Berdasarkan imail dari pembaca yang bertanya tentang siapa Susi. gini gini, saya garis bawahi, sebagai penulis (emm maksut saya calon penulis), saya melakukan semua ini jauh di luar kehidupan nyata saya dan ini hanya imaginasi jadi sekali lagi saya katakan bahwa Susi itu hanya tokoh fiktif dan tentu saja cew saya bukan bernama susi. tapi pada akhirnya berkat imail tersebut saya mendapatkan ide baru untuk cerpen saya.ini akan menjelaskan konflik yang terjadi di Bunuh Diri Massal Part.5 selamat membaca.
Tidak ada yang tahu, benda apa yang
berdiam di dalam dirinya. Sesuatu yang tidak tampak, dan menggugahnya melakukan
sesuatu yang besar. Tidak ada yang tahu siapa namanya yang
sebenarnya, orang-orang hanya tahu ia adalah Pratama sang Ketua Panitia Bunuh Diri Massal 2012.
Tapi apalah arti sebuah nama,
ketika tindakan menjadi tanda pengenal yang lebih keras dan tajam akan
seseorang. Kini Ketua Panitia Bunuh Diri Massal sudah menjadi lebih dari sebuah
nama bagi laki-laki yang wajahnya meredup oleh sesuatu yang tidak tampak itu.
Sesuatu yang pernah menggerakkan seluruh jiwanya untuk berbuat.
Saya sendiri punya nama yang sering
disebut-sebut: Susi.
Nama itu tertera pada KTP saya.
Tapi saya merasa tidak punya tanda pengenal
diri setajam milik Ketua Panitia. Tidak ada orang yang tahu siapa saya, siapa
saya sebenarnya, karna sebenarnya semua ini adalah penyamaran diri. Tapi
saya tahu, sebagaimana saya mengenal siapa Ketua Panitia.
Senja itu, di tepi rel kereta api,
seorang anak laki-laki dengan celana pendek merah berdiri. Bocah itu tidak
mengenakan apa-apa pada tubuhnya yang atas. Perutnya agak gendut meski tubuhnya
kurus. Kakinya besar. Pada salah satu dari kedua tangannya yang berwarna sangat
cokelat, sebuah bungkus kertas memanjang dalam genggamannya. Orang-orang dewasa
melewati bocah itu ketika suara azan memukul-mukul senja, sehingga membuat
senja bertambah gelap. Tak ada yang peduli pada bocah itu, seperti tak ada yang
peduli pada senja yang sendiri. Semua orang melewatkannya begitu saja.
Tapi anak perempuan ini bukanlah bagian
dari orang-orang itu, bocah perempuan ini melangkah dengan lambat di belakang
bocah laki-laki yang punggungnya diliputi garis-garis tulang yang tegas itu.
*
-Ngapain, del?
Bocah laki-laki yang dipanggil ‘del’ itu
menoleh, tapi tidak mau memandang bocah perempuan.
-Cah lanang kok dolanan kembang
api! (Anak laki-laki kok mainnya kembang api!)
-Ngopo to? Urusanku to! (Emangnya
kenapa sih? Suka-suka dong!)
-Yo aku ngomong yo ben to?
Urusanku to! (Aku juga ngomong biarin, suka-suka dong!)
Si ‘Del’ diam, juga bocah perempuan.
Tapi bocah perempuan tidak bertahan lama, pura-pura bicara pada diri sendiri,
dia terus saja menggoda.
-Cah lanang kuwi dolanane mercon. Ben
ono suorone, ben ono mantep-mantepe. (Anak laki-laki tuh mainnya
mercon. Biar kedengeran, biar sangar.)
-Yo kono goleken kono cah lanang sing
nyekel mercon. ora sah nyedhak-nyedhaki cah lanang sing nyekel kembang api. (Ya
sana cari anak yang megang mercon, gak usah deket-deket anak yang main kembang
api.)
-Heh,gudel! aku ki mung takon ngopo
kowe kok dolan kembang api, ora mercon koyo liyan-liyane? Sopo bilang aku
seneng cah lanang sing dolan mercon?Aku mung takon. Ngerti wong takon ora?Wingi
ulang tahunku ora teko nang siskamling ngopo? (Heh, anak sapi! Aku kan
cuma tanya kenapa main kembang api, gak main mercon aja kayak anak-anak
lainnya? Siapa bilang aku seneng sama anak laki-laki yang main mercon? aku cuma
tanya. Ngerti orang tanya gak? Kemarin ulang tahunku kok gak dateng ke
siskamling?)
-Ora seneng rame-rame! (Gak seneng rame-rame!)
