2024 ~ pratamagta

Monday, June 3, 2024

Dari Arya

Matahari pagi mulai menyelinap melalui celah-celah tirai kamar, membangunkan Anna dari tidurnya yang tidak begitu nyenyak. Hari ini adalah hari ujian kenaikan kelas, momen yang telah lama ia persiapkan dengan penuh dedikasi dan kerja keras. Jantungnya berdebar kencang, dan perutnya terasa sedikit mual, mencerminkan kecemasan yang menghantuinya sejak semalam.

Anna duduk di tepi tempat tidurnya, memandangi meja belajarnya yang penuh dengan buku-buku dan catatan. Ia menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan diri. "Aku bisa melakukannya," bisiknya pada diri sendiri. "Aku sudah bekerja keras untuk ini."

Saat Anna bersiap-siap, pikirannya melayang pada Arya. Ia merindukan senyum lembut dan kata-kata penyemangat dari kekasihnya. Tanpa disadari, ia meraih ponselnya yang tergeletak di meja samping tempat tidur, berharap menemukan pesan dari Arya. Ketika layar ponselnya menyala, hatinya melonjak bahagia. Sebuah pesan masuk dari Arya: "Semangat, Anna. Aku yakin kamu bisa."

Mata Anna berkaca-kaca, bukan karena cemas, tetapi karena bahagia. Pesan singkat itu terasa seperti pelukan hangat yang menenangkannya. Ia merasakan cinta dan dukungan Arya mengalir melalui kata-kata yang sederhana namun penuh makna. Dengan senyum yang tulus, Anna membalas pesan itu: "Terima kasih, Arya. Aku akan melakukan yang terbaik."

Setelah menyelesaikan sarapan dan berpamitan kepada keluarganya, Anna melangkah keluar rumah dengan langkah yang lebih ringan. Ia merasa lebih percaya diri, seolah-olah doa dan harapan Arya menyertainya setiap langkah. Sepanjang perjalanan menuju sekolah, Anna terus mengulang-ulang dalam hati pesan dari Arya, seperti mantra yang memberinya kekuatan.

Sesampainya di sekolah, suasana sudah mulai ramai dengan teman-temannya yang juga bersiap menghadapi ujian. Namun, di tengah keramaian itu, Anna merasa tenang. Ia tahu bahwa ia tidak sendiri. Arya, meskipun tidak hadir secara fisik, selalu ada di sisinya melalui doa dan cintanya.

Di ruang ujian, Anna duduk di bangku yang telah ditentukan. Ia meletakkan alat tulis di atas meja dan menutup mata sejenak, mengumpulkan seluruh keberanian dan ketenangan dalam dirinya. Bayangan Arya muncul di benaknya, memberikan senyum yang menenangkan.

Ketika ujian dimuali, Anna membuka matanya dan mulai mengerjakan dengan penuh konsentrasi. Satu demi satu soal ia hadapi dengan tenang, ingatannya akan usaha dan doa yang telah ia panjatkan bersama Arya memberinya keyakinan.

Waktu ujian terasa berlalu begitu cepat. Ketika bel tanda ujian berakhir berbunyi, Anna merasa lega.. Keluar dari ruang ujian, Anna menghela napas panjang, merasakan beban yang selama ini ia pikul mulai terangkat.

Di luar gedung, matahari siang bersinar terang, seakan merayakan keberhasilan kecilnya. Anna meraih ponselnya dan mengirim pesan pada Arya: "Aku sudah selesai. Terima kasih atas doamu, Arya. Aku merasa lebih kuat karena kamu."

Arya membalas dengan cepat: "Aku selalu ada untukmu, Anna. Selamat beristirahat. Kamu telah melakukan yang terbaik."

Anna tersenyum bahagia, merasa bahwa hari ini adalah awal dari segala hal baik yang akan datang. Cinta dan dukungan dari Arya memberinya kekuatan untuk menghadapi apapun, dan ia tahu bahwa bersama-sama, mereka bisa melalui segalanya.


