BUNUH DIRI MASSAL 2012 ( part.4 Bagaimana Akan Dilaksanakan ) ~ pratamagta

Friday, January 13, 2012

BUNUH DIRI MASSAL 2012 ( part.4 Bagaimana Akan Dilaksanakan )


lanjutan dari Bunuh Diri Massal part 3
Sebelumnya, saya memohon maaf yang sebesar-besarnya kepada semua yang membaca tulisan ini. Saya telah membunuh mimpi. Bagi saya, membunuh mimpi seseorang adalah salah satu dosa paling besar, dan harus masuk neraka paling dasar. Saya membuat puluhan ribu orang memupus mimpi mereka. Bagaimana tidak? Kapasitas Gedung MPR/DPR hanya sekian ratus, sekian ribu… Sementara itu, ada hampir tigapuluh ribu orang yang ingin ikut bunuh diri secara massal bersama saya. Seperti sudah saya katakan sebelumnya. Semua yang mendaftar akan diseleksi.
Ada beberapa alasan bunuh diri yang menjadi favorit saya. Kalaupun tidak jadi favorit, ada beberapa yang mencuri perhatian.
RAMANDA
Saya ingin, sekali saja, duduk di kursi MPR/DPR. Saya sudah mengerahkan segala kemampuan dan uang, sampai-sampai orang menganggap saya gila setelah mengeluarkan 8 miliar dan gagal jadi anggota DPR. Sekarang saya sudah rela mati, asalkan sempat duduk di sana. Terima kasih karena telah memindahkan tempat dari Monas ke MPR/DPR.

SIDHASADYA
Tentu saja karena takdir. Apalah arti sebuah nama? Untuk saya, nama ini penting. Sidha berarti mati. Saya sedia mati.

