BUNUH DIRI MASSAL 2012 ( part.6 TAMAT ) ~ pratamagta

Saturday, January 14, 2012

BUNUH DIRI MASSAL 2012 ( part.6 TAMAT )


Polda Metro Jaya. Pukul 11.52 wib; 22 Oktober 2012, saat adzan dzuhur tengah bersahutan di langit Jakarta. Laki-laki itu duduk dibalik meja kerjanya. Berbalut kemeja putih dan dasi merah. Wajahnya tampak tegang. Di seberang meja jatinya yang penuh dengan berkas berserak, duduk seorang lelaki kurus. Semestinya, hal ini biasa saja, menginterogasi seorang tersangka, tapi sang perwira Polisi sesungguhnya tak yakin, apakah sosok yang duduk terdiam dihadapannya, pantas disebut tersangka.
Sang perwira Polisi menarik napas panjang, berusaha menyamankan dirinya, menaruh kedua tangan diatas keyboard, bersiap memulai dengan pertanyaan pertama, sesuai prosedur yang sudah diajarkan di bangku Akademi Kepolisian;
“Nama saudara?”
“Saya?”
“Ya, saudara?”
“Jojo…”
Dan tiba-tiba, entah karena apa, sang Perwira Polisi memutuskan untuk melupakan semua prosedur yang diajarkan padanya di Akademi Kepolisian, dan segala perintah atasan; keyboard dia dorong menjauh dari kedua tangannya; wajahnya lalu mendekat kearah Jojo.
“Begini saja, anak muda.” Kata sang Perwira. Jojo menatap sang Perwira, mendengarkan. “Ceritakan pada saya, apa yang terjadi di dalam Gedung DPR/MPR itu, pada hari ini, 22 September 2012, beberapa saat yang lalu.”
Tak ada jawaban. Tapi kemudian Jojo angkat suara;
“Saya tak pandai bercerita, tapi bolehkah saya meminjam komputer bapak?”
“Untuk apa?”
“Saya akan menuliskan kisahnya…”
*

Sejak kecil, aku selalu menginginkan ini, Jojo. Menjadi pelukis.
Kira-kira begitulah ucapan Evelyn, kalian tak mengenalnya tentu saja.
Evelyn adalah sosok cewek yang saya harap menjadi kekasih saya, ketika saya menghadiri pembukaan pameran lukisan solo pertamanya. Ia tampak begitu bahagia. Terlebih karena berada di antara lukisan-lukisannya, bukan karena berada di antara orang-orang yang ia sayangi. Saya hanya tersenyum melihat mimik gembiranya. Saya rasa seulas pun cukup untuk membuat ia tahu bahwa saya bahagia untuknya.
Itu Evelyn, sekarang saya.
Sejak kecil, saya sudah memimpikan satu hal yang tidak pernah berubah. Cita-cita saya hanya satu seumur hidup ini, menjadi pahlawan. Tidak, tidak menjadi dokter yang katanya “menolong orang” melalui dunia medis. Tidak juga menjadi pahlawan dengan mendaftar akademi militer ataupun kepolisian. Saya ingin menjadi pahlawan full-time. Seperti Jenderal Sudirman dan Mohammad Yamin. Pahlawan yang benar-benar konkrit, tidak secara kiasan ataupun ungkapan. Tidak dengan menjadi guru. Pokoknya pahlawan. Bukan, bukan superhero. Tapi pahlawan.
Hari ini adalah Hari H. 22 Oktober 2012. Jam sembilan lebih empatpuluh tiga menit Waktu Indonesia Barat. Gedung MPR/DPR RI. Atau kalau menggunakan Bahasa Pak Ketua, “Gedung Parlemen”. Ah, Pak, ini bukan Amerika. Sistem kita bukan Parlementer.
Saya mendapat tempat duduk tepat di sebelah orang yang paling penting dan mulia di acara ini. Ketua Panitia Bunuh Diri Massal 2012. Ya, saya berada di sebelahnya. Mendadak saya merasa bahwa Tuhan membukakan jalan yang seluas-luasnya agar saya bisa menjadi pahlawan. Meskipun terlambat.
