Selembar Kertas Buram dan Sebuah Pena Hitam ~ pratamagta

Thursday, December 18, 2014

Selembar Kertas Buram dan Sebuah Pena Hitam

Sebuah senja mengantar langkah sepasang kaki lelah.
Berjalan melangkah meniti rerumputan berduri.
Beberapa rintik air sisa sisa derasnya hujan mengiringi ratapan.
Selembar kertas tergenggam erat dalam cengkraman penat.

Selamat sore Alana.
Ketika aku mulai duduk dan mengingatmu kembali, seketika itu penaku tak mau berhenti bergerak.

Alana, selembar kertas ini tak tahu kenapa aku tulis.
Alana, selembar kertas ini tlah ternoda oleh sebuah pena penuh rasa.
Alana, selembar kertas ini adalah deretan apa yg aku rasa.

Sesekali aku manatap ke awan dan beberapa titik air memansaku tuk terpejam. Alana, segelap inikah jalan yg harus ku tempuh?

Terhenti langkah manatap pasrah.
Kaleng, kertas dan sisa sisa bungkus makanan ringan menyapa pandanganku yg kian terpaku.
Alana, kutitipkan selembar kertas ini bersama mereka. Seluruh sampah ini menjadi saksi selembar kertas penuh noda yg ku sebut perasaan.

Selamat tinggal Alana. Seperti katamu, tlah kutempatkan perasaanku di tempat yg semestinya hingga kertas buramku tlah terganti kertas putih bersih yg layak tuk ku tempatkan di hatimu.

Alana aku mencintaimu.