Life is God’s game, humans are the pawns. Tapi gue bukan pion. Gue udah menentukan cara gue hidup. Menurut gue, gue jugalah yang seharusnya menentukan cara gue mati. Bukan supir truk yang mabuk, bukan pembunuh berantai, bukan sel kanker.
Ketika membaca formulir pendaftaran yang terakhir, saya segera mengidolakan si pendaftar yang bernama Jojo itu. Ingin sekali saya mengangkat gagang telepon yang ada di depan saya dan menghubungi nomor ponsel Jojo yang tertera pada lembaran ini.
Awalnya, saya kira, mereka semua ingin berpartisipasi dalam bunuh diri massal ini karena sudah tidak tahu apa yang harus dilakukan dalam hidup mereka. Ketika kita menyetir ke suatu tempat yang jauh dan kehilangan arah, kadang-kadang kita ingin berhenti dan mengambil arah putar balik. Kembali ke tempat semula, kembali ke awal, ketika kita tahu kita takkan pernah mencapai tujuan dan sudah terlalu lelah akan sebuah rintangan. Ternyata, Jojo justru menilai sebaliknya. Ia ingin bunuh diri untuk melengkapi hidupnya. Tidak karena putus asa, tetapi hanya ingin menentukan sendiri cara ia mati, kapan ia mati, di mana ia mati. Bunuh diri untuk menyempurnakan hidupnya.
Saya jadi kembali berpikir. Sejak awal perencanaan acara bunuh diri massal sampai hari ini, belum ada satupun dari kami yang mencetuskan bagaimanabunuh diri massal akan dilaksanakan. Ada banyak cara untuk bunuh diri. Minum racun atau obat tidur sebanyak-banyaknya, menembak diri melalui mulut atau pelipis kepala seperti di film-film, lompat dari atas gedung tingkat 30 atau 25 saja juga bisa dilakukan. Cara terakhir cukup menarik. Ada begitu banyak gedung pencakar langit yang dibangun di Jakarta. Mengapa bangunan-bangunan itu dibangun dengan sekian banyak lantai? Bisa saja untuk memfasilitasi orang-orang yang ingin bunuh diri, bukan? Jadi, kenapa tidak dimanfaatkan?
Sayangnya, lokasi juga sangat menentukan bagaimana kita akan melaksanakan hal ini. Gedung MPR/DPR sangat besar. Bisa saja kami meminta beberapa orang profesional, bahkan yang sudah ada di dalam penjara karena kasus bom Bali dan bom lainnya, untuk membuatkan bom berskala besar yang mampu membunuh satu atau dua ribu orang. Kalau tidak bisa, kami akan meminta mereka untuk membuat sepuluh bom, masing-masing mampu membunuh tiga ratus orang, itu juga sudah lumayan. Tapi, negara ini sudah miskin. Acara ini akan kehilangan esensinya apabila prosesi bunuh diri nantinya justru menyulitkan negara. Saya pribadi sebenarnya ingin meringankan beban presiden dengan mengajak ribuan orang untuk bunuh diri bersama-sama.
Mungkin program Keluarga Berencana tidak perlu lagi digalakkan. Hal itu selalu sulit, bukan, karena orang-orang Indonesia menganut faham “banyak anak, banyak rejeki”? Sebaiknya mereka menukar program KB dengan acara bunuh diri massal. Dana yang dibutuhkan tidak banyak. Hanya perlu menyediakan tempat, menyediakan kertas untuk formulir, dan sebuah line telepon untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang masuk. Kami di sini bekerja secara sukarela, tentu saja. Toh, dalam hitungan hari, kami akan mati bersama-sama di dalam gedung beratap hijau tersebut.
Saya kembali melihat satu demi satu formulir pendaftaran yang sudah diisi, meski jumlahnya ada ribuan. Bagaimana acara ini akan dilaksanakan? Membakar Gedung MPR/DPR? Menyewa penembak jitu untuk menembak ribuan orang satu persatu? Menyediakan ribuan senjata api agar peserta bisa menembak bagian manapun dari tubuh mereka? Menyiapkan berliter-liter racun arsenik agar kami semua dapat meninggal semulia Munir? Atau menyemprotkan gas beracun ke dalam Gedung MPR/DPR dalam jumlah yang tidak masuk di akal?
Cara-cara bunuh diri yang ditulis oleh calon peserta semuanya biasa-biasa saja. Tidak ada satupun yang spektakuler. Minum racun. Tembak mati. Memutus urat nadi dengan silet. Buat apa ikut bunuh diri massal jika ingin bunuh diri dengan cara seperti itu? Lakukan saja di kamar Anda. Saya segera mencari formulir milik Jojo dan…
Cuma gue yang boleh tau bagaimana gue akan mati.
***
 Mendadak, segala sesuatunya meledak diluar perkiraan.
Pertama, keputusan bahwa kegiatan ini akan digelar di Gedung MPR/DPR ternyata membuat jumlah peserta menjadi meningkat. Hampir 30 ribu orang kini terdaftar sebagai calon peserta!
Susi, sekretaris panitia, kini tak sempat lagi mampir ke salon sepulang dari kantor. Sekarung formulir pendaftaran yang datang setiap saat, membunuh waktu luang Susi. Ah, kasian saya melihatnya, hingga saya berpikir untuk merekrut anak magang bekerja dalam kepanitiaan.
Dan anak magang itu adalah gadis kecil berumur 17 tahun!
Dia datang membawa gulungan kertas besar, masuk ke ruangan saya dengan berbalut kaos putih ketat bertuliskan huruf kapital besar berwarna merah; SUICIDE IS ROCK!
Bah!
Pusing saya melihat anak magang satu ini. Dalam hati, saya jadi penasaran, sesungguhnya dia tahu nggak sih makna dari tulisan yang tertera persis diatas buah dada-nya yang belum tumbuh sempurna itu?
“Ini gulungan peta-nya pak.” Kata si anak magang. Saya segera meraihnya, Perwira Polisi yang tempo hari berbicara dengan saya untuk memutuskan tempat kegiatan dilaksanakan, mengirimi gulungan cetak biru Gedung Parlemen Indonesia. Lalu handphone saya berdering.
“Pak Ketua?”
“Siap.”
“Sudah terima cetak birunya?”
“Siap. Right on my desk.”
“Jadi begitu ya pak Ketua.”
“Begitu bagaimana?”
“Loh, saya sudah nitip pesan pada panitia yang ngambil peta itu dikantor saya tadi, dia belum bilang?”
Saya melirik tulisan diatas buah dada itu; SUICIDE IS ROCK yang bergerak kesana-kemari. Si anak magang nyengir kuda!
“Saya bilang, kapasitas gedung parlemen kita terbatas, hanya untuk seribu orang Pak Ketua.”
“Begitu ya?”
“Jadi, Anda harus menyeleksi peserta yang 25 ribu itu menjadi seribuan orang Pak Ketua.”
“Pendaftarnya sudah 30 ribuan orang.” Selaku.
“ Hah ? Segitu banyaknya pak ? ”
“Ya, segitu meningkat pesat sejak Anda memutuskan kegiatan akan dilangsungkan di gedung parlemen.”
“Gila!” sahut sang perwira polisi dari seberang, “Mereka sadar kan kalau mereka ke Gedung Parlemen untuk mati, bukan untuk jadi anggota dewan?”
“Yah, mungkin, banyak yang ingin mati secara terhormat Pak.” Sahut saya.
“Gila!” Teriak sang perwira, membuat saya refleks menjauhkan handphone dari telinga sendiri, “Orang-orang sudah pada gila rupanya!”
*

