pratamagta

Thursday, November 6, 2008

answer to sa_sha patah hati

Hey sa_sha ,
Thanks banget y dah mampir k blog aku,,,
Ru diputusin pacar y???
Udah tenang z,,,,
Pengen teu gak gimana wat nglupain???
Ada tuh di tulisan mas yang lain yang judule PUTUS BALIK LAGI????
Eh iya ni puisi pesenan sa_sha ,,

Indahnya janji yang pernah terikrar
Manisnya cinta yang pernah tercipta
Bagaikan mimpi yang tak pernah berakhir
Sejak kau gantung cinta ini
Meski bibir tak mampu berucap
Meski mulut tak mampu berkata
Namun bulan dan bintang telah pahami
Betapa tulus cinta ini untukmu
Jika rindu ini menjenuh kanmu
Jika sayang ini menyakit kanmu
Jika cinta ini membuatmu menjauh 
Aku rela engkau membenci cintaku
Bukannya hati ini tak sakit
Bukannya hati ini tak hancur
Bukannya hati ini tak perih
Hanya kepasrahan yang mengiringi
Terimakasih cintaku
Untuk kenangan yang pernah kau beri
Satu ikrar untukmu
Tak akan kumencari pengganti




Wednesday, November 5, 2008

DEWI LANJAR !!!!!!!!!

hey teman,,, tahanksya dah mo baca blog aku,,, katane ada yang pengen teu tentang dewi lanjar ya kawan?? tapi sebelume maaf ya,, aku belum berani buat novel tentang dewi lanjar jadi aku tulis aja apa yang aku tau tentang dewi lanjar.....



Dewi Lanjar sampai sekarang masih merupakan legenda yang hidup di dalam masyarakat dan masih berpengaruh dalam jiwa masyarakat terutama di Pekalongan. Dalam segala peristiwa sering kali dihubungkan dengan Dewi Lanjar, apabila ada anak yang sedang bermain-main dipantai hilang tentu mereka berpendapat bahwa si anak itu dibawa Dewi Lanjar. Dan bilamana dapat diketemukan kembali tentulah si anak menyatakan dirinya tersesat di suatu daerah atau suatu kraton yang penghuni-penghuninya juga seperti kita-kita ini. Mereka mempunyai kegiatan membatik, berdagang, menukang, nelayan dan lain-lain yang tidak ubahnya seperti di dalam kota saja. Daerah tersebut dikuasai oleh seorang putri yang cantik ialah Dewi Lanjar.
Diceritakan pada jaman dahulu di suatu tempat Kota Pekalongan hiduplah seorang putri yang sangat cantik jelita, sampai sekarang masih menjadi pembicaraan penduduk, tempat yang terkenal dengan nama Dewi Rara Kuning. Adapun tempat tinggalnya tiada dapat diketahui secara pasti.
Dalam menempuh gelombang hidupnya Dewi Rara Kuning mengalami penderitaan yang sangat berat, sebab dalam usia yang sangat muda ia sudah menjadi janda. Suaminya meninggal dunia setelah beberapa waktu melangsungkan pernikahannya. Maka dari itulah Dewi Rara Kuning kemudian terkenal dengan sebutan Dewi Lanjar (Lanjar sebutan bagi seorang perempuan yang bercerai dari suaminya dalam usia yang masih muda dan belum mempunyai anak). Sejak ditinggal suaminya itu Dewi Lanjar hidupnya sangat merana dan selalu memikirkan suaminya saja. Hal yang demikian itu berjalan beberapa waktu lamanya, tetapi lama kelamaan Dewi Lanjar sempat berpikir kembali bahwa kalau dibiarkan demikian terus akan tidak baik akibatnya. Maka dari itulah ia kemudian memutuskan untuk pergi meninggalkan kampung halamannya, merantau sambil menangis hatinya yang sedang dirundung malang.
Tersebutlah, perjalanan Dewi Lanjar sampai di sebuah sungai yaitu Sungai Opak. Di tempat ini kemudian bertemu dengan Raja Mataram bersama Mahapatih Singaranu yang sedang bertapa mengapung di atas air di sungai itu. Dalam pertemuan itu Dewi Lanjar mengutarakan isi hatinya serta pula mengatakan tidak bersedia untuk menikah lagi. Panembahan Senopati dan Mahapatih Singoranu demi mendengar tuturnya terharu dan merasa kasihan. Oleh karena itu dinasehatinya agar bertapa di Pantai Selatan serta pula menghadap kepada Ratu Kidul. Setelah beberapa saat lamanya, mereka berpisahan serta melanjutkan perjalanan masing-masing, Panembahan dan Senopati beserta patihnya melanjutkan bertapa menyusuri sungai Opak sedangkan Dewi Lanjar pergi ke arah Pantai Selatan untuk menghadap Ratu Kidul.
Dikisahkan bahwa Dewi Lanjar sesampainya di Pantai Selatan mencari tempat yang baik untuk bertapa. Karena ketekunan dan keyakinan akan nasehat dari Raja Mataram itu akhirnya Dewi Lanjar dapat moksa ( hilang ) dan dapat bertemu dengan Ratu Kidul.
Dalam pertemuan itu Dewi Lanjar memohon untuk dapat menjadi anak buahnya, dan Ratu Kidul tiada keberatan. Pada suatu hari Dewi Lanjar bersama jin - jin diperintahkan untuk mengganggu dan mencegah Raden Bahu yang sedang membuka hutan Gambiren (kini letaknya di sekitar jembatan Anim Pekalongan dan desa Sorogenen tempat Raden Bahu membuat api). Tetapi karena kesaktian Raden Bahu, yang diperoleh dari bertapa Ngalong ( seperti Kalong / Kelelawar ), semua godaan Dewi Lanjar dan jin - jin dapat dikalahkan bahkan tunduk kepada Raden Bahu. Karena Dewi Lanjar tiada berhasil menunaikan tugas maka ia memutuskan tidak kembali ke Pantai Selatan, akan tetapi kemudian memohon ijin kepada Raden Bahu untuk dapat bertempat tinggal di Pekalongan. Oleh Raden Bahu disetujui bahkan pula oleh Ratu Kidul. Dewi Lanjar diperkenankan tinggal dipantai utara Jawa Tengah terutama di Pekalongan. Konon letak keraton Dewi Lanjar terletak di pantai Pekalongan di sebelah sungai Slamaran.


udah dulu ya crita tentang dewi lanjarnya,,, ni aku pake kumputer telkom jadi gak bisa lama-lama,,,, tlong kasih komen di buku tamu ya kawan,,, doain aku sukses psg y kawan,,,, good luck,,, semangat kawan,,,,
n_v Galang

SAHABAT????!!!!!

“Risaaa…. Kecilkan suaranya!!!” teriak Kak Dyo dari dalam kamarnya.
“Iya, iya,” jawab Risa dengan sedikit ketus.
Risa mengecilkan volume suara Astrid yang terdengar seperti erangan lagu yang menyakitkan.
Yup!!! Risa memang sedang sedih yang bercampur kesal dan mengerang di dalam hatinya.
“Teganya!!!” teriak Risa dalam hati dengan air mata yang tak dapat dibendungnya lagi.
Bayangkan saja, Ocha, Sahabat karibnya yang sudah lama begitu dekat, terlihat sedang asyik berduaan dengan Andi di depan sekolah tadi siang. Risa memang sangat menyukai Andi sejak awal mereka bertemu. Tinggi, tegap, tampan, dan pintar pula. Siapapun akan tertarik untuk lebih dekat dengannya. Termasuk Risa yang sudah lama menyimpan rapat perasaannya.
“Apakah selama ini Ocha tidak memperhatikan wajahku yang selalu merona jika melihat Andi lewat dihadapanku?? Atau Ocha memang tak peduli padaku??” Pertanyaan demi pertanyaan muncul di dalam otak Risa.
Awalnnya ia memang tidak pernah menduga semua ini, karena Ocha telah memiliki kekasih yang setahu Risa sebagai The only one love bagi sahabatnya itu. Tapi, begitu ia melihat kejadian yang terjadi sewaktu Risa pulang sekolah tadi. Oh..Entah kemana kesetiaan yang selama ini diagungkan oleh Ocha tarhadap kekasihnya.
Risa pun terlarut dengan kesedihannya itu hingga ia tertidur dan lupa mematikan tape recorder yang dari tadi mengalun lembut menemani kesendiriannya.

“Ris..Risa!! Kamu dari mana aja sich?? Aku cariin kamu kemana-mana,” tanya Ocha pada sahabatnya itu di depan kelas.
“Emang gue biasanya kemana kalo pagi-pagi begini?? Ya ke kantinlah buat sarapan!!!” jawab Risa dengan ketus dan membuat kaget sahabatnya itu.
“Kamu kenapa? Kok kayaknya aneh banget??” Ocha keheranan.
Tanpa basa-basi keluarlah kata-kata yang penuh makna dari mulut Risa kapada sahabatnya itu.
“Cinta kadang menyakitkan bila tanpa kesetiaan dan cinta kadang sangat melelahkan bila tanpa kesetiaan.” Dengan wajah cueknya Risa berlalu dari hadapan Ocha yang masih terdiam kebingungan akan ucapan sahabatnya tadi.
Dan selama jam pelajaran hingga waktunya pulang, mereka tidak saling bicara. Risa dengan seribu diamnya yang menyimpan sesak di dada dan Ocha yang masih tak mengerti, memilih diam tanpa komentar apapun.