Ruangan ini, entah mengapa, terasa begitu dingin. Lantai marmer yang kami injak-injak sejak tadi juga sepertinya sama. Sangat dingin. Saya jadi berpikir, mengapa neraka selalu diidentikan dengan panas? Padahal sesuatu yang kelewat dingin pun sama menakutkan dan sama menyiksanya. Bayangkan darahmu membeku secara konyol. Bayangkan jika kau tidak bisa bicara karena rahangmu bergetar, dan tidak bisa bergerak lagi. Beku.
Di sini, semuanya sudah disiapkan dengan rapi. Susi , sekretaris Bunuh Diri Massal 2012 yang mendadak terkenal, berjalan wara-wiri ke sekeliling ruangan. Mengecek segala sesuatunya agar dapat berjalan dengan lancar. Sementara itu, Si Anak Magang yang tidak pernah diketahui siapa namanya (ia tidak pernah diekspos karena selalu dianggap “masih di bawah umur” untuk terlibat suatu peristiwa radikal seperti ini), menolong Susi dengan berkeliling memeriksa apakah sabuk kursi listrik yang diduduki masing-masing peserta sudah terpasang dengan benar.
Mati dengan kursi listrik… Betapa… kampungannya. Seperti ikut-ikutan di film The Green Mile saja. Apakah sebaiknya saya memilih menjadi Tom Hanks? Menonton orang-orang mati di atas kursi listrik dengan konyolnya. Saya akan terbahak-bahak dengan puas! Sudah saya katakan, bukan? Bahwa saya akan mati dengan cara saya sendiri. Dengan sebuah cara yang glamor, menyenangkan, indah, menggairahkan. Bukan dengan konyol dan kampungan seperti 999 orang lainnya. Kursi listrik? BAH!
“Saya tidak sabar ingin bunuh diri. Menurutmu, Jo, akankah kita bertemu Tuhan dalam hitungan menit setelah jam sepuluh?” tanyanya. Saya menengok, Pak Ketua tersenyum ramah. Saya sampai bingung. Mengapa ia bisa-bisanya menjadi ketua acara seperti ini, padahal, dari garis mukanya, tidak ada ekspresi depresi sedikitpun? Padahal…
Semua orang yang ada di sekeliling, punya mimik dan air muka yang… jauh lebih konyol dibanding fakta bahwa mereka semua akan mati konyol di atas kursi listrik yang dikendalikan oleh orang yang dikenal sebagai Pak Ketua. Mimik mereka: takut, depresi, bingung, mengambang, datar, urung, sedih, terluka… Hal-hal menyedihkan. Betapa menyedihkannya orang-orang ini. Ini adalah impian mereka, dan saya. Bunuh Diri Massal 2012 akan dilangsungkan pada hari ini, beberapa menit lagi. Ini adalah sesuatu yang sudah mereka impi-impikan. Sesuatu yang mereka tunggu-tunggu selama berhari-hari. Tidak ada satupun dari mereka yang raut wajahnya bahagia selain Pak Ketua yang ada di sebelah saya ini. Sepertinya Pak Ketua, seperti rumor yang ada di televisi, benar-benar seorang psikopat. Psikopat yang tertawa terbahak-bahak sebelum membunuh seribu orang dengan kursi listrik.
 “Sudah tau bagaimana kamu akan mati, Jojo?” tanyanya lagi.
“Ya,” jawab saya, singkat. Saya mengeluarkan sebuah senjata api dan meletakkannya di atas meja, untuk memberi distraksi terhadap rekaan-rekaan yang ada di kepalanya. Rekaan-rekaan orang sok tahu seperti dia.
“Hmmm. Tetap tidak mau bunuh diri dengan cara yang sama seperti ratusan peserta lainnya?” tanya Pak Ketua kemudian. Saya hanya menggeleng lemah, sambil memperhatikan ke mana ia akan membawa pembicaraan ini. Mana mau saya mati konyol seperti kamu, hah? Saya jadi berpikir. Pak Ketua menekan tombol itu, mengaktifkan kursi listrik 999 peserta lainnya. Berarti, ini bukan Bunuh Diri Massal. Ini justru seperti holocaust atau semacamnya, di mana seseorang membunuh 999 orang secara bersamaan. Mungkin caranya saja yang lebih keren dibanding jaman Hitler. Lebih high tech! Tapi, tetap saja, konyol!
