22 Oktober 2012.
Saya memilih tanggal
itu. Sebagai hari pelaksanaan kegiatan Bunuh Diri Massal 2012.
Kenapa?
Sederhana, itu hari ulang tahun saya.
Seorang anak laki laki yang selalu gagal membuat orang tuanya bangga. Dan, saya
ingin mengakhiri hidup saya di hari peringatan kelahiran saya.dan tanggal ini merupakan hari jadi sat dengan seseorang yang tak pernah saya lupakan.
Kamu tahu kenapa saya menggagas
acara ini? Acara bunuh diri massal ini? Karena saya ingin tahu, ketakutan
terbesar apa yang membuat seorang manusia tak lagi takut pada mati. Dan
jawabannya? Dari hasil seleksi dan meloloskan 999 peserta yang akan lengkap
menjadi seribu orang ditambah saya, tak ada satu pun yang berprinsip ‘lebih
baik mati jika tak bisa membanggakan orang tua’.
Tapi nasi sudah menjadi bubur. The
show must go-on.
Walau akhirnya akan mati bersama 999
orang dalam Gedung Parlemen yang megah itu, toh saya tetap merasa sendiri,
tetap merasa kesepian.
“Bapak mau teh? Badan bapak
bergetar.”
Saya menoleh, itu suara sekretaris
saya, Susi. “Bapak mau saya temani?”
Saya menggeleng.
“Saya sedang menulis catatan
terakhir saya sebagai Ketua Panitia Susi, kamu boleh pulang.” Kata saya
kemudian.
“Saya akan tetap disini pak, ini
hari-hari terakhir sebelum tanggal 22, saya ingin punya banyak waktu lebih
bersama bapak.”
Saya tersenyum ke arah Susi.
Sekarang, segala sesuatunya tak lagi
bisa dihentikan.
Segala tetek bengek ijin dari
kepolisian hingga pengurus kelurahan sudah dikantongi panitia. Setiap hari,
stasiun-stasiun televisi menayangkan satu demi satu profil peserta. Mulai dari
latar belakang mereka, hingga niatan bunuh dirinya. Rating setiap acara yang
menayangkan liputan Bunuh Diri Massal selalu saja mendapat peringkat tertinggi.
Hingga suatu hari, sebuah telepon dari petinggi stasiun televisi meminta saya
untuk memundurkan acara kegiatan, agar masih tersedia waktu untuk mereka meraup
untung sebanyaknya dari iklan.
Tentu saja saya menolak
mentah-mentah!
Saya sudah terlanjur kecewa tak
menemukan cinta dan kasih sayang sebagai alasan bunuh diri. Fakta itu saja
sebenarnya sudah bisa membuat saya memutuskan untuk menghentikan acara, dan
membubarkan kepanitiaan yang saya ketuai. Tapi semua tak semudah itu. Saya
tetap ingin mati, demi cinta dalam hati. Dan karena saya takut mati sendiri,
maka saya membutuhkan 999 orang menemani saya menghadapi kematian!
Susi masuk membawakan secangkir teh
hangat untuk saya. Saya menyeruput teh hangat buatan sekretaris saya, lalu
memandangi wajahnya untuk menambah rasa manis teh.
“Apa rencanamu setelah tak lagi
bekerja disini, Susi?” Tanya saya. Gadis itu menggeleng.
“Saya belum tahu pak.” Jawab Susi
datar, “Mungkin saya akan pulang ke kampung dan bercocok tanam!”
“Bercocok tanam?!”
“Hahaha, itu becanda pak.”
“Oh, sialan kamu!”
Sejenak, terjadi jeda yang canggung.
“Kamu cantik Susi, kenapa kamu nggak
menikah saja?” Tanya saya kemudian.
“Bapak, kenapa bapak tidak
membatalkan acara ini saja?!” tiba-tiba suara Susi meninggi, setengah histeris.
Pertanyaan basa-basi, dijawab dengan pertanyaan serius. Mati terkejut saya.
Setetes airmata, keluar dari sudut mata kiri Susi. Saya terdiam dan memandangi
sekretaris saya yang aselinya, sesuai KTP hanya memiliki deret empat huruf
dalam namanya; SUSI.
“Kenapa kamu berkata begitu?” Tanya
saya. Susi menunduk, menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia menangis sesenggukan.
“Saya nggak tahu pak,” jawab Susi
dengan terus menunduk. “Mungkin, saya tiba-tiba merasa takut kehilangan bapak.”
“Kenapa kamu tiba-tiba merasa takut
kehilangan saya?”
