04 February 2012 ~ pratamagta

Saturday, February 4, 2012

04 February 2012


malem minggu nih.. duh, gak ada kegiatan.. mending mainan imaginasi ah wat nulis cerpen lagi.. 

.........................................
Hari Sabtu ini, 04 February 2012. Delapan bulan menjelang hari pelaksanaan Bunuh Diri Massal 2012. Juga hari dimana matahari bersinar sangat terik. Terik sekali sampai pendingin kantor tak mampu lagi mengendalikan suhu ruangan. Keringat membasahi kemeja saya. Keringat pula yang membasahi kemeja warna pink yang dikenakan Susi.
Dan hari ini, untuk kali pertama, saya mengantar Susi pulang kerja.
Dia duduk di sebelah saya, saya menyetir dengan tenang, walau sebenarnya hati sangat gelisah. Delapan bulan menjelang dan baru kali ini, saya sangat dekat dengan sekretaris saya yang serius dan konservatif itu.
“Mau tahu sesuatu yang jujur atau yang bohong?” kata saya memecah kesunyian. Susi menoleh, raut mukanya berkerut.
“Yang jujur pak?”
“Rumah kita sebenarnya tidak searah.”
“Hah? Jadi bapak bohong waktu menawari pulang bareng dan bilang searah sama saya tadi?”
“Ya.” Kata saya pendek. Tak sependek jalur yang kami tempuh. Rumah Susi ternyata sangat jauh, tak tercatat dalam peta, tak terdaftar dalam GPS Garmin maupun Google Earth.
“Wah, padahal rumah saya jauh lho pak, tempat jin buang anak.” Kata Susi mencoba berkelakar. Saya senang mendengarnya. Saya kira Susi nggak bisa bercanda.
“Tak apalah,” jawab saya, “Toh, cuma sekali ini. Delapan bulan lagi kan… .”
Susi terdiam. Matanya menerawang jauh ke jalanan padat di depan kap mobil, jalanan yang mulai mengecil.
“Setelah 22 Oktober nanti, apakah kamu akan mengingat saya Sus?” Tanya saya.
“Mau jawaban jujur atau bohong?” balas Susi. Saya tertawa tertahan. Sekretaris saya ini ternyata benar-benar lucu juga.
“Yang bohong?”
“Saya akan mengenang bapak sebagai laki-laki yang pemberani, ksatria dan keren karena mati untuk cinta.”
“Yang jujur?”
“Saya akan memulai melamar pekerjaan baru sebagai sekretaris di tempat lain, memulai kehidupan baru, dan melupakan bapak yang mati konyol gara-gara cinta.”
“Wah!” seru saya. “Serius Sus?”
Susi mengangguk cepat.
“Jika pendapatmu begitu, kenapa kamu mau menerima pekerjaan sebagai sekretaris Bunuh Diri Massal?”
“Yah…” desah Susi panjang. “Dari pada saya dipaksa orang tua saya menjadi pegawai negeri. Terikat dan terbungkus baju Korpri sampai mati?” jawab Susi. “Mending saya bekerja begini, jelas kapan selesainya.”
“Jadi saya nggak keren ya?”
“Dulu waktu saya membaca lowongan sekretaris itu, saya pikir bos saya adalah orang gila dan frustasi dengan bentuk yang menyeramkan seperti rencana kegiatan yang ada dikepalanya.” Terang Susi. “Tapi setelah bertemu bapak, saya lihat bapak terlalu keren untuk mati konyol seperti ini.”
“Oh ya?”
“Jadi bapak nggak keren lagi di mata saya!”
“Itu jujur atau versi yang bohong.”
“Jujur.” Jawab Susi serius.
*