“Yang saya masih tidak habis pikir... Tidak ada satupun orang yang ingin bunuh diri karena cinta. Awalnya saya kira, jatuh cinta adalah alasan paling umum bagi seseorang untuk merasa tidak kuat hidup lagi. Ternyata saya salah. Dari tigapuluh ribu pendaftar, tidak ada satupun yang ingin mati karena cinta. Apakah cinta telah membuat manusia menjadi kuat?”
Saya menghela nafas panjang. Sepertinya saya berada di tempat yang salah. Orang-orang yang ikut bunuh diri massal ini, apalagi ketuanya, sudah tentu merupakan orang-orang paling melodramatik sedunia. Saya tidak menyukai gaya bicara seperti ini. Mengapa demi hidup, orang-orang ini merasa harus mati? Dengan mati, saya rasa kita justru melengkapi hidup, bukannya mengakhirinya. Mengapa mati diidentikan dengan kesedihan? Dengan mati, kita bisa bertemu Tuhan. Dengan mati pula, kita bisa mengakhiri fase memilih dalam hidup yang tiada habisnya, karena hidup adalah tentang memilih sesuatu yang paling jujur dan benar dari segala macam pilihan yang disediakan. Life is a multiple choice!, seperti kata Joker.
“Tentu tidak, Pak Ketua. Saya rasa, mereka yang ingin mati karena cinta tidak perlu mendaftar di acara ini. Jatuh cinta adalah suatu perbuatan dengan resiko yang sangat banyak. Jika seseorang memilih untuk jatuh cinta, berarti ia pun telah memilih cara matinya. Meninggal perlahan-lahan seiring dengan berjalannya waktu. Jatuh cinta itu bunuh diri,” jawab saya. Mungkin orang-orang yang jatuh cinta akan memilih untuk bunuh diri di depan orang yang mereka sayangi, bukannya di hadapan Garuda Pancasila yang digantung di dinding Gedung MPR/DPR ini. Ya, biar melodramatik saja… “Bakal ngaret nggak nih, Pak Ketua?” tambah saya.
Kau tahu, di Indonesia, terlambat adalah budaya. Tapi, masak sih sampai ketika ingin bunuh diri pun manusia tetap ingin terlambat? Kalau saya bakal bunuh diri, saya maunya tepat waktu!
Pak Ketua menggeleng. “Tentu tidak. Saya memegang kontrol penuh atas acara ini. Ketika saya menekan tombol merah ini, semuanya akan berakhir dalam sesaat. Habis. Hancur. Kita semua mati bersama-sama di atas kursi listrik ini. Bisa mengikutinya kan?” katanya. Mungkin ia berkata seperti itu karena menurutnya saya mungkin memiliki cara-cara yang sudah saya tetapkan untuk mati. Menembak kepala saya, misalnya.
Saya sudah menetapkannya sejak lama. Bagaimana, di mana dan kapan saya akan mati.
Sayangnya, orang-orang di sekitar saya ini memilih untuk menjadi bagian common dari masyarakat. Bahkan, ketika menentukan cara mereka mati, menentukan waktu, menentukan tempat. Bunuh diri yang dirancang sedemikian rupa seperti sunatan massal. Apa bedanya? Professor yang sejak tadi mondar-mandir mengecek segala macam hal yang berhubungan dengan kursi listrik adalah dokter yang siap dengan alat-alat untuk khitanan. Susi adalah salah satu ibu PKK yang merupakan panitia inti dari peristiwa akbar ini. Si Anak Magang menjadi ‘anak bawang’ yang dimintai tolong mengambilkan perlengkapan khitanan. Sampai mengundang catering segala untuk bunuh diri saja! Sementara itu, 999 orang di sini, adalah orang-orang yang belum disunat.
Saya jadi menyimpulkan sendiri. Mungkin saja, Bunuh Diri Massal ini khusus laki-laki karena mengadopsi penuh tata cara pelaksanaan sunatan massal!