_#pratamagta_

Untuk Anna

Fajar baru saja merekah di ufuk timur, menyelimuti langit dengan semburat merah muda yang lembut, seperti sapuan kuas pada kanvas yang masih mengantuk. Di depan rumahnya, Arya duduk di teras, menikmati semilir angin pagi yang membawa aroma embun dan wangi bunga melati dari halaman. Ia memandang lurus ke depan, namun pikirannya melayang jauh, tertuju pada seseorang yang sedang mempersiapkan diri untuk ujian kenaikan kelas hari ini.

Di tangannya, sebuah ponsel yang sejak tadi ia genggam dengan gelisah. Ia ingin mengirim pesan pada Anna, kekasih hatinya, yang saat ini mungkin sedang berjuang dengan perasaan gugup dan tekanan ujian. Namun, Arya ragu. Ia takut pesannya justru akan mengganggu konsentrasi Anna. Ia pun menahan diri, memilih untuk menatap layar ponselnya tanpa henti, berharap pesan yang tak terkirim itu bisa tersampaikan lewat getaran hatinya.

Arya menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan debar jantungnya yang terus berpacu. Ia beranjak dari kursi, melangkah ke halaman dan berdiri di bawah pohon mangga yang rimbun. Matahari mulai menampakkan sinarnya, menghangatkan tubuh Arya yang berdiri tegap dengan kedua tangan terlipat di depan dada.

"Ya Allah," bisiknya lirih, "berikan kemudahan dan kelancaran untuk Anna. Berikan dia ketenangan hati dan pikiran yang jernih agar bisa menghadapi ujiannya dengan baik. Jangan biarkan dia merasa cemas atau ragu. Jadikan usahanya selama ini berbuah manis, seindah bunga yang bermekaran di taman."

Sejenak, Arya terdiam, membiarkan doa itu meresap ke dalam hatinya. Ia tahu, Anna telah berusaha keras, belajar hingga larut malam dan mempersiapkan segala sesuatunya dengan tekun. Arya hanya bisa berharap dan berdoa, mendukung dari kejauhan dengan penuh cinta.

Ponselnya kembali bergetar di tangan, memberinya dorongan kecil untuk membuka layar. Ia menuliskan pesan sederhana namun penuh kasih: "Semangat, Anna. Aku yakin kamu bisa."

Setelah menimbang beberapa saat, Arya akhirnya mengirim pesan itu. Ia berharap, pesan singkat itu bisa menjadi penyemangat bagi Anna tanpa mengganggu konsentrasinya.

Arya kembali duduk di teras, kali ini dengan perasaan yang sedikit lebih tenang. Ia memandang langit yang semakin cerah, menyimpan harapan besar dalam hatinya. Pagi itu, doa dan harapannya melayang bersama angin pagi, menyampaikan cinta dan dukungannya kepada Anna yang sedang berjuang di ruang ujian. Cinta yang tak terucapkan, namun terasa begitu nyata di antara mereka.


#pratamagta

Semangat Malam Menyongsong Ujian

Malam itu, bintang-bintang bersinar terang di langit, memberikan cahaya lembut yang menembus jendela kamar Nisa. Di dalam kamar yang nyaman dan tertata rapi itu, Nisa duduk di meja belajarnya. Ia adalah seorang siswi kelas 8 yang rajin dan penuh semangat. Besok adalah hari pertama ujian kenaikan kelas, dan Nisa sudah mempersiapkan diri sebaik mungkin.

Di atas meja, terdapat tumpukan buku dan catatan pelajaran yang sudah dipelajarinya selama beberapa minggu terakhir. Nisa menatap buku-buku tersebut dengan penuh keyakinan. Ia merasa bahwa semua usahanya selama ini tidak akan sia-sia. Ibunya, yang selalu mendukung dan memberikan semangat, masuk ke dalam kamar sambil membawa secangkir susu hangat.

"Nisa, minum dulu susunya biar tambah semangat belajarnya," kata ibu sambil tersenyum hangat.

"Terima kasih, Bu," jawab Nisa sambil menerima cangkir itu. Ia meneguk susu hangat tersebut dan merasakan tubuhnya semakin rileks.