Lanskap semakin gelap. Bocah lelaki
mulai mengeluarkan kawat berlumur mesiu dari bungkus kertas berwarna merah di
tangannya. Bocah perempuan itu diam, tidak sanggup lagi menggoda atau membuka
mulutnya ketika satu demi satu kawat itu memercikkan bunga api. Di antara
mereka tidak ada yang berkata-kata, seperti dalam sajak
“Asmaradana”. Bocah perempuan memandangi kembang api yang sedang
menyala, kemudian memandangi si Gudel. Si Gudel terus memandangi kembang
apinya. Ketika sebuah kereta api melintas di depan mereka berdua, tetap tak ada
yang beranjak. Deru yang memekakkan itu justru mempertegas keindahan dan
keheningan yang dihadirkan kembang api. Si Gudel sempat melirik dengan sinis
kepada si bocah perempuan yang sedang memandanginya. Bocah perempuan malah tersenyum,
di tubuhnya yang mungil seakan ada hati seorang ibu.
-Mesam-mesem! Seneng to kowe karo
dolananku? (Senyam-senyum! Seneng kan sama mainanku?)
-Iyo. (Iya.)
-Yo berarti kowe yo seneng karo sing
ndhuwe dolanan to? (Ya berarti seneng juga sama yang punya mainan
kan?)
-Njelehi, del! Aku sesuk arep ndelok
Monas! (Najiz! Aku besok mau lihat Monas!)
Bocah perempuan itu berlari meninggalkan
tepi rel, meninggalkan bocah lelaki. Wajahnya merah, entah karena apa.
-Sesuk nek wis bali rene meneh
ngancani aku meneh yo (Besok kalo udah pulang temenin aku lagi ya),
teriak si Gudel.
*
Bocah perempuan itu, yang telah berlari
meninggalkan tepi rel, adalah putri seorang guru. Beberapa tahun telah
dihabiskannya di kampung kereta itu, selama ibunya mengajar sebagai honorer.
Bocah perempuan itu berlari lalu menangis di kamarnya yang sempit. Dia menangis
karena besok keluarganya akan pindah ke luar daerah karena ibunya sudah
diterima menjadi guru tetap. Dia menangis karena hari itu dia merasa menemukan
seorang teman. Dia menangis karena dia harus segera meninggalkan seorang teman,
sebelum sesuatu terucapkan.
Nama saya Susi, lahir tanggal 11 Oktober
1990. Begitu yang ada di KTP. KTP palsu sungguh gampang dibuat. Nama palsu,
tanggal lahir palsu, gampang dibuat. Tapi tidak selalu gampang menciptakan
perasaan palsu, hati yang palsu. Bertahun-tahun sejak senja itu saya hidup
dalam rasa kehilangan. Setiap tahun, setiap tiba bulan puasa, saya selalu
membeli sebungkus kembang api. Setiap hari, mimpi saya adalah memberikan berbungkus
kembang api itu kepada seseorang. Dan ketika saya melihat selebaran-selebaran,
spanduk-spanduk, juga kartu nama berserakan, saya tahu saya telah menemukan
orang itu.
Ya, 22 Oktober adalah hari jadi saya
dengan sang ketua, dan saya bukanlah bidadari seperti yang disebut-sebut Ketua
Panitia. Saya sungguh yakin, seluruh kembang api yang saya simpan bisa
menggagalkan niatannya di saat-saat terakhir. Tetapi saya juga sadar, bahwa
saya tidak bisa memberikan senja itu lagi buatnya. Saya telah memiliki
seseorang, jauh di seberang sana, menantikan saya kembali dari petualangan dan
penyamaran ini. Seseorang yang mencintai saya dan buah hati saya. Entahlah,
saya tidak tahu lagi misi saya menjadi sekretaris pura-pura di sini.
Saya bisa saja menyerahkan seluruh
kembang api itu sekarang. Tetapi mungkin kali ini seseorang itu harus bermain
dengan sesuatu yang lebih besar, lebih nyaring, lebih menggelegar ketimbang
sekadar kembang api. Cinta telah membantunya hidup selama ini, dan cinta yang
telah menggerakkannya berbuat sesuatu yang besar, menebus kehilangan yang
besar. Bunuh Diri Massal adalah kalimat lain untuk menggambarkan ribuan kembang
api yang menyala bersamaan di sebuah senja, dan habis sebelum pagi datang.
*
mencintai cinta
adalah kehilangan yang besar
tak ada tubuh di dalamnya
tak pula jantung yang rela kaubedah
tak ada masa silam yang sehat
masa depan pun perlahan musnah
jika mencintai cinta
kita hanya harus terus bertahan
dari segala apa dari yang bukan apa-apa
tak ada yang dapat melihat
apa yang ditinggalkan seorang kekasih
kecuali bagi yang berani tinggal di
dalam darahnya
yang harum karena sayatan orang-orang
dan mendidih karena jalan yang
ditempuhnya sendiri
-Susi-
***
Baca PESAN PENULIS