Ada beberapa orang yang tidak saya kenal, menyiapkan alat-alat untuk memainkan musik di hadapan seribu peserta Bunuh Diri Massal 2012. Ah ya, mungkin mereka yang akan memainkan anthem acara ini, yang berjudul “The Big Bang Prophecy”.We’ll build the world that Lennon imagined. Bah, tahu apa orang-orang ini tentang John Lennon? Mereka sok tahu. Seperti 999 orang ini yang sok ingin berpartisipasi dalam perhelatan akbar Bunuh Diri Massal 2012 padahal sebenarnya takut mati.Looooseerrs. Jangan-jangan mereka benar-benar belum disunat!
Lagu itu mengalun dengan menyakitkan. Suara sang vokalis yang seperti suara orang yang menghirup lem Aica Aibon berlebihan itu menyayat-nyayat hati orang-orang menyedihkan di sekitar saya. Menemani degup jantung mereka yang tidak karu-karuan. Menemani raut wajah mereka yang setengah mati kampungan dan murahan. Membuat saya inginnya tertawa terbahak-bahak dan berkata, “Bodohnya kalian, kumpulan orang-orang bodoh…”
The world that full with Gibran’s limb. Oh, tahu apa kalian tentang Gibran?
Waktu terus bergulir sampai tiba saatnya di mana jam sepuluh adalah tinggal satu menit lagi. Seribu peserta telah berkumpul di dalam ruangan ini. Seribu orang. Keheningan luar biasa. Kombinasi hal yang jarang kita temui di Jakarta.Saya suka ini. Seribu orang yang biasanya beradu bacot luar biasa dan sekencang-kencangnya, mendadak diam. Seperti orang-orang di MPR/DPR yang seharusnya berdiskusi tapi malah tidur di Gedung ini. Betapa menyedihkannya.
Sementara saya, sudah siap dengan pistol ini. Siap menarik pelatuknya. Duduk di sebelah Sang Penentu. Jika tiba-tiba ia ingin hidup, acara ini pasti batal. Semua yang telah dilakukan akan sia-sia juga. Jika tiba-tiba ia ingin hidup, 999 orang ini tidak jadi mati konyol! Habislah mimpi-mimpi saya. Saya berharap bisa melihat mereka semua mati dengan konyol sebelum saya sendiri mati bunuh diri dengan pistol ini.
Dan sampai saat ini, saya masih belum menemukan jawabannya. Demi hidup, kenapa harus mati? Kenapa? Mati adalah sesuatu yang seharusnya menyempurnakan hidup.
Di atas meja, telah disiapkan selembar kertas dan sebuah pulpen untuk menulis suicide notes. Dari total kejadian bunuh diri, sekitar 20% pelaku meninggalkan pesan sebelum meninggal. Mungkin saja pihak panitia ingin meningkatkan persentase tersebut.
Omong-omong, hari ini saya berulangtahun yang ke 27. Bagi saya, 27 adalah angka yang sangat penting di dalam kehidupan. Orang-orang penting mati di umur 27. Kurt Cobain, Janis Joplin, Brian Jones, Jim Morisson sampai Jimi Hendrix.The 27 Club. Akankah saya menjadi salah satu dari orang-orang penting tersebut?
“Punya istri? Pacar?” tanya saya kepada Pak Ketua. Ia menengok dengan mimik bingung.
Menggeleng.
“Sudah bilang selamat tinggal pada orangtua Pak Ketua?” tanya saya lagi.
Ia menggeleng lagi.
“Mungkin hari ini saya sedang melamar seseorang, atau sekedar mengantar ibu saya berbelanja. Mereka harus lihat prestasi ini nantinya. I will be the biggest somebody on Earth. The first person who encourages people to commit suicide. Apakah saya ada bedanya dengan LSM yang bergerak di bidang lingkungan? Sepertinya tidak. Saya juga ingin menyelamatkan dunia, dan ini cara saya.”
Saya mengangguk. Pak Ketua mengakhiri ceramahnya;
“Dan kau tahu Jojo, semua ini hanya untuk sebuah kado.”
“Bah!” seru saya. Tiba-tiba wujud Pak Ketua berubah menjadi pungguk, sementara bulan tetap akan bersinar setiap hari walau pungguk sudah menjadi bangkai.