Setelah meminum susunya, Nisa kembali fokus pada pelajarannya. Ia mengulang-ulang materi yang dirasa masih kurang dikuasai. Dari matematika, bahasa Indonesia, hingga IPA, semuanya ia pelajari dengan tekun. Nisa tahu bahwa persiapan yang matang adalah kunci kesuksesan.

Jam dinding menunjukkan pukul sembilan malam. Waktu tidur semakin dekat, tetapi Nisa masih merasa ada beberapa hal yang perlu dipelajari. Ia membuka buku matematika dan mulai mengerjakan beberapa soal latihan. Sambil menulis jawaban, pikirannya melayang ke hari esok. Bagaimana suasana ujian? Apakah ia bisa menjawab semua soal dengan baik?

Tiba-tiba, ayahnya mengetuk pintu dan masuk ke kamar. "Nisa, jangan terlalu larut belajar ya. Ingat, besok harus bangun pagi dan segar untuk ujian."

"Iya, Ayah. Nisa sebentar lagi selesai kok," jawab Nisa dengan senyum. Ia merasa beruntung memiliki orang tua yang selalu peduli dan mendukungnya.

Setelah mengerjakan beberapa soal lagi, Nisa merasa cukup. Ia menutup buku-bukunya dan merapikan meja belajar. Sebelum tidur, ia berdoa agar diberi kemudahan dalam menghadapi ujian besok. Dengan hati yang tenang dan penuh harapan, Nisa merebahkan diri di atas kasur. Ibunya datang untuk menyelimutinya dan memberikan ciuman di keningnya.

"Selamat tidur, Nisa. Semoga mimpi indah dan besok bisa mengerjakan ujian dengan lancar," bisik ibu dengan lembut.

"Terima kasih, Bu. Selamat tidur juga," jawab Nisa sambil memejamkan mata.

Malam itu, Nisa tidur dengan nyenyak. Ia bermimpi tentang keberhasilannya dalam ujian, tentang senyum bangga orang tuanya, dan tentang masa depan yang cerah. Pagi yang ditunggunya akhirnya tiba, dan Nisa bangun dengan semangat baru. Ia tahu bahwa segala usaha dan persiapan yang dilakukan akan membuahkan hasil yang baik.

Hari ujian yang dinantikannya pun dimulai, dan Nisa merasa siap. Dengan penuh percaya diri, ia melangkah menuju sekolah, membawa harapan dan semangat yang telah ia bangun sepanjang malam. Di dalam hatinya, Nisa yakin bahwa hari ini akan menjadi hari yang luar biasa.

"Ini adalah saatnya! Aku telah belajar dengan keras, aku siap menghadapi tantangan ini!" pikir Nisa dengan semangat. Ia merasa bahwa setiap langkahnya semakin mendekatkan dirinya pada impian dan cita-cita yang sudah lama diidamkan.

Sampai di sekolah, Nisa berjumpa dengan teman-temannya yang juga tampak antusias. Mereka saling menyemangati, membagikan semangat yang sama. Nisa merasa bahwa tidak ada yang tidak mungkin selama ia berusaha dan berdoa.

"Semua yang kita lakukan hari ini adalah langkah menuju masa depan yang lebih baik," bisik Nisa dalam hati sambil tersenyum. "Aku bisa, kita semua bisa!"

Dengan keyakinan penuh, Nisa memasuki ruang ujian. Ia siap menghadapi setiap soal dengan pikiran yang jernih dan hati yang tenang. Hari ini adalah hari untuk menunjukkan semua kerja keras dan dedikasinya. Dan Nisa tahu, selama ia tetap berusaha dan percaya, kesuksesan pasti akan datang.

By. _pratamagta_

Sunday, May 12, 2024

Kenapa?

Duduk sendiri dalam keheningan kamar, Diana merenung pada layar ponselnya yang menyakitkan. Pesan sederhana, tetapi kata-katanya menusuk hatinya: "Maaf, akun Anda telah diblokir oleh pengguna ini." Tangannya gemetar saat ia menatap nama yang sudah dikenalinya begitu baik - Adam, seseorang yang pernah menjadi segalanya baginya.

