pratamagta

Friday, July 3, 2009

who is He??

Teeeett…teeett…teeett…!

“Baiklah, pelajaran hari ini kita sudahi sampai di sini, jangan lupa tugas di kumpul minggu depan. Selamat siang”.

“Selamat siang, Pak guru”.

“May, lo mau langsung ke tempat les atau mau ngapain dulu?” tanya Widya sambil merapikan buku-buku dan alat tulisnya yang masih berserakan di atas meja.

“Ke tempat les” jawab Maya singkat sambil memasukan buku terakhir ke tas sekolahnya.

“Kan masih lama mulai lesnya, kita ke…”.

“Duluan ya…” jawab Maya tidak mendengarkan omongan temannya, lalu bergegas keluar kelas.

“Maya, tunggu… ada apa sih” kejar Widya sambil mengerutu. Terburu-buru sekali temannya yang satu ini setiap ada jam les.
Padahal dulu kalau diajak les Maya paling malas, malah ia sering sekali bolos saat jam les. Ke mall lah, jalan-jalan, atau sekedar makan di tempat-tempat mereka nongkrong biasanya. Tapi kenapa seminggu belakangan ini Maya semangat sekali. Bahkan sehabis jam sekolah usai, Maya segera berangkat ke tempat les jika hari itu ada jam untuk les. Ini harus diselidiki, pikir Widya.

“Aduh…mana ya, jam segini kok belum dateng sih?” Maya gelisah di tempat duduknya sambil sesekali melihat arloji tangannya.

Tak berapa lama kemudian, datanglah seorang cowok dengan mengendarai sepeda gunung memasuki halaman balai bimbingan tersebut. Rasa lega dan bahagia memancar dari wajah Maya setelah mengetahui orang yang ditunggu-tunggunya sedari tadi akhirnya muncul.

Saat cowok itu selesai memarkir sepedanya, dan berjalan masuk ke dalam gedung bimbingan belajar tersebut, jantung Maya berdebar-debar karena cowok itu berjalan ke arahnya yang memang saat itu Maya duduk di ruang tunggu tepat di sebelah kiri pintu masuk.

Saat mengetahui cowok itu melihat ke arahnya, Maya pura-pura cuek dan sibuk membuka-buka buku pelajarannya. Saat melewatinya, cowok itu tersenyum kepada Maya dan langsung masuk ke dalam kelas. Mendapat senyuman dari cowok itu, yang menurut Maya sangat-sangat manis dan menawan itu, jantungnya berdetak jauh lebih cepat dari sebelumnya.

“Manis sekali…” gumam Maya.

“Hei…! Ngapain duduk di sini, jadi dari tadi terburu-buru ke sini cuma buat duduk-duduk di sini doang?” bentak Widya yang ternyata juga sudah samapi di tempat itu sambil menepuk bahu Maya.

Dikejutkan seperti itu, Maya jadi sewot karena kesenangannnya mengagumi senyuman yang baru saja didapatnya dari cowok tadi tiba-tiba lenyap.

“Emangnya kenapa kalau gue duduk di sini? jawab Maya masih sewot.

Melihat perubahan sikap temannya Widya jadi curiga. Tadi sewaktu dia datang Maya sedang senyum-senyum sendiri, terus waktu dikagetin kok jadi marah, pasti ada sesuatu nih, pikir Widya.

“Kali ini lagi jatuh cinta sama sapa?” tanya Widya sambil lalu.

“Jadi ini namanya jatuh cinta?”

“Hah… beneran?” kata Widya heran.

Maya hanya tersenyum dan langsung masuk ke dalam kelas. Widya jadi bingung, pertanyaannya dijawab dengan senyuman seperti itu. Ia pun menyusul Maya ke kelas.

“Elo serius? sama sapa? Gue kenal nggak? Anak sekolah kita bukan?” tanya Widya bertubi-tubi sambil duduk di sebelah Maya.

“Ada deh…”

“Ayo dong bilang siapa, kan elo tuh jarang-jarang ngelirik cowok apalagi sampe’ jatuh cinta kayak gini”

“Beneran mau tau?”

“He-eh”

“Lihat cowok yang pake’ kaos putih ama jaket biru plus jeans biru di kelas sebelah itu gak?”

“Yang mana?” tanya Widya sambil matanya mencari-cari sosok yang digambarkan Maya.

“Itu.. yang lagi ngobrol ama temen-temennya, dia pegang pena item” lanjut Maya sambil memandang cowok pujaan hatinya itu dengan mata besinar-sinar, kagum.

“Oh yang itu, keren juga kok, namanya siapa?”

“Nggak tahu”

“Nggak tahu? Kok nggak tahu sih, kalau alamat rumahnya atau nomor teleponnya tahu kan?”

“Nggak juga”

“Kalau gitu sekolahnya kamu tahu kan?”

“Itu gue juga nggak tahu”

“Terus yang elo tahu dari dia apa?”

“Enggak ada”

“Elo bilang nggak ada?, jadi elo nggak tahu apa-apa tentang tuh cowok? kok bisa…!” kata Widya sambil keheranan.

“Iya ya? Tapi kalau dibilang nggak tahu apa-apa juga nggak sih. Menurut gue, dia itu cowok paling keren, paling ganteng and paling ramah yang pernah gue temuin. Lihat dong badannya tinggi kan, rambutnya lurus, kulitnya juga nggak putih ataupun item-item amat, dan yang paling penting senyumnya itu, maniiis bangeeet” jawab Maya sambil memandangi cowok itu.

“Haah…! Jadi lo suka sama cowok, tapi elo nggak tahu apa-apa tentang cowok itu? Menurut gue, elo tuh nggak ‘sehat’, tahu nggak?”

“Yang penting kan gue suka ama dia”

“Iya, tapi tetep aja elo harus tahu siapa dia, emangnya elo nggak mau kalau nantinya bisa deket ama dia, atau malahan elo bakal jadian ama dia?”

“Gue sih mau banget deket ama dia, apalagi sampe’ jadian, uu..h mau bangee…tt? bantuin gue ya” kata Maya dengan suara memohon.

“Oke deh, ntar gue bantuin, tapi gue dapet apa dong?”

“Apa pun yang elo mau, asal nggak sampe’ ngerugiin gue aja”

“Oke..”

“Oke!” jawab Maya cepat.

“Udah dong sekarang dah mau mulai tuh pelajaran tambahannya”

“Iya iya”.

***

Keesokan harinya di sekolah.

“Widya, badan gue panas gak? Apa gue demam ya?” tanya Maya tiba-tiba setelah terburu-buru kembali dari kantin.

“Badan lo nggak panas tuh, emangnya kenapa? Elo nggak enak badan? jawab Widya sambil memegang kening dan leher Maya.

“Tadi gue lihat tuh cowok di kantin”

“Cowok yang mana? Yang pasti bukan cowok yang elo taksir kan?”

“Itu dia, yang gue maksud ya cowok itu”

“Defry…!”

“Siapa itu Defry?”

“Oh iya gue lupa mau ngasih tahu elo, baru kemarin gue tahu kalau nama tuh cowok namanya Defry, lagian nggak mungkin dong May, dia kan bukan siswa sini”

“Jadi namanya Defry ya, tapi gue bener-bener lihat dia kok”

“Maya, Widya udah tahu belom kalau kita sekarang ada siswa baru, cowok, keren lagi, dia kelas tiga dan masuk kelas tiga IPA 1” kata Vera tiba-tiba saat dia dan teman-temannya lewat di sebelah mereka berdua.

“Apa…!” jawab Maya dan Widya berbarengan, lalu segera beranjak dari situ.

“Hei…! Kalian kenapa sih?” tanya Vera keheranan melihat kedua temannya tiba-tiba terkejut dan bergegas pergi.

***

“Tuh kan bener, kalau gue sama sekali nggak salah lihat” kata Maya sambil terus berjalan ke arah kelas IPA.

“Yang penting kita pastiin dulu, bener nggak dia orangnya”

Sesampainya di kelas IPA yang mereka sama sekali tidak menemukan cowok yang mereka cari. Kelas itu masih sepi, cuma ada beberapa siswa yang ada di kelas.

“Nggak ada tuh”

“Mungkin masih di kantin”

“Kita ke sana?”

“Ayo…!”

Teeett…teeett…!

“Yah udah bel masuk, nanti aja ya pulang sekolah, kita pastiin aja lagi”

“Oke deh, kita ke kelas yuk”.

Lalu mereka berduapun menuju ke kelas mereka dengan pertanyaan yang masih menggantung dan rasa penasaran yang teramat sangat.

Saat pulang sekolah.

“Jadi bener ya mbak anak baru yang pindahan itu namanya Defry?” tanya Widya kepada salah satu siswi yang baru saja keluar dari kelas IPA 1 itu.

“Iya bener, tapi sekarang anaknya sudah pulang, kalian kenal ya?”

“Begitulah mbak…terimakasih ya kami pulang dulu”

“Karena anaknya juga udah pulang, kita besok aja ya nemuinnya, yang penting kita udah tahu kalau tuh cowok bener-bener ada di sekolah ini” kata Widya.

“Oke deh, lagian denger dia ada di sekolah ini gue jadi seneng, soalnya kesempatan gue deket ama dia makin terbuka lebar”.

“Pulang yuk…”

***

“Siang Yah” sapa Maya kepada ayahnya yang sedang duduk di ruang keluarga.

“Siang, sudah pulang, nggak les?”

“Hari ini kan ngak ada jadwal les . kok Ayah jam segini udah di rumah?

“Iya, ada sedikit persiapan yang harus ayah lakukan di rumah”

“Persiapan? Buat apa?”

“Kamu ingat sewaktu Ayah bilang kalau ayah akan memberikan ibu baru untuk menggantikan posisi ibumu yang sudah meninggal. Sekarang ayah sudah dapat yang cocok dan akan ayah kenalkan padamu malam ini, kamu nggak keberatan kan?

“Kalau itu udah pilihan ayah dan ibu baru ini baik dan nantinya bisa menyayangi ayah dan Maya, juga mendidik Maya dengan baik pula, Maya sih nggak keberatan, terserah Ayah saja”

“Terima kasih sayang, kalau begitu kamu malam ini nggak kemana-mana kan, soalnya calon ibu barumu ini punya seorang anak yang sebaya denganmu, kalian pasti bisa berteman nantinya”

“Oh ya, seru dong, semoga saja kita bisa temenan dan jadi saudara yang baik ya. Yah, Maya ke kamar ganti baju dulu ya”.

“Iya sayang” jawab Ayahnya sambil tersenyum.

***

Malam harinya.

”Assalamu’alaikum. Selamat malam?”

“Kalian sudah dating rupanya, ayo masuk”

“Terima kasih”

“Maya mana mas, kok nggak kelihatan”

“Ada kok lagi di kamarnya, siap-siap untuk ketemu ibu barunya, dia nggak mau kalah cantik sama calon ibu barunya nanti katanya”

“Duduk yuk, santai saja ya, saya panggil Maya dulu” lanjut Ayah sambil mempersilahkan tamu istimewanya untuk duduk di ruang tamu.

“Iya mas”

Saat itu Maya keluar dari kamarnya dan menuju ruang tamu untuk menemui tamu istimewa malam ini sambil tersenyum manis.

“Oh ini dia anak Ayah sudah keluar, sini Maya. Kenalkan ini Rina yang akan jadi ibumu nanti”

“Halo tante apa kabar, saya Maya”

“Kabar baik Maya, kamu cantik sekali”

“Terima kasih tente”

“Nah kalau yang ini anak Tante Rina yang akan jadi saudara juga akan jadi temanmu, namanya Defry, kalian seumuran kan?” lanjut Ayahnya memperkenalkan tamu istimewanya yang satu lagi.

“Halo Maya, saya Defry apa kabar?”

“Defry…” hanya itu yang keluar dari mulut Maya, heran. Maya sama sekali tidak bisa mengatakan sepatah katapun bahkan senyuman di wajahnya langsung hilang. Cowok di depannya adalah cowok keren dan misterius yang selama ini dia sukai dan sekarang cowok itu ada di depannya sambil menjabat tangannya dan tersenyum manis.

Cowok yang selama ini dia cari-cari dan selalu ada di pikirannya. Cowok yang membuatnya jatuh cinta kini ada di depannya dan mengenalkan diri sebagai saudara tirinya.

“Ya Tuhan… bagaimana ini”.