“Sebuah kado spesial berbentuk hati.”
“Ya ya ya..”
15 detik menuju bunuh diri massal yang telah ditunggu-tunggu. Suara penyanyi giting itu semakin menyayat hati. Degup orang-orang di sekeliling saya seolah-olah diperdengarkan melalui speakers. Seolah-olah saya benar-benar mendengarkan degup yang semakin cepat, seiring dengan raut wajah yang semakin takut, sedih, depresi, tidak terima, … ingin pulang.
Saya meraih pistol yang ada di hadapan saya. Memegangnya senyaman mungkin dan menyiapkan jari telunjuk untuk menarik pelatuknya. Tidak boleh ada yang salah dari hal ini. Saya sudah merencanakan semuanya. Saya sempat tersenyum sesaat mengingat tulisan yang ada di kaus yang saya kenakan. Let’s die and go to Heaven. Apakah saya akan masuk surga jika caranya seperti ini? Apakah orang-orang bodoh ini akan masuk surga?
Tunggu. Saya bahkan belum bilang bagaimana saya akan mati. Sebenarnya… Hanya saya yang boleh tahu.
5, 4, 3...
Satu detik lagi, tangan Pak Ketua akan menyentuh tombol tersebut dan menghabisi nyawa dirinya dan 999 orang lainnya – termasuk saya – secara bersamaan. Satu detik lagi, ia akan menjadi orang paling terkenal sedunia. Menjadi legenda. Menjadi kontroversi. Menjadi satu titik kebangkitan nasional, atau bahkan dunia. Menjadi orang yang mengubah segalanya meskipun proyek ini pada awalnya mendapat respon yang negatif dari masyarakat luas.
Saya menunduk. Menyadari bahwa hanya saya yang tidak memakai sabuk sialan itu. Saya tidak akan mati bersama-sama mereka. Saya akan mati belakangan.
Namun, tetap saja. Ia, tentu, kalah cepat dari saya.
“Satu detik lagi. Selamat ulang tahun… Selamat meninggal... Welcome to the new half of life!” kata Pak Ketua dengan lantang.
Saya menarik pelatuk pistol. Terdengar ledakan senjata yang bunyinya cukup keras. Bunyi yang muncul dari senjata api ini. Cipratan darah. Jeritan kampungan. Hening. Jeritan. Hening lagi. Saya tidak mati. Tentu saja. Pak Ketua tadi keseleo lidah, seharusnya ia mengatakan “selamat tinggal”.
Karena, saya telah memilih. Inilah cara mati yang paling sempurna di mata saya.
Peluru dari senjata saya kini sudah bersarang di kepalanya. Kepala Pak Ketua. Seketika, tubuhnya terkulai, jerat sabuk pengaman menopang tubuhnya agar tak jatuh ke lantai marmer yang dingin.
Saya puas.
22 Oktober 2012. Jam 10 WIB. Gedung MPR/DPR. Hanya ada satu orang yang mati, dan itupun bukan mati bunuh diri. Ada 999 orang yang gagal ikut bunuh diri massal. 999 orang gagal menjadi Tuhan bagi diri mereka sendiri. Hanya saya yang berhasil. Berbekal sebuah senjata api dan sebuah peluru, saya yang menentukan semuanya dalam satu detik. Bukan Pak Ketua yang tadi telah dengan sombongnya berkata, “Saya memegang kontrol penuh atas acara ini…” Ia salah. SAYA yang memegang kontrol penuh atas acara ini!
Saya yang membatalkan semuanya. Tanpa perlu banyak berkata, tanpa pakai banyak rencana. Hanya membawa pistol itu saja. Duduk di sebelah Ketua Panitia. Dan lalu, membunuhnya.
Ini pelajaran untuk egonya. Untuk keinginannya menentang Tuhan. Untuk keberaniannya mematahkan paradigma masyarakat akan hidup yang berkembang belakangan ini. Untuk cita-citanya mensukseskan Bunuh Diri Massal 2012. Untuk perjuangannya. Untuk ajakannya yang berhasil membuat 30000 orang semakin mantap untuk mati bunuh diri. Untuk persuasinya yang membuat 30000 orang membohongi diri mereka sendiri, yang sebenarnya masih ingin hidup tetapi merasa perlu sok-sokan ingin mati, supaya terlihat keren, pemberani, berwibawa, apalah.