Sambil menunggu taksi yang datang, Risa duduk di taman depan sekolahnya. Namun, pikirannya terus melayang dan tak berhenti memikirkan Andi. Sebenarnya Andi dan Risa pernah dekat. Mereka sering saling sapa hingga telpon-telponan hampir tiap malam. Tapi, entah mengapa atau mungkin Andi maupun Risa sama-sama memiliki kesibukan yang sangat padat. Hingga mereka lupa untuk saling bertanya kabar. Begitu classmeeting tiba, barulah Risa mulai mencari-cari kepingan hatinya itu lagi. Dan selanjutnya, tiba-tiba Ia melihat Ocha dan Andi saling canda di depan sekolah dengan akrabnya. Jelas saja Risa naik pitam. Setahu Risa, Sahabatnya itu tidak pernah mengenal Andi dengan akrab. Tapi, mengapa???
“Aku memang cemburu!!! Terus kenapa??” Bisik dalam hati Risa.
Risa tertunduk, menangis di atas kasurnya dan kecewa kepada sahabat karibnya. Tiba-tiba, Ia menemukan sebuah buku merah yang terdapat di bawah bantalnya. Ternyata, buku itu tertulis nama Kak Dyo. Dan judulnya cukup menarik Risa yang sedang gundah gulana. “Seberapa Pantas Dia Untukku??” Dengan judul itu dapat menggelitik Risa untuk membukanya. Selembar demi selembar terlewati. Wajahnya yang tadi pucat dan lesu, kini mulai memudar. Ternyata, isi buku menjelaskan tentang kekuatan hati untuk menahan segala rasa yang sebenarnya hanya membuang waktu.
“Aku memang suka, tapi entah ini cinta?” pikirnya dalam hati.
“Cemburu?? Itu normal kan???” tanyanya lagi dalam hati.
“Ocha sahabatku?? Dari dulu memang begitu kan???” batinnya terus bertanya sekaligus memikirkan nasib cinta dan sahabatnya.
Ditutupnya buku merah itu. Dalam hatinya, Ia tahu bahwa isi buku itu memberinya sebuah pemikiran, kalau perasaannya pada Andi dan rasa marahnya pada sahabatnya, Ocha, hanya membuang waktunya saja. Sesuatu yang belum jelas, malah menjadi hal yang terus dipikirkannya dari tadi.
Aku bukannya mengalah
Aku tidak menyerah
Aku punya rasa, punya cinta
Aku merasa bahagia
Bukannya Aku ingin lupakan semua cerita
Tapi, cukup sudah!!!
Aku tak mau tersesat tanpamu
Sahabatku…
Aku akan biarkan ini mengalir
Hingga noda menghilang dari hatiku
Maafkan Aku, wahai sahabatku..
Yang sudah mengacuhkanmu karena cemburuku.
Dilipatnya secarik puisi yang telah ditulisnya tadi. Dan berharap Ocha, sahabat karibnya akan mengerti apa yang telah terjadi. Dan berjanji dalam hatinya untuk menjelaskan semua kata-katanya yang pernah ditujukannya kepada sehabatnya itu besok dan mulai berjalan lagi tanpa ada rasa yang mencoba mempermainkan kesetiaannya akan sebuah persahabatan yang sangat dijunjungnya itu.
“Maafkankan aku wahai Sahabatku,” kata maaf itu mengalir bersama dengan senyuman yang tenang di wajah Risa.
ugh,,,, aku bener2 dah ngantuk banget nie,,,, hari ni cukup sampe disini dulu ya ,,,, aku cape banget, hari ni aku dah kehilangan sahabatku,,,, mf teman,,,, mkasih yang udah mau baca cerita fiktif diatas,,,, eh jangan lupa isi buku tamunya ya kawan,,,, mt mlm,,,,, mt bo2 smwanya,,,,,,, Galang

PUTUS BALIK LAGI????

memangnya bukan mudah bagi seseorang meluahkan hasrat perhubungan yang sudah sekian lama terpendam, apatah lagi sekiranya ingin memutuskannya.

TANYA diri sendiri, inikah perhubungan yang kamu inginkan selama ini? Adakah si dia menerima kamu dengan seikhlas hatinya? Adakah kamu berdua dapat menyelesaikan konflik bersama? Adakah hubungan kamu selama ini berjalan dengan baik? Bagaimana komunikasi antara kamu berdua?
Sekiranya keseluruhan jawapan yang diberikan adalah ‘tidak’, sudah tiba masanya untuk kamu berundur atau dalam erti kata lain, lebih baik kamu memutuskan saja tali perhubungan dengannya.

Mungkin ada yang berkata perpisahan itu amat menggembirakan tetapi hakikatnya, ia terlalu memeritkan sehingga boleh membuatkan seseorang itu hilang kawalan hati dan perasaan.

Harus diingat, kekecewaan dalam bercinta tidak akan berterusan sekiranya kamu bijak menurut kata hati dan bukannya perasaan. Jangan sesekali menyesal dengan pengucapan yang belum dijelaskan atau sudah dilafazkan.

Sekiranya kamu tidak sanggup lagi meneruskan perhubungan ekoran sikap atau kurang persefahaman di antara kamu berdua dan tidak tahu bagaimana ingin memulakan perpisahan, ikuti beberapa tip di bawah ini.

Tip ini diberi agar kamu tenang melafazkan perpisahan dengan baik, tanpa berlakunya sebarang persengketaan.

Pertimbangkan masa dan keadaanSejak kebelakangan ini, kamu merasakan begitu sukar untuk meluangkan masa atau mencipta sesuatu keadaan dengan pasangan sebelum membuat keputusan untuk berpisah.

Adakalanya kamu terpaksa mencipta satu masa yang emosional. Ia adalah perkara penting dan merupakan jalan terbaik untuk kamu memulakan perbincangan.

Kamu juga tidak harus mengelakkan berjumpa dengan si dia, takut nanti kamu pula yang akan ditimpa musibah. Ikuti langkah di bawah ini.

*Tidak salah untuk kamu meluahkan hasrat yang terpendam selama ini, tetapi sikap memahami keadaan yang berlaku ketika ini haruslah diambil kira. Jangan menjadi seorang yang pentingkan diri sendiri tanpa menyedari apa yang dirasai si dia ketika itu. Contohnya, jangan sampaikan niat kamu itu di saat si dia baru saja berhadapan dengan masalah peribadi atau kerja.

*Had perbualan kamu berdua di telefon sebelum memutuskan pertemuan yang terakhir. Jangan sesekali memberikan sebarang maklumat yang menyatakan kamu bersedia berjumpa dan meminta kata putus.

Buat keputusan terbaik atau tepat Biarpun ini adalah perkara yang berat untuk dikatakan, terutama apabila kamu terlalu rapat dengannya atau menyintainya, kamu perlu bijak membuat keputusan yang terbaik untuk masa hadapan.

Kamu perlu membuat kesimpulan dalam hal berkaitan percintaan ini. Segala keputusan terletak di tangan kamu. Contohnya, kamu seharusnya memikirkan perbezaan persefahaman atau ketidakserasian yang melanda diri kamu.

Tiada seorang wanita pun yang ingin mendengar cintanya diputuskan dek angkara dirinya kurang menarik atau kamu sedang tergila-gilakan sahabatnya.

Kamu seharusnya melakukan keputusan yang positif untuk diri sendiri dan bukannya disebabkan faktor orang ketiga atau sebaliknya. Untuk membantu kamu mencipta keputusan yang terbaik, cuba senaraikan alasan munasabah sebelum kamu berterus-terang dengannya secara matang.

Bicara di antara kamuWalaupun tujuan kamu ini dianggap baik, jangan sampai diketahui umum. Dengan kata lain, cara penyampaian kamu itu seharusnya dilakukan secara peribadi, bukannya di khalayak ramai.

Ini kerana, segala tindakan yang kamu lakukan itu boleh membuatkan dirinya berasa tercabar dan menambahkan lagi keegoannya. Pilihlah tempat yang privasi untuk kamu meluahkan keputusan itu.

Tidak dinafikan, begitu sukar bagi seseorang meluahkan hasrat untuk memutuskan perhubungan yang telah sekian lama dijalin. Oleh itu, kamu juga boleh menyampaikan hasrat ini secara bukan lisan iaitu menerusi surat, Sistem Pesanan Ringkas (SMS) atau emel.

Harus diingat bahawa jangan sampaikan kata putus itu tanpa dia sedari atau di belakangnya. Lebih baik, berterus-terang secara langsung.

Profesional dengan pengucapan Kamu sudah memikirkan untuk memutuskan hubungan dengannya sebelum ini, tetapi segala keputusan yang dinyatakan itu membuatkan si dia berasa bersalah. Ketika itu, kamu seharusnya bijak mengatur langkah dan keadaan sekiranya si dia terkejut dengan keputusan yang kamu lakukan.

Untuk mengelakkan perkara ini berterusan, jangan hubungi si dia sebelum kamu berjumpa dengannya untuk memutuskan perhubungan. Ini akan menyebabkan berlakunya reaksi yang di luar jangkaan.

Fahami personaliti pasangan kamu, sebelum memberi kata putus. Walaupun kesedihan si dia boleh dilihat pada wajahnya, kamu harus bersikap profesional dengan apa yang akan diucapkan.

Jangan mengakhiri perhubungan dengan perbuatan di luar jangkaan seperti bergaduh atau memukul.

Ikuti tip bagaimana untuk menyampaikan mesej secara berkesan:

*Kamu haruslah memahami keadaan si dia ketika itu, walaupun dia memperlihatkan reaksi yang kurang menyakinkan kamu untuk melafazkannya.

*Ucap kata maaf sebaik sahaja kamu menyampaikan keputusan itu kepadanya.

*Lakukan persiapan bagi setiap persoalan dan alasan yang hendak dijelaskan. Perhatikan semula alasan yang disenaraikan sebelum kamu menjelaskan kepadanya.

*Cuba elakkan bahasa tubuh ketika berbicara dengannya.

*Yakin dengan diri sendiri. Jangan sesekali berasa diri gagal untuk menyatakan keputusan.

Pelihara hubungan berdua Ini adalah keputusan yang berat untuk kamu lakukan. Jangan sesekali menjauhi si dia sebaik sahaja kamu memutuskan perhubungan. Pelihara hubungan, biarpun tiada lagi ikatan cinta di antara kamu berdua.

Tidak perlu menelefonnya pada setiap minggu. Tetapi sudah cukup untuk menanyakan khabar pada hari jadinya.

Jangan mengatakan:

*”Mungkin suatu hari, kita akan diketemukan kembali.”

*”Sebahagian diri saya hanyalah menyintai dirimu.”

*”Saya tidak dapat menyintai orang lain selain dirimu.”

*”Okey, berikan saya waktu untuk menerima kamu semula.”



hey rie_nie & dian mungkin cuma ni yang bisa aku berikan wat xan ,,, jadi lain kali kalau mau ambil keputusan tu pikirin baik2 dlu,,,,,, jangan ampe kejadian pengen balik kayak gini,,,, bikin iri aja ci,,,, ntar aku pikirin lagi ya cara buat balikan lagi ma mantan kamu,,, kalau aku dah nemuin carane pasti aku bantu,,,,,, thanks ya dah mampir ke blog aku,,,,, kalo ada masalah lagi crita aja ma aku,,, capa tau aku bisa bantu,,, udah dulu ya kawan,,, dah pagi ni,, aku mo siap2 brangkat PSG dlu,,, terus semangat y kawan n inget KEHIDUPAN TU BUKAN TITIK,,,,,,,
Galang

Tuesday, November 4, 2008

pacaran ma sahabat?????