Tuesday, April 28, 2009

Cinta Tak Segampang Matematika

Kalau saja hidup ini segampang matematika, mungkin nggak banyak orang yang akan terluka. Sepintas lalu kayaknya kalimat ini pasti adanya cuma di sinetron, tapi percaya deh kalimat ini memang terbukti kebenarannya. Mungkin kamu bakal protes jika matematika (yang konon bisa bikin rambut lurus jigrak-jigrak tanpa direbonding / pake shampoo itu) menurutku “enggak susah” ( yah meskipun di sokolahku aku sering ikut remidi matematika, apalagi kalau sudah bicara tentang matematika yang di ampu Pak Bangun) Asalkan kita tahu rumus yang tepat, sebenarnya soal-soal matematika tidak sengeri yang kita kira. Nah, bedanya dengan kehidupan kita : nggak ada rumus yang pasti tentang bagaimana cara membuat orang senang, alih-alih yang kita perbuat malah membuat orang bereaksi sebaliknya. Seperti kata pepatah, “Dalamnya laut bisa diukur, dalamnya hati siapa yang tahu” ( sebenarnya kita toh benar-benar nggak tahu apa yang ada di dalam pikiran orang lain-kecuali memang kita diberi kelebihan untuk membaca pikiran). Coba diingat-ingat, pasti banyak kan dari kita pernah merasakan salah tingkah dan kebingungan menghadapi bermacam-macam polah tingkah orang lain? Rasanya badan jadi kaku dan dingin kaya diguyur air es dari langit. Kita merutuk dalam hati, andaikan ada rumus praktis (namun sayang, hidup bukanlah UMPTN atau spmb itt telkom) untuk mengetahui bagaimana perasaan orang lain. Bahkan aku yang sekolah di smk telkom ni juga mulai menekuni dunia pesikolog dengan mulai membaca – baca buku psikologi dari kelas satu dulu dan sebagian besar orang lantas berpikir bahwa dengan itu aku bisa meramal kepribadian orang lain hanya berdasarkan pandangan pertama saja. Tapi kadang-kadang aku juga tetap mengalami dilema dalam hubungan interpersonal-sering-. Duh…! Jadi, matematika mungkin masih lebih gampang. Tapi kamu masih saja boleh nggak sepakat, lho! Soalnya aku sendiri juga tidak pandai di bidang matematika.
Kadang ini nggak ada hubungannya dengan jenis kelamin, namun tetap saja aku merasa bahwa diriku lebih rasional dalam memandang hidup dibandingkan dengan orang-orang lain. Bahkan memandang cinta sekalipun. Boleh jadi dulu teman-temanku mengira aku adalah orang yang memandang cinta dengan sinis; meskipun nggak benar seperti itu. Ada temenku yang bilang, “Udah dirasain aja apa susahnya sih? Daripada dipikir melulu”. Tapi dulu (sebelum aku menemukan bidadaraiku) aku tetep aja keukeuh untuk berpikir beberapa kali lagi, agar bisa jatuh cinta pada orang yang tepat. Karena aku yakin bahwa jika kita jatuh cinta cuma bermodalkan perasaan dan hawa nafsu, kalau terjadi sesuatu yang buruk, rasanya pasti kaya kebanting ke lantai. Sakit. Aku punya seorang teman (satu kelas) yang kayaknya jatuh cinta itu nggak ada bedanya sama memancing ikan. Nyaris nggak pilih-pilih. Asalkan umpan disambut, ditarik deh pancingnya. Tapi ya karena tak pernah berpikir panjang, akhirnya sering hubungannya nggak pernah langgeng. Ia jadian sebanyak ia putus hubungan. Merana sekali tampaknya. Di mata temen-temen lainnya, ia juga sudah dipandang sebelah mata. Habisnya kok kesannya “gampangan” banget gitu lho. Dan entah akhir-akhir ini ia selalu tampak sendirian. Entah karena mungkin kepercayaan diri dia mulai rapuh atau bisa juga tobat. Semoga aja karena alasan yang terakhir tadi deh. Bukan berarti aku nggak pernah jatuh cinta sebelum masuk smk telkom ini. Dulu aku pernah jatuh cinta ketika masih SMP. Aku inget banget waktu itu pas lebaran. Saat itu aku mengirim kartu lebaran bermerek Harvest yang bergambar cewek-cowok dewasa persis kaya ilustrasi di majalah- majalah remaja waktu itu. Mana kalimatnya romantis lagi. Akhirnya sewaktu hari pertama sekolah setelah liburan panjang lebaran. Aku bertemu dia. Wajahnya sudah merah saat melihatku. Temen-temen se-gank-nya sudah bersorak-sorak. Aku merasa aneh. Ada apa, ya? Ada yang kelepasan bilang, “Kamu suka
sama si X, ya Lang?”
Pucet deh mukaku. Kok semua pada tahu ya?
Tanggapan si dia (yang) kucinta itu pun tampak dingin dan semakin menjauhiku. Padahal dulu pernah deket banget. Tapi ya mau bagaimana lagi, memang sudah resiko. Beberapa hari kemudian setelah kejadian itu aku menyesal, kenapa juga kirim kartu lebaran yang bergambar seperti itu tanpa pikir panjang. Padahal aku sebenernya cuma nulis “Mohon Maaf lahir Batin” doang. Nggak ada embel-embel “I Love you” sama sekali. Tapi mungkin memang kalimat-kalimat yang tercetak di kartu lebaran itu memang sudah sedemikian gamblangnya menerangkan maksudku. Jadi deh, ditolak sebelum ngomong langsung. Kayaknya kejadian gini cuma dialami oleh aku deh. Makanya pengalaman itu menjadi pegangan bagi aku untuk lebih bijaksana dalam memandang kehidupan ini. Bagiku, cinta itu memang misterius –dan mungkin selamanya akan seperti itu. Kadang-kadang aku nggak pernah menemukan alasan logis kenapa jatuh cinta bisa mengubah sikap orang seratus delapan puluh derajat. Aku kenal seseorang yang sangat realistis-sekarang sudah kelas 3 TKJ-tetapi tiba-tiba menjadi begitu melankolis ketika jatuh cinta, memandang senja dengan tatapan rindu, tersenyam-senyum sendiri dalam perjalanan, dan rajin menyambangi kios bunga. Suatu kali dia mengeluh kepadaku bahwa pacarnya sangat cuek kepadanya. Tetapi buru-buru ia membuat pemakluman “Tapi nggak apa-apa, orang pisces kan emang biasanya gitu, kan?” Duh.., saya jadi khawatir kok bisa-bisanya orang serealistis dia bisa menghubung-hubungkan antara sifat dengan zodiak? Jika disuruh memilih, mungkin aku lebih suka hubungan pertemanan ketimbang percintaan –meskipun sekarang aku memang sudah menjalani hub lebih dari 1 tahun- Kedengarannya klise, ya? Tapi aku punya alasanku sendiri kok! Sebenarnya ada perbedaan mendasar antara hubungan percintaan dengan hubungan pertemanan. -bidadarikulah yang membuat aku berpikir demikian-Percintaan itu dilandasi oleh rasa posesif (rasa ingin memiliki), sedangkan hubungan pertemanan didasari atas rasa saling percaya. Kamu boleh-boleh aja protes bahwa hubungan antar kekasih dilandasi atas rasa saling percaya. Tapi pasti kamu akan kesulitan untuk menerangkan dari mana datangnya rasa cemburu. Perasaan posesif itu yang kemudian melahirkan ritual wakuncar (waktu kunjung pacar) saban malam minggu. Coba deh, kamu pasti akan dicemberutin sama pacar kamu kalau malam minggu nggak “ronda” kekosnya. Rasa posesif yang berlebihan juga lah yang menjadi penyebab hubungan cinta jarak jauh akhirnya nggak berhasil. Bawaannya curiga dan cemburu melulu. Selalu aja bertanya, “Kamu lagi nggak sama siapa-siapa kan di sana?”
Coba sekarang bandingkan dengan hubungan teman. Kita kan nggak bisa protes bila sahabat kita memiliki sahabat lain selain kita? Itu hak-hak dia dong punya sahabat lain selain kita. Hubungan pertemanan juga menghasilkan sebuah ikatan unik yang menyebabkan kita bisa mengobrol akrab dengan teman kita yang mungkin sudah lama nggak kita jumpai. Pokoknya yambung aja gitu-bidadariku pernah memintanya-Nggak ada sama sekali perasaan cemburu. Mungkin ada sedikit perasaan dongkol, namun tetap nggak menjadikan kamu memutuskan hubungan dengannya sebagai seorang teman, bukan? Kalau dengan pacar, jarang ketemuan, bisa-bisa dieleminasi deh! Jadi, nggak salah bukan bila akhirnya lebih merasa hubungan antar teman lebih berharga daripada hubungan dengan kekasih. Banyak orang-orang spesial yang lebih memilih menjadi sahabat, karena semata-mata -katanya- posisi sahabat lebih tinggi daripada kekasih.
So.., jika suatu kali kamu menyatakan perasaanmu kepada orang lain, dan ditanggapi dengan jawaban “Lebih baik kita jadi teman saja, ya?”, seharusnya kamu malah merasa lebih terhormat, dong. Aku sedang sibuk menyelidiki misteri tentang cinta (kayak judul lagu, ya?). Cinta itu sebenernya nggak pernah memberi lebih. Bahkan nggak jarang cinta merenggut apa yang kita punyai : waktu, tenaga, pikiran, uang, dan masih banyak lagi. Tetapi cinta membuat hidup kita lebih berharga. Sedikit yang diberikan oleh orang yang kita cintai terasa berharga. Kekasih kita menjadi sedemikian cantiknya, hingga Dian Satro pun lewat. Orang lain akan menganggap kita gila. Kok bisa ya, cuma dibelikan semangkuk bakso saja senengnya selangit? Tapi orang yang kasmaran itu pasti menganggap cinta itun enak gila…
Dalam operasi matematika, cinta itu adalah hubungan perkalian. Ahli-ahli kimia bilang cinta itu adalah katalisator. Dengan satu ucapan yang menghibur dari orang yang kita cintai, hati kita bisa melambung hingga ke negeri antah-berantah. Tetapi satu bentuk kekecewaan yang dilakukan oleh orang yang kita cintai pada kita, duh sakitnya pasti akan
membekas sampai lama. Kita bisa jadi sangat terhibur karena cinta, namun sebaliknya bisa juga menjadi sangat tersakiti oleh cinta. Aku beberapa kali menemui orang-orang yang mengalami trauma dalam cinta dan berjanji tidak akan pernah jatuh cinta lagi. Menyedihkan sekali, bukan? Aku hanya bisa mengatakan, tanpa cinta pun hidup kita sudah membingungkan. Ini juga didukung oleh Hukum Termodinamika II, yang berbunyi
entropi selalu positif, yang artinya : alam termasuk manusia akan cenderung menuju ke
arah ketidakaturan. So, sebenarnya tidak ada masalah dalam hidup, asalkan kita bisa mengendalikannya. Cinta nggak pernah bersalah kok! Baik-buruknya kualitas cinta itu
tergantung pada kita, gimana cara kita menjalaninya. Pengalaman dan kegagalan yang
dulu kan bisa menjadi cermin bagi kita agar tidak melakukan kesalahan yang sama.
Bagaimanapun juga, yang memisahkan antara kegagalan dan kesuksesan adalah usaha. Yah, tapi kita memang harus memulainya. Dan untuk itu modalnya cuma satu. Nyali.
Nah, apakah kamu punya? Apabila kita bertaruh untuk merasakan cinta dalam hidup kita, menurutku pilihan untuk mencoba jatuh cinta lagi tidaklah terlalu buruk. Beruntung aku adalah seorang penulis sekaligus orang yang gemar membaca buku psikologi. Itu adalah tiket bagi orang-orang untuk curhat kepadaku. Asyik sekali mengetahui dan belajar dari pengalaman orang lain tanpa harus mencari apalagi membayar. Bukan hanya satu-dua orang saja yang bercerita tentang pengalaman cintanya lho. Meskipun kadang aku nggak benar-benar bisa menyelesaikan masalah dan bahkan merasakan perasaan mereka –karena bagaimanapun juga aku bukan orang yang benar - benar mengalami kejadian yang sama– tetapi dengan menjadi pendengar pun sudah cukup bagi mereka. Beberapa kali aku malah berbuat terlalu jauh dalam hubungan percintaan orang lain. Seperti misalnya, aku terlibat di tengah hubungan cinta yang unik antara teman sekelasku dengan adik kelasnya. Hubungan mereka bertambah menarik karena umur perempuan tersebut lebih tua daripada yang laki-laki. Nggak tahu kenapa aku kemudian mereka anggap sebagai mak comblang, hanya karena memperkenalkan mereka berdua. Sering aku diajak ngobrol sembari ditraktir di kantin atau warung deket kos. Hampir setiap kali diajak. Mungkin ini ya enaknya jadi mak comblang…. Meskipun hingga saat ini aku secara pribadi nggak begitu sepakat dengan pacaran –terutama cara pacaran remaja akhir-akhir ini yang kayaknya makin syuerem deh.., tetapi aku sama sekali nggak menentang cinta. Malah pekerjaanku sebagai penulis sangat terbantu karena cinta. Dulu ketika aku masih belum memahami apa itu cinta, tulisanku terasa kering, datar, dan tanpa emosi. Di satu sisi aku melecehkan cerita-cerita yang menjual cinta-cinta gombal, tetapi di sisi lain aku mengakui kekurangan tulisanku terdapat dalam cerita-cerita seperti itu. Makanya, setiap kali pergi ke taman bacaan kemudian aku selalu menyempatkan mencomot novel-novel Harlequim atau TeenLit (bahkan ChickLit) di antara novel-novel science-fiction karya Michel Critchon atau novel misteri Agatha Christie yang biasa kubaca. Pertama-tama ada perasaan enggan dan sedikit jijik, tentu. Tetapi aku merasa bahwa perasaan seperti ini lumrah jika ingin mempelajari sesuatu yang baru sekaligus beda dari keseharian kita. Hasilnya, aku semakin memahami cinta. Cinta bagiku itu ibarat vitamin C. Bikin semangat dan memandang hidup jauh lebih baik. Cinta melahirkan sentuhan emosi yang bertingkat-tingkat pada simbol-simbol tertentu (contoh: bunga, warna pink, dll) –sesuatu yang dulu tidak kupahami (ingat pengalamanku tentang Kartu Ucapan Harvest, kan?). Mengarang bagiku sekarang tak ubahnya seperti menulis surat cinta yang penuh dengan bahasa yang terpilih sekaligus menggigit. Ada perubahan dalam bagaimana cara memandang sesuatu hal dan juga bagaimana cara menimbulkan kesan dari ragam pilihan bahasa yang dipilih. Secara otomatis, dengan cinta, aku merasa bahwa hidupku menjadi makin kaya dan semakin bersemangat untuk menulis lebih banyak hal lagi. Bener deh kata Mas Guruh Soekarno Putra : Mahadaya Cinta!! Rugi kalau nggak pernah jatuh cinta! Seperti dalam sebuah lirik sebuah lagu “love doesn’t have to hurt”: cinta nggak boleh saling menyakiti, menekan, apalagi memaksa. Ini berlaku untuk kedua belah pihak lho. Kamu nggak boleh menuntut orang yang kau cintai untuk memperhatikanmu terus-terusan, di lain pihak kamu juga nggak boleh menuntut dirimu untuk terus-terusan memaklumi orang yang kau cintai jika ia berkali-kali melakukan kesalahan yang sama. Cinta itu tetep ada batasnya. Kadang-kadang sebuah hubungan akan lebih baik jadinya apabila kita nggak berhubungan. Bisa jadi hingga akhir orang tidak akan pernah tahu misteri cinta. Mungkin pada saat rumus-rumus matematika telah terungkap semuanya, cinta masih berenang-renang dengan anggunnya di area ketidaktahuan dalam pikiran manusia dan orang-orang masih ramai membicarakannya. Namun mungkin itu lebih baik. Karena orang-orang akan selalu penasaran, bertanya, mencari, dan merasakan cinta. Cinta memang mungkin selamanya nggak akan lebih gampang daripada matematika. Tetapi bila kita bisa memperlakukan dengan bijaksana, cinta pasti akan jauh lebih menyenangkan ketimbang matematika. Kamu sepakat?