Air mata mulai mengalir tanpa henti, mengikuti rintihan yang terdengar lemah dari bibirnya. Kenapa? Itulah satu-satunya kata yang berputar-putar dalam pikirannya, mengiris hatinya lebih dalam setiap detiknya. Begitu banyak pertanyaan tak terjawab, begitu banyak kenangan yang terabaikan.

Dengan getaran yang gemetar, dia mengirim pesan terakhir pada Adam, memohon penjelasan atas pemblokiran yang tiba-tiba itu. Tetapi balasan yang dia terima hanya memperdalam luka di hatinya. Kata-kata dingin yang menyatakan bahwa Adam membutuhkan waktu untuk dirinya sendiri, tanpa kejelasan atau pengertian.

Dalam keputusasaan yang membelenggu, Diana merasa seperti sepotong hatinya tercabik-cabik. Segalanya terasa begitu tiba-tiba, begitu tak terduga. Dan dalam kesedihan yang tak terbendung, dia menyadari bahwa mungkin ada benang merah yang terputus di antara mereka, yang tidak pernah dia sadari.

Dengan hati yang hancur, Diana menyadari bahwa kadang-kadang kehidupan tidak adil. Dia harus belajar untuk menerima kenyataan tanpa jawaban yang memuaskan. Tetapi bahkan dalam kesendirian yang menyelimuti, dia berjanji untuk tetap berdiri, walau hanya dengan serpihan hati yang tersisa.

Dalam Diam

Di sebuah kota kecil yang terpencil, di antara jajaran pegunungan yang hijau, hiduplah seorang pemuda bernama Rama. Rama adalah sosok yang baik hati, penuh semangat, dan selalu siap membantu siapapun di sekitarnya. Namun, di balik senyumannya yang ramah, tersembunyi rasa cinta yang tak pernah terucap.

Rama diam-diam mencintai seorang gadis bernama Sinta. Sinta adalah bunga yang mekar di tengah ladang, cantik, lembut, dan penuh kasih. Namun, takdir berkata lain. Sinta adalah kekasih sah dari sahabat baiknya, Dika.

Setiap hari, Rama harus menyaksikan kebahagiaan Sinta dan Dika dari kejauhan. Hati Rama hancur berkeping-keping setiap kali melihat mereka tertawa bersama, berjalan berdua di sepanjang jalan kota, atau saling berbagi cerita di bawah pohon rindang.

Namun, Rama tetap berusaha tersenyum dan bahagia di depan mereka. Baginya, kebahagiaan Sinta adalah hal yang paling penting. Dia tahu, mencintai dalam diam adalah pilihan terbaiknya, walaupun itu menyakitkan.

Suatu hari, kehidupan Rama berubah. Dika mendapat tawaran kerja di luar kota dan memutuskan untuk pindah bersama Sinta. Rama yang merasa kehilangan, harus berjuang lebih keras lagi untuk menyembunyikan perasaannya.

Pada suatu malam, di bawah langit yang penuh dengan bintang, Rama duduk sendiri di taman kota. Dia merenung tentang cinta yang tak pernah terucap itu. Air mata tak tertahankan pun mengalir di pipinya.

"Tuan muda, mengapa kau menangis?" tanya seorang wanita tua yang tiba-tiba muncul di sampingnya.

Rama tersentak kaget, namun akhirnya menceritakan segalanya pada wanita itu. Wanita tua itu mendengarkan dengan sabar, lalu mengusap pelan punggung Rama sambil berkata, "Cinta sejati bukanlah tentang memiliki, tetapi tentang memberi. Jika cintamu memang tulus, biarkanlah dia bahagia dengan pilihan hatinya, meskipun itu bukanlah dirimu."

Kata-kata wanita tua itu menggetarkan hati Rama. Dia menyadari bahwa cinta sejati adalah tentang kebahagiaan orang yang kita cintai, bahkan jika itu berarti kita harus mencintai dalam diam. Dengan hati yang lega, Rama melangkah pulang, menatap bulan purnama dengan senyuman getir, sambil berharap agar Sinta dan Dika selalu bahagia bersama, meski hatinya terluka.