ketika suara patah ranting mampu memecahkan telingaaku
berada dalam kesunyian yang sangat dalam
mengerti panasnya api
mengerti dinginnya salju
menatap langit berharap hujan
melawan diri berharap dapat
seperti layaknya bara api yang membesar
seperti dedaunan yang tercabik paruh lantas ketika saya tenggelam
tenggelam dan kelam
lalu kenapa?lantas kenapa?
kenapa jika seperti lapuk?
lalu apa lagi? siapa yang akan peduli?
jika aku menatap langit dengan tatapan sayup,
siapa yang akan mengerti?? apa yang saya rasakan hanya saya yang bisa mengerti.
lantas saya harus bagaimana? saya bukan orang penting. saya hanyalah orang lain untuk orang lain jadi apa saya harus mengeluh? siapa yang akan mendengar? ? sedangkan semut saja enggan mendengar jeritan ini
dan saya tak butuh hanya kata. saya butuh duri untuk saya injak. saya butuh tembok untuk saya pukul. dan seperti itulah rasanya_