri massal sampai hari
ini, belum ada satupun dari kami yang mencetuskan bagaimanabunuh
diri massal akan dilaksanakan. Ada banyak cara untuk bunuh diri. Minum racun
atau obat tidur sebanyak-banyaknya, menembak diri melalui mulut atau pelipis
kepala seperti di film-film, lompat dari atas gedung tingkat 30 atau 25 saja
juga bisa dilakukan. Cara terakhir cukup menarik. Ada begitu banyak gedung
pencakar langit yang dibangun di Jakarta. Mengapa bangunan-bangunan itu
dibangun dengan sekian banyak lantai? Bisa saja untuk memfasilitasi orang-orang
yang ingin bunuh diri, bukan? Jadi, kenapa tidak dimanfaatkan?
Sayangnya,
lokasi juga sangat menentukan bagaimana kita akan melaksanakan hal ini. Gedung
MPR/DPR sangat besar. Bisa saja kami meminta beberapa orang profesional, bahkan
yang sudah ada di dalam penjara karena kasus bom Bali dan bom lainnya, untuk
membuatkan bom berskala besar yang mampu membunuh satu atau dua ribu orang.
Kalau tidak bisa, kami akan meminta mereka untuk membuat sepuluh bom, masing-masing
mampu membunuh tiga ratus orang, itu juga sudah lumayan. Tapi, negara ini sudah
miskin. Acara ini akan kehilangan esensinya apabila prosesi bunuh diri nantinya
justru menyulitkan negara. Saya pribadi sebenarnya ingin meringankan beban
presiden dengan mengajak ribuan orang untuk bunuh diri bersama-sama.
Mungkin
program Keluarga Berencana tidak perlu lagi digalakkan. Hal itu selalu sulit,
bukan, karena orang-orang Indonesia menganut faham “banyak anak, banyak
rejeki”? Sebaiknya mereka menukar program KB dengan acara bunuh diri
massal. Dana yang dibutuhkan tidak banyak. Hanya perlu menyediakan tempat,
menyediakan kertas untuk formulir, dan sebuah line telepon untuk
menjawab pertanyaan-pertanyaan yang masuk. Kami di sini bekerja secara
sukarela, tentu saja. Toh, dalam hitungan hari, kami akan mati bersama-sama di
dalam gedung beratap hijau tersebut.
Saya kembali
melihat satu demi satu formulir pendaftaran yang sudah diisi, meski jumlahnya
ada ribuan. Bagaimana acara ini akan dilaksanakan? Membakar Gedung MPR/DPR?
Menyewa penembak jitu untuk menembak ribuan orang satu persatu? Menyediakan
ribuan senjata api agar peserta bisa menembak bagian manapun dari tubuh mereka?
Menyiapkan berliter-liter racun arsenik agar kami semua dapat meninggal semulia Munir?
Atau menyemprotkan gas beracun ke dalam Gedung MPR/DPR dalam jumlah yang tidak
masuk di akal?
Cara-cara
bunuh diri yang ditulis oleh calon peserta semuanya biasa-biasa saja. Tidak ada
satupun yang spektakuler. Minum racun. Tembak mati. Memutus urat nadi
dengan silet. Buat apa ikut bunuh diri massal jika ingin bunuh diri dengan
cara seperti itu? Lakukan saja di kamar Anda. Saya segera mencari formulir
milik Jojo dan…
Cuma gue
yang boleh tau bagaimana gue akan mati.
***
Mendadak, segala sesuatunya meledak diluar perkiraan.
Pertama,
keputusan bahwa kegiatan ini akan digelar di Gedung MPR/DPR ternyata membuat
jumlah peserta menjadi meningkat. Hampir 30 ribu orang kini terdaftar sebagai
calon peserta!
Susi,
sekretaris panitia, kini tak sempat lagi mampir ke salon sepulang dari kantor.
Sekarung formulir pendaftaran yang datang setiap saat, membunuh waktu luang
Susi. Ah, kasian saya melihatnya, hingga saya berpikir untuk merekrut anak
magang bekerja dalam kepanitiaan.