Keparat si Susi ini. Benar-benar keparat. Keparat!
Ternyata mengantarnya pulang adalah sebuah kesalahan.
Kesalahan besar! 
Saya bilang juga apa. Itulah mengapa, tak ada peserta wanita dalam Bunuh Diri Massal. Itulah kenapa, saya menolak lagu tema yang dinyanyikan vokalis perempuan. Mereka, perempuan-perempuan itu, bisa dengan sekejap membuat laki-laki berubah pikiran. Sialan!
Delapan Bulan menjelang pelaksanaan, dan saya harus mendengar apa kata Susi. Memunculkan keraguan. Tapi saya mencoba tenang.
“Tapi satu hal Sus, gimana dengan tugas terakhir kamu?”
“Tenang bos, akan tetap saya jalankan.”
“Menurutmu, bagaimana reaksinya?”
“Si Bidadari itu?"
Saya mengangguk. 
"Paling pingsan.”
“Susi?!”
“Yah, menurut bapak gimana?” dia balik bertanya, “Saya menekan bel rumahnya, dia keluar, dan saya menyodorkan sebuah kotak sepatu, dia membukanya, dan melihat segumpal hati berlumur darah?” urai Susi, “Saya juga pingsan kalo lihat begituan pak!”
“Hmmm… menurut kamu?”
“Jujur apa bohong?”
“Yang bohong?”
“Si Bidadari itu bakal menjerit histeris, lalu menangis dan menyesali kenapa bapak nggak datang langsung padanya dan menyatakan isi hati bapak, cinta bapak. Karena ternyata, dia mencintai bapak juga.”
“Yang jujur?”
“Dia akan membuka kotak itu, lalu berujar; Oh hati? Milik siapa? Oh, dia? Dia yang mana ya? Ini lucu, kado yang beda. Ya sudah, tolong dibuang ke bak sampah di belakang ya.”
Makin lama, Susi menjadi semakin keparat di mata saya!
K E P A R A T !
*

“Sejujurnya pak, kenapa bapak tidak mencari sosok lain saja, cinta yang lain?”
Saya mendengar kata-kata jujur Susi itu. 
Membuat mata saya menerawang jauh ke depan, daerah jin buang anak sudah terlihat. Sebuah tempat yang gelap. Dan tiba-tiba saya melihat bayangan cinta itu, semakin jelas dan semakin jelas. Menatap sosoknya dari belakang yang menjauh, semakin jauh dan terus menjauh. Setiap gerak langkahnya, gestur pundaknya yang bergerak, menyayat-nyayat hati saya. Melangkah menjauh, memasuki lorong batu menuju dunianya sendiri.
*

“Mau jujur apa bohong pak?”
Saya segera tersadar dari lamunan yang menggelayut di benak.
“Langsung jujur aja Sus. Sudah capek saya dengan kebohongan.”
“Rumah saya sudah kelewatan.”
Keparat!
Benar-benar keparat!
“Kenapa kamu nggak ingetin saya sih Sus?”
“Lha, mana berani saya membuyarkan imajinasi bapak yang sedang oke-okenya.” Jawab Susi enteng. Saya segera memutar balik mobil, dan kembali menyusuri jalanan sepi perumahan itu.
*

Mobil berhenti, saya keluar mengantar Susi sampai depan gerbang rumahnya.
“Mau yang jujur apa bohong Sus?”
“Terserah bapak, bapak kan bos saya, setidaknya sampai delapan bulan ke depan.”
Saya mendengus. Tapi melanjutkan apa yang ingin saya katakan;
“Romeo selalu mencintai Juliet, tak pernah mencintai yang lain.” Kata saya pada Susi, “Sam Pek selalu mencintai Eng Tay, Pronocitro selalu mencintai Roro Mendut.”
Susi tersenyum pada saya.
“Apapun resikonya, bahkan hingga dibuang ke dunia, Adam selalu mencintai Hawa.”
Susi tersenyum. "Tapi kita tidak pernah tahu kan pak? Kisah cinta mereka itu, jujur atau bohong."



KLIK DISINI 
untuk memberi tanggapan


BUNUH DIRI MASSAL 2012