Kawan yang selama ini kamu kenali sudah bertahun-tahun lamanya, tiba-tiba membuatkan hati anda berdebar-debar dan jatuh cinta. Adakah hubungan ini akan berjalan dengan lancar? 

JIKA dahulu, kamu menganggap dirinya seorang sahabat sejati, sanggup berkongsi suka dan duka serta menjadi teman yang paling setia mendengar masalah anda, kini lain pula situasinya.

Apa yang berlaku kini ialah situasi yang dilalui kamu berdua tiba-tiba menjadi suatu kejutan besar bak dentuman gunung berapi yang memuntahkan laharnya. Kawan yang selama ini dimahkotakan sebagai teman biasa kini bertukar menjadi kekasih istimewa kamu.

Persoalannya, adakah hubungan kamu akan berjalan dengan lancar sekiranya bercinta dengan sahabat sendiri? Adakah dia juga merasakan hal yang sama seperti kamu? Dan adakah kamu harus menyatakan perasaan itu terhadapnya?

Begitulah yang akan berlaku sekiranya hati seorang sahabat seperti kamu mengalami perubahan cinta yang drastik setelah sekian lama berkawan biasa dengannya.

Apabila kamu dilamun cinta dengan teman biasa, perlu diteliti semua aspek peribadinya, sebelum sesuatu hubungan itu menjadi bertambah intim. Takut nanti, ‘yang dikejar tak dapat, yang dikendong berciciran’.

Kata orang, bercinta dengan sahabat sendiri akan mencetuskan kekangan dalam sesebuah perhubungan. Sekiranya kamu khuatir persahabatan itu akan berakhir dengan saling benci-membenci, kamu harus mempertimbangkan aspek pro dan kontranya.

Pro

*Kamu harus menyukai seluruh peribadinya. Kamu juga perlu tahu bagaimana perubahan hatinya, apakah yang membuatkan dia bahagia sekiranya menjalin hubungan cinta dengan kamu dan apakah perkara yang perlu dihindari.

*Kamu sanggup melewati suka dan duka bersama, tidak kira apa juga rintangan yang dihadapi berbanding sewaktu menjalinkan hubungan persahabatan dahulu.

*Kamu mengenali ibu bapanya dan diterima baik oleh mereka. Yang pasti, kamu seharusnya mempunyai nilai-nilai positif yang membawa ke arah kebahagiaan kedua-dua belah pihak.

Kontra

*Memandangkan kamu berdua sudah mengenali perilaku masing-masing, maka tiada lagi hal-hal yang boleh membuatkan kamu perlu bertanya atau mencipta keterujaan. Ia mungkin menimbulkan rasa bosan jika anda masih mahu melakukannya.

*Anda meminati karakternya ketika bergelar sahabat. Tetapi tidak mustahil karakter itu boleh berubah setelah hubungan yang dibina bertukar menjadi kekasih.

*Malah sikap seperti cemburu dan syak wasangka yang melampau mungkin antara sikap yang tidak pernah anda sangka muncul pada si dia yang dahulunya hanya seorang teman biasa.

*Sebagai sahabat, hubungan kamu berdua dilihat bertambah baik, tetapi ia berubah setelah menjadi teman istimewa. Kamu akan kehilangan orang yang selalu menjadi pendengar yang baik. Dan siapa yang akan menjadi pendengar setia apabila dia yang menjadi topik pembicaraan kamu?

Risiko bercinta dengan sahabat?

Daripada segi pro dan kontra yang telah disenaraikan, aspek kontra lebih berkemungkinan membawa kamu ke arah kehancuran sebuah persahabatan yang begitu indah.

Kamu merasakan telah mengenali hatinya dengan baik sebagai sahabat, tetapi sebagai kekasih segalanya akan berubah.

Sementara aspek lain pula, terdapat risiko yang harus kamu hadapi apabila berterus-terang mengenai perasaan. Jangan meluahkan perasaan ini kerana ia akan muncul sekiranya kamu cuba menahan dan menyembunyikannya.

Duduk dengan tenang, pertimbangkan aspek pro dan kontranya. Jangan lupa, risiko yang mungkin terjadi. Ingat, kamu tidak akan mengetahui sejauh manakah perasaannya terhadap kamu sekiranya kamu takut untuk cuba bertanya sendiri.

Apabila kamu berdua berjaya mengungkap perasaan cinta itu, mungkin pada awalnya ia akan menimbulkan sedikit kejanggalan, tetapi kesudahannya, ia akan berakhir dengan kegembiraan. Selamat mencuba.
ukh,,,,
yang penting tu dari hati,
aku dah ngantuk nie,,,
thanks dah mo baca y kawan n jangan lupa isi buku tamu,,
hari ni cukup sampai disini dulu ya,,,
cintailah cintamu karna kamu hidup karna cinta,,
galang



galang gek patah hati nie....


Patah Hati Itu Wajar Kok
Aduh sakitnya kalau lagi patah hati…!!! Jadi ngerasa dunia itu seperti neraka. Be-te buat ngapa-ngapain. Ough, kenapa sih dia nolak aku? Kenapa sih dia mutusin aku? Kan jadi sakit hati nih?!
Hehehe… pernah ngerasain yang seperti itu? Ngerasa ditolak, ngerasa nggak diperhatikan, atau ngerasa nggak disayang lagi? Apalagi setelah itu, kita jadi nggak lagi mengalami waktu-waktu yang menyenangkan seperti dulu. Tenang, itu normal kok.
Bisa dipahami kok kalau Youngsters ngalamin seperti itu. mau nangis sejadi-jadinya juga boleh-boleh saja. Dan emang, rasanya waktu patah hati itu hidup kita jadi terasa sulit. Eit, tapi jangan sampai awet dan betah dong buat patah hati.
Segimana rasa sakit itu kerasa, kita tetap perlu sadar lho bahwasanya ada saatnya nanti kita harus lepas dari kondisi tersebut. Coba deh bilang ke diri kamu sendiri dengan kata-kata seperti ini… “Masih banyak kok cowok atau cewek yang lebih keren dan lebih baik daripada dia.” Atau, “Dia nolak atau mutusin aku, siapa takut?! Toh dia sendiri yang akan rugi. Soalnya, aku lebih berharga dari dia!”
Dengan kata-kata itu, coba bangkitkan lagi rasa percaya diri kamu. Selain itu, berusahalah untuk sembuh dari yang namanya sakit. Pikirkan, kalau Youngsters kelihatan sakit hati atau sampai ketahuan udah nangis habis-habisan, uph… dia jadi makin ge-er dan merasa menang tuh.
Dan ingat, jangan mencari pelarian atas masalah yang sedang kamu alami ini. Sakit hati emang wajar. Sembuh dari sakit hati itu juga butuh proses. Kalau bisa cepat sembuhnya sih lebih oke lagi tuh. Asalkan sekali lagi Youngsters kudu sadar bahwasanya kalau Youngsters mencoba cara-cara yang tepat untuk sembuh, pasti yang namanya sakit hati itu juga akan hilang-hilang sendiri.
Tapi juga jangan gara-gara patah hati, terus lantas jadi trauma lho. Atau, malah balas dendam dengan pacaran sama orang lain lagi, terus kita putusin agar kita ngerasa menang dan bisa ngebalas rasa sakit hati kita.
Sebetulnya, masalah-masalah seperti patah hati inilah yang bisa bikin Youngsters jadi dewasa. Tapi juga jangan jadi kebal sama yang namanya patah hati. Ambilah pelajaran dari apa yang Youngsters alami tersebut.
Kita juga bisa intropeksi diri. Jangan-jangan, kemarin itu terjadi juga karena kesalahan kita juga? Dan kalau udah tau salahnya, ambil itu sebagai pelajaran. Jadi, nggak usah lagi deh takut buat patah hati… (galang)
Alihkan pada Aktivitas
Buat ngobatin patah hati, sebetulnya kita sah-sah saja lho untuk egois sedikit sementara waktu. Maksud dari egois ini bukan berarti terus kita sesukanya dan bahkan bikin orang lain menderita lho.
Maksudnya, kita bisa aja kok buat sementara waktu mengutamakan diri kita sendiri sebagai alat untuk penyembuhan sakit hati. Caranya ada banyak banget lho. Mau tahu apa aja?
Pertama-tama, manjakan deh diri Youngsters dengan kegiatan-kegiatan yang emang kamu sukai. Apalagi kalau kegiatan itu sebelum-sebelumnya susah buat dilakukan karena ada pacar.
Misalnya nih dengan melakukan hobi atau aktivitas yang Youngsters suka, apalagi kalau itu sebelumnya begitu susah kamu lakukan. Aktivitas ini lebih oke lagi kalau banyak bersinggungan dengan banyak orang. Jadinya kan bisa sekalian jadi ajang TP-TP.
Buat yang cewek, manjain diri kamu dengan perawatan tubuh. Misalnya datang ke salon atau pusat perawatan tubuh. Bisa creambath, spa, pijat refleksi, sauna, lulur, atau perawatan tubuh lainnya deh yang bisa bikin relaks.
Terus, buat Youngsters yang cowok dan juga cewek, ada baiknya nih lampiaskan rasa nggak enak kamu dengan berolahraga. Soalnya, cara ini emang bisa membuat tubuh kita jadi kerasa segar begitu juga pikiran. Akhirnya, pikiran yang nggak enak-enak juga jadi lenyap deh.
Biar sekali dua tiga pulau terlampaui, lakukan olahraga dengan teman-teman di tempat yang ramai. Misalnya nih, jogging di Tumenggung atau ikutan latihan kebugaran di tempat-tempat kebugaran. Siapa tahu, dapat cowok atau cewek yang oke tuh. Sekalian kan cuci mata…
Males olahraga? Ada cara lainnya kok yang bisa dilakukan yaitu membaca, ngedengerin musik, atau menonton film. Tapi jangan dengerin musik yang mello ya. Begitu juga dengan bacaan atau tontonan yang mau dikonsumsi.
Buat musik yang oke didengerin, cari deh lagu-lagu yang isi liriknya tentang bagaimana rasanya patah hati tapi tetep hepi. Lagian, sekarang kan banyak lagu-lagu dengan isi patah hati tapi nggak berkesan mello.
Sedangkan buat film dan bacaan yang wajib ditonton adalah yang berbau-bau fun. Misalnya nih baca teenlit atau novel yang lucu-lucu kayak modelnya Lupus, komik atau film Sinchan. Tentunya hindari film atau bacaan yang bersifat drama atau telenovela yang isinya sedih-sedih. Dan satu lagi, hindari deh dekat-dekat sama film, musik, atau bacaan yang bisa ngingetin kamu sama orang yang bikin kamu patah hati.
Cara lain buat sembuh dari patah hati adalah dengan membuat penampilan baru. Ganti potongan rambut, parfum, atau gaya berpakaian. Apalagi buat Youngsters yang selama ini terlalu sering diatur-atur sama pacar hingga nggak punya jati diri sendiri. So, ini dia saatnya buat kembali ke gaya yang emang kamu suka.
Satu lagi terapi yang mungkin manjur adalah dengan curhat lewat tulisan. Tulis aja semua yang ada dalam uneg-uneg dan hati kamu. Kalau udah, buang ke tong sampah dan bayangkan kalau semua itulah yang ada dalam hati kamu dan kemudian kamu campakkan ke dalam tong sampah. (galang)
Melupakan tapi Memaafkan
Sedikit-sedikit, kebayang terus sama mantan. Ups, rasanya kok jadi makin berat banget sih buat ngelupain. Ngalamin seperti itu? Kalau iya, coba cek sekeliling mu, kemungkinan kamu emang dekat sama hal-hal yang berbau si mantan itu.
Jadi, singkirkan segala hal yang berbau dirinya. Kalau itu berupa benda-benda, ya masukkan saja dalam karung terus singkirkan untuk sementara waktu. Atau, berikan saja ke orang lain. Dijamin, pasti 100 persen ikhlas!
Sebisa mungkin, hindari juga tempat atau apa saja yang bisa ngingetin kita sama dia. Nggak usah deh malah pakai acara nostalgia menggali kenangan yang dulu-dulu. Itu malahbikin jadi susah sembuh patah hatinya.
Tapi kalau jangankan buat menjauhi tempat-tempat yang banyak kenangannya. Karena ternyata, setiap hari Youngsters harus sering ketemu dengan dia. Apalagi kalau ternyata satu kelas, wah… susah banget tuh buat ngehindar.
Yah, emang berat sih kalau kasusnya kayak gitu. Jika memang sulit, menghidarlah darinya seperlunya. Tapi bukan berarti malah musuhan lho. Apalagi sampai Youngsters nunjukin kalau benar-benar lagi patah hati. Wah, bisa dianggap kalah tuh!
Kalau bisa, tunjukkan bahwa kamu adalah orang yang tegar ngehadapin itu semua. Caranya, dengan tetap tunjukkan kalau kamu masih bisa bersahabat dengannya. Orang yang tegar dan berjiwa besar itu justru ketika kamu bisa untuk tetap menerima kehadirannya sebagai sahabat dan memaafkan. (galang)