“Karena…” suara Susi tertahan.
“Karena bapak baik sama saya.”
“Hahaha…”
“Karena, dari seribu orang yang akan
mati besok, hanya bapak yang menjalaninya karena cinta.” Lanjut Susi.
*
Cinta?
Susi, cinta itu absurd.
“Kamu tahu siapa yang saya cintai
Susi?”
Susi menatap saya.
“Saya mencintai diri saya sendiri,
Susi.” Kata saya kemudian, membuat Susi berhenti menangis sesenggukan.
“Setelah 22 oktober, saya akan dikenal
sebagai martir.” Kata saya dengan tegas dan berwibawa. “Sebagai penggagas.”
Lanjut saya mantap. “Dan orang-orang akan mengingatnya.”
Susi memandang saya dengan sorot
mata berbinar.
“Saya berharap, kamu mau melakukan
satu lagi pekerjaan sebagai sekretaris saya, walau pun saya sudah mati Susi.
Sebelum kamu kembali ke kampung dan bercocok tanam tentunya, hahaha.”
“Saya akan melakukannya, Pak.” Jawab
Susi tegas sekali. Saya memandangi sekretaris saya itu. Mata Susi tampak
bersemangat menunggu kata-kata saya selanjutnya.
“Saya mau…” kata saya, “Ketika saya
telah mati nanti, kamu meminta dokter untuk mengambil hati saya…”
“Lalu…”
“Sebentar,” kata saya seraya
mengangkat tangan. “Kamu bawa hati saya dan bungkus lah sebagai kado. Taruh di
dalam kotak yang mahal, beralas kain sutera, dan ikat dengan pita.”
“Kado?”
“Hati saya menjadi sebuah kado hari
jadi.”
Susi terperangah.
“Kamu mengerti Susi?”
“I.. iya pak, saya paham.”
“Antarkan pada hari itu juga
ya, 22 oktober itu hari ulang tahun saya plus hari jadian saya
dengan Dia seseorang yang pernah bersama saya memandang kembang api.” Kata saya kemudian.
“siapa pak? Bidadari Bapak itu ya?”
Saya tersenyum. “Susi yang baik,
kamu kan sekretaris ku, kamu tidak saja cantik, tapi juga pinter…”
“Oh, maksudnya, kado itu buat saya?”
“Bukaaaaaannnn!!!” potong saya
cepat.
“Ah, bukan saya, sudah GR aja saya pak.
Lagian 22 oktober bukan hari jadian saya juga pak.”
“Bukan, bukan untuk kamu Susi.” Kata
saya buru-buru, “Kamu cukup menjadi sekretaris saya, membuat saya sukses mati
bersama 999 orang lainnya dan mengantarkan hati saya nantinya.”
“Iya, tapi diantar kemana pak?”
“antarkan ke alamat ini, dan bicara
padanya bahwa sampai saya mati.. hati saya masih tetap miliknya”
Susi mendengarkan.
“Baiklah pak.” Kata Susi. “Saya akan pamit pulang
sekarang.” Lanjutnya seraya bangkit dari kursi dan hendak melangkah keluar
ruangan saya.
“Oiya, satu hal lagi.”
Langkah Susi terhenti.
“Pastikan di sebelah saya, duduk
seorang peserta yang bernama Jojo itu. Saya membutuhkan enerjinya untuk
menambah keberanian saya menghadapi maut.”
Susi pun mengangguk.
*
Susi telah menghilang dibalik pintu.
Sekarang tinggal saya sendirian.
Siapa saya?
Saya Ketua Panitia Bunuh Diri Massal
2012. Saya dihujat dan saya dipuji. Tapi saya tak peduli. Semua demi sebuah
kado yang tak ada duanya di dunia ini. Setelah catatan terakhir saya ini, saya
akan berada dalam Gedung Parlemen, memandang patung kayu Garuda Pancasila yang
kaku, dan menekan tombol sengatan listrik tepat pukul 10 pagi.
Setelah saya menulis ini, saya tak
akan bisa lagi menceritakan apa yang terjadi. Semoga seseorang menuliskan
peristiwa bersejarah itu kepada kalian semua.
22 Oktober.
Saya akan mati ditemani 999 orang
peserta Bunuh Diri Massal.
Dan hati saya akan diantarkan oleh
Susi, sebagai kado untuknya.
22 Oktober.
Hatiku selamanya, untuk sang cinta sejatiku.
Kubiarkan kumengikuti, suara dalam
hati. Aku mencintainya namun inilah jalanku
bersambung ke part 6. KLIK DISINI