dalam prosesl

Memang bukan kata yang coba aku ketik. mungkin memang tanpa makna tapi aku masih mencoba dan terus mencoba tuk jadi yang aku mau. Banyak orang yang mencela kebiasaanku menulis. Banyak orang yang bilang kalau tulisan dan semua karyaku itu memang tak berasa dan tak bisa di nikmati. Hinaan itu juga aku dapat pagi tadi. Mungkin Cuma bercanda atau hanya sekedar menguji kesabaranku saja namun tetap menusuk dalam smpai menguras dasar jiwa ini. Dilain pihak ada seseorang yang mengatakan “Jalani hidup seperti rumput”.
Jalani hidup seperti rumput. Aku sependapat dengan dia. Memang dalam kehidupan ini tak ada yang sempurna, paling tidak itulah yang ditulis salah satu sastrawan yang aku kagumi. Menjalani hidup penuh dengan guncangan terkadang memang angin yang dulu bisa menyejukan hati kita juga bisa menghancurkan rumah kita. Rumput. Meskipun ia kecil dan sering diabaikan orang tapi dia tetap mampu menari ketika tertiup angin. Meskipun orang terkadang lebih suka memandang pohon atau tumbuhan yang lebih tinggi dan lebih indah. Rumput takkan menangis ketika ia terinjak atau dengan sengaja ada orang yang menginjaknya. Dia juga bisa hidup tanpa harus ada yang memberinya belas kasihan dan menyiraminya, rumput masih bisa bertahan tanpa air mata.
Seperti sore ini ketika aku duduk di tepian lapangan dan mencoba belajar tentang kehidupan dari rumput. Mungkin hari ini agak aneh untuk hidupku tapi itu memang aku. Sendiri dan kan terus sendiri. Hinaan yang aku terima bukanlah hal yang mudah tuk aku lupakan. Dan asal kalian tahu saja, aku takkan pernah melupakan semua ini. Bukan berarti aku pendendam tapi aku jadikan semua ini sebagai semangad baru. Akan ku buktikan pada kalian semua kalau aku Galang dan suatu saat nanti aku yakin mampu jadi sastrawan. Meskipun aku selama ini tidak pernah mengenyam pendidikan di jurusan itu tapi dengan tekad ini aku yakin aku bisa’ aku bisa menulis, aku bisa membaca, aku punya semangat dan jangan lupa masih ada orang tua aku yang selalu ada untuk aku. Kenapa aku tak bisa??? Kalau sekarang kalian pikir karyaku selama ini jelek dan tidak berasa, kenapa tidak kalian coba untuk menulis?? Hey,, aku tahu kalian itu anak – anak cerdas dan kritis tapi apa kalian pernah berpikir dan mencoba melakukan itu sebelum kalian mencela karya orang?? Bahasa dan karya sastra bukan dinilai dari banyaknya tulisan dan luasnya pemahaman saja tapi ada satu yang kalian lupa. Perasaan. Satukan wawasan, pemikiran dan perasaan kalian maka kalian akan tahu bagaimana rasanya menjadi apa yang kalian mau.
Aku pernah kenal dengan pemuda yang sekarang sangat pandai mengutak atik program. Apa kalian pikir dia bisa mencapai itu dengan mudah?? semua itu butuh proses. Semua itu butuh belajar. Terkadang program yang dia buat memang sudah umum dan tidak menarik ( untuk kita ). Tapi untuk dia?? Waktu itu aku ada masalah dengan seseorang. Aku maen ke kosnya yang kebetulan dekat dengan kos aku. Ketika masuk kamarnya, dia sedang benar – benar konsen dan fokus dengan programnya dan aku hanya menunggunya sambil membaca beberapa komik naruto yang tergletak di meja kamarnya. Aku tahu dia benar – benar sedang belajar untuk memecahkan sesuatu yang aku sendiri tak begitu memahami apa yang sedang ia kerjakan sampai akhirnya ia tersenyum puas dengan program yang baru saja ia selesaikan sendiri itu. Tidak lama kemudian setelah kami mulai membuka pembicaraan, ada salah satu teman kosnya yang datang dan melihat programnya itu.loh kok programnya Cuma kayak gini sih?? Basi banget. Itu kalimat yang terlontar dari mulut orang itu. Sejenak hening dan temenku itu mulai membuka mulutnya. Tenang aja. Ini juga masih belajar kok suatu hari pasti aku bisa buat program yang lebih keren.... heheheh,,, maaf yah,,, . sejenak aku tercengan dengan kata – kata itu. Sekarang dia sudah menjadi programer dan tahun ini dia Lulus akatel dengan IP 3,7.
Tahun ini insyaallah aku bisa menyelesaikan jenjang pendidikan di SMK TELKOM Purwokerto dan berencana melanjutkan ke AKATEL Purwokerto. Dilihat dari sekolahnya saja sudah jauh sekali dari impianku menjadi sastrawan. Bukan berarti aku salah ambil jurusan tapi memang sebenarnya akulah yang memaksa orang tuaku untuk menyekolahkan aku disini. Karna di sekolah ini aku yakin bisa meraih masa depan yang bisa membuat kedua orang tuaku tesenyum lebar dan aku masih mampu tuk mencoba menggali potensiku untuk menulis dan menjadi seorang penulis.
Sejak smp aku mulai suka nulis dan waktu itu semua karyaku aku bukukan sendiri dalam binder kecil yang selalu aku bawa kemana – mana namun sekarang binder itu lenyap entah kemana. Tapi tak apalah yang penting semua itu masih tercatat jelas di otakku.
Tak ada yang menarik dalam hidupku jika diceritakan. Aku lahir di Pekalongan pada hari Senin Pon (catatan jawa) tanggal 22 oktober 1990 tepatnya pukul 05.45 Am dari rahim ibuku yang bernama Rahayu ningsih sedangkan ayahku bernama Slamet Suroso. Tak banyak hal yang aku ingat pada masa itu tapi kata orang tua ku tak lama dari hari kelahiranku, keluargaku pindah ke daerah Kanzer. Itu adalah nama daerah dataran tinggi yang di penuhi kealamian alam. Dimana pepohonan dan hewan – hewan berjumlah lebih banyak dari gedung atau bangunan. Sangat nyaman untuk menghirup udara segar. Rumah yang dulu kami tempati di situ sekarang sudah di hancurkan dan rata dengan tanah. Bukan karna gempa bumi atau bencana alam lainnya tapi ada sedikit masalah dalam keluarga besar kami. Ughh... hilang sudah satu saksi bisu keharmonisan keluarga kami. Ayahku adalah salah satu dari deretan pria di Indonesia yang memiliki semangat yang tinggi untuk bekerja dan sangat bertanggung jawab dalam menjaga keharmonisan keluarga kami.namun jujur pada waktu itu aku sangat takut dengan ayahku.
Keluargaku semakin sempurna Pada awal th 1994 dengan kehadiran satu lagi bayi yang tentunya tidak lebih lucu dari aku. Galih pradana adi laksana, itulah nama yang diberikan oleh orangtua ku pada bayi yang juga adik laki – laki ku itu. Tidak seperti aku yang lahir di kota yang sangat panas dan dekat dengan laut namun adikku ini lahir di Kanzer yang udaranya sangat dingin bahkan pada pukul 13.00 pm masih bisa merasakan udara dingin yang bisa menggigilkan sekujur badan kita.sejak saat itu perhatian orang tuaku mulai terbagi, tapi aku tak peduli dengan itu.
Aku semakin dewasa dan sudah layak untuk bergabung dengan anak – anak lain untuk belajar. Aku mulai disekolahkan di Taman Kanak-kanak di Kanzer. Saat itu aku bukan siswa yang rajin yang selalu mendengarkan omongan guru dan mencatat semua pelajaran namun aku termasuk dalam deretan sisiwa malas yang gemar sekali tidur di kelas saat pelajaran. Aku memang pendiam waktu itu, karna aku sama sekali tidak mengenal lingkungan dan jarang bermain dengan anak – anak sebaya aku.
Waktu masih saja berjalan dan seiring dengan itu aku dan adikku juga tumbuh berkembang menjadi sedikit lebih dewasa. Pada masa itu ayahku sering pergi ke Pekalongan-Indonesia karna sesuatu. Aku mulai masuk sekolah dasar di kanzer dan belajar di sana. Akhr tahun pelajaran, orangtuaku tidak mengijinkan guruku untuk menaikkan aku ke tingkat 2 dengan berbagai alasan dan akhirnya orang tuaku memutuskan untuk memindahkan aku ke sekolah lain namun tetap di Kanzer. Disinilah aku mulai berteman dengan beberapa anak kanzer. Aku sekolah di sini Cuma sampai kelas 2.
Keluargaku memutuskan untuk pindah di Pekalongan-Indonesia. Aku masuk sekolah dasar yang jauh beda dengan sekolahku yang dulu dan disini aku duduk di bangku kelas 3. Teman – teman dengan gaya yang beda, bahasa yang beda, dan hampir semuanya berbedanamun tak butuh banyak waktu bagiku untuk menyesuaikan diri dengan mereka.
<>
Semuanya berubah ketika aku duduk di bangku SD kelas 6. Keluarga kami pindah rumah di salah satu Perumahan yang dekat dengan Pantai di daerah Pekalongan Utara (sampai sekarang)
SLTP N 03 Pekalongan. Itulah sekolah menengah pertama aku yang mengajarkan aku cara berteman, berorganisasi dan masih banyak lagi. Kelas satu aku megenal beberapa siswa dan akhirnya dengan sedikit keajaiban aku jadi salah satu siswa yang di perhitungkan di smp itu. Pada tanggal 02 february 2005 aku tergabung dalam salah satu band besar di smp aku “Romusha_gaf” sebagai gitaris. Sejak saat itu aku jadi sering ijin pulang malam karna latihan Band di Slamaran. Namun latihan kami ternyata membuahkan hasil dan pada tanggal 18 Agustus 2005, kami mendapatkan juara 3 dalam pensi di pekalongan kategori band pemula. Berkat itu juga kami di undang menjadi bintang tamu dalam acara konser Peterpan di lapangan Mataram Kota pekalongan. Sebenarnya pada waktu itu aku tidak mau ikut karna aku tahu pasti orang tuaku marah kalau aku sampai pulang larut malam tapi akhirnya aku tetap ikut.beberapa hari setelah itu aku keluar dari Romusha_gaf karna sebenarnya aku mengiginkan posisi drum selain itu aku juga merasa terganggu dan terkurangi waktu belajarku dengan latihan band ini.
Aku mulai menekuni dunia tulis menulis waktu kelas 2 smp dan kebetulan waktu itu aku juga terpilih menjadi ketua osis di smp aku itu. Ada hal yang sangat diluar dugaan pada waktu itu. Aku mulai mempalajari tarian tradisional dan tidak tanggung – tanggung, aku juga menampilkannya dalam berbagai acara. Heheheheh...
Aku telah menyelesaikan sekolah di smp ini dan akhirnya aku bisa keluar dari sekolah yang sebenarnya menyimpan banyak sekali duka yang aku sendiri tak mau mengingatnya. Susuah sekali tuk menyadari kalau kita telah kehilangan seseorang yang kita sayang. Yang aku bicarakan ini bukan tentang sekolah itu namun seseorang yang aku kenal di smp ku itu.
Aku sudah beranjak remaja dan memutuskan untuk melanjutkan sekolah. Aku sangat berharap bisa masuk sma 1 Kartini di kota Pekalongan.dan suatu keadaan perpaling begitu cepat. Orang tua aku menyarankan agar aku masuk SMK TELKOM di kota Purwokerto. Aku belum tahu tentang sekolah itu dan sebenarnya waktu itu aku sama sekali tak berminat. Banyak cerita yang aku dengar dari saudaraku yang memang sekolah disana tapi aku tetap saja tak berminat samapai ada suatu hari aku dan ayahku datang ke Purwokerto. Kota yang indah. Sejuk dan dingin (dulu).bersih. aku melihat smk telkom untuk pertama kali dan tetap saja aku tak tertarik.
Pendaftaran smk telkom sudah dibuka dari beberapa bulan yang lalau dan pada hari itu aku mulai mendaftarkan diriku. Ujian tertilis membuat kau melihat sisi lain dari smk tersebut. Menarik dan banyak hal yang benar – benar bisa aku dapatkan disini. Terutama jurusan Jaringan Akses Pelanggan yang waktu itu aku berpendapat sangat keren, jurusan terkeren yang aku pernah denger dan seketika itu juga aku berpaling dari sastrrawan-kesehatan ke Tekhnik dan tetap saja aku tak bisa lepas dari sastra.
Apa ini???
Kenaa malah jadi begini. Saat aku sudah minat untuk masuk SMK Telkom orang tuaku malah menyuruhku untuk sekolah di smk. Ini kan bukan novel ato cerita fiktif?? Ini kehidupan nyata dimana setiap warga Indonesia Berhak mendapatkan Hak nya dan aku Berhak untuk menentukan masa depanku. Aku tidak terima dengan keputusan itu dan aku tetap memaksa orang tua ku untuk menyekolahkan aku di situ. Dan setelah melewati masa – masa aneh yang penuh air mata. Telah diutuskan kalau aku akan mendapatkan pendidikan di SMK Telkom. Aku berjanji akan menjadi sisiwa yang benar – benar seorang Pelajar SMK TELKOM yang UNGGUL DALAM PRESTASI dan SANTUN DALAM PERILAKU.
Hanya garis besarnya saja yang kan aku ceritakan tentang kehidupanku di SMK karena aku masih menulis novel yang berisikan tentang pengalamanku selama aku menjadi siswa SMK TELKOM INI
Tahun Pertama DI SMK Telkom Sandhy Putra
Aku mencoba megikuti alur pelajaran di sini dan mencoba jadi yang terbaik. Uggghhh.... diluar dugaan aku berkumpul dengan anak – anak cerdas dari berbagai daerah.solo, semarang,jgja,tegal, lengkap samai Kalimantan ada di kelasku namun aku tetaplah galang dan sampai kapanpun aku tetap mencoba jadi galang. Aku mencoba mengikuti seluruh kegiatan organisasi dan pada tahun ini aku sudah menjadi salah satu Pengurus organisasi yang dipandang. Banyak organisasi yang aku pimpin dan banyak acara yang aku ketuai. Aku mudah bergaul dan bekomunukasi dengan teman baru dan daerah baru jadi tidak ada masalah di tahun pertamaku hidup Kos. Aku masih terbilang siswa yang kalem dan pendiam (jangan Protes).tahun ini aku bertemu dengan beberapa teman yang ternyata punya potensi di bidang musik. Aku berhasil membentuk band yang beraliran Techno. LA (Lockta Anindia) itulah band terbesar yang pernah aku punya. Kita mulai terjun ke dunia yang lebih tinggi dan akhirnya sampai pada dapur rekaman. 3 lagu kami berhasil masuk kompilasi band indie selain itu kami juga mulai menampilkan karya musik kami di berbagai festival atau sekedar menjadi band pembuka.
Tahun Ke Dua di SMK Telkom Sandhy Putra
Awal tahun yang buruk. LA bubar. Aku di keluarkan dari organisasi.namun lepas dari LA aku tetap menulis beberapa lagu. Memang sebenarnya lagu – lagu LA akulah yang menulis liriknya. Dan aku menjual lirik lagu terbaruku itu pada salah satu band di Purwokerto dengan harga yang terbilang murah.ada hal yang menyedihkan disini. Salah satu lagu yang aku tulis dibajak orang dan anehnya malah tenar dan dierebutkan oleh band – band besar di tanah air. Aku tak bisa apa – apa. Memang tahun yang sial. Aku mulai muak dengan musikku. Aku tetap menulis dan cerpen ato novelku tetap tersimpan rapi.kemampuan seniku akhirnya terpakai. Sekolah menunjuk aku untuk ikut lomba tari tradisional dan aku mendapatkan juara satu saat itu.tahun ini mulai membaik novelku mulai dilirik beberapa penulis. Esty kinasih yang sudah memiliki nama di dunia tulis menulis juga mengajakku untuk bergabung dalam penulisan novel terbarunya.berjalan tanpa tanda tanya............... aku mengenal kayyisu di tahun ini. Dan di tahun ini aku juga mengenal gadis yang akhirnya menjadi pacar ku (dapat di lihat di U know Tik, That I L U)
Tahun ke Tiga Di smk Telkom Sandhy Putra
Kehidupan itu bukan lelucon atau cerita singkat dari drama musikal yang penuh haru. Hidup itu butuh perjuangan. Banyak hal yang tidak dapat aku ceritakan disini karna hidup ini Cuma dipenuhi mimpi. Dan aku tak pernah menyerah untuk mewujutkan mimpi itu. Seperti sore ini, ketika aku duduk termenung di pinggiran lapangan dan merenungkan tentang kehidupanku. Sekarang ujian nasional sudah aku lalui dengan baik dan tinggal selangkah lagi aku menyelesaikan belajarku di SMK.