Curhat Biar Plong
That’s what friends are for. Yup, jangan lupakan kehadiran teman lho kalau sedang patah hati. Oke deh kalau Youngsters ngerasa pengen sendiri. Tapi apa iya ngejamin kalau sendiri melulu terus malah bisa cepat sembuh tuh patah hatinya?
Padahal kalau kita bisa curhat ke teman, itu jadi satu dari sekian obat buat mereka yang lagi patah hati. Tapi lihat-lihat orangnya lho. Karena kalau sembarang orang, bisa-bisa malah jadi bumerang buat kita sendiri.
Dari curhat ini, siapa tahu, Youngsters jadi bisa dapat saran yang bagus buat ngatasin patah hati. Curhat ini juga bisa kok kita lakukan ke kakak, orangtua, atau boleh juga ke psikolog. Biasanya, dari pikiran mereka akan keluar saran yang bagus dan lebih mengena.
Kembali ke teman, coba deh ajak atau minta teman-teman kamu untuk menemani ke tempat-tempat yang bisa bikin kita ngerasa terhibur. Jalan-jalan ke mall sambil cuci mata, pergi ke tempat rekreasi seperti pantai, dan lebih asiknya lagi ke tempat yang ada permainannya. Main game sama teman-teman ini bisa bikin kita jadi kehibur lho.
Membagi perasaan di kegiatan yang memungkinkan kita biosa berkomunikasi dengan orang lain juga jadi jurus ampuh buat ngobatin patah hati. Misalnya bikin kegiatan sosial dengan membagikan rezeki ke orang lain yang kurang beruntung.
Dari melihat ekspresi senang mereka saat menerima bantuan dari kita, energi bahagia itulah yang bisa menular kepada kita. Jangankan mikirin patah hati, kita seakan-akan bisa lupa lho sama yang namanya masalah.




calon tuk mencinta

Calon Suami???!

Pfui, kuhembuskan nafasku kuat-kuat. Bosan aku. Lagi-lagi calon suami yang dibicarakan. Bayangin, sudah dua bulan ini tidak ada topik yang lebih trend di rumah, selain soal suami.

Mulai dari Papi yang selalu nyindir, sudah pengen menimang cucu. Mami yang berulang-ulang menasihatiku agar jangan terlalu pilih-pilih tebu. Lalu Bambang, adikku, yang kuharap bisa menetralisir suasana, tak urung ikut menggoda. Bahkan si kembar Rani-Rano, yang masih es em pe pun, ikut-ikutan menceramahiku.

”Mbak Ajeng kan udah jadi insinyur, udah waktunya dong, mikirin berkeluarga. Lagian, Rani sama Rano kan udah pengen dipanggil ’Tante dan Oom’. Tika aja yang baru kelas enam, keponakannya udah empat!”

”Iya, Mbak. Jaman sekarang, perempuan itu harus agresif. Mbak Ajeng sih, kerjanya belajar ama ngaji melulu!” Rano menimpali kata-kata kembarnya.

Aku hanya bisa melotot, nemu di mana lagi pendapat kayak gitu.

”Udah sana kalian belajar!” hardikku agak keras.

”Tuh, kaaaan?!?” seru mereka berdua kompak.

Huhh, dasar kembar!

***

”Ajeng…!”

Kudengar panggilan Mami dari depan. Pelan aku bangkit dari meja belajar. Setelah merapikan jilbab, aku keluar.

”Ada apa, Mi?” tanyaku lunak. Sekilas sempat kulihat sosok seorang lelaki, duduk di sudut ruangan.

Kedua bola mata Mami tampak bersinar-sinar. Oo…Oo…! Pasti ada yang nggak beres, gumamku dalam hati. Iiih..su’udzon! Tapi….

Benar saja.

“Ajeng, kenalin. Ini tangan kanan Papi di kantor. Hebat, ya! Masih muda sudah jadi Wakil Presiden Direktur. Ayo, kenalin dulu. Ini Nak Bui….”

”Boy, Tante!”

”Eh, iya. Boi!”

Aku hanya bisa menahan geli. Mami…Mami…!

Rasa geliku mendadak hilang, ketika selama dua jam berikutnya aku harus mendengarkan obrolan Mami dengan Si Boi tadi.

Bukan main, lagaknya! Batinku menggerutu sendiri, mendengar cerita-ceritanya yang melulu berbau luar negeri.

”Jadi, Tante, selama belajar di Harvard, saya sudah coba-coba berbisnis sendiri. Hasilnya lumayan. Saya bisa jalan-jalan keliling Amerika, bahkan Eropa setiap kali holiday!”

Hihhh, gemas aku! Terlebih melihat pancaran kagum di wajah Mami. Benar-benar nggak peka nih anak. Kok bisa sih nggak merasa dicuekin? Tetap aja ngomong. Tak perduli aku yang cuma diam dan sesekali manggut. Kupanjatkan syukur yang tak terkira ketika akhirnya Si Boi pulang. Alhamdulillah!

***

Kulihat Bambang tertawa. Kesal, kulemparkan bantal ke arahnya. Orang cerita panjang lebar minta advise, kok cuma diketawain?!?

”Bang, serius, dong! Pokoknya kalau nanti Mami nanyain kamu soal Boy, awass kalau kamu setuju!” ancamku serius. Bambang masih cengar-cengir.

”Mbak Ajeng gimana, sih? Biasanya Mbak yang nyuruh aku sabar menghadapi segala sesuatu. Lho, kok sekarang malah panasan gini? Tenang aja, Mbak, sabar! Innallaha ma’ashshabirin!” balasnya sambil mengutip salah satu ayat di Al-Quran.

Iya, ya. Kenapa aku jadi nggak sabaran gini. Baru juga ngadepin si Boy. Astaghfirullah!

”Mbak bingung, Bang! Habis serumah pada mojokin semua. Kamu ngerti, kan, milih suami itu nggak mudah. Nyari yang shalih sekarang susah. Mbak nggak pengen gambling. Salah-salah pilih, resikonya besar. Nggak main-main, dunia akhirat!”

Sekejap, kulihat keseriusan di matanya. Cuma sekejap, sebelum ia kembali menggodaku.

”Apa perlu Bambang yang nyariin???!”

Lemparan bantalku kembali melayang.

***

Kriiiiing…!!!

Ups, kumatikan bunyi weker yang membangunkanku. Jam tiga lebih seperempat. Aku bangun dari tempat tidur, bergegas ke kamar mandi untuk berwudhu. Kuperhatikan lampu kamar Bambang masih menyala. Sayup-sayup suara kaset murattal terdengar.

Tercapai juga niatnya untuk begadang malam ini, pikirku. Heran, kebiasaan menghadapi ujian dengan pola SKS (Sistem Kebut Semalam) masih membudaya rupanya.

Cepat kuhapuskan pikiran tentang Bambang dan ujiannya. Mataku nanar menyaksikan pantulan wajahku di cermin. Kuhapus tetesan air wudhu yang tersisa dengan handuk kecil. Oooohh, begini rupanya gadis di penghujung usia dua puluh sembilan? Kuperhatikan bentuk wajahku yang makin tirus. Baru kusadari, betapa pucatnya wajah itu. Entah kemana perginya rona merah yang biasa hadir di sana. Mungkin hilang termakan usia. Ya Rabbi, pantas saja Papi dan Mami begitu khawatir. Sudah sulung mereka tak cantik, menjelang tua, lagi!

”Ir. Ajeng Prihartini.” Kueja namaku sendiri.

”Jangan cemas ya ukhti, ini bukan nasib buruk!” Bisikku menghibur. Bagaimana pun aku harus tetap tawakkal pada Allah. Jodoh, rizki, dan maut, Dia yang menentukan. Berjodoh di dunia bukanlah satu kepastian yang akan kita raih dalam hidup. Tidak, ada hal lain yang lebih penting, lebih pasti. Ada kematian, maut yang pasti kita hadapi. Sesuatu yang selama ini sering kuucapkan kepada saudaraku muslimah yang lain, ketika mereka ramai meresahkan calon suami yang tak kunjung datang.

