ini merupakan kilas balik dari cerpen Bunuh Diri Massal 2012 pada part 6 yang saya upload beberapa waktu lalu. ntah iseng atau gimana tapi ada pembaca yang menanyakan kenapa saya memilih lagu "The Big Bang Prophecy" untuk jadi lagu tema di cerita saya itu (kalo mau download lagunya silahkan klik DISINI). kalo alasan sebenarnya si karna waktu saya menulisnya, saya sedang mendengarkan lagu itu dan kalo alasan di cerpennya kira kira seperti dibawah ini.. silahkan membaca.
......................
Tiba-tiba pintu terbuka dengan kasar!
......................
Tiba-tiba pintu terbuka dengan kasar!
Juga terdengar suara teriakan Susi.
Saya dan beberapa orang yang ada diruangan kantor saya,
terkejut setengah mati. Setengah mati saja, karena sisa mati yang lain akan
resmi di lakukan pada 22 Oktober nanti.
Laki-laki bersetelan jas lengkap masuk ke dalam ruangan
dengan langkah tegap. Dia memakai sepatu kulit buatan Italia, Cesare Paciotti.
Sepatu yang juga di pakai oleh Bruce Willis.
Tapi tunggu dulu.
Sebelum Tuan Paciotti mendobrak masuk, saya tengah meeting
bersama beberapa orang; meeting persiapan akhir untuk acara 22 Oktober nanti.
Sosok pertama yang duduk di kanan saya adalah pengusaha
katering. Saya harus siapkan katering untuk seribu peserta; mereka harus
menghadap maut dengan perut kenyang. Jangan sampai, sejarah mencatat, negeri
ini membiarkan rakyatnya mati yang hendak mati dengan sadar, melakukannya dalam
keadaan lapar. Toh yang terpaksa mati kelaparan sudah banyak. Maka, prioritas
pertama adalah menyediakan katering yang enak, mewah dan mengenyangkan, tak
perlu bergizi.
Pengusaha katering itu; Ade Putri.
Anda kenal dia?
Oh, dia orang yang merespon pertamakali pengumuman adanya
kegiatan Bunuh Diri Massal ini pada 31 Agustus lalu di situs resmi. Anda lupa?
Saya akan mengingatkannya;
delete-reply
adeputri wrote on Aug 31
Selamat bunuh diri. Kalau nanti butuh catering service, baik
pada waktu nongkrong-nongkrong sebelum bunuh diri, atau waktu tahlilan etc.,
bisa hubungi eike yesss. Pembayaran di muka, sebelum bundir. Woohoooo!
Dan saya memilih dia, si Ade Putri ini, untuk menjadi
pengusaha penyuplai katering. Official Catering Partner Bunuh Diri Massal 2012,
begitu title dalam lembaran kontrak yang disiapkan Susi.
Ade tengah melakukan presentasi pada saya; tentang makanan
apa saja yang akan dia siapkan pada 22 Oktober nanti. Makan berat, atau cemilan
ringan. Yang bergizi, atau yang cuma enak dimulut. Berapa kandungan kalori yang
disiapkan agar setruman mampu mengalir tanpa terhalang lemak badan? Itu yang
sedang kami hitung dan pertimbangkan.
Tapi sebelum membahas soal makanan, saya lebih dulu membuka
meeting dengan membicarakan tema yang sangat penting. Tadi saya bilang tema
kan? Yah, lagu tema. Theme song!
Dan gadis itu, yang datang dengan membawa sebuah i-pod hitam
dalam genggaman jemarinya, duduk disebelah kiri saya. Namanya, Irene.
“Kelamin saya membuat saya tak dapat ikut acara ini, jadi
saya membuatkan lagu untuk Anda dan seluruh peserta.” Kata Irene. Saya
tersenyum mendengarnya, suaranya sangat merdu.
“Tapi maaf, bahkan suara perempuan pun…” kata saya kemudian,
“Maksud saya, lagu yang dinyanyikan oleh vokal perempuan seperti Anda, juga
sangat dilarang untuk diperdengarkan.”
Wajah Irene berkerut. Tapi dari sudut saya melihatnya,
kerutan itu membuatnya tampak lebih cantik.
“Kenapa?” Tanya gadis itu kemudian.
“Yah, well..” kata saya mencoba memberinya pengertian.
Perempuan harus dimengerti bukan? “Begini…” lanjut saya, “Kita semua, 999
peserta termasuk saya, akan melakukan ritual Bunuh Diri Massal itu.”
“Saya tahu, makanya sebelum acara itu, saya sodorkan lagu
tema ini.”