Satu hal yang aku tahu dari aku
Aku akan tetap menjadi galang. Tidak harus berubah dan masuk dalam kebohongan untuk mendapatkan teman atau untuk sekedar di trima jadi teman mereka. Ini aku dan ini hidupku. Tak perlu ikuti gaya hidup mereka karna aku punya gaya hidup sendiri dan tak kan malu tuk mengakui siapa dirinya karna aku bangga dengan keluargaku. Ingat. Jangan pernah kalian banggakan harta keluarga atau orang tua kalian karna dimasa mendatang itu taklain hanya omong kosong yang gak kepakai. Yang penting adalah bagaimana kita dapat hidup dengan jerih payah kita, karna tak selamanya orang tua kalian akan memberi kalian uang saku. Satu lagi. Jangan pernah kamu menghina teman kalian yang menurut kalian dia lahir di keluarga yang pas – pasan karna suatu saat bisa terjadi dia lebih sukses dan berhasil dari pada kamu yang lebih suka membanggakan harta keluarga daripada berusaha. Ingat... bagaimanapun juga keluarga dan orang tua kitalah yang selalu memberikan yang ternaik untuk kita dan merekalah yang terbaik. Jadi jangan bilang anak dari manager telkom kalau ternyata orang tua kalian ternyata hanya pegawai biasah. Tapi lakukanlah jika kamu memang yakin dan memutuskan untuk menjadi anak yang durhaka. Jadilah diri kalian. Ini aku Galang dan ini kehidupan nyata.

Tuesday, February 3, 2009

bintang tanpa cahaya

Cerita ini merupakan ringkasan novel yang diam - diam aku kirimkan pada penerbit tanpa sepengetahuan keluarga....

namun di kembalikan pada awal february ini,,,,

novel k 3 yang gagal,,,,,

cum fiksi.....

tlong kritikannya...

thanks tuk dia yang aku cintai yang slalu dukung aku dalam pembuatan novel ni....................... teman - teman yang juga ikut serta dalam memberikan keceriaan meski aku gagal................... thanks wat guru - guru ku yang sampai sekarang belum sadar kalu aku lebih baik dari tozhusa...

thanks wat keluargaku yang selalu ada untuk memberiku semangat....



berikut ringkasan dari novel ke3 aku yang belum bisa aku terbitkan....


Semenjak lulus SMA, saat itu usiaku delapan belas tahun, sikapku semakin tidak karuan. Apalagi ketika aku melanjutkan di bangku kuliah, ada saja perbuatanku yang tidak disukai oleh kaum Hawa. Teman-teman di kampus memberiku julukan si Mulut Buaya. Maklumlah, di tempatku kuliah hanya aku saja yang paling banyak diminati oleh gadis-gadis di kampus. Aku sangat bangga bahkan menjadi angkuh karena ketampananku. Badanku tinggi dan berisi bahkan mulai berotot seperti Ade Rai. Aku juga punya harta yang tujuh turunan tak akan habis. Aku juga disegani oleh teman-teman bahkan dosen di sana. Ya, jelas saja. Aku ini anak seorang pejabat negara.

Namun, ada satu gadis yang menurutku dia biasa saja. Kadang-kadang terlihat manis. Dia sangat membuatku kesal. Dia pernah menantangku dan tak ada rasa takut melawanku. Oh… mau cari mati dia, pikirku menantang.

Namanya, Linda. Dia perantau dari Bangka. Tidak cantik, tetapi cukup berani. Linda teman sekelasku. Dari semester satu sampai semester delapan saat ini, aku masih sekelas bersamanya. Kami selalu saja tidak pernah akur. Perdebatan sering terjadi. Tidak ada kata titik. Selalu saja tidak ada akhirnya. Sama-sama keras kepala.

Di kelas, aku dan Linda disebut sebagai Tom and Jerry. Seperti tikus dan kucing saja tiap hari bertengkar. Di suatu hari, entah hari apa, aku tak mendapat Linda masuk kelas. Mungkin dia tidak masuk hari ini. Dia sakit? Dia bolos? Dia mendapat hukuman? Ah… pertanyaan ini sering kali terlintas dalam benakku. Mengapa aku begitu khawatir?

Begitulah diriku, tidak mau menyadari kalau aku…

* * *

Di lain hari.

Linda berhasil menjadi ketua kelas. Aku menjadi sangat benci padanya. Aku kalah! Ah, itu tidak akan terjadi. Urusan sepele melawan dia! Dengan jurus bualanku, dia pasti akan tertarik padaku, dan akan masuk dalam perangkapku. Perangkap tikus, kataku dalam hati.

Wanita mana yang tidak akan tertarik padaku. Punya mobil kelas dunia yang hanya satu di Indonesia, wajahku tampan lebih dari seorang pangeran Inggris, pikirku membanggakan diri.

Sewaktu masih semester satu, aku pernah berpacaran dengan Lisa. Dia seorang model majalah terkenal. Cantik. Anak orang kaya. Berpenampilan menarik. Kemudian, aku putuskan hubungan dengannnya, hanya sebulan kita pacaran. Dia masih sakit hati sampai sekarang.