Ini hadiah buat saya. Pencapaian.
I was nobody until i killed the biggest somebody-to-be on Earth.
Tadinya, Pak Ketua akan menjadi lebih hebat dari John Lennon yang mencoba menyebarkan perdamaian melalui lagu “Imagine”. Tadinya, Pak Ketua akan menjadi legenda.
Saya tidak terima jika seseorang menjadi legenda lewat cara seperti ini.
Saya bisa mematahkannya. Dalam hitungan detik, saya akan menjadi lebih terkenal dibanding Mark David Chapman. Saya akan menjadi lebih diperhitungkan, lebih diperhatikan dibanding Ketua Bunuh Diri Massal 2012. Saya akan dibicarakan banyak orang. Saya akan menjadi sesuatu yang hebat. Dan ketika saya telah menjadi orang tersebut, saya hanya perlu bunuh diri. Dengan begitu, saya menjadi legenda.
Satu lagi, yang paling penting, saya telah mencegah 999 orang bunuh diri, sekaligus membuang mimpi-mimpi mereka. Saya telah menghentikan suatu hal yang dipandang orang sebagai radikalisme, dipandang orang sebagai gerakan negatif. Saya melawannya.
Semua orang terkesima. Raut wajah mereka berubah. Tatapan mereka memandang seolah-olah tidak percaya. Ada yang tersenyum, ada yang menghela nafas panjang. Lega. Ada yang terkejut. Ada yang tidak percaya. Ada yang mengusap tangan mereka ke wajah, tanda sejak tadi mereka sudah berdoa agar tidak mati konyol seperti ini.
Ternyata nurani masih ada. Ternyata harapan juga masih ada. Ternyata, orang-orang yang tadinya ingin mati konyol seperti Pak Ketua, sebenarnya masih berdoa supaya mereka tidak jadi mati hari ini. Kini, semua orang tahu, bahwa hanya Pak Ketua-lah yang ingin mati konyol…

Waktu itu, saya dikenalkan dengan Susi oleh teman saya. Kami mengobrol, dan Susi – yang sangat inosen itu – mabuk. Ia mengigau. Meracau. Menceritakan bahwa Pak Ketua minta hatinya diambil dan diantar oleh Susi ke alamat ini. Konyol! Saya tertawa terbahak-bahak ketika saya mendengar cerita itu. Ia ingin berkorban untuk seseorang, ingin menunjukkan sisi melodramatiknya kepada nya… dengan mengajak 999 orang lain bunuh diri. Hanya supaya ia tidak kelihatan mencolok di mata wanita pujaannya. Hanya supaya kelihatan kerenUnderclass!
Betapa pengecutnya laki-laki yang barusan mati di tangan saya ini. Bunuh diri saja harus ditemani banyak orang. Bunuh diri saja harus bikin pengumuman. Memberi hati saja harus minta tolong sekretaris. Bunuh diri saja harus minta tolong professor untuk membuatkan kursi listrik.
Lain kali, jika mau bunuh diri lagi, bilang pada saya. Saya akan dengan senang hati membunuh Anda sekali lagi, Pak Ketua. Berterimakasihlah kepada saya, karena telah menyarangkan peluru ini di kepala Anda. Agar Susi bisa tetap mengantarkan hati itu .. Kalau perlu, saya nanti mengantarkan Susi sampai ke depan pintu rumah itu.
Kau ingin tahu bagaimana saya ingin mati? Saya mau mati sebagai pahlawan.
Mulai hari ini, hal itu telah saya capai. Dengan membunuh Ketua Bunuh Diri Massal 2012, saya telah menjadi pahlawan. Pahlawan bagi dunia. Pahlawan bagi 999 orang ini. Sekaligus pahlawan bagi Sang Ketua. Saya membuatnya tidak terlihat terlalu konyol dan kampungan.

 Ayo,
bilang, Pak.

Bilang apa?

Terima kasih Jojo…
TAMAT.


Beri tanggapan klik DISINI ya, jangan pelit - pelit
 kembali ke PESAN PENULIS