Sekertaris Bunuh Diri Massal 2012 ~ pratamagta

Thursday, February 2, 2012

Sekertaris Bunuh Diri Massal 2012


Berdasarkan imail dari pembaca yang bertanya tentang siapa Susi. gini gini, saya garis bawahi, sebagai penulis (emm maksut saya calon penulis), saya melakukan semua ini jauh di luar kehidupan nyata saya dan ini hanya imaginasi jadi sekali lagi saya katakan bahwa Susi itu hanya tokoh fiktif dan tentu saja cew saya bukan bernama susi. tapi pada akhirnya berkat imail tersebut saya mendapatkan ide baru untuk cerpen saya.ini akan menjelaskan konflik yang terjadi di Bunuh Diri Massal Part.5  selamat membaca.
Tidak ada yang tahu, benda apa yang berdiam di dalam dirinya. Sesuatu yang tidak tampak, dan menggugahnya melakukan sesuatu yang besar.  Tidak ada yang tahu siapa namanya yang sebenarnya, orang-orang hanya tahu ia adalah Pratama sang Ketua Panitia Bunuh Diri Massal 2012
Tapi apalah arti sebuah nama, ketika tindakan menjadi tanda pengenal yang lebih keras dan tajam akan seseorang. Kini Ketua Panitia Bunuh Diri Massal sudah menjadi lebih dari sebuah nama bagi laki-laki yang wajahnya meredup oleh sesuatu yang tidak tampak itu. Sesuatu yang pernah menggerakkan seluruh jiwanya untuk berbuat.
Saya sendiri punya nama yang sering disebut-sebut: Susi. 
Nama itu tertera pada KTP saya. 
Tapi saya merasa tidak punya tanda pengenal diri setajam milik Ketua Panitia. Tidak ada orang yang tahu siapa saya, siapa saya sebenarnya, karna sebenarnya semua ini adalah penyamaran diri.  Tapi saya tahu, sebagaimana saya mengenal siapa Ketua Panitia.
Senja itu, di tepi rel kereta api, seorang anak laki-laki dengan celana pendek merah berdiri. Bocah itu tidak mengenakan apa-apa pada tubuhnya yang atas. Perutnya agak gendut meski tubuhnya kurus. Kakinya besar. Pada salah satu dari kedua tangannya yang berwarna sangat cokelat, sebuah bungkus kertas memanjang dalam genggamannya. Orang-orang dewasa melewati bocah itu ketika suara azan memukul-mukul senja, sehingga membuat senja bertambah gelap. Tak ada yang peduli pada bocah itu, seperti tak ada yang peduli pada senja yang sendiri. Semua orang melewatkannya begitu saja.
Tapi anak perempuan ini bukanlah bagian dari orang-orang itu, bocah perempuan ini melangkah dengan lambat di belakang bocah laki-laki yang punggungnya diliputi garis-garis tulang yang tegas itu.
*

-Ngapain, del?
Bocah laki-laki yang dipanggil ‘del’ itu menoleh, tapi tidak mau memandang bocah perempuan.
-Cah lanang kok dolanan kembang api! (Anak laki-laki kok mainnya kembang api!)
-Ngopo to? Urusanku to! (Emangnya kenapa sih? Suka-suka dong!)
-Yo aku ngomong  yo ben to? Urusanku to! (Aku juga ngomong biarin, suka-suka dong!)
Si ‘Del’ diam, juga bocah perempuan. Tapi bocah perempuan tidak bertahan lama, pura-pura bicara pada diri sendiri, dia terus saja menggoda.
-Cah lanang kuwi dolanane mercon. Ben ono suorone, ben ono mantep-mantepe. (Anak laki-laki tuh mainnya mercon. Biar kedengeran, biar sangar.)
-Yo kono goleken kono cah lanang sing nyekel mercon. ora sah nyedhak-nyedhaki cah lanang sing nyekel kembang api. (Ya sana cari anak yang megang mercon, gak usah deket-deket anak yang main kembang api.)
-Heh,gudel! aku ki mung takon ngopo kowe kok dolan kembang api, ora mercon koyo liyan-liyane? Sopo bilang aku seneng cah lanang sing dolan mercon?Aku mung takon. Ngerti wong takon ora?Wingi ulang tahunku ora teko nang siskamling ngopo? (Heh, anak sapi! Aku kan cuma tanya kenapa main kembang api, gak main mercon aja kayak anak-anak lainnya? Siapa bilang aku seneng sama anak laki-laki yang main mercon? aku cuma tanya. Ngerti orang tanya gak? Kemarin ulang tahunku kok gak dateng ke siskamling?)
-Ora seneng rame-rame! (Gak seneng rame-rame!)
Lanskap semakin gelap. Bocah lelaki mulai mengeluarkan kawat berlumur mesiu dari bungkus kertas berwarna merah di tangannya. Bocah perempuan itu diam, tidak sanggup lagi menggoda atau membuka mulutnya ketika satu demi satu kawat itu memercikkan bunga api. Di antara mereka tidak ada yang berkata-kata, seperti dalam sajak “Asmaradana”.  Bocah perempuan memandangi kembang api yang sedang menyala, kemudian memandangi si Gudel. Si Gudel terus memandangi kembang apinya. Ketika sebuah kereta api melintas di depan mereka berdua, tetap tak ada yang beranjak. Deru yang memekakkan itu justru mempertegas keindahan dan keheningan yang dihadirkan kembang api. Si Gudel sempat melirik dengan sinis kepada si bocah perempuan yang sedang memandanginya. Bocah perempuan malah tersenyum, di tubuhnya yang mungil seakan ada hati seorang ibu.
-Mesam-mesem! Seneng to kowe karo dolananku? (Senyam-senyum! Seneng kan sama mainanku?)
-Iyo. (Iya.)
-Yo berarti kowe yo seneng karo sing ndhuwe dolanan to? (Ya berarti seneng juga sama yang punya mainan kan?)
-Njelehi, del! Aku sesuk arep ndelok Monas! (Najiz! Aku besok mau lihat Monas!)
Bocah perempuan itu berlari meninggalkan tepi rel, meninggalkan bocah lelaki. Wajahnya merah, entah karena apa.
-Sesuk nek wis bali rene meneh ngancani aku meneh yo (Besok kalo udah pulang temenin aku lagi ya), teriak si Gudel.
*