Dan anak
magang itu adalah gadis kecil berumur 17 tahun!
Dia datang
membawa gulungan kertas besar, masuk ke ruangan saya dengan berbalut kaos putih
ketat bertuliskan huruf kapital besar berwarna merah; SUICIDE IS ROCK!
Bah!
Pusing saya
melihat anak magang satu ini. Dalam hati, saya jadi penasaran, sesungguhnya dia
tahu nggak sih makna dari tulisan yang tertera persis diatas buah dada-nya yang
belum tumbuh sempurna itu?
“Ini
gulungan peta-nya pak.” Kata si anak magang. Saya segera meraihnya, Perwira
Polisi yang tempo hari berbicara dengan saya untuk memutuskan tempat kegiatan
dilaksanakan, mengirimi gulungan cetak biru Gedung Parlemen Indonesia. Lalu
handphone saya berdering.
“Pak Ketua?”
“Siap.”
“Sudah
terima cetak birunya?”
“Siap. Right
on my desk.”
“Jadi begitu
ya pak Ketua.”
“Begitu bagaimana?”
“Loh, saya
sudah nitip pesan pada panitia yang ngambil peta itu dikantor saya tadi, dia
belum bilang?”
Saya melirik
tulisan diatas buah dada itu; SUICIDE IS ROCK yang bergerak kesana-kemari. Si
anak magang nyengir kuda!
“Saya
bilang, kapasitas gedung parlemen kita terbatas, hanya untuk seribu orang Pak
Ketua.”
“Begitu ya?”
“Jadi, Anda
harus menyeleksi peserta yang 25 ribu itu menjadi seribuan orang Pak Ketua.”
“Pendaftarnya
sudah 30 ribuan orang.” Selaku.
“ Hah ? Segitu
banyaknya pak ? ”
“Ya, segitu meningkat pesat sejak Anda memutuskan kegiatan akan dilangsungkan di gedung parlemen.”
“Ya, segitu meningkat pesat sejak Anda memutuskan kegiatan akan dilangsungkan di gedung parlemen.”
“Gila!”
sahut sang perwira polisi dari seberang, “Mereka sadar kan kalau mereka ke
Gedung Parlemen untuk mati, bukan untuk jadi anggota dewan?”
“Yah,
mungkin, banyak yang ingin mati secara terhormat Pak.” Sahut saya.
“Gila!”
Teriak sang perwira, membuat saya refleks menjauhkan handphone dari telinga
sendiri, “Orang-orang sudah pada gila rupanya!”
*
Banyak hal
yang membuat orang-orang menjadi gila.
Dan tugas si
anak magang untuk menyiapkan laporan pada si perwira polisi yang meminta data
latar-belakang peserta yang disebutnya ‘sudah pada gila’ itu.
“Seribu
orang peserta, datang dari Sidoarjo, Jawa Timur. Mereka korban Lumpur Lapindo
pak.”
“Seribu
orang lain masuk kategori korban dan lain-lain.”
“Maksudnya
dan lain-lain?”
“Yaaah,
bapak tahulah,” kata si anak magang, “Korban gusuran, korban kenaikan
harga-harga. Korban ketidak-adilan negeri ini.” Terang si anak magang lagi,
“Karena kategorinya banyak, saya kelompokkan menjadi ‘Korban Dan Lain-Lain.”
“Hmmm,
cerdas kamu!” puji saya. "Korban cinta, adakah yang masuk kategori korban
cinta?"
Si anak
magang menggeleng. Dari 30 ribu orang dan belum ada satu pun korban cinta?
Sial!
Tiba-tiba
pintu ruangan saya terbuka, Susi, sekretaris saya masuk bersama seorang
laki-laki paruh baya.
“Pak Ketua.”
Kata Susi, “Ini professor itu.”
Saya segera
berdiri menyambut uluran tangan dan senyum hangat si Profesor. “Apakabar?” sapa
saya, sang professor mengangguk.