”Sebetulnya kita ini lucu, ya? Lebih sering mempermasalahkan pernikahan, hal yang belum tentu terjadi. Maksud Ajeng, bergulirnya waktu dan usia, nggak seharusnya membuat kita lupa untuk berpikir positif terhadap Allah. Boleh jadi calon kita ini nggak buat di dunia, tapi disediakan di surga. Mungkin Allah ingin memberikan yang lebih baik, who knows?” ujarku optimis, dua tahun yang lalu.

Astaghfirullah! Ishbiri ya ukhti, isbiri….

Tanganku masih menengadah, berdoa, saat kudengar azan Subuh berkumandang. Hari baru kembali hadir. Alhamdulillah, terima kasih ya Allah, untuk satu hari lagi kesempatan beramal dan taubat, yang masih Kau berikan.

***

Selesai berurusan dengan Mami untuk masalah Boy, gantian aku harus menghadapi Tante Ida yang siap mempromosikan calonnya. Duhh! Lagi-lagi aku cuma bisa manggut-manggut.

”Tante sih terserah Ajeng. Pokoknya lihat aja dulu. Syukur-syukur Ajeng suka. Dia anak lurah. Bapaknya termasuk juragan kerbau yang paling kaya di Jawa. Tapi nggak kampungan, kok. Anak kuliahan juga seperti kamu!” promosi Tante Ida bersemangat.

Dua hari kemudian, Tanteku itu kembali datang dengan ’balon’nya.

”Junaedi. Panggil aja Juned!”

Aku hanya mengangguk. Tak membalas uluran tangan yang diajukannya.

Selama pembicaraan berikutnya, berkali-kali aku harus menahan diri, untuk tidak lari ke dalam. Aku tidak ingin menyinggung perasaan Tante Ida. Apalagi beliau bermaksud baik. Hanya saja, asap rokok Juned benar-benar membuatku mual. Malah nggak berhenti-henti. Habis sebatang, sambung sebatang. Persis lokomotif uap jaman dulu!

Dengan berani pula ia mengomentari penampilanku.

”Eng…jangan tersinggung ya, Jeng. Aku suka bingung sendiri ngeliat perempuan yang memakai kerudung. Kenapa sih tidak pintar-pintar memilih warna dan mode?! Aku kalau punya isteri, pasti tak suruh beli baju yang warna-warnanya cerah, menyala. Sekaligus yang bervariasi. Seperti yang dipakai artis-artis kita yang beragama Islam itu lho, sekarang. Ndak apa-apa toh sedikit kelihatan leher atau betis?! Maksudku biar tidak terlihat seperti karung berjalan gitu lho, Jeng! Hahaha….”

Kontan raut mukaku berubah. Tanpa menunggu rokok keenamnya habis, aku mohon diri ke dalam. Tak lama kudengar suara Juned pamitan. Alhamdulillah.

Ketika Tante Ida menanyakan pendapatku, hati-hati aku menjawab.

”Maaf ya, Tan…, rasanya Ajeng nggak sreg. Terutama asap rokoknya itu, lho. Soalnya Ajeng punya alergi sama asap rokok. Mana kelihatannya Juned perokok berat, lagi. Maaf ya, Tan…, udah ngerepotin.”

Bayang kekecewaan tampak menghiasi raut muka Tante Ida.

”Bener, nih…nggak nyesel? Tante cuma berusaha bantu. Ajeng juga mesti memikirkan perasaan Mami sama Papi. Susah lho, nyari yang seperti Juned. Udah ganteng, dokterandes lagi! Terlebih kamu juga sudah cukup berumur.”

Bujukan Tante Ida tak mampu menggoyahkanku. Dengan masih kecewa, beliau beranjak keluar. Sempat kudengar Tante Ida berbicara dengan Papi dan Mami. Sempat pula kudengar komentar-komentar mereka yang bernada kecewa, sedih. Ya Allah, kuatkan hamba-Mu!

Hari berangsur malam. Aku masih di kamar, mematung. Beragam perasaan bermain di hatiku. Sementara itu, hujan turun rintik-rintik.

***

Siang begitu terik. Langkahku lesu menghampiri rumah. Capek rasanya jalan setengah harian, dari satu perpustakaan ke perpustakaan IPB lainnya. Namun buku yang kucari belum juga ketemu. Padahal buku itu sangat kuperlukan untuk menghadapi ujian pasca sarjanaku sebentar lagi. Sia-sia harapanku untuk bisa beristirahat pulang ke Depok. Kereta yang kutumpangi benar-benar penuh. Sudah untung bisa berdiri tegak, dan tidak doyong ke sana ke mari, terdesak penumpang yang lain.

”Assalamu’alaikum!” perasaanku kembali tidak enak, melihat Mami yang tidak sendirian. Seorang lelaki berjeans, dengan sajadah di pundak, dan kopiah di kepala, tampak menemani beliau. Jangan…jangan….

”Wa’alaikumussalam. Nah, ini Ajengnya sudah pulang. Ajeng, sini sayang. Kenalkan, Saleh. Putera Pak Camat yang baru lulus dari pondok pesantren di Kalimantan. Kalian pasti bisa bekerja sama mengelola kegiatan masjid di sini. Lho, Ajeng…, kok malah diam? Maaf Nak Saleh, Ajeng memang pemalu orangnya.”

Duhh, Mami!

Kali ini Mami membiarkanku berdua dengan tamunya itu. Risih, kuminta Rani mendampingiku. Dia setuju setelah aku janji akan menemaninya mendengar ceramah di Wali Songo, pekan depan.

Selama Saleh berbicara, aku menunduk terus. Bisa kurasakan pandangannya yang jelalatan ke arahku. Dengan gaya bahasa yang tinggi, Saleh bercerita tentang berbagai kitab berbahasa Arab yang telah dia kuasai. Bukan main. Lalu ia mulai membahas satu persatu perbedaan pendapat di kalangan umat Islam. Soal doa qunut, perbedaan doa iftitah, masalah posisi telunjuk ketika tahiyat, dan lain-lain yang senada.

Terus terang, aku tidak begitu setuju dengan caranya. Betul bahwa semuanya harus kita ketahui. Tapi bagiku, dengan makin meributkannya, hanya akan memperuncing perbedaan yang ada. Cukuplah bahwa masing-masing berpegang pada sunnah Rasulullah. Tentunya akan lebih baik, jika kita justru berusaha mencari titik temu atau persamaan, dan bukan malah memperlebar jurang perbedaan.

”Kalau menurut Saleh, kasus Bosnia itu bagaimana?” tanyaku mengalihkan perhatian.

”Oooh, itu. Ane sangat tidak setuju. Menurut pendapat dan analisa ane, tidak seharusnya masalah Bosnia itu digembar-gemborkan. Itu akan membuat sikap tersebut kian membudaya. Sudah saatnya pola sikap ngebos, dan penghargaan masyarakat terhadap orang-orang yang punya kedudukan, diarahkan sewajarnya. Agar tidak berlebihan.” ulasnya panjang lebar.

Gantian aku yang bingung.

”Saya…saya tidak paham apa yang Saleh maksudkan.” ujarku sedikit gagap.

”Kenapa? Apa karena bahasa yang ane gunakan terlalu tinggi atau bagaimana, hingga Ajeng sulit memahami?”

Aku tambah melongo.

”Bukan itu, ini…, Bosnia yang mana, yang Saleh maksudkan?” tanyaku makin bingung.

”Lha, yang nanya kok malah bingung?! Yang ane bicarakan tadi ya tentang Bosnia, Boss-Mania, kan maksud Ajeng?!!”

Ufh, kutahan tawa yang nyaris meledak. Bingung aku, ternyata masih saja ada orang yang meributkan hal-hal yang relatif lebih kecil, dan melupakan masalah lain yang lebih besar. Dari sudut mataku, kulihat Rani pringas-pringis menahan geli, sambil mempermainkan kerudung pink-nya. Lucu sekali.

”Bukan, yang Ajeng maksudkan adalah penindasan yang terjadi pada saudara-saudara muslim kita di Negara Bosnia.” aku berusaha menjelaskan dengan sabar.

Tampak Saleh manggut-manggut.

”Ooooh, yang itu. Ya…jelas penindasan itu tidak bisa dibenarkan. Tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan keadilan,” ujar Saleh optimis, lalu….

”Ngomong-ngomong, Bosnia itu di mana, sih?”

Tawa Rani meledak.

Duhhh, Mami!!!

***

Malamnya, waktu aku protes ke Mami, soal calon-calon itu, tanpa diduga, malah Mami yang marah.

”Lho, kamu itu gimana toh? Kata Bambang kamu maunya sama Saleh. Pas Mami temuin, kamu bilang bukan yang seperti itu yang kamu inginkan. Jadi sebenarnya, Saleh yang mana calon kamu itu?” suara Mami meninggi.

Aku terhenyak. Bambang yang duduk di kursi makan tersenyum simpul. Awas, kamu de’! Bisikku gemas.

”Bukan yang namanya Saleh, Mi. Ajeng ingin orang yang saleh, yang taat beribadah. Orang yang punya pemahaman paling tidak mendekati menyeluruhlah, tentang Islam. Yang Islamnya nggak cuma teori, tapi ada bukti. Yang nggak jelalatan memandang Ajeng terus-terusan dari ujung jilbab sampai kaos kaki, seperti hendak menawar barang dagangan. Ajeng tahu, usia Ajeng sudah jauh dari cukup. Ajeng juga pengen segera menikah. Perempuan mana sih, yang tidak ingin berkeluarga, dan punya anak?” lanjutku hampir menangis.

”Tapi…, tolong. Jangan menyudutkan Ajeng. Tolong Mami bantu Ajeng agar bisa tetap sabar, tetap tawakkal sama Allah. Kita memang harus berusaha, tapi jangan memaksakan diri. Biar Ajeng mesti nunggu sampai tua, Ajeng siap. Daripada bersuamikan orang yang akhlaknya tidak Islami. Tolong Ajeng, Mi…tolong!” Kusaksikan mata Mami berkaca-kaca. Diraihnya aku ke dalam pelukannya. Berdua kami berisakan. Papi turut menghampiri, menepuk-nepuk pundakku. Rani dan Reno terdiam di kursinya.

”Maafin Mami, sayang….” suara Mami lirih, memelukku makin erat.

***

Kesibukanku menulis diary terhenti.

”Mbak Ajeng…telepon tuh!” pekik Rano keras.

