lanjutan dari BUNUH DIRI MASAL 2012 PART 1
Seperti hari-hari belakangan ini, batre handphone saya lebih cepat habis dari biasanya, telepon masuk setiap satu menit sekali, bahkan saat tengah online, masih juga ada telepon yang mengganggu via nada sela. Mereka yang beruntung, akan langsung bisa berbicara dengan saya, seperti suara yang satu ini, suara cewek;
Seperti hari-hari belakangan ini, batre handphone saya lebih cepat habis dari biasanya, telepon masuk setiap satu menit sekali, bahkan saat tengah online, masih juga ada telepon yang mengganggu via nada sela. Mereka yang beruntung, akan langsung bisa berbicara dengan saya, seperti suara yang satu ini, suara cewek;
Halo?
Ya...
Saya mau...
Maaf, aku segera menyela kata-kata si cewek. Peserta
kegiatan Bunuh Diri Massal ini hanya untuk laki-laki, ujarku.
Oh tentu, saya bukannya hendak mendaftar, tapi ingin
mewawancari Ketua Panitianya.
Ups, begitu ya? Baiklah. Apa pertanyaannya?
Kenapa anda bisa sampai punya gagasan untuk mengadakan
kegiatan Bunuh Diri Massal itu?
Hmm, kata saya sedikit memutar otak. Begini,
Orang-orang yang menabrakkan diri pada kuda besi yang tengah melaju dengan
kencang! Sejak kecil, saya selalu menemukan potongan tubuh manusia yang
tercerai berai disantlap kuda-kuda besi yang tak mampu berhenti mendadak itu.
Kuda-kuda besi yang lajunya dilindungi undang-undang, sehingga kapan pun di
hendak lewat, semua harus berhenti. Setiap pagi, siang, sore, malam, saya
selalu melihat orang-orang berkerumun di jalur kereta api. Semua bahu-membahu
mengumpulkan potongan tubuh manusia, darah berceceran. Orang-orang yang bunuh
diri. Hampir setiap hari. Selalu menghantui saya setiap malam. Mimpi buruk saya
saat tidur.
Hingga saya selalu punya pertanyaan dalam benak saya
sejak kecil.
Apakah itu?
Ketakutan apa yang menghinggapi orang-orang yang bunuh
diri itu, sehingga mampu mengalahkan ketakutan mereka saat memutuskan untuk
berdiri dihadapan kuda besi yang melaju kencang dan meremukkan tubuh mereka?
Bisa diulang? Halo? Putus-putus mas...
Ketakutan seperti apa?
Saya, sampai sekarang, tak pernah menemukan jawabannya.
*
Semuanya laki-laki. Peserta acara akbar ini, harus
laki-laki. Dan, saya memutuskan untuk menyeleksi satu demi satu, mereka yang
mendaftar pada acara ini;
Ratusan bahkan meningkat menjadi ribuan, sejak iklan
televisi Bunuh Diri Massal itu disiarkan di televisi; BUNUH DIRI ADALAH
PERBUATAN! Formulir pendaftaran mengalir terus dengan deras. Meja kerja saya
menjadi tenggelam oleh tumpukan formulir. Dan saya sudah bertekad, untuk
membaca satu-demi-satu formulir-formulir itu. Mataku langsung tertuju pada
kolom isian, alasan kenapa mereka ingin ikut acara Bunuh Diri Massal ini;
ANDI;
Saya tak sanggup lagi hidup di dunia, saya menderita
leukimia.
SOFYAN;
Hidup sangat berat. Harga-harga mencekik dan membuat
saya tak mampu lagi mencukupi kebutuhan keluarga saya. Biarlah saya mati
bersama-sama kalian!
ANWAR;
Saya ingin membantu negara ini mengurangi angka
pengangguran.
Saya cuma mau mati. MATI! HIDUP MATI!
YOSEP;
Memang, apa enaknya hidup di negeri ini?
JATMIKO;
Saya tinggal sebatang kara dan sakit-sakitan. Dari
pada merepotkan.
BAMBANG;
Saya menanggung banyak hutang. Ijinkan saya mati.
EKO;
Negeri ini, negeri yang subur tapi tak
mensejahterakan, menjadi rakyatnya bagaikan hidup di neraka. Jadi, lebih baik
saya ke neraka yang sebenarnya bersama kalian.
*
Sekian ratus lembar formulir sudah saya baca.
Sekian ratus alasan sudah saya simak.
Tapi hati saya merasa kosong, ada jawaban yang saya
harapkan, tapi tak saya dapatkan di lembaran-lembaran formulir itu. Hey, kita
mau mati bersama-sama, tidakkah ada yang ingin mati karena alasan tak bisa
membanggakan orang tua??
Apakah itu tak lagi menjadi alasan yang indah untuk
mati?
Sialan keparat! Kenapa nggak ada yang ingin mati
karena orang tua atau Demi cinta? Dasar
keparat semua! Saya mengobrak-abrik tumpukan kertas diatas meja. Hingga membuat
Susi, sekretaris panitia mendobrak pintu masuk ruangan saya.
Ada apa pak?
Coba kamu perhatikan lagi semua alasan peserta.
Cek satu persatu, jika ada diantara peserta itu yang
menyatakan bahwa alasan bunuh dirinya karena tak di hargai orang tuanya. Kamu
bilang ke saya, mengerti?
Susi mengangguk.
*
Susi yang baik, kata saya seraya tersenyum, saya ingin
menemukan orang yang mau mati karena tak bisa membanggakan orang tua atau
karena cinta..... Dan semoga ada.
baca selanjutnya silahkanKLIK DISINI
baca selanjutnya silahkan
kembali ke PESAN PENULIS