Lalu aku pacari lagi anak seorang angkatan darat. Namanya, Mona. Cantik dan feminin. Lagi-lagi aku memutuskan hubungan. Hanya sebulan pacaran. Kemudian, Shinta, seorang artis terkenal di Indonesia. Muda dan anggun. Aku pacari juga. Ya, hanya sebulan kita pacaran!

Lisa, Mona, Shinta, dan masih banyak lagi, mugkin sudah puluhan. Mereka adalah mantan pacarku di kampus, atau bisa disebut korban cintaku. Sakit hati. Wajarlah, hanya sebulan aku berhubungan kemudian aku putuskan! Selesai, ungkap diriku dalam hati.

Hanya dengan modal tampang keren dan ganteng. Bawa mobil pribadi, dan punya uang yang banyak, gadis-gadis di kampus berbondong mendaftarkan diri menjadi pacarku. Bahkan tidak hanya di kampus saja, di luar kampus juga banyak. Bukan salahku! Itu pilihan mereka!

Kupacari teman wanita di kampus, lalu kuputuskan. Kupacari lagi wanita lain di luar kampus kemudian kuputuskan, begitu seterusnya.

Tidak sedikit mantan pacarku yang sakit hati. Ada yang mencoba membunuhku, menamparku, bahkan melaporkan aku ke kantor polisi karena aku dianggap telah berbuat tidak senonoh terhadapnya. Ah, ada-ada saja, ketus hatiku.

“Sudah cukup kamu menyakiti hati mereka! Apa belum puas juga kamu!” Linda menggertak.

Tersentak aku kaget dari lamunanku yang membuatku merasa bangga ketika aku sedang bersantai di bangku kantin. Orang-orang di kantin juga memperhatikan Linda termasuk aku.

“He! Ngapain juga kamu ikut campur urusanku?”

“Aku tahu kamu tampan, ganteng, kaya, dan punya segalanya. Tapi hatimu busuk!”

“Apa kamu bilang? Enak saja kamu menghina aku!” Aku marah sambil bertolak pinggang.

“Itu kata-kata yang pantas kamu terima!”

Linda kemudian pergi dengan wajah sinisnya.

“Uh, dasar perempuan aneh!”

Mengapa Linda berkata kasar seperti itu? Apa aku punya salah padanya? Ya… sudahlah! Lalu aku pergi meninggalkan kantin di belakang kampusku, karena malu dipermalukan di depan teman-temanku.

Namun, aku juga tidak terima penghinaannya. Betul-betul keterlaluan!

“Sialan tuh anak, awas kalau bertemu nanti! Aku akan membalasnya!” sambil melotot menahan marah dan kesal.

Akhirnya, dengan perasaan penuh kesal aku tancap gas motorku dengan kencang. Menuju rumahku. Lampu merah aku terobos. Untung tidak ada polisi. Namun, di pinggir jalan kulihat Linda barjalan kaki sendiri. Entah mau kemana. Ah, kesempatanku memberi pelajaran padanya, bisikku penuh emosi.

Baru akan meminggirkan motorku ke trotoar, tiba-tiba mobil dari belakang menabrakku dengan kencang. Brak!! Suaranya seperti barang yang terjatuh dari lantai enam. Apa aku akan mati?

Aku melihat ada taman yang indah dipenuhi bunga-bunga berwarna-warni. Kulihat banyak kerumunan orang memakai baju putih tanpa lengan. Kulihat juga di sekeliling taman ada beberapa gadis cantik yang kukenal. Itu seperti, Lola, Anna, Firda, dan Sonia. Bukankah mereka sudah meninggal secara tragis karena bunuh diri? Ya… sejak aku putuskan tali cinta yang waktu itu terbina. Sejahat itukah diriku? Hingga membiarkan hati mereka hancur sampai mati.

Mereka berempat tersenyum padaku. Mereka membawaku berkeliling taman. Hingga mereka menunjukkan sesuatu berupa cahaya putih menyilaukan. Aku mendekati. Kulihat ke bawah, dan betapa kagetnya aku. Kulihat seorang pria terkapar di ruang operasi dengan tubuh penuh jahitan. Masih basah. Hidungnya terpasang selang oksigen, kaki dan tangannya diperban. Oh… itu diriku! Kulihat di sampingnya ada seorang gadis yang kukenal. Itu Linda! Aku memanggil-manggil namanya beberapa kali. Dia tak mendengar. Aku pasrah. Aku juga ingin meminta maaf karena diam-diam aku benar-benar jatuh cinta padanya. Ketika pertama masuk di bangku kuliah, semester satu. Aku memang sudah curi-curi pandang dirinya. Walau banyak gadis cantik, aku tak menaruh perasaan. Jantungku berdebar-debar. Dag-Dig-Dug. Sangat terasa menembus aliran darahku.

Saat itu, aku mencintai seorang gadis untuk pertama kalinya. Namun, dia tak menyambut cintaku. Ataukah memang dia tak mengerti apa yang kurasa? Karena itulah aku jadi galau. Hatiku ingin melampiaskan rasa sakit hatiku kepada semua gadis-gadis yang ada di kampus.

“Maafkan aku, Lola,” aku memelas. “Maafkan aku, Anna, maafkan aku, Firda,” desahku lirih. “Maafkan aku, pula Sonia,” aku menangis.

Tiba-tiba mereka membawaku lagi ke tempat yang penuh dengan cahaya putih berkilauan. Mereka mendorongku.

“Maafkan aku, Damar. Sejujurnya aku sangat menyayangimu. Namun, aku sadar bahwa aku bukan siapa-siapa di matamu. Aku hanyalah gadis kampung yang liar. Tidak sepadan denganmu yang tampan dan kaya. Maafkan pula kata-kataku tadi siang,” Linda menangis memegang tanganku, lalu mencium keningku.

Aku mendengar kata-katanya serta aku merasakan kecupannya yang begitu penuh kasih sayang.

“Ah,” mulutku seolah ingin berkata.

Aku tidak bisa membuka mataku. Tubuhku sakit semua. Hancur dan retak seperti tertindih pohon besar.

Tiada berdaya kudengar isak tangis orang yang kusayang. Linda. Maafkan aku. Hatiku memendam rasa bersalah. Kucoba membuka mata ini. Aku berhasil membuka mata ini. Kulihat Linda di sampingku sambil memegang tanganku. Air matanya mengalir terus- menerus.

Aku mencoba berkata-kata walau sungguh sakit.

“Ma…, ma…,” kata-kataku terpotong-potong. “Ma… af…, maafkan…, aku…,” ucapku terbata-bata. “Aku…, mencintaimu!”

Kali ini air mata Linda mengalir lebih deras. Ia menangis. Aku pun menangis.

“Aku juga mencintaimu dan aku akan menjagamu dengan kasih sayangku,” balas Linda terisak-isak.

“Terima…, kasih…,” aku memejamkan mata.

Tiba-tiba tubuhku melayang ke udara. Kulihat Linda menangis histeris. Keluargaku baru datang. Sudah terlambat!

Kini, aku ditemani oleh empat orang bidadari. Lola, Anna, Firda, dan Sonia. Mereka menemaniku di sini. Di tempat seharusnya aku berada.






by. galang

Saturday, January 17, 2009

you know Tik,,,, that I love U

Langkah kakiku kian berat menjejak, dan kusadari betapa letihnya aku. Seharian mengurusi majalah sekolah,betul-betul memeras selutuh energiku; rasanya sekarang aku hanya ingin cepat sampai di kos, melempar diri ke atas ranjang, lalu tidur terlelap sampai besok pagi.
Masih ada tiga hari penuh keringat dan air mata yang menanti, namun sekujur badanku sudah mulai menjerit-jerit kelelahan. Dan bagaimana bisa si ketua OSIS ceroboh menyebalkan itu masih tega menyerahkan segala tanggung jawab mengurusi penerbitan majalah sekolah nanti kepadaku? Andai saja si bodoh itu punya sedikit saja tempat lebih di otak lemahnya untuk bisa peduli pada penderitaan bawahan tertindas.
Fiuh. Apalah. Yang penting hari ini sudah selesai, dan aku akhirnya bisa pulang. Biarlah masalah itu kupikirkan besok.


Dengan gontai kuseberangi lantai 1 gedung sekolah ku dengan tas ransel favoritku menggantung berat di pundak kanan, mencoba mengusir denyut-denyut mengganggu yang mulai menyerang kepalaku. Keremangan suasana yang familier menyapa penglihatanku. Sudah sore juga rupanya. Selama rapat evaluasi sekaligus beres-beres tadi aku tidak begitu memperhatikan waktu. Kulihat bayangan wajahku membias di salah satu kaca kelas; ya ampun, aku terlihat berantakan. Rambutku awut-awutan, mukaku pucat, dan ada bulatan hitam menggantung semu di bawah dua mataku.

Aduh. Sudah pusing, capek, jelek, lapar pula. Kusadari aku belum makan apa-apa sejak pagi. Sial. Lebih baik aku bergegas pulang sebelum maag-ku kambuh.

Melewati ruang osis yang berdiri tegak tepat di samping ruang UKS, sempat kupejamkan mata ketika semilir angin sore lembut menerpa wajahku. Aku selalu suka hembusan angin yang sesekali lewat di daerah itu, entah mengapa. Dan saat kembali kubuka mata, menatap jauh ke belakang, aku terhenti.

Dia. Terduduk diam sendirian di tengah tangga yang menuju ke lanta 3 (Terlihat dari depan ruang osis). Berpangku tangan, masih dengan seragam sekolahnya, ditemani ransel hitam tua di sisi kirinya.

Tatapanku terkunci pada wajahnya yang menawan, semen
tara aku melangkah kearahnya dan kembali menaiki tangga menuju ke lantai 2 bagai tertarik kuat oleh medan magnet tak terlihat. After all this time, aku masih tak bisa menolak pesonanya, yang membuatku tak berdaya. Kesederhanaannya. Begitu tulus, begitu bersahaja.

Aneh. Kenapa dia belum juga pulang?

Dan lidah ini terasa begitu kelu, saat dengan suara bergetar kucoba untuk menyapanya.

“H-hey…”

Hupp. Ia mendongak. Mataku menemui rautnya yang menawan. Rambut pendek acak-acakan. Alis tebal yang menaungi sepasang mata cokelat tetutup kaca mata putih. Hidung mancung. Bibir bersemu merah muda, merekah sempurna. Dan kulit yang cokelat, terbakar matahari. Sebuah senyum manis kontan melengkapi segala keindahan itu saat ia mengenaliku.

“Hey, kak” ia balas menyapa, ragu.

“Belum pulang?” tanyaku, mencoba terlihat kalem. Meski dalam hati aku setengah mati ingin langsung menerjang dan memeluknya erat-erat.

Ia tertawa kecil sembari menggaruk-garuk belakang kepalanya, salah tingkah. “Aku… eh, lupa bawa kunci kos,kak” ucapnya, menghindari tatapan mataku.

Aku ikut tertawa. Kuambil posisi duduk di sebelah kanannya. Aku ?”

Dahinya berkerut. “Ha?”

“Iya.aku.” Kuangkat alisku, menggodanya. “Well, don’t you mean ‘aku’?”

Ia mendengus, mengangkat bahu. “kakak yang bilang kita harus jaga jarak di sini,” ucapnya sambil merengut. Duh, lucunya.

“Iya, tapi kan kalo lagi ada orang aja,” jawabku ringan. “Sekarang kan kita sendirian, nggak apa-apa. Lagian nggak enak, kaku-kakuan sama aku. Pake manggil ‘kakak’ segala lagi. Aneh banget rasanya.”


Kembali ia tergelak seraya mengangguk, walau kubaca masih ada sedikit ragu bercampur cemas membekas di wajahnya.

Diam. Kuarahkan pandang ke depan, menyapu area gedung lab kompuer yang hampir kosong dihadapanku. Hanya ada beberapa mobil yang kukenali sebagai kendaraan dinas sekolah masih terparkir di samping aula yang terletak tak jauh pun terlihat sepi, tak seperti biasa; Suasana sekolah yang biasanya sibuk terasa amat sunyi di sore hari. Aneh. Tetapi damai.

“Kata teman-temanku, kakak hari ini galak.”

Spontan aku menoleh, menatapnya yang sedang tersenyum nakal dengan pandangan lurus ke depan. Kukerutkan dahi.
“Galak? Galak apanya?”

Ia mengangkat bahu. “Nggak tau. Anak – anak Exist cuma bilang, hari ini kamu lain. Murung terus, jarang senyum, jarang ngomong. Kalau ditanya juga jawabnya sinis. Padahal kemarin kan kaka
k ramah banget sama semuanya.”