”Dari siapa? Kalau dari Anto Boy, Didin, Juned, atau Saleh, Mbak nggak mau terima!” balasku agak keras.

Hening, tidak ada panggilan lanjutan dari Rano. Aku lega.

Alhamdulillah, sejak kejadian malam itu, perlahan topik trend kami bergeser. Mami tidak lagi menyodorkan calon-calonnya, sebelum menanyakan kesediaanku. Beberapa Oom dan Tante yang datang, harus pulang dengan kecewa karena promosi dibatalkan. Aku masing ingin menenangkan diri dulu.

Kuraih pena. Dengan hati seringan kapas, aku mulai menulis:

Kepada Calon Suamiku….

Usiaku hari ini bertambah setahun lagi.

Tiga puluh tahun sudah. Alhamdulillah. Kuharap, tahun-tahun yang berlalu, meski memudarkan keremajaanku, namun tidak akan pernah memudarkan ghirah Islamiah yang ada. Mudah-mudahan aku bisa tetap istiqamah di jalan-Nya.

Ujian pasca sarjanaku sudah selesai. Sebentar lagi, satu embel-embel gelar kembali menghiasi namaku. Belum lama ini aku juga mengambil kursus jahit dan memasak. Dengan besar hati pula, Mami mesti mengakui, bahwa kemahirannya di dapur, kini sudah tersaingi.

Alhamdulillah, sekarang aku lebih bisa berkonsentrasi untuk menulis, dan memberikan berbagai ceramah di beberapa kampus dan masjid. Baru sedikit itulah, yang bisa kulakukan sebagai perwujudan syukurku atas nikmat-Nya yang tak terhitung.

Calon suamiku….

Aku maklum, bila sampai detik ini kau belum juga hadir. Permasalahan yang menimpa kaum muslimin begitu banyak. Kesemuanya membentuk satu daftar panjang dalam agenda kita. Aku yakin ketidakhadiranmu semata-mata karena kesibukan dakwah yang ada. Satu kerja mulia, yang hanya sedikit orang terpanggil untuk ikut merasa bertanggung jawab. Insya Allah, hal itu akan membuat penantian ini seakan tidak pernah ada.

Calon suamiku….

Namun jika engkau memang disediakan untukku di dunia ini, bila kau sudah siap untuk menambah satu amanah lagi dalam kehidupan ini, yang akan menjadi nilai plus di hadapan Allah (semoga), maka datanglah. Tak usah kau cemaskan soal kuliah yang belum selesai, atau pekerjaan yang masih sambilan. Insya Allah, iman akan menjawab segalanya. Percayakan semuanya pada Allah. Jika Dia senantiasa memberikan rizki, padahal kita tidak dalam keadaan jihad di jalan-Nya, lalu bagaimana mungkin Allah akan menelantarkan kita, sedangkan kita senantiasa berjihad di sabil-Nya?!

Banyaklah berdoa, Calon Suamiku, di manapun engkau berada. Insya Allah, doaku selalu menyertai usahamu.

Wassalam,

Adinda

NB: Ngomong-ngomong, nama kamu siapa, sih?

”Syahril… Nama saya Syahril.”

Deg! Aku tersentak. Pena yang kugenggam jatuh. Rasa-rasanya kudengar satu suara. Sedikit berjingkat, aku melangkah ke depan. Sebelum aku sempat menyibak tirai yang membatasi ruang makan dengan ruang tamu, kudengar suara Papi memanggilku.

”Ajeng…!”

Hampir aku terjatuh, saking tergesanya menghampiri beliau. Sekilas mataku menyapu bayangan seorang lelaki berkaca mata, yang berdiri tak jauh dari Papi, dengan wajah tertunduk, rapat ke dada. Di belakangnya, Bambang berdiri dengan senyum khasnya.

”Nah, Nak Syahril, kenalkan, ini yang namanya Ajeng. Puteri sulung Oom. Lho, kok malah nunduk?” suara ngebas Papi kembali terdengar.

Aku menoleh sesaat, yang dipanggil Syahril tetap menunduk.

”Ayo, salaman. Ini lho, Jeng…puteranya Mas Wismoyo, sahabat Papi sejak jaman revolusi dulu, sekaligus Ass Dos-nya Bambang di FISIP. Baru lulus ya Nak?”

Syahril mengangguk. Tapi, tetap tak ada uluran tangan.

”Assalamu’alaikum, Ajeng. Saya Syahril.”

Masya Allah! Aku masih melongo, terpana.

“Insya Allah, hari ini saya akan berta’aruf dengan Ajeng. Kalau Ajeng setuju, khitbahnya bisa dilaksanakan besok. Sesudah itu…mudah-mudahan kita bisa jihad bareng….”

Agak samar kudengar kalimatnya yang terakhir. Kulihat Papi tersenyum lebar, melirikku.

”Apa, Jeng…khitbah? Ngelamar, ya…??”

Aku mengangguk pendek, tersipu. Tawa Papi makin lebar.

Aku masih terpana.

Masya Allah, calon suamiku…eng…engng…ups, apakah…apakah…ini, kamu???
ekheem,,, aku jadi ngrasain gimana jadi cew low waktu nulis ni,,,
tapi aku tegasin lagi y kawan,,,,
aku COWOK TULEN,,,,,
hehehehehe,,,,,
kasih komen ya kawan,,,,,

Sunday, November 2, 2008

cerita sederhana tuk mencinta dengan sederhana


aku memandang kalender yang terletak di meja dengan kesal. rabu, 22 OKTOBER 2008, hari ulang tahun perkawinan kami yang ketiga. Dan untuk ketiga kalinya pula Aa’ lupa. Ulang tahun pertama, Aa’ lupa karena harus rapat dengan direksi untuk menyelesaikan beberapa masalah keuangan perusahaan. Sebagai Direktur keuangan, Aa’ memang berkewajiban menyelesaikan masalah tersebut. Baiklah, aku maklum. Persoalan saat itu memang lumayan pelik.
Ulang tahun kedua, Aa’ harus keluar kota untuk melakukan presentasi. Kesibukannya membuatnya lupa. Dan setelah minta maaf, waktu aku menyatakan kekesalanku, dengan kalem ia menyahut,” Dik, toh aku sudah membuktikan cintaku sepanjang tahun. Hari itu tidak dirayakan kan tidak apa-apa. Cinta kan tidak butuh upacara…”

Sekarang, pagi-pagi ia sudah pamit ke kantor karena harus menyiapkan beberapa dokumen rapat. Ia pamit saat aku berada di kamar mandi. Aku memang sengaja tidak mengingatkannya tentang ulang tahun perkawinan kami. Aku ingin mengujinya, apakah ia ingat atau tidak kali ini. Nyatanya? Aku menarik napas panjang.

Heran, apa sih susahnya mengingat hari ulang tahun perkawinan sendiri? Aku mendengus kesal. Aa’ memang berbeda dengan aku. Ia kalem dan tidak ekspresif, apalagi romantis. Maka, tidak pernah ada bunga pada momen-momen istimewa atau puisi yang dituliskan di selembar kertas merah muda seperti yang sering kubayangkan saat sebelum aku menikah.

Sedangkan aku, ekspresif dan romantis. Aku selalu memberinya hadiah dengan kata-kata manis setiap hari ulang tahunnya. Aku juga tidak lupa mengucapkan berpuluh kali kata I love you setiap minggu. Mengirim pesan, bahkan puisi lewat sms saat ia keluar kota. Pokoknya, bagiku cinta harus diekspresikan dengan jelas. Karena kejelasan juga bagian dari cinta.

Aku tahu, kalau aku mencintai Aa’, aku harus menerimanya apa adanya. Tetapi, masak sih orang tidak mau berubah dan belajar? Bukankah aku sudah mengajarinya untuk bersikap lebih romantis? Ah, pokoknya aku kesal titik. Dan semua menjadi tidak menyenangkan bagiku. Aku uring-uringan. Aa’ jadi benar-benar menyebalkan di mataku. Aku mulai menghitung-hitung waktu dan perhatian yang diberikannya kepadaku dalam tiga tahun perkawinan kami. Tidak ada akhir minggu yang santai. Jarang sekali kami sempat pergi berdua untuk makan malam di luar. Waktu luang biasanya dihabiskannya untuk tidur sepanjang hari. Jadilah aku manyun sendiri hampir setiap hari minggu dan cuma bisa memandangnya mendengkur dengan manis di tempat tidur.

Rasa kesalku semakin menjadi. Apalagi, hubungan kami seminggu ini memang sedang tidak baik. Kami berdua sama-sama letih. Pekerjaan yang bertumpuk di tempat tugas kami masing-masing membuat kami bertemu di rumah dalam keadaan sama-sama letih dan mudah tersinggung satu sama lain. Jadilah, beberapa kali kami bertengkar minggu ini.

Sebenarnya, hari ini aku sudah mengosongkan semua jadual kegiatanku. Aku ingin berdua saja dengannya hari ini dan melakukan berbagai hal menyenangkan. Mestinya, rabu-minggu ini ia libur. Tetapi, begitulah Aa’. Sulit sekali baginya meninggalkan pekerjaannya, bahkan pada akhir pekan seperti ini. Mungkin, karena kami belum mempunyai anak. Sehingga ia tidak merasa perlu untuk meluangkan waktu pada akhir pekan seperti ini.

”Hen, kamu yakin mau menerima lamaran A’ Ridwan?” Diah sahabatku menatapku heran. ”Kakakku itu enggak romantis, lho. Tidak seperti suami romantis yang sering kau bayangkan. Dia itu tipe laki-laki serius yang hobinya bekerja keras. Baik sih, soleh, setia… Tapi enggak humoris. Pokoknya, hidup sama dia itu datar. Rutin dan membosankan. Isinya cuma kerja, kerja dan kerja…” Diah menyambung panjang lebar. Aku cuma senyum-senyum saja saat itu. Aa’ memang menanyakan kesediaanku untuk menerima lamaranku lewat Diah.

”Kamu kok gitu, sih? Enggak senang ya kalau aku jadi kakak iparmu?” tanyaku sambil cemberut. Diah tertawa melihatku. ”Yah, yang seperti ini mah tidak akan dilayani. Paling ditinggal pergi sama A’ Ridwan.” Diah tertawa geli. ”Kamu belum tahu kakakku, sih!” Tetapi, apapun kata Diah, aku telah bertekad untuk menerima lamaran Aa’. Aku yakin kami bisa saling menyesuaikan diri. Toh ia laki-laki yang baik. Itu sudah lebih dari cukup buatku.

