masih ingat Irawan?? iya, dia adalah salah satu peserta Bunuh Diri Massal 2012. baca Bunuh Diri Massal Part.2
Mari kita mengenal irawan lebih dekat,
,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,
Kerlip lampu jalanan Jakarta berpendar hambar di antara gedung-gedung tinggi yang tampak kosong dan letih. Aku memejamkan mata, mendengarkan sepenggal lagu asing yang samar-samar berdesing di kedua telinga ditingkahi suara deru mobil. ANJING! Bayangan sosok dia terus-menerus berputar, menari-nari bagaikan peri neraka yang tak kuasa kusingkirkan dari pelupuk. Dia yang meninggalkan, dia yang merayakan tragedi, dan dia yang merinai kegetiran. Aku masih hidup, tapi jiwaku mati.
,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,
Kerlip lampu jalanan Jakarta berpendar hambar di antara gedung-gedung tinggi yang tampak kosong dan letih. Aku memejamkan mata, mendengarkan sepenggal lagu asing yang samar-samar berdesing di kedua telinga ditingkahi suara deru mobil. ANJING! Bayangan sosok dia terus-menerus berputar, menari-nari bagaikan peri neraka yang tak kuasa kusingkirkan dari pelupuk. Dia yang meninggalkan, dia yang merayakan tragedi, dan dia yang merinai kegetiran. Aku masih hidup, tapi jiwaku mati.
*
Aku tak tahan mendengarkan lagi lagu getir yang mengalun
pelan di radio. Kusingkap lengan kiriku, menekan sekilas satu tombol, dan mulai
terdengar suara penyiar dengan nada hiperbola,
“Listeners, udah denger belom lo kalo bentar lagi di Jakarta bakal ada acara yang gila banget! Gue gak nyangka ada orang yang berani bikin acara sekontroversial ini, edan pokoknya! Nama acaranya aja serem banget, Bunuh Diri Massal 2012! Iya listeners, bunuh diri, ngilangin nyawa lo secara sepihak atas kemauan lo. Tertarik? Gampang men… Selama lo cowok alias laki-laki, dan ngerasa udah gak punya hati lagi, you should join them! Keterangan lebih lanjut telpon aja Ketua Panitianya, kalo gak salah namanya Pratama, nomernya ada di 085747042XXX......”
Aku tersentak. Kuhentikan mobil secara mendadak. Tak peduli
dengan teriak-teriakan nama binatang dari pengendara di belakang, kuambil
handphone dan dengan sigap mulai menyimpan nomer kontak Ketua Panita Bunuh Diri
Massal 2012. Entah kenapa otak dan hatiku secara reflek bersimbiosis menyuruhku
untuk melakukannya. Aku laki-laki, tentu saja. Aku gak punya hati lagi, sungguh
jelas, hatiku telah lama hilang. Tapi mati? Gila, itu di luar bayanganku. Walau
kadang pernah terlintas, jika aku mati, siapa sajakah yang akan menangisi aku,
apakah aku punya secret admirer, bunga apa yang tertabur di pusaraku, dan
apakah dia akan datang dan tersenyum menang akan kematianku?
*
Setelah berhari-hari aku mencari keputusan konklusif, dan
tentu saja aku tak layak bertanya kepada Tuhan, disini lah sekarang aku berada.
Di lantai 15 gedung megah di tengah kota biadab Jakarta. Finance Director, tulisan
itu terukir apik di pintu ruang kerjaku. Seakan tak terusik suara deringan
telepon dari penjuru kantor, aku hanya menatap lekat formulir pendaftaran Bunuh
Diri Massal 2012. Alasan…. Alasan apa yang harus aku tulis? Kenapa mati harus
dengan alasan? Apakah kita lahir di dunia juga butuh alasan? I’m always
thinking; life is not a matter of reason, but a matter of choice. Ah sudahlah!
Kuambil pena berlapis emas, hadiah sebagai lulusan terbaik sewaktu kuliah MBA
di US, dan mulai menulis alasan yang realistis buatku, “Saya cuma mau mati. MATI! HIDUP MATI!” Kutulis
dengan kasar dan penuh amarah. Sekali lagi, mati tak pernah perlu alasan. Sama
seperti ketika dia meninggalkanku.
*
Ya, namaku Irawan.
