Duduk sendiri dalam keheningan kamar, Diana merenung pada layar ponselnya yang menyakitkan. Pesan sederhana, tetapi kata-katanya menusuk hatinya: "Maaf, akun Anda telah diblokir oleh pengguna ini." Tangannya gemetar saat ia menatap nama yang sudah dikenalinya begitu baik - Adam, seseorang yang pernah menjadi segalanya baginya.
Air mata mulai mengalir tanpa henti, mengikuti rintihan yang terdengar lemah dari bibirnya. Kenapa? Itulah satu-satunya kata yang berputar-putar dalam pikirannya, mengiris hatinya lebih dalam setiap detiknya. Begitu banyak pertanyaan tak terjawab, begitu banyak kenangan yang terabaikan.
Dengan getaran yang gemetar, dia mengirim pesan terakhir pada Adam, memohon penjelasan atas pemblokiran yang tiba-tiba itu. Tetapi balasan yang dia terima hanya memperdalam luka di hatinya. Kata-kata dingin yang menyatakan bahwa Adam membutuhkan waktu untuk dirinya sendiri, tanpa kejelasan atau pengertian.
Dalam keputusasaan yang membelenggu, Diana merasa seperti sepotong hatinya tercabik-cabik. Segalanya terasa begitu tiba-tiba, begitu tak terduga. Dan dalam kesedihan yang tak terbendung, dia menyadari bahwa mungkin ada benang merah yang terputus di antara mereka, yang tidak pernah dia sadari.
Dengan hati yang hancur, Diana menyadari bahwa kadang-kadang kehidupan tidak adil. Dia harus belajar untuk menerima kenyataan tanpa jawaban yang memuaskan. Tetapi bahkan dalam kesendirian yang menyelimuti, dia berjanji untuk tetap berdiri, walau hanya dengan serpihan hati yang tersisa.