Bayangan wajah si ketua OSIS sialan langsung berkelebat di pikiranku, dan aku pun tersenyum. “Oh, mungkin karena aku lagi sebel sama seseorang kali ya,” ucapku.

“Ha?” Ia tampak kaget. “Sama siapa kak? Bu-bukan sama aku, kan kak?”

“Bukan, bukan sama kamu kok,” Kuhela napas panjang. “Ada yang ngasih aku kerjaan tambahan pagi ini, dan aku bingung aja bagaimana cara ngerjainnya.”

“Oh.” Dianggukkannya kepala, lega. “Padahal menurut aku, kakak lebih lucu kalau lagi senyum.”

Kudorong bahunya. “Gombal.”

“I’m only being honest here, sweetheart.”

“Whatever. Tetap saja terdengar gombal.”

“Ih.” Rautnya berubah cemberut. “Dibaik-baikin malah ngeledek. Ya udah. Terserah kakak.”

Aku mendelik ke arahnya.

“Siapa yang ngeledek kakak?”

“Itu, barusan…” Dipasangnya tampang merajuk. “Ternyata bener. Hari ini kakak galak.”

Kembali diam. Beberapa orang berbaju bebas tak dikenal berjalan melewatiku naik ke lantai 3. Tentu saja mereka terrhambat sejenak, dicegat sekaligus ditanya-tanya ketus oleh si satpam menyebalkan yang senantiasa menjaga sekolah ini

Sebuah tawa kecil tak tertahan menyelip keluar dari bibirku. Membuatnya menoleh. “What’s so funny?”

“Tuh, si satpam kepo beraksi lagi,” bisikku.

Ia menoleh ke belakang, melihat orang-orang berbaju bebas tadi sedang adu mulut dengan si satpam. “Whoa. Apa setiap orang yang mau masuk ke dalam gedung sekolah harus melewati tahap itu?” Digelengkannya kepala. “Hari ini udah empat kali aku lihat ada orang nggak dikasih masuk sama dia. Benar-benar sekolah yang aneh.”

“Exactly. Welcome to my world,” Kembali kuhembuskan napas panjang. “I hate to break this to you, honey, tapi kayaknya kamu memilih sekolah yang salah.”

“Mungkin.” Ia mengorek tasnya, mengeluarkan sesuatu yang ternyata adalah sebatang cokelat. Diberikannya cokelat itu padaku yang hanya menatapnya tak mengerti.

“Nih makan, kakak pasti lapar,” ujarnya.

Kuterima cokelat itu dengan bingung. “Kamu… Kok tahu aku lapar?”

Ia tersenyum. “Aku tahu kakak sibuk banget hari ini. Karena sibuk, pasti kakak belum sempat benar-benar makan. Aku kan nyoba kenal kakak.”

Kutatap wajahnya. Ada kelembutan di sana, yang kian menggetarkanku, meluluhkanku.

“Thanks…” desahku akhirnya, terharu.

“Anytime. Janji ya, besok walaupun sibuk kakak tetap harus ingat makan.”

“Uhm… Iya, janji.”

Sembari sibuk mengunyah cokelat, sembunyi-sembunyi kucuri pandang ke arahnya, yang masih terduduk manis di sisi kiriku. childish sekaligus matang. Seakan jejak-jejak kekanakan masih enggan meninggalkannya, walaupun kini ia sudah bisa dibilang beranjak dewasa. Angin sore yang masih bersemilir sesekali mengacak-acak rambutnya, mengibarkan ujung kerahnya. Sebuah pemandangan indah yang menggetarkan.

Ah. Jika memang benar ada sesuatu yang bisa dibilang sempurna di seluruh semesta, bolehkah aku menyatakan bahwa dialah kesempurnaan itu? Karena segala hal yang dimilikinya terlihat begitu tak bercela di hadapanku. Manis. Lugu. Irresistible. Charming. Dan bercahaya. Bersinar terang bagai sejuta bintang di langit malam. Mendamaikan hati bak derasnya rinai hujan.

Aku masih ingat sapaan pertamanya di lorong sekolah,tepatnya di lantai 2 di depan T 2.4. dia datang bersama hanif temannya untuk menemuiku karna dia baru saja tergabung dalam organisasi yang aku pimpin. Sapaan yang dipenuhi suara yang bergetar dan sejuta senyum canggung. Pandangan kami bertemu, dan sejak saat itulah kurasakan reaksi kimia yang berhasil memercikkan bara cinta antara aku dan dia. Nyala api yang tak padam oleh waktu, namun malah mematangkan esensi. Bukankah itu yang semua orang cari?
Sekarang, saat deru jalannya masa telah lewat berlari cepat, meninggalkan jejak kabur bernama memori, kisah cinta itu masih saja indah bersemi. Hampir tiga putarran musim cerita ini kutulis bersama-samanya. Dan apakah aku bahagia? Ya. Tentu saja.

Seperti saat ini, ketika kuhabiskan soreku duduk berdua dengannya di tangga sekolah, menikmati sepoi angin dan lembutnya cahaya matahari yang menerangi.

Tiba-tiba, dalam keheningan yang terjaga baik selama beberapa menit tadi, digenggamnya tanganku.

“Aku senang hari ini,” ucapnya lirih, tulus. “Makasih, ya kak.”

“Ha?” Kutolehkan kepalaku, bingung. “Senang? Senang kenapa?”

“Karena kakak,” jawabnya.

Aku semakin tak mengerti. “Kenapa karena aku? Aku nggak ngapa-ngapain hari ini. Malah tadi kamu bilang aku hostile. Galak. Whatever. Kenapa karena aku?”

Ia menghela napas. Kembali dirogohnya ransel birunya, mengeluarkan buku catatan harian wajib yang setiap rapat Exist harus diisinya.. Dibolak-baliknya halaman demi halaman buku catatan harian bersampul hijau tersebut, menemukan sesuatu, lalu diberikannya buku itu kepadaku, masih dalam keadaan terbuka.

“Karena ini,kak” ujarnya lagi, kembali tersenyum, menyuruhku membaca.

Kuterima buku itu. Kulihat halaman yang membuka. Dan aku tersadar.

Tadi siang, di rapat yang membosankan, aku sempat iseng membuka-buka catatan harian para anggota Exist yang aku pimpin. Dan dalam catatan miliknya, di salah satu halaman tengah yang masih kosong, kutulisi beberapa baris penggalan lirik sebuah lagu kenangan berdua. Selalu Denganmu, dari Tompi. Lengkap dengan sebuah smiley imut di pojok kanan, dan deretan huruf ‘ILU’ yang kuukir manis tepat di sebelahnya. Tanpa sadar, aku tersenyum. Aku bahkan lupa kalau aku menulis ini tadi siang; mungkin aku terlalu bosan sekaligus fed up dengan si ketua OSIS terkutuk untuk dapat memfokuskan pikiran.

Kuangkat wajahku, menemui parasnya yang sedang sumringah. Kuangkat alisku, sembari menghela napas panjang, saat sepasang sorot cokelat itu mengunci mataku dalam sebuah tatapan manis, penuh arti.

Aku mencintainya.

Aku sungguh mencintainya.

Aku mencintainya seperti sang rembulan mencintai malam. Seperti matahari mencintai teriknya siang. Aku mencintainya selembut daun-daun kemerahan yang jatuh menumpuk di musim gugur. Sedamai suara debur ombak yang menyapa pasir di garis pantai. Seteguh pohon beringin yang tak bergeming tertiup angin. Seindah titik-titik hujan malam yang turun membasahi tanah.

Dan saat ia berdiri, meraih ransel, lalu berbalik menatapku, waktu seakan tersangkut dan berhenti.

“Kamu… Mau kemana?” tanyaku tergagap, tidak siap dengan gesturnya barusan.

Perlahan, diangkatnya bahu. “Where else? Aku mau pulang,kak” ucapnya. “Udah sore, aku mau istirahat.”

“Tapi, tadi katanya kamu lupa bawa kunci rumah…”

Ia tergelak, mukanya memerah. “Aku… Aku tadi bohong ma kakak,” desahnya. “Aku cuma mau nungguin kakak pulang, biar bisa ngobrol sama kakak, sebentar, di sini.”

“Ha?” Aku seperti kehilangan kata-kata mendengar kalimatnya. Hatiku diterpa gelombang ketrenyuhan yang amat sangat; aku hanya bisa memandangnya, lembut bercampur haru, sembari tersenyum tulus.

Sebuah tawa kecil pun terselip keluar dari bibirnya. “Sudah ya kak, aku pulang dulu.”

Kusaksikan sosoknya berjalan gontai menuruni tangga, membiarkanku trerus terdiam terpaku pada punggungnya selagi ia melangkah. Diiringi tiupan angin sore yang menerbangkan ujung kemejanya, menyisir jejak rambutnya, membingkainya dalam satu lagi momen sempurna.

Mengapakah aura itu selalu saja berhasil menghipnotisku, menjadikanku diam tak berdaya di hadapan pesona dirinya?
Mengapakah kehadirannya selalu sanggup menghapus segala keluhkesahku dan membuatku kembali bahagia?

Aku pun tak kuat menahan godaan untuk berteriak memanggilnya sekali lagi. “Hey!”

Ia langsung berbalik, bingung. “Apa kak?”

“Sampai ketemu besok!” seruku lantang, mengatupkan kedua tangan membentuk corong di sekeliling mulutku sembari tertawa lebar. “Jangan sampai telat lagi ya!”

Tulus, ia ikut tertawa. Memandangku sekali lagi, mengatakan sejuta kata tanpa perlu mengutarakannya dengan barisan kata-kata.


“Iya! Jangan khawatir, sayang…”


…Kaulah matahari dalam hidupku
Dan kaulah cahaya bulan di malamku
Hadirmu s’lalu akan kutunggu
Cintamu s’lalu akan kurindu
Selalu denganmu… Kasihku, slamanya
Selalu denganmu… Cintaku, bersama…
Tahukah kau diriku tak sanggup hidup bila kau jauh dariku?
Kuingin dipelukmu, s’lalu…

Galang T_T

Thursday, December 25, 2008

Seorang Perempuan Yang Tak Bisa Berdekatan Dengan Yang Ghaib

Entah mengapa perempuan itu selalu kesulitan berdekatan diri dengan yang ghaib.

Ada nafsu jahat yang ia tahu mencoba menyelingkupi hati, untuk setiap kata ghaib yang hadir di beranda pikirannya. Melalui matanya, telinganya.
Kata dalam tulis yang ia baca, dalam suara yang ia dengar.

Kadang bersuara ketus bibirnya tak tertahankan : Busuk!
Dan nafsu jahat yang membuat ia, perempuan, tak pernah kunjung menyesali ucap kata itu.

Ia tak pernah takut. Itu satu sebab.

"Di dunia ini aku hanya takut pada dua orang, orang lain dan diriku sendiri"
"Tak takut pada ghaib yang itu?"
"Belum. Tidak. Semoga tidak pernah. Tidak akan pernah"

Jadi ia, perempuan, tak pernah lelah menghabiskan waktu malam-malamnya duduk sendiri di tempat-tempat sunyi.
Toh tak ada yang ia takuti.
Yang biasa membuat orang gentar hati.

Jadi ia, perempuan, tak pernah lelah menghabiskan tenaga dalam darahnya untuk menarik urat bibirnya membentuk seulas senyum.
Toh tak ada risau.
Yang biasa membuat orang galau.

"Betul tak ada lagi yang kau takuti ?"
"Yup."
"Pasti?"

Hening sekejap.
Setitik cahaya berpijar di relung sel kelabunya.
Menerangi sebersit pemikiran yang menggangunya.

"Ada juga aku takut pada alam."
"Alam?"
"Hewan, tumbuhan, gunung dan lautan."
"Oh.. that's great. Satu kemajuan."

Hening sekejap.
Satu tanya tak terjawab terulur lagi, menanti.

"Tak takut pada ghaib yang itu?"

Jawabnya tidak lagi sama.
Karena kini ia, perempuan, hanya mengurai benang kusut dengan satu kata.

"Tidak"

Jadi, ia, perempuan itu, lebih menghabiskan waktunya bercocok di kebun.
Menyiangi alang.
Membunuhnya dengan cinta.
Cinta pada Rose.
Pada Melati.
Pada Mengkudu kendati baunya apek sekali.

Jadi ia, perempuan itu, menghabiskan waktunya berkandang di pekarangan.
Menjumput kotoran.
Menciumnya dengan rasa.
Rasa pada hewan kecil yang mulai menua.
Pada musuh alaminya.
Pada kutu.
Pada mahluk buas bertaring yang menyalak nyaring.