“Sebentar,” ujar saya, “Jangan menyela.” Perempuan memang
nggak sabaran. “Sekarang kamu bayangkan, Irene,” kata saya melanjutkan, seraya
mendekatkan wajah saya satu jengkal dari wajahnya, menatap mata Irene yang
dalam. “Kamu bayangkan, apa jadinya, jika kami semua, laki-laki yang akan mati,
tiba-tiba mendengar alunan suara seorang perempuan? Suaramu?”
“Aku tahu!”
Saya menoleh ke samping kanan, Ade Putri mengacungkang jari
telunjuknya. Saya melempar senyum padanya. Si pengusaha katering itu
melanjutkan kata-katanya; “Tentu acara itu akan mundur kan?”
“Parah lagi, bisa jadi para peserta mendadak mengundurkan
diri,” tambah saya, “Karena tiba-tiba, mereka teringat ibunya, teringat
pacarnya teringat perempuan-perempuan yang menghantui hidup mereka selama ini.”
Lanjut saya, “That’s why, peserta perempuan dilarang keras ikut dalam acara
ini. Acara ini didedikasikan untuk mereka!”
Sebelum laki-laki menjadi idiot hanya gara-gara mendengar
suara perempuan!
“Dan acara yang sudah terencana dengan baik ini menjadi
buyar hanya gara-gara mendengar suara lagu yang kamu nyanyikan.” Kata saya pada
Irene. Mimik gadis itu masih berkerut. Irene mendorong i-pod hitamnya yang
sedari tadi tergeletak diatas meja ke arah saya.
Saya melirik pergerakan tangan lentiknya di atas meja.
“Dengarkan dulu.”
“Sudah saya bilang kan, kamu masih nggak ngerti?”
“Dasar batu, dengarkan dulu!” Irene berkeras.
“Baiklah.”
Tangan saya bergerak meraih earphone putih itu, dan hendak
menyelipkan keduanya diantar lubang telinga saya. Ketika tiba-tiba…
Brakkkkk!!!
Tuan Cesare Paciotti mendobrak masuk diiringi teriakan
histeris Susi.
“Anda!”
“Saya?”
“Ya Anda!” kata laki-laki yang sudah berdiri dan menunjuk
wajah saya dengan telunjuknya. “Saya mencari Anda!”
Saya mencoba tenang.
“Ada yang bisa saya bantu?” Tanya saya, “Anda siapa?”
Tuan Cesare Paciotti itu tersenyum sinis. “Anda tak perlu
tahu siapa saya, tapi saya minta, Anda menghentikan kegiatan bodoh dan konyol
ini!”
Sekarang saya sedikit emosi.
Mata saya mulai memeriksa sosok di hadapan saya ini. Celana
kainnya bermerek, jas mahal, dasi mewah, dan penjepit emas. Serta jam tangan
emas di pergelangan tangan kanan. Dan sepatunya tentu saja, seperti saya bilang
tadi, Cesare Paciotti, merek sepatu kulit mahal dari Italia, yang saking
mengkilatnya, membuat sebutir debu terpeleset jika mencoba-coba hendak mendarat
diatasnya.
Dia, laki-laki berjas itu, mendekatkan wajahnya ke muka
saya, persis seperti yang saya lakukan pada Irene tadi.
“Anda dengar baik-baik,” katanya dengan berbisik. Saya
menatap matanya yang membara. “Anda harus hentikan kegiatan bodoh dan konyol
Anda ini, sekarang juga, detik ini juga.”
Saya terdiam mendengarkan.
“Kalau tidak…”
“Ah, ancaman…” desis saya. “Anda tahu, ada beberapa kata popular
di negeri ini; barang siapa adalah yang paling popular, diikuti kalau tidak…”
ujar saya.
“Saya tidak peduli, mau kata popular atau tidak,” kata
laki-laki itu kemudian, “Saya akan hentikan kegiatan kamu ini, bagaimana pun
caranya, sampai detik terakhir nanti.”
Brakkk!!
Tangan laki-laki itu menghantam permukaan meja, menggebrak,
jemarinya menyenggol i-pod Irene, menekan PLAY…
Membuat sebuah lagu terputar ditelinga saya;
Yes we know that our earth is sick
And we're desperately trying to cure it
So let's just drop something atomic
As an action to clean it…
Suara vokal seorang laki-laki.
Lagu yang menggelisahkan. Segelisah hati saya yang mendadak
muncul ketika Tuan Cesare Paciotti melangkah pergi.
Lagunya masih mengalun di telinga saya;
Then the World will soon come to its end
but we'll still be together holding hands
Being the new Adam and Eve
In the sunset of the New Year's Eve…