Banyak hal yang membuat orang-orang menjadi gila.
Dan tugas si anak magang untuk menyiapkan laporan pada si perwira polisi yang meminta data latar-belakang peserta yang disebutnya ‘sudah pada gila’ itu.
“Seribu orang peserta, datang dari Sidoarjo, Jawa Timur. Mereka korban Lumpur Lapindo pak.”
“Seribu orang lain masuk kategori korban dan lain-lain.”
“Maksudnya dan lain-lain?”
“Yaaah, bapak tahulah,” kata si anak magang, “Korban gusuran, korban kenaikan harga-harga. Korban ketidak-adilan negeri ini.” Terang si anak magang lagi, “Karena kategorinya banyak, saya kelompokkan menjadi ‘Korban Dan Lain-Lain.”
“Hmmm, cerdas kamu!” puji saya. "Korban cinta, adakah yang masuk kategori korban cinta?"
Si anak magang menggeleng. Dari 30 ribu orang dan belum ada satu pun korban cinta? Sial!
Tiba-tiba pintu ruangan saya terbuka, Susi, sekretaris saya masuk bersama seorang laki-laki paruh baya.
“Pak Ketua.” Kata Susi, “Ini professor itu.”
Saya segera berdiri menyambut uluran tangan dan senyum hangat si Profesor. “Apakabar?” sapa saya, sang professor mengangguk.
“Saya sudah siapkan apa yang Pak Ketua minta.” Ujar si professor. Wow! Bisik saya dalam hati, tanpa basa-basi, benar-benar ilmuwan sejati. Sang professor segera membuka tas koper hitamnya, dikeluarkannya beberapa gulungan kertas, dan dibukanya diatas meja, persis diatas cetak biru gedung parlemen.
“Ini rencananya.” Kata sang professor kemudian. Saya memperhatikan gambar dalam gulungan kertas yang terbuka itu. “Saya akan membuat Gedung Parlemen menjadi kamar listrik raksasa!” serunya.
“Wow! That’s rock!” seru si anak magang terlonjak dari tempatnya berdiri. Suicide is Rocknya bergoyang-goyang kesana kemari. Sementara saya merasa sangat excited dengan rencana si professor yang sangat brilian itu. Konsepnya memang berawal dari sesuatu yang sederhana, kursi parlemen sering disebut sebagai kursi panas. Jadi tak ada salahnya, kegiatan Bunuh Diri  itu nantinya akan menerapkan istilah tersebut. Panas yang mematikan!
“Bagaimana?” Tanya si professor. Saya mengangguk-angguk.
“Bravo, prof!” puji Susi seolah mewakili saya.
“Ya, hanya tinggal satu masalah besarnya.”
“Apa?” Tanya saya.
“Ijin Gedung Parlemen?”
“Sudah saya kantongi Prof. Para anggota dewan sedang reses pada tanggal itu, kalau pun tidak, mereka mungkin sedang berkunjung ke luar negeri, studi banding Prof.”
“Atau kita buat reses sekalian? Hahaha.” Sang Profesor berusaha bercanda.
“Berapa daya listrik yang dibutuhkan Prof?”
Kening sang Profesor berkerut. Kerut yang tak akan kembali walau sudah diolesi kosmetik pencerah kulit bermerk sekalipun. “Itu dia…” kata sang Profesor tertahan.
“Prof?”
“Ingat akhir pekan kemarin sebagian Jakarta mati lampu?”
“Ya?”
“Itu saya sedang melakukan uji coba, hingga membuat sebuah gardu meledak, dan uji coba saya berantakan!” terang sang Profesor. “Pasokan listrik di Jakarta tak akan cukup untuk merealisasikan rencana ini.”
“Maksud Profesor?”
“Jika rencana ini dijalankan, maka pada hari pelaksanaan kegiatan, seluruh listrik di Jakarta akan padam, karena semua akan dialirkan ke Gedung Parlemen.”
“Berapa besarnya itu Prof?”
“Sekitar 150 Kilo Volt!”
“Wow! That’s rock!”
Aku melirik si anak magang.
“Susi…” panggil saya pada sekretaris saya yang berambut semakin kucel karena mulai jarang ke salon itu. “Bisa kamu ajak si anak magang ini keluar ruangan?”
Tanpa dua kali permintaan, Susi segera meraih pergelangan tangan si anak magang, lalu menariknya keluar ruangan.
“Kita punya masalah besar, bukan begitu Prof?”
Sang professor mengangguk.
“Masalah kekurangan daya listrik memang tak akan pernah terselesaikan,” kata si Profesor.
“Kenapa?” Tanya saya.
“Karena Pemerintah takut, stok listrik yang berlebihan, akan dipakai oleh rakyat untuk menyetrum diri Pemerintahnya sendiri!”
“Wow! That’s rock, professor!” seru saya. “Di negeri ini, ide yang nyetrum aja bisa dianggap berbahaya.”
bersambung ke part 5..... KLIK DISINI  untuk membaca


Beri tanggapan klik DISINI ya, jangan pelit - pelit
kembali ke PESAN PENULIS