"Aku takut pada ghaib yang itu"

Ia, perempuan menjawab tanpa hasrat.

"Itu bodoh bagiku"

"Tapi kemarin di televisi..."

"Kotak kaca itu berharga. Harga yang berbayar dengan tertutupnya kalbu."

"Kau belum lihat, kemarin lelaki bersorban putih itu begitu nyata, menunjukkan kuasa yang ghaib atas manusia"

"Aku lebih takut padanya, ketimbang pada ghaib yang ditunjukkannya."

"Benar?"

"Ghaib yang itu? Ya."

Jadi ia, perempuan, malam itu kembali ke peraduan.
Bersiap untuk menyatakan diri di pertengahan malam.
Untuk mengucap kata-kata isyarat, yang selalu sarat dengan asanya.

Tolong berikan hidayah pada temanku.
Ia terlalu takut pada ghaib yang itu.
Ia menafikan kuasaMu.
Menyempitkan kehadiranMu hanya dalam alam astral.
Melupakan sosokMu dalam diri setiap orang yang Kau ciptakan atas citraMu.
Mensia-siakan karyaMu dalam alam, dalam hewan, dalam manusia.

Ia lebih takut pada ghaib yang itu.
Yang ditangkap lelaki bersorban, diperangkap dalam
botol kaca, dilepaskan dalam hatinya.
Tolong berikan hidayahMu.

Jadi, ia, perempuan itu, tak kunjung berdekatan dengan yang ghaib.

Ghaib yang itu.

Sentaby,

The Rose: The Past That Shakes The Future 1

1820 Dublin, Ireland

Lincoln amat bahagia. Karena, dua bulan lagi, ia akan memiliki anak yang akan menjadi putra mahkota.

Dominique dan Monalisa memang tengah hamil tua. Kedua istri Lincoln, yang salah satunya nanti berhak menjadi permaisuri yang agung. Syaratnya, harus melahirkan anak laki-laki duluan.

Suatu hari, Dominique didatangi oleh seorang wanita bernama Rah Digga. Ia peramal yang datang jauh dari luar kota Dublin. Ia mengagumi Dominique, dan ingin Dominique jadi permaisuri.

Rah Digga : “Dengan berat hati, hamba katakan.. bahwa anda akan menjadi permaisuri dengan cara anda sendiri.”
Dominique : “Apa maksudmu?”
Rah Digga : “Anak anda akan segera lahir. Tapi.. dia bukan laki-laki..”
Dominique terkejut. Ia sudah berambisi menjadi permaisuri sejak awal menikah dengan Lincoln.
Dominique : “Lalu.. apa yang harus aku lakukan?”

2 bulan kemudian..

Dominique melahirkan terlebih dulu. Ramalan Rah Digga benar. Ia melahirkan seorang bayi perempuan. Tapi.. Dominique dan Rah Digga sudah mengatur segalanya.

Rah Digga telah menyiapkan bayi laki-laki yang baru lahir, dan menukarnya dengan bayi perempuan Dominique.

Monalisa melahirkan seorang bayi perempuan yang cantik, bernama Jean.

Bagaimana nasib bayi perempuan Dominique yang entah ada di mana sekarang ini..?

17 Tahun Kemudian

========

1837 London, UK

Ivan : “Gaun ini adalah rancangan terbaru saya. Pasti anda akan terlihat sangat cantik.”
Ia menunjuk sebuah gaun yang dipajang di ruangan butiknya. Dengan lemari yang bercat merah muda, gaun berwarna putih itu terlihat sangat anggun dan elegan.
Wanita yang dipuji itu pun tersenyum.

Dari luar jendela kaca, seorang gadis muda melihat mereka. Ia menempelkan kedua tangannya ke kaca, agar sinar matahari pagi yang menyilaukan itu, tidak menghalangi panadngannya.
Rose : “Aku ingin bisa seperti wanita itu.”

Kemudian..

“Rose! Ayo, cepat!”
Temannya yang sesama gadis muda menarik tangannya.
Livia : “Kita tidak boleh terlambat lagi. Nanti kita dihukum. Dan aku tidak mau itu terjadi.”
Rose : “Iya, aku tau. Kau jangan bicara lagi.”

Mereka berdua berjalan melewati jalanan yang basah. Semalam hujan memang turun membasahi kota ini, tapi tidak begitu deras. Hanya gerimis, dan baru berhenti subuh tadi.

Rose dan Livia bersekolah di sebuah lembaga pendidikan mahasiswa, untuk warga yang tidak mampu.

Rose dan Livia tinggal di pinggiran kota London. Orang tua Rose, John dan Tanya Tucker, adalah sepasang suami-istri sederhana dan bersahaja. John bekerja di tambang batu mulia. Sedangkan Tanya, ibu rumah tangga biasa yang baik dan lembut.

Lagi-lagi, Rose dan Livia terlambat. Karena jarak antara rumah mereka dengan tempat mereka sekolah, agak jauh.

Ms. Frida, guru kelas mereka sudah menyambut bersama sebilah rotan yang diayun-ayunkan di tangannya.
Ms. Frida : “Alasan apa yang bisa kalian katakan padaku, kenapa kalian terlambat lagi?”
Livia berdiri di belakang Rose.
Ms. Frida : “Ayo, jawab!”
Rose : “Ma, maafkan kami. Ng.. ini salah saya. Tadi, waktu kami berangkat sekolah, saya melihat seorang wanita cantik di butik Tuan Ivan. Saya benar-benar kagum. Hingga tak menyadari, kalau sudah siang.. saya benar-benar mengagumi kecantikannya, dengan gaun yang indah.. sekali.”
Rose hanyut dalam lamunan. Namun, sentuhan kasar rotan yang menempel pada kakinya, membuat lamunan itu buyar seketika.

Jalanan kota London sedang ramai dengan atraksi karnaval. Menjadi iring-iringan kereta kencana milik Ratu Elizabeth.
Rose dan Livia baru pulang sekolah, dan menonton atraksi tersebut. Sederet pasukan drum band memainkan drum dan terompet dengan lagu yang semarak.
Gadis-gadis akrobat sedang memeragakan atraksi mereka, dan membentuk formasi-formasi yang keren.
Rose : “Wah.. bagus sekali!”
Lalu, Rose melihat seorang wanita di dalam salah satu kereta kencana. Wanita itu yang tidak di butik Tuan Ivan. Cantik sekali.
Saat Rose tengah hanyut dalam lamunannya, tiba-tiba..
“Awas!!”
Seorang pemuda menyambar tubuh Rose, dan mereka sama-sama jatuh ke trotoar.
Rose : “Aduh!!”
Ia memegangi lengan kanannya. Sikunya berdarah. Bajunya kotor terkena lumpur.
Rose : “Kau ini.. apa-apaan?!”
Livia menghampiri mereka.
Livia : “Rose.. Kau tidak apa-apa?”
Ia membantu Rose berdiri.
Rose : “Kalau bukan karena dia.. aku pasti sudah baik-baik saja.”
Ia menunjuk pemuda itu, dengan tidak lembut. Ia benar-benar sangat kesal.
Livia : “Maksudmu..?”
Rose : “Dia mendorongku..!”
Pemuda itu sibuk menyangkal. “Bukan begitu, Nona.. tadi.. kau..”
Livia : “Tadi, kau hampir saja ditabrak kereta kuda. Untung saja, dia menolongmu.”
Pemuda itu tersenyum. Lega rasanya, karena Livia menjelaskan yang sebenarnya.
Rose menatap pemuda itu.
Rose : “Ya sudah.. terimakasih.”
Ia tetap tidak ramah pada pemuda tersebut. Lalu menggandeng Livia, dan pergi.

John dan Tanya Tucker sedang terlibat obrolan serius di rumah kecil mereka.
John : “Aku dipecat.”
Raut wajahnya yang keriput, semakin mengkerut, dilanda rasa sedih.
Tanya : “Apa?! Kenapa bisa begitu?”
Ia duduk di samping sang suami.
John : “Ya.. karena aku sudah tua dan lamban.”
Ditatapnya sang istri dengan mata merahnya, yang menunjukkan lelah dan penat sedang melingkupi ruang jiwanya.
Tanya : “Hanya karena itu? Lalu.. apa rencanamu?”
Wanita itu mencoba mencari solusi untuk masalah ini.
John : “Kita kembali ke Irlandia.”
Solusi yang tepatkah? Pertanyaan itu muncul di benak Tanya. Menurutnya, kembali ke Irlandia, sama saja dengan bunuh diri.
Tanya : “Kau sudah gila? Kita tidak bisa kembali ke sana.”
Suaranya mulai meninggi. Namun, suaminya tetap menyabarkan hatinya.
John : “Dengarkan aku, Sayang.. Dengan kembali ke Irlandia, kita bisa dapat banyak uang tanpa harus bekerja. Kau pasti sudah tau bagaimana caranya.”
Tanya terdiam. Lalu tersenyum.
Tanya : “Ya.. ya.. kalau begitu, aku setuju.”

Dublin, Irlandia

Suara derapan langkah kaki kuda menggema di padang rumput di lereng Pegunungan Kerry.
Damian, si putra mahkota Kerajaan Irlandia, sedang melakukan aktivitas berburunya, bersama sahabatnya, Leigh. Mereka dapat seekor rusa yang besar.
Damian : “Berburu kita minggu kemarin tidak dapat apa-apa.”
Leigh : “Tapi, dijadikan satu dengan hari ini..”
Mereka tertawa.
Dari lereng Pegunungan Kerry, menuju istana sebenarnya tidak begitu jauh. Tapi, dasar Damian yang nakal, ia suka keluyuran, dan tidak langsung kembali ke istana.
Leigh : “Damian, sebaiknya kita kembali ke istana saja.”
Damian : “Iya, nanti kita pulang setelah bersenang-senang.”
Damian memacu kudanya ke desa Ballsbridge. Sebenarnya tidak layak disebut desa, karena tempatnya sangat mewah, di pertengahan kota. Di sana ada sebuah bar favorit Damian. Namanya L’s Bar. Sebenarnya, Damian belum cukup umur masuk ke bar. Usianya masih 17 tahun. Tapi, Lucifer, si pemilik L’s Bar itu adalah teman baik keluarga kerajaan. Ia terpaksa mengizinkan Damian masuk barnya, dan minum Whiskey, atau sekedar meneguk segelas Martini dingin.

Hari itu, Lucifer kedatangan seorang tamu wanita. Namanya Sinead. Dia kekasih Lucifer.
Melihat Lucifer dan Sinead bermesrahan membuat Damian. Ingin berbuat jahil. Damian mendekati Sinead dan berkata.
Damian : “Hai, Nona.. apa benar, kau menyukai Lucifer?”
Ia memulai kejahilannya dengan sebuah pertanyaan yang menggelitik. Dengan suaranya yang masih seperti anak kecil, yang di sok dewasakan.
Sinead : “Tentu saja. Kenapa memangnya?”
Wanita itu menjawab dengan senyuman malu-malu, dan wajah yang merah merona.
Damian : “Perlu kau tau.. Lucifer itu, sudah memilih calon istrinya. Dia sangat cantik. Namanya Trinidad. Kalau dibandingkan denganmu.. kau terlihat biasa saja.”
Wajah Sinead yang tadinya merah merona, berubah jadi merah padam. Rasa malu-malunya pun berbalik jadi amarah yang naik ke ubun-ubun.
Lalu..
Sinead : “Lucifer!!”
Ia menghampiri Lucifer yang sedang melayani tamunya.
Lucifer : “Ada apa, Sayang?”
Ia menyahut dengan senyuman manis dan suara yang super mesrah.
Tapi.. Byurr!! Segelas bir disiramkan ke wajahnya, oleh Sinead.
Sinead : “Rasakan itu!”
Wajahnya masih merah padam. Seperti seekor banteng, yang hidung dan telinganya keluar uap.
Lucifer : “Sa, sayang.. ada apa ini?”
Sinead : “Siapa itu Trinidad?”
Ia sama sekali tidak lembut.
Lucifer : “Ibuku.”
Sinead : “Bohong! Dia calon istrimu yang sangat cantik itu, kan?”
Lama-lama ia jadi gemas, saking kesalnya.
Lucifer melotot. Ia bingung dengan yang dikatakan oleh Sinead. Lalu, ia mendengar suara tawa. Itu tawa Damian. Lucifer mengampirinya, sambil menarik tangan Sinead. Matanya melotot. Ia sangat marah.
Lucifer : “Damian..!!”
Damian : “Huaaahhh..!!”
Suara Lucifer sangat memekakan telinga.
Damian : “Ampuni aku, Lucifer..”
Lucifer membuat Damian harus menimba air sumur, di belakang bar. Sedangkan Lucifer sendiri kembali bermesrahan dengan Sinead, yang sudah tau, kalau Damian itu jahil sekali.
Hingga Sinead pulang, dia tidak juga menyuruh Damian berhenti melakukan itu.