Lengkapnya Irawan Tanoeatmajda. Anak konglomerat dengan kekayaan
nomer urut 21 di Asia versi majalah Forbes. Tidak ada yang kurang dari sosokku.
Pintar, karir yang bagus dan sialnya, aku punya wajah yang rupawan. Siapa suruh
wanita-wanita itu jatuh cinta kepadaku? Toh aku tak pernah memohon hati mereka.
Barak hatiku terlanjur penuh dengan sumpah serapah, sampai-sampai tiada lagi
tempat untuk satu kata cinta. Hei wanita! Laki-laki bukanlah sepatu, yang
kalian bisa pilih sesuka hati, dipakai, diinjak, lalu setelah bosan, hanya
teronggok berdebu di sudut ruang. Tak sadarkah kalian bahwa kami makhluk
berdaging yang punya hati?
Sungguh aku tak dendam. Aku hanya mencari ketenangan. Lelah
berlari di antara desingan waktu yang berpendar terlalu lambat. Pelan-pelan ku
ambil secarik kertas putih di laci, dan kumulai menuliskan surat ini,
Surat selamat tinggal untuk semua,
Tolong, tulis jawaban untuk pertanyaan-pertanyaanku ini dan
letakkan di atas pusaraku bila aku telah terbujur mati.
Cinta itu seperti hujan… Aku tak pernah paham seberapa deras
tetes air itu akan terus jatuh dan entah sampai kapan pula hujan itu akan
membasahi bumi. Apakah kalian tahu kapan cinta akan datang dan pergi dari
hatimu? Jangan tanya aku, aku tak pernah tahu. Karena hujan itu masih terus
membasahi hatiku tanpa pesan.
Cinta itu seperti musik… Aku bisa bersenandung lagu yang
sama dan menari tanpa dahaga. Tapi kapankah musik cinta itu akan terhenti? Aku
tak tahu, karena aku masih terus menari walau musik cinta itu telah berakhir.
Cinta itu seperti sebatang rokok… Sungguh manis terasa di
bibir pada awal sentuhannya, terlena dalam setiap hela hembusannya, tapi semua
akan terhenti seketika bila aku tak mampu mempertahankan bara yang tersisa.
Apakah kalian tahu bagaimana cara mempertahan nyala cinta seseorang yang kita
cintai?
Aku sungguh tak tahu. Aku hanya tahu, cinta itu hanyalah
penderitaan yang aku nikmati. Dan aku memilih mengakhiri penderitaan itu.
Cintaku akan abadi tapi kematian lebih abadi.
Selamat tinggal,
Irawan
*
22 Oktober 2012 jam 10 pagi. Ini saatnya, baliho dan
spanduk-spanduk perayaan kematian di Gedung DPR/MPR luar biasa marak, malah
bisa dibilang terlalu berlebihan. Warna merah darah mendominasi dekorasi
seperti pemuliaan kematian berjamaah.
Sekilas ku melihat Pratama sang Ketua Panitia BDM 2012, ah
tak layak sepertinya bila aku tak sekedar menyapanya, memberinya penghormatan
terakhir yang layak dia dapatkan.
“Saatnya
telah datang, kamu gak ada rasa takut bos?” Aku bertanya penuh rasa penasaran.
“Ketakutan itu hanya milik pengecut. Cinta telah menghapus
rasa takut itu.”
“Sungguh
bodoh orang yang mati karena cinta.”
“Lebih bodoh lagi orang yang hidup tanpa cinta.”
“Jadi…
Kita hanyalah orang bodoh yang tetap akan bodoh ketika mati.”
“Setidaknya kita menjadi orang yang bodoh yang bisa mencintai.”
Dia tersenyum dan aku pun mengangguk setuju.
Kutulis pesan terakhir untuk dia, wanita yang telah membunuh
kata cinta,
Lebih baik kubiarkan engkau mencuri hatiku.
Tolong, jika engkau
bosan dengan hatiku, kuburkan dia di sebelah hatimu.
Tak perlu nisan. Karena memang tak ada yang perlu engkau
kenang.
*
Ah!
Aku tak sabar lagi untuk mengejang, menggelinjang, dan diam.
Aku ingin mati di kursi dewan terhormat. Tanpa cinta. Tanpa jeda. Hanya ingin
mati bersama dia. Pesta Perpisahan akan segera dimulai oleh dia. Dia yang
tercabik hatinya oleh sosok wanita yang sama.
Baca PESAN PENULIS