Hari ini saya
akan mengikuti even akbar Bunuh Diri Massal 2012 dan sebelum saya berangkat,
saya memutuskan untuk menuliskan beberapa kalimat. Berharap setelah ini ada
yang mau meluangkan waktu untuk membacanya.
Nama saya
Jojo dan Saya punya sebuah obsesi. Saya terobsesi kepada bunuh diri. Bukan,
bukan kematian, banyak orang membicarakan kehidupan setelah kematian, memakai
pakaian hitam dan sebagainya dan seterusnya, saya bukan salah satu dari mereka.
Obsesi yang menurut orang sangatlah aneh. Biarlah saya dibilang aneh, toh saya
memang tidak pernah ingin menjadi orang normal, toh mereka yang bilang itu aneh
bukan Ian Curtis, bukan Kurt Cobain, bukan Nick Drake, bukan orang yang pernah
merasakan bunuhdiri.
Umur saya 27 tahun. Sudah cukup umur berarti. Dengan ini saya telah memenuhi persyaratan untuk masuk klub Forever Young, dengan ini saya punya kesempatan ngejam bareng Jimi Hendrix di neraka, bercinta dengan Janis Joplin, dan yang terpenting mabuk bersama The Almighty Kurt Cobain! Saya berhenti memandang ke arah sebuah kotak besar, di kotak ini nantinya orang akan menyadari betapa hebatnya saya, saya pun menjadi legenda di alam pikiran manusia itu, manusia yang kelewat menghargai hidup, manusia yang sok ngerti arti hidup. Supaya lebih jelas, kotak itu berisi kumpulan karya yang saya kerjakan sejak menyadari bahwa saya punya talenta, tetapi saya terlalu malas dan unconventional untuk mengikuti prosedur standar menjadi orang yang terkenal, saya bukan hanya ingin dikenal karena karya-karya saya, saya tidak mau dilupakan begitu saja ketika tua, saya ingin dikenang!
Saya menemukan orang yang sepakat dengan saya, saya melihat iklannya di televisi, Bunuh Diri Massal! Fantastic Madness! Awesome! Ini Dia! Bergabung dengan sekumpulan pecundang memang bukan hal yang patut dibanggakan, tetapi berada dalam perhelatan akbar yang akan dicatat sebagai sejarah kemunduran umat manusia pasti akan hebat! Tidak ada orang yang akan menderita kerusakan mental permanent seperti halnya Holocaust, Pemboman Nagasaki! Keren banget deh kamu yang punya ide! Ternyata, di dunia yang kelewat gila ini ada juga yang senormal saya, bunuh diri itu sesuatu yang indah, mati itu bukan sesuatu untuk ditakuti, mati itu seharusnya dinikmati! Karena buat apa capek-capek hidup, padahal nantinya toh akan mati juga, jadi biarlah saya meringankan pekerjaan malaikat pencabut nyawa, supaya dia bisa bersantai dan berleha-leha sedikit, biar saya saja yang mengakhiri ini.
Tak lama, Saya pun mengajukan diri untuk mendaftar ke panitia. Saya pun diberikan lembaran kosong berupa aplikasi untuk mengisi beberapa informasi yang diperlukan sebelum dan sesudah kematian. Gampang lah. Ada berbagai kolom yang harus diisi, ada tentang permintaan terakhir, tentang bagaimana saya seharusnya dikubur, pesan dan kesan selama hidup, kata-kata mutiara, terlihat yang paling penting adalah kolom yang menyatakan alasan apa yang membuat saya ingin terlibat di kegiatan ini.
Itu tulis saya. Walaupun Gue bukan sesuatu yang biasa saya pakai dalam kehidupan saya sehari-hari karena terkesan egois, saya menuliskannya juga. Bukankah itu terlihat cocok dengan inti acara ini? Keegoisan.
Hari-hari menjelang tanggal yang ditentukan, acara itu menghadapi kesimpang siuran dan berbagai permasalahan, sampai akhirnya tersiar kabar bahwa pendaftar akan diseleksi. Ah, bahkan dalam hal bunuh diri pun ada ketimpangan hak. Untungnya, saya diberi tahu bahwa saya terpilih untuk mengikuti pesta ini. Memang ini bukan pesta barbeque yang bakalan dihiasi keceriaan, tapi setidaknya ini bisa disamakan dengan Pesta Topeng, setidaknya After Party Pesta Topeng. Saya capek terus-terusan memakai topeng, harus terus tersenyum dan nurut apa maunya semua orang. Sekarang saatnya melepas topeng ini, dan benar-benar tersenyum.
Akhirnya datang juga hari itu, dalam perjalanan saya menyempatkan diri menyiapkan beberapa hal, surat yang anda baca ini, mp3 player, dan sebuah obat. Obat ini saya butuhkan, untuk memastikan saya mati, soalnya saya ragu dengan sarana yang mereka sediakan, ternyata memang tidak ada yang bisa membuat saya puas, apalagi kalau berhubungan di sistem.
Di ruangan ini, saya tersenyum kagum, hei para malaikat sambut aku dengan gegap gempita nanti ya. Saya berpapasan dengan ketua panitia penyelenggara acara ini di luar tempat eksekusi, saya mengenalinya dari beberapa acara di TV, dan saya pun memutuskan menambahkan percakapan saya dengannya di surat ini.
“Bung, terima kasih udah bikin acara ini”
“Oh, saya yang seharusnya berterima kasih karena sudah mau berpartisipasi”
“Kenapa ingin bunuh diri?”
“Cinta
jawabannya, dan saya kesepian ketika mendapati tidak ada orang yang ikut disini
mati karena alasan cinta, semakin lama makin banyak orang tak romantis”
“Oh tenang saja, anda punya saya, saya ingin mati karena cinta”
“Karena cinta?”
“Iya”
“Anda mencintai seseorang?”
“Saya mencintai diri sendiri, cinta kan gak harus kepada orang lain”
Dan dia terdiam, memegang bahu saja sejenak, tiba-tiba berkata “nanti kalau kita berpapasan ketika penghitungan dosa dan pahala, jangan segan untuk menyapa saya ya” lalu tersenyum, matanya menatap lurus ke depan sambil berjalan ke ruang eksekusi itu.
Saya mengikutinya dari belakang, sambil berkata dalam hati “semoga kita ditempatkan di sel neraka yang sama.”
kembali ke PESAN PENULIS