to be continue

Cerita Fina

Sepertinya ada yang eneh dengan Hendra dan Runa hari ini, tak seperti biasanya mereka tak banyak bicara. Jangan kan bercanda atau sekedar melakukan lelucan, mengobrol ringan saja tampaknya mereka enggan, dan itu membuat saya semakin penasaran. Wajah lesu mereka menandakan mereka juga mempunyai masalah, tapi mereka tak mau jujur dengan saya.
Malam harinya juga tidak datang, padahal mereka tidak pernah telat. Kami selalu kumpul di kafetaria, tempat faforit kami saat malam hari. Setelah menunggu sekitar satu jam, akhirnya saya memutuskan untuk pulang. Namun saat di depan pintu saya menemukan sosok Roni yang sedang menuju ke arah saya sambil tersenyum manis.
“ Sudah mau pulang?” tegur Roni pada saya yang masih tak percaya dengan apa yang saya lihat. “ Ada yang mau saya bicarakan, kamu nggak lagi sibuk kan?” sambungnya. Saya menggeleng, ia kemudian meuntun saya masuk dan duduk di kursi.
“ Jika saya masih punya kesempatan untuk memperbaiki hubungan kita, izinkan saya untuk mengucap maaf.” Tuturnya memulai pembicaraan.
Ia memegang kedua tangan saya, kemudian meletakkan sebuah kotak kecil di telapak tangan saya.
“ Dan cincin ini sabagai saksi dari ucapan saya.” Ia membuka kotak kecil yang berisi sebuah Cincin berhiaskan permata kecil warna pitih. Cincin itu sangat indah, dan saat ia memasukkannya di jari manis saya rasanya seakan membuat hati saya berbunga-bunga.
Saya begitu terharu hingga tak terasa butiran air mata mulai membasahi kedua pipi saya.
“ Saya lah yang seharusnya minta maaf, karena tidak bisa membuat kamu bahagia. Saya nggak pernah mau tahu tentang perasaan kamu yang terluka saat saya lebih mementingkan sahabat dari pada kamu.” Roni memeluk saya erat, seolah tak ingin melepaskan saya lagi.
“ Kami berdua yang salah dan seharusnya kamilah yang minta maaf.” Seseorang berkata dengan sangat menyesal dari samping kami.
Mendengar itu rangkulan Roni melepas rangkulannya. Hendra, Runa, dan Monika berdiri di hadapan kami. Tampaknya mereka mendengar pembicaraan kami, atau mungkin mereka yang justru merencanakan pertemuan kami ini.
“ Sedang apa kalian di sini?” tanya saya antara kaget dan tak percaya.
Monika hanya tersenyum kemudian duduk bersama kami. “ Anggap saja ini surprize buat kamu.” Jawab Monika santai.
“ Roni, kamu kayak nggak kenal kami aja. Denger ya, kami itu kalau nggak ditegur makin jadi-jadi. Makanya kalau kamu diam-diam aja kami nggak pernah tahu kalau ternyata selama ini kamu nggak suka kedekatan kami.” Tegur Runa pada Roni.
“ Benar. Lagian apa susahnya sih ngomong gitu? Takut kami marah, terus mukulin kamu?” sambung Hendra.
“ Saya nggak pernak melarang hubungan kalian, hanya kalian terlau dekat. Melebihi kedekatan saya dengan Fina.” Jawab Roni jujur.
“ Kalian berdua juga sama-sama salah, kayak nggak pernah pacaran aja. Bagaimana kalau seandainya kamu jadi Roni, apa kamu bisa sabar?” Monika menengahi.
Saya hanya bisa tersenyum, ternyata letak permasalahan bukan hanya pada saya dan Roni, tetapi puncaknya justru tertuju pada Hendra dan Runa. Kami sama-sama salah karena tidak pernah mengerti dan memahami perasaan masing-masing. Padahal kami saling menyayangi, tapi tak pernah mau tahu tentang apa yang ada di hati.
Saya tahu ini semua siasat Monika agar kami bisa bersatu kembali. Ternyata Monika memang orang yang tepat untuk di jadikan seorang sahabat, karena hanya dialah yang mengerti perasaan kami.
Roni, cowok ganteng yang pendiam. Tapi keberaniannya mengungkapkan isi hatinya di depan banyak orang membuat saya terharu dan sangat mengaguminya. Hingga akhirnya ia benar-benar membuat saya jatuh cinta. Walau pribadi kami jauh berbeda tapi dia cowok baik yang rela bersabar, dami mempertahankan cinta kami.
Hendra dan Runa adalah sahabat saya sejak duduk di bangku SMP, entah mereka serius atau tidak, yang jelas dulu mereka pernah bersaing untuk mendapatkan cinta saya. Walaupun akhirnya hanya bisa bersabar karena cintanya saya tolak. Bagi saya persahabatan kami lebih berharga dari pada harus bertengkar demi memperoleh satu hati yang pada akhirnya membuat orang yang satunya sakit hati.
Sedangkan Monika, sahabat lama saya. Tinggal berdampingan dengan rumah saya. Tak pernah terpisahkan, karena hanya dialah satu-satunya pembangkit semangat saya agar terus maju. Selain itu ia juga gadis yang cantik, tak heran jika banyak yang menawarkannya untuk menjadi pendamping Monika, sebagai seorang kekasih tentunya. Monika memang patut di acungi jempol, kesetiaannya terhadap kekasihnya yang kini berada jauh di Jakarta ternyata tak membuatnya melirik pria lain.
Betapa bahagianya memiliki mereka, kasih sayang kami tak ternilai harganya. Tak dapat dibayar dengan apapun juga, dan semoga semuanya kekal abadi selamanya.


(End)

CHAPTER 1:SI PETASAN INJAK

"Mas Ray!"
Petasan injak itu lagi!
"Lho, kok Mas Ray cuek begitu sih?" Kishi menarik kursi ke dekat Ray. "Aku kan nggak pernah dapat B. Selalu C, itu pun setelah belajar sampai jungkir balik."
"Kalau tidak bisa kimia, kenapa nekat masuk Perminyakan?"
"Kalau tidak masuk Perminyakan, tidak akan ketemu Mas Ray kan?" Kishi tersenyum manis.
Gadis ini! gerutu Ray dalam hati. Selalu saja bisa menangkis semua kata-katanya. Ray menoleh. Menatap ke arah Kishi sekilas. Gadis itu bahkan tidak menyadari kalau kehadirannya benar-benar mengganggu konsentrasi Ray.
"Kemari cuma mau lapor hasil ujianmu?"
"Mas Ray keberatan aku datang kemari, ya?" Kishi menatap profil samping Ray. Cowok itu masih saja menatap lurus ke arah kanvasnya.
"Bisa kan menjawab pertanyaan dulu sebelum bertanya balik?" tegur Ray.
Kishi terkekeh. "Habis, Mas Ray nanyanya seperti mau ngusir."
Aku memang mau mengusirmu! geram Ray dalam hati. Setiap Kishi muncul, lukisannya pasti terbengkalai. Tidak pernah selesai. Ada-ada saja permintaan gadis itu. Minta diajari kimia. Mencari buku. Kaset. Nonton bioskop. Segalanya, bahkan sampai makan!
Dan dengan caranya sendiri, Kishi selalu berhasil membuat Ray menuruti keinginannya.
"Mas Ray sudah makan?"
"Sudah."
"Aku belum. Temani aku makan keluar, yuk."
"Aku sedang melukis," tolak Ray.
"Nanti kan bisa diteruskan lagi. Ayo dong, Mas Ray! Tidak kasihan melihatku kelaparan?"
"Kamu kan bisa makan sendiri."
"Ah, mana enak makan tanpa teman."
"Kenapa tidak makan dulu sebelum kemari?" gerutu Ray tanpa menyembunyikan rasa kesalnya.
"Aku mau traktir Mas Ray. Kan ujianku dapat B karena diajari Mas Ray."
"Aku tidak minta bayaran. Simpan saja uangmu."
"Mas Ray kok menolak niat baik orang?"
"Lukisanku belum selesai."
"Nanti bisa dilanjutkan. Kutemani, deh."
"Tidak usah," tolak Ray cepat. "Nanti malah lebih tidak selesai."



"Nanti ke rumah Ray?"
"Mungkin. Kenapa?"
Tito mengeluarkan amplop coklat dari dalam ranselnya. "Titip ini buatnya. Dan ingatkan dia, Kish. Wisudanya bulan depan. Dia harus datang mengurus administrasi. Jangan lupa bawa foto."
"Oke."
"Trims." Tito melambai sambil menjauh.
"Kenapa harus kamu yang merawat bayi besar itu?" tanya Warnie setelah Tito berlalu. "Mengingatkannya makan. Bahkan sekarang mengingatkan untuk acara wisudanya. Sementara dia sendiri tidak ingat apa-apa selain melukis."
"Bayi besar yang mana?"
"Tentu saja Ray! Siapa lagi?"
"Oo." Kishi tersenyum manis. Kalau bukan aku, siapa lagi? Lagipula, Mas Ray banyak membantuku."
"Kimia?" Warnie mencibir. "Sebenarnya tanpa dia pun kamu bisa."
"Biar saja. Mas Ray toh tidak keberatan."
"Apa yang kamu cari darinya, Kish?"
"Tidak ada."
"Kamu tidak sedang jatuh cinta padanya, kan?"
"Tidak!"
"Kamu terlalu cepat menjawab."
Jatuh cinta? Kishi bahkan tidak pernah memikirkan itu. Dia cuma merasa senang berada di dekat Ray.
"Apa dia tidak terlalu tua untukmu, Kish?"
"Kamu ini bicara apa, sih?!" Kishi mendelik. Mulai sebal dengan Warnie yang nyinyir.
"Aku cuma kasihan melihatmu. Selama ini selalu kamu yang menghampirinya. Memperhatikannya. Apa dia pernah bertindak sebaliknya?"
Kishi terdiam. Memang tidak pernah, jawabnya dalam hati.
"Aku tidak menuntut apa pun," sanggah Kishi. Tapi dia tahu hatinya tidak yakin.
"Kamu tidak jujur."
"Jangan bicara lagi, Nie!"
"Kalau kamu menghindar terus, semua bisa terlambat. Dia terlalu tua untukmu. Kamu bahkan baru duduk di semester pertama sementara Ray sudah lulus."
"Kami cuma berbeda lima tahun!"
"Lebih baik mencari yang seumur denganmu. Yang mendekatimu banyak, Kish. Buat apa mengejarnya terus kalau dia tidak mencintaimu?"
"Aku tidak bilang aku jatuh cinta padanya."
"Suatu saat pun kamu pasti sampai pada kesimpulan itu."
Benarkah?
"Kish, aku bisa bicara begini karena aku kenal Ray dengan baik. Aku sudah berteman dengannya sejak dulu. Bahkan saat dia masih bersama Ika. Dia sangat mencintai gadis itu."
"Aku tahu."
"Bahkan mungkin sampai sekarang," lanjut Warnie hati-hati. "Kukatakan ini karena aku tidak mau kamu terperangkap. Kamu teman baikku, Kish. Aku tidak mau melihatmu terluka tanpa ada yang bisa kulakukan."
Lalu dia harus apa?!
Kishi bahkan tidak tahu harus bagaimana. Dia bahkan tidak tahu apa benar dia jatuh cinta pada Ray, seperti yang dikatakan Warnie? Namun hati kecilnya membenarkan sebagian besar yang dikatakan Warnie.
Apa dia harus mencoba menjauh dari Ray, sekadar mencari tahu apa Ray peduli padanya? Lalu bagaimana kalau ternyata Ray memang tidak mencarinya, kalau ternyata bagi cowok itu seorang Kishi memang bukan apa-apa?
Kishi tidak berani membayangkan.
Dia bahkan tidak berani memikirkannya.


BIODATA PENULIS




Siauw Phing, lahir di Jakarta. Perempuan cantik berdarah Tionghoa ini sangat produktif melahirkan cerpen bertema cinta di berbagai media cetak nasional. Tema ceritanya mengalir manis dan natural khas meremaja. Bersama Nurhayati Pujiastuti — penulis asal Solo, ia sangat fasih bermain dalam plot yang dibangun lewat dialog-dialog cerdas sang tokoh karakter ceritanya. Karyanya paling banyak dipublikasikan di majalah Anita Cemerlang. Ia juga merupakan salah satu pengarang yang sering menjadi nominator di LCCR (Lomba Cipta Cerpen Remaja) Anita Cemerlang.