Minggu-minggu pertama setelah perkawinan kami tidak banyak masalah berarti. Seperti layaknya pengantin baru, Aa’ berusaha romantis. Dan aku senang. Tetapi, semua berakhir saat masa cutinya berakhir. Ia segera berkutat dengan segala kesibukannya, tujuh hari dalam seminggu. Hampir tidak ada waktu yang tersisa untukku. Ceritaku yang antusias sering hanya ditanggapinya dengan ehm, oh, begitu ya… Itupun sambil terkantuk-kantuk memeluk guling. Dan, aku yang telah berjam-jam menunggunya untuk bercerita lantas kehilangan selera untuk melanjutkan cerita.

Begitulah… aku berusaha mengerti dan menerimanya. Tetapi pagi ini, kekesalanku kepadanya benar-benar mencapai puncaknya. Aku izin ke rumah ibu. Kukirim sms singkat kepadanya. Kutunggu. Satu jam kemudian baru kuterima jawabannya. Maaf, aku sedang rapat. Hati-hati. Salam untuk Ibu. Tuh, kan. Lihat. Bahkan ia membutuhkan waktu satu jam untuk membalas smsku. Rapat, presentasi, laporan keuangan, itulah saingan yang merebut perhatian suamiku.

Aku langsung masuk ke bekas kamarku yang sekarang ditempati Riri adikku. Kuhempaskan tubuhku dengan kesal. Aku baru saja akan memejamkan mataku saat samar-samar kudengar Ibu mengetuk pintu. Aku bangkit dengan malas.

”Kenapa Hen? Ada masalah dengan Ridwan?” Ibu membuka percakapan tanpa basa-basi. Aku mengangguk. Ibu memang tidak pernah bisa dibohongi. Ia selalu berhasil menebak dengan jitu.

Walau awalnya tersendat, akhirnya aku bercerita juga kepada Ibu. Mataku berkaca-kaca. Aku menumpahkan kekesalanku kepada Ibu. Ibu tersenyum mendengar ceritaku. Ia mengusap rambutku. ”Hen, mungkin semua ini salah Ibu dan Bapak yang terlalu memanjakan kamu. Sehingga kamu menjadi terganggu dengan sikap suamimu. Cobalah, Hen pikirkan baik-baik. Apa kekurangan Ridwan? Ia suami yang baik. Setia, jujur dan pekerja keras. Ridwan itu tidak pernah kasar sama kamu, rajin ibadah. Ia juga baik dan hormat kepada Ibu dan Bapak. Tidak semua suami seperti dia, Hen. Banyak orang yang dizholimi suaminya. Na’udzubillah!” Kata Ibu.

Aku terdiam. Yah, betul sih apa yang dikatakan Ibu. ”Tapi Bu, dia itu keterlaluan sekali. Masak Ulang tahun perkawinan sendiri tiga kali lupa. Lagi pula, dia itu sama sekali tidak punya waktu buat aku. Aku kan istrinya, bu. Bukan cuma bagian dari perabot rumah tangga yang hanya perlu ditengok sekali-sekali.” Aku masih kesal. Walaupun dalam hati aku membenarkan apa yang diucapkan Ibu.

Ya, selain sifat kurang romantisnya, sebenarnya apa kekurangan Aa’? Hampir tidak ada. Sebenarnya, ia berusaha sekuat tenaga untuk membahagiakanku dengan caranya sendiri. Ia selalu mendorongku untuk menambah ilmu dan memperluas wawasanku. Ia juga selalu menyemangatiku untuk lebih rajin beribadah dan selalu berbaik sangka kepada orang lain. Soal kesetiaan? Tidak diragukan. Diah satu kantor dengannya. Dan ia selalu bercerita denganku bagaimana Aa’ bersikap terhadap rekan-rekan wanitanya di kantor. Aa’ tidak pernah meladeni ajakan Anita yang tidak juga bosan menggoda dan mengajaknya kencan. Padahal kalau mau, dengan penampilannya yang selalu rapi dan cool seperti itu, tidak sulit buatnya menarik perhatian lawan jenis.

”Hen, kalau kamu merasa uring-uringan seperti itu, sebenarnya bukan Ridwan yang bermasalah. Persoalannya hanya satu, kamu kehilangan rasa syukur…” Ibu berkata tenang.

Aku memandang Ibu. Perkataan Ibu benar-benar menohokku. Ya, Ibu benar. Aku kehilangan rasa syukur. Bukankah baru dua minggu yang lalu aku membujuk Ranti, salah seorang sahabatku yang stres karena suaminya berselingkuh dengan wanita lain dan sangat kasar kepadanya? Bukankah aku yang mengajaknya ke dokter untuk mengobati memar yang ada di beberapa bagian tubuhnya karena dipukuli suaminya?

Pelan-pelan, rasa bersalah timbul dalam hatiku. Kalau memang aku ingin menghabiskan waktu dengannya hari ini, mengapa aku tidak mengatakannya jauh-jauh hari agar ia dapat mengatur jadualnya? Bukankah aku bisa mengingatkannya dengan manis bahwa aku ingin pergi dengannya berdua saja hari ini. Mengapa aku tidak mencoba mengatakan kepadanya, bahwa aku ingin ia bersikap lebih romantis? Bahwa aku merasa tersisih karena kesibukannya? Bahwa aku sebenarnya takut tidak lagi dicintai?

Aku segera pamit kepada Ibu. Aku bergegas pulang untuk membereskan rumah dan menyiapkan makan malam yang romantis di rumah. Aku tidak memberitahunya. Aku ingin membuat kejutan untuknya.

Makan malam sudah siap. Aku menyiapkan masakan kegemaran Aa’ lengkap dengan rangkaian mawar merah di meja makan. Jam tujuh malam, Aa’ belum pulang. Aku menunggu dengan sabar. Jam sembilan malam, aku hanya menerima smsnya. Maaf aku terlambat pulang. Tugasku belum selesai. Makanan di meja sudah dingin. Mataku sudah berat, tetapi aku tetap menunggunya di ruang tamu.

Aku terbangun dengan kaget. Ya Allah, aku tertidur. Kulirik jam dinding, jam 11 malam. Aku bangkit. Seikat mawar merah tergeletak di meja. Di sebelahnya, tergeletak kartu ucapan dan kotak perhiasan mungil. Aa’ tertidur pulas di karpet. Ia belum membuka dasi dan kaos kakinya.

Kuambil kartu ucapan itu dan kubuka. Sebait puisi membuatku tersenyum.


Aku ingin mencintaimu dengan sederhana

Lewat kata yang tak sempat disampaikan

Awan kepada air yang menjadikannya tiada

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana

Dengan kata yang tak sempat diucapkan

Kayu kepada api yang menjadikannya abu


disadur dari otak cowok tampan,,,, hehehehehehe,,,, :-)
Cuma cerita sederhana kok,,, tapi tolong kasih komentar y kawan…. Galang…


jumper wire class

Dan jika berkata, berkatalah kepada aku tentang kebenaran persahabatan?
Sahabat adalah kebutuhan jiwa, yang mesti terpenuhi.
Dialah ladang hati, yang kau taburi dengan kasih dan kau panen dengan penuh rasa terima kasih.

Dan dia pulalah naungan dan pendianganmu.
Karena kau menghampirinya saat hati lapa dan mencarinya saat jiwa butuh kedamaian.Bila dia bicara, mengungkapkan pikirannya, kau tiada takut membisikkan kata “tidak” di kalbumu sendiri, pun tiada kau menyembunyikan kata “ya”.

Dan bilamana ia diam, hatimu tiada ‘kan henti mencoba merangkum bahasa hatinya; karena tanpa ungkapan kata, dalam rangkuman persahabatan, segala pikiran, hasrat, dan keinginan terlahirkan bersama dengan sukacita yang utuh, pun tiada terkirakan.

Di kala berpisah dengan sahabat, janganlah berduka cita; Karena yang paling kaukasihi dalam dirinya, mungkin lebih cemerlang dalam ketiadaannya, bagai sebuah gunung bagi seorang pendaki, nampak lebih agung daripada tanah ngarai dataran.

Dan tiada maksud lain dari persahabatan kecuali saling memperkaya ruh kejiwaan. Karena kasih yang masih menyisakan pamrih, di luar jangkauan misterinya, bukanlah kasih, tetapi sebuah jala yang ditebarkan: hanya menangkap yang tiada diharapkan.

Dan persembahkanlah yang terindah bagi sahabatmu.
Jika dia harus tahu musim surutmu, biarlah dia mengenal pula musim pasangmu.
Gerangan apa sahabat itu hingga kau senantiasa mencarinya,
untuk sekadar bersama dalam membunuh waktu?

Carilah ia untuk bersama menghidupkan sang waktu!
Karena dialah yang bisa mengisi kekuranganmu, bukan mengisi kekosonganmu.
Dan dalam manisnya persahabatan, biarkanlah ada tawa ria berbagi kebahagiaan.
Karena dalam titik-titik kecil embun pagi, hati manusia menemukan fajar jati dan gairah segar kehidupan.

apakah aku harus berhenti??


Aku harus terus menulis
Karena menulis adalah mimpiku
Tapi……
Jika tulisanku adalah tangis?
Haruskah aku terus menulis

Aku harus terus mencinta
Karena cinta adalah ruh dan ujudku
Tapi…..
Jika cinta adalah perih?
Haruskah aku terus mencinta

muztika
Jika kau baca syair-syairku
Maka kau akan temukan aliran air mata tiada henti
Maka kau akan temukan kepiluan dan kesepaian tak bertepi
Semua karenamu
Semua karena kumencamu

Entahlah…..
Yang kuyakini perempuan adalah pasangan hidupku

Yang kan mengisi semua celah sepi hidupku

meki perih tapi ni semua nyata

dan ada dalam hidupku

aku tak bisa berhenti_

Saturday, November 1, 2008

tentang cinta



Apabila cinta memberi isyarat kepadamu, ikutilah dia,
Walau jalannya sukar dan curam.
Dan pabila sayapnva memelukmu menyerahlah kepadanya.
Walau pedang tersembunyi di antara ujung-ujung sayapnya bisa melukaimu.
Dan kalau dia bicara padamu percayalah padanya.
Walau suaranya bisa membuyarkan mimpi-mimpimu bagai angin utara mengobrak-abrik taman.
Karena sebagaimana cinta memahkotai engkau, demikian pula dia 
kan menyalibmu. 

Sebagaimana dia ada untuk pertumbuhanmu, demikian pula dia ada untuk pemanakasanmu.