“Saya sudah
siapkan apa yang Pak Ketua minta.” Ujar si professor. Wow! Bisik saya dalam
hati, tanpa basa-basi, benar-benar ilmuwan sejati. Sang professor segera
membuka tas koper hitamnya, dikeluarkannya beberapa gulungan kertas, dan
dibukanya diatas meja, persis diatas cetak biru gedung parlemen.
“Ini
rencananya.” Kata sang professor kemudian. Saya memperhatikan gambar dalam
gulungan kertas yang terbuka itu. “Saya akan membuat Gedung Parlemen menjadi
kamar listrik raksasa!” serunya.
“Wow! That’s
rock!” seru si anak magang terlonjak dari tempatnya berdiri. Suicide is Rocknya
bergoyang-goyang kesana kemari. Sementara saya merasa sangat excited dengan
rencana si professor yang sangat brilian itu. Konsepnya memang berawal dari
sesuatu yang sederhana, kursi parlemen sering disebut sebagai kursi panas. Jadi
tak ada salahnya, kegiatan Bunuh Diri itu nantinya akan menerapkan istilah tersebut.
Panas yang mematikan!
“Bagaimana?”
Tanya si professor. Saya mengangguk-angguk.
“Bravo,
prof!” puji Susi seolah mewakili saya.
“Ya, hanya tinggal
satu masalah besarnya.”
“Apa?” Tanya
saya.
“Ijin Gedung
Parlemen?”
“Sudah saya
kantongi Prof. Para anggota dewan sedang reses pada tanggal itu, kalau pun
tidak, mereka mungkin sedang berkunjung ke luar negeri, studi banding Prof.”
“Atau kita
buat reses sekalian? Hahaha.” Sang Profesor berusaha bercanda.
“Berapa daya
listrik yang dibutuhkan Prof?”
Kening sang
Profesor berkerut. Kerut yang tak akan kembali walau sudah diolesi kosmetik
pencerah kulit bermerk sekalipun. “Itu dia…” kata sang Profesor tertahan.
“Prof?”
“Ingat akhir
pekan kemarin sebagian Jakarta mati lampu?”
“Ya?”
“Itu saya
sedang melakukan uji coba, hingga membuat sebuah gardu meledak, dan uji coba
saya berantakan!” terang sang Profesor. “Pasokan listrik di Jakarta tak akan
cukup untuk merealisasikan rencana ini.”
“Maksud
Profesor?”
“Jika
rencana ini dijalankan, maka pada hari pelaksanaan kegiatan, seluruh listrik di
Jakarta akan padam, karena semua akan dialirkan ke Gedung Parlemen.”
“Berapa
besarnya itu Prof?”
“Sekitar 150
Kilo Volt!”
“Wow! That’s
rock!”
Aku melirik
si anak magang.
“Susi…”
panggil saya pada sekretaris saya yang berambut semakin kucel karena mulai
jarang ke salon itu. “Bisa kamu ajak si anak magang ini keluar ruangan?”
Tanpa dua
kali permintaan, Susi segera meraih pergelangan tangan si anak magang, lalu
menariknya keluar ruangan.
“Kita punya
masalah besar, bukan begitu Prof?”
Sang
professor mengangguk.
“Masalah
kekurangan daya listrik memang tak akan pernah terselesaikan,” kata si
Profesor.
“Kenapa?”
Tanya saya.
“Karena
Pemerintah takut, stok listrik yang berlebihan, akan dipakai oleh rakyat untuk
menyetrum diri Pemerintahnya sendiri!”
“Wow! That’s
rock, professor!” seru saya. “Di negeri ini, ide yang nyetrum aja bisa dianggap
berbahaya.”
bersambung ke part 5.....KLIK DISINI untuk membaca
Beri tanggapan klik DISINI ya, jangan pelit - pelit
bersambung ke part 5.....
Beri tanggapan klik DISINI ya, jangan pelit - pelit
kembali ke PESAN PENULIS