Bocah perempuan itu, yang telah berlari meninggalkan tepi rel, adalah putri seorang guru. Beberapa tahun telah dihabiskannya di kampung kereta itu, selama ibunya mengajar sebagai honorer. Bocah perempuan itu berlari lalu menangis di kamarnya yang sempit. Dia menangis karena besok keluarganya akan pindah ke luar daerah karena ibunya sudah diterima menjadi guru tetap. Dia menangis karena hari itu dia merasa menemukan seorang teman. Dia menangis karena dia harus segera meninggalkan seorang teman, sebelum sesuatu terucapkan.
Nama saya Susi, lahir tanggal 11 Oktober 1990. Begitu yang ada di KTP. KTP palsu sungguh gampang dibuat. Nama palsu, tanggal lahir palsu, gampang dibuat. Tapi tidak selalu gampang menciptakan perasaan palsu, hati yang palsu. Bertahun-tahun sejak senja itu saya hidup dalam rasa kehilangan. Setiap tahun, setiap tiba bulan puasa, saya selalu membeli sebungkus kembang api. Setiap hari, mimpi saya adalah memberikan berbungkus kembang api itu kepada seseorang. Dan ketika saya melihat selebaran-selebaran, spanduk-spanduk, juga kartu nama berserakan, saya tahu saya telah menemukan orang itu.
Ya, 22 Oktober adalah hari jadi saya dengan sang ketua, dan saya bukanlah bidadari seperti yang disebut-sebut Ketua Panitia. Saya sungguh yakin, seluruh kembang api yang saya simpan bisa menggagalkan niatannya di saat-saat terakhir. Tetapi saya juga sadar, bahwa saya tidak bisa memberikan senja itu lagi buatnya. Saya telah memiliki seseorang, jauh di seberang sana, menantikan saya kembali dari petualangan dan penyamaran ini. Seseorang yang mencintai saya dan buah hati saya. Entahlah, saya tidak tahu lagi misi saya menjadi sekretaris pura-pura di sini.
Saya bisa saja menyerahkan seluruh kembang api itu sekarang. Tetapi mungkin kali ini seseorang itu harus bermain dengan sesuatu yang lebih besar, lebih nyaring, lebih menggelegar ketimbang sekadar kembang api. Cinta telah membantunya hidup selama ini, dan cinta yang telah menggerakkannya berbuat sesuatu yang besar, menebus kehilangan yang besar. Bunuh Diri Massal adalah kalimat lain untuk menggambarkan ribuan kembang api yang menyala bersamaan di sebuah senja, dan habis sebelum pagi datang.
*

mencintai cinta
adalah kehilangan yang besar
tak ada tubuh di dalamnya
tak pula jantung yang rela kaubedah
tak ada masa silam yang sehat
masa depan pun perlahan musnah

jika mencintai cinta
kita hanya harus terus bertahan
dari segala apa dari yang bukan apa-apa
tak ada yang dapat melihat
apa yang ditinggalkan seorang kekasih
kecuali bagi yang berani tinggal di dalam darahnya
yang harum karena sayatan orang-orang
dan mendidih karena jalan yang ditempuhnya sendiri

-Susi-
***

KLIK DISINI untuk memberi tanggapan

BUNUH DIRI MASSAL 2012