Sebagaimana dia mendaki kepuncakmu dan membelai mesra ranting-rantingmu nan paling lembut yang bergetar dalam cahaya matahari.
Demikian pula dia akan menghunjam ke akarmu dan mengguncang-guncangnya di dalam cengkeraman mereka kepada kami.
Laksana ikatan-ikatan dia menghimpun engkau pada dirinya sendiri.

Dia menebah engkau hingga engkau telanjang.
Dia mengetam engkau demi membebaskan engkau dari kulit arimu.
Dia menggosok-gosokkan engkau sampai putih bersih.
Dia merembas engkau hingga kau menjadi liar;
Dan kemudian dia mengangkat engkau 


Semua ini akan ditunaikan padamu oleh Sang Cinta, supaya bisa kaupahami rahasia hatimu, dan di dalam pemahaman dia menjadi sekeping hati Kehidupan.

Namun pabila dalam ketakutanmu kau hanya akan mencari kedamaian dan kenikmatan cinta.Maka lebih baiklah bagimu kalau kaututupi ketelanjanganmu dan menyingkir dari lantai-penebah cinta.

Memasuki dunia tanpa musim tempat kaudapat tertawa, tapi tak seluruh gelak tawamu, dan menangis, tapi tak sehabis semua airmatamu.

Cinta tak memberikan apa-apa kecuali dirinya sendiri dan tiada mengambil apa pun kecuali dari dirinya sendiri.
Cinta tiada memiliki, pun tiada ingin dimiliki; Karena cinta telah cukup bagi cinta.

Pabila kau mencintai kau takkan berkata, “dia ada di dalam hatiku,” tapi sebaliknya, “Aku berada di dalam hati nya”.

Dan jangan mengira kaudapat mengarahkan jalannya Cinta, sebab cinta, pabila dia menilaimu memang pantas, mengarahkan jalanmu.

Cinta tak menginginkan yang lain kecuali memenuhi dirinya. Namun pabila kau mencintai dan terpaksa memiliki berbagai keinginan, biarlah ini menjadi aneka keinginanmu: Meluluhkan diri dan mengalir bagaikan kali, yang menyanyikan melodinya bagai sang malam. 

Mengenali penderitaan dari kelembutan yang begitu jauh.
Merasa dilukai akibat pemahamanmu sendiri tentang cinta;
Dan meneteskan darah dengan ikhlas dan gembira.
Terjaga di kala fajar dengan hati seringan awan dan mensyukuri hari haru penuh cahaya kasih;

Istirah di kala siang dan merenungkan kegembiraan cinta yang meluap-luap;Kembali ke rumah di kala senja dengan rasa syukur;

Dan lalu tertidur dengan doa bagi kekasih di dalam hatimu dan sebuah gita puji pada bibirmu.

dan tentang cintaku adalah kamu yang meninggalkanku sesaat setelah umurku genap 18 tahun..

PERSAHABATAN



  Dan jika berkata, berkatalah kepada aku tentang kebenaran persahabatan?..Sahabat adalah kebutuhan jiwa, yang mesti terpenuhi.
Dialah ladang hati, yang kau taburi dengan kasih dan kau panen dengan penuh rasa terima kasih. 


Dan dia pulalah naungan dan pendianganmu.
Karena kau menghampirinya saat hati lapa dan mencarinya saat jiwa butuh kedamaian.Bila dia bicara, mengungkapkan pikirannya, kau tiada takut membisikkan kata “tidak” di kalbumu sendiri, pun tiada kau menyembunyikan kata “ya”.


Dan bilamana ia diam, hatimu tiada ‘kan henti mencoba merangkum bahasa hatinya; karena tanpa ungkapan kata, dalam rangkuman persahabatan, segala pikiran, hasrat, dan keinginan terlahirkan bersama dengan sukacita yang utuh, pun tiada terkirakan.

Di kala berpisah dengan sahabat, janganlah berduka cita; Karena yang paling kaukasihi dalam dirinya, mungkin lebih cemerlang dalam ketiadaannya, bagai sebuah gunung bagi seorang pendaki, nampak lebih agung daripada tanah ngarai dataran.


Dan tiada maksud lain dari persahabatan kecuali saling memperkaya ruh kejiwaan. Karena kasih yang masih menyisakan pamrih, di luar jangkauan misterinya, bukanlah kasih, tetapi sebuah jala yang ditebarkan: hanya menangkap yang tiada diharapkan. 

Dan persembahkanlah yang terindah bagi sahabatmu.
Jika dia harus tahu musim surutmu, biarlah dia mengenal pula musim pasangmu.
Gerangan apa sahabat itu hingga kau senantiasa mencarinya, untuk sekadar bersama dalam membunuh waktu?
Carilah ia untuk bersama menghidupkan sang waktu!
Karena dialah yang bisa mengisi kekuranganmu, bukan mengisi kekosonganmu.
Dan dalam manisnya persahabatan, biarkanlah ada tawa ria berbagi kebahagiaan.
Karena dalam titik-titik kecil embun pagi, hati manusia menemukan fajar jati dan gairah segar kehidupan.  



inikah WAKTU

Dan jika engkau bertanya, bagaimanakah tentang Waktu?….
Kau ingin mengukur waktu yang tanpa ukuran dan tak terukur.

Engkau akan menyesuaikan tingkah lakumu dan bahkan mengarahkan perjalanan jiwamu menurut jam dan musim.
Suatu ketika kau ingin membuat sebatang sungai, diatas bantarannya kau akan duduk dan menyaksikan alirannya.

Namun keabadian di dalam dirimu adalah kesadaran akan kehidupan nan abadi,
Dan mengetahui bahwa kemarin hanyalah kenangan hari ini dan esok hari adalah harapan.


Dan bahwa yang bernyanyi dan merenung dari dalam jiwa, senantiasa menghuni ruang semesta yang menaburkan bintang di angkasa.


Setiap di antara kalian yang tidak merasa bahwa daya mencintainya tiada batasnya?
Dan siapa pula yang tidak merasa bahwa cinta sejati, walau tiada batas, tercakup di dalam inti dirinya, dan tiada bergerak dari pikiran cinta ke pikiran cinta, pun bukan dari tindakan kasih ke tindakan kasih yang lain?

Dan bukanlah sang waktu sebagaimana cinta, tiada terbagi dan tiada kenal ruang?Tapi jika di dalam pikiranmu haru mengukur waktu ke dalam musim, biarkanlah tiap musim merangkum semua musim yang lain,Dan biarkanlah hari ini memeluk masa silam dengan kenangan dan masa depan dengan kerinduan.
  
 




Kenapa aku bertanya???

kenapa kita menutup mata ketika kita tidur?
ketika kita menangis?
ketika kita membayangkan?
itu karena hal terindah di dunia tdk terlihat

ketika kita menemukan seseorang yang
keunikannya sejalan dengan kita, kita bergabung
dengannya dan jatuh ke dalam suatu keanehan
serupa yang dinamakan cinta.

Ada hal2 yang tidak ingin kita lepaskan,
seseorang yang tidak ingin kita tinggalkan,
tapi melepaskan bukan akhir dari dunia,
melainkan suatu awal kehidupan baru,
kebahagiaan ada untuk mereka yang tersakiti,
mereka yang telah dan tengah mencari dan
mereka yang telah mencoba.
karena merekalah yang bisa menghargai betapa
pentingnya orang yang telah menyentuh kehidupan
mereka.

Cinta yang sebenarnya adalah ketika kamu
menitikan air mata dan masih peduli terhadapnya,
adalah ketika dia tidak memperdulikanmu dan
kamu masih menunggunya dengan setia.

Adalah ketika di mulai mencintai orang lain dan
kamu masih bisa tersenyum dan berkata
” aku turut berbahagia untukmu ”

Apabila cinta tidak bertemu bebaskan dirimu,
biarkan hatimu kembalike alam bebas lagi.
kau mungkin menyadari, bahwa kamu menemukan
cinta dan kehilangannya, tapi ketika cinta itu mati
kamu tidak perlu mati bersama cinta itu.

Orang yang bahagia bukanlah mereka yang selalu
mendapatkan keinginannya, melainkan mereka
yang tetap bangkit ketika mereka jatuh, entah
bagaimana dalam perjalanan kehidupan.
kamu belajar lebih banyak tentang dirimu sendiri
dan menyadari bahwa penyesalan tidak
seharusnya ada, cintamu akan tetap di hatinya
sebagai penghargaan abadi atas pilihan2 hidup
yang telah kau buat.

Teman sejati, mengerti ketika kamu berkata ” aku
lupa ….”
menunggu selamanya ketika kamu berkata ”
tunggu sebentar ”
tetap tinggal ketika kamu berkata ” tinggalkan aku
sendiri ”
mebuka pintu meski kamu belum mengetuk dan
belum berkata ” bolehkah saya masuk ? ”
mencintai juga bukanlah bagaimana kamu
melupakan dia bila ia berbuat kesalahan,
melainkan bagaimana kamu memaafkan.

Bukanlah bagaimana kamu mendengarkan,
melainkan bagaimana kamu mengerti.
bukanlah apa yang kamu lihat, melainkan apa
yang kamu rasa,
bukanlah bagaimana kamu melepaskan melainkan
bagaimana kamu bertahan.

Mungkin akan tiba saatnya di mana kamu harus
berhenti mencintai seseorang, bukan karena orang
itu berhenti mencintai kita melainkan karena kita
menyadari bahwa orang iu akan lebih berbahagia
apabila kita melepaskannya.

kadangkala, orang yang paling mencintaimu adalah
orang yang tak pernah menyatakan cinta
kepadamu, karena takut kau berpaling dan
memberi jarak, dan bila suatu saat pergi, kau akan
menyadari bahwa dia adalah cinta yang tak kau
sadari

Manusia dan Realitas hidup

MANUSIA adalah laksana buih di lautan, mengapung diatas permukaan air. ketika angin berhembus, iapun sirna, seolah tidak pernah ada. demikianlah hidup kita, hilang tertiup kematian,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,

REALITAS HIDUP adalah kehidupan itu sendiri, bukan bermula dari rahim dan bukan pula di liang kubur ia berakhir. karena tahun - tahun yang berlalu adalah hampa dan lewat sekejap saja di dalam kehidupan yang kekal. dunia materi beserta isinya tidak lain hanyalah bunga tidur, sama dengan keterjagaan yang kita anggap sebagai teror kematian.

Butiran anasirnya membawa setiap suara gelak tawa dan tangis nestapa yang hadir dari hati kita. mengabadikan gaungnya yang dibalas oleh setiap kecupan yang bersumber pada kebahagiaan.