Rame rame galang dana buat di kirim ke Banjarnegara. Yakin di lingkungan sekitar kamu tinggal gak ada yg hidup kekurangan?
Sibuk ngumpulin pakaian bekas yg layak pakai buat dikirim ke Banjarnegara. Yakin disekitar lingkungan kamu tinggal sudah berpakaian layak semua?
Triak teiak di perempatan "MEREKA SAUDARA KITA, MEREKA TERKENA MUSIBAH, MEREKA KELAPARAN DAN KEDINGINAN, MARI KITA BERSAMA SAMA MENOLONG SAUDARA KITA DI BANJARNEGARA". yakin disekitar kamu berdiri g ada yg kelaparan?
Aku cuma bertanya "mba, ada berapa orang yg membutuhkan bantuan dan tinggal di sekitar rumah atau kos kamu ?" Kalau ini gerakan menolong sesama, kenapa pas ada bencana baru bergerak? Jadi cuma korban bencana saja yg bisa diaebut 'sesama' ?
Banjarnegara di perhatikan seluruh indonesia. Dari berbagai penjuru negri memperhatikan dan berlomba lomba memberi bantuan. Sedangkan beberapa orang disekitar kita sebenarnya sangat membutuhkan bantuan kita juga tapi kenapa kita tak mengumpulkan dana atau memberikan dana pribadi kita pada mereka? Apa karna mereka tak masuk Televisi? Apa kalo menolong mereka jadi tak sekeren menolong korban Bencana alam.
Teman teman maaf kalo saya lancang. Saya turut berduka cita atas bencana yg dialami saudara kita di Banjarnegara.
Kemarin saya mengalami kejadian yg sempat membuat saya kesal. Semua itu bermula ketika saya dalam perjalanan pulang ke kos. Ketika saya sedang terjebak lampu merah, saya mendapati seorang ibu ibu menangis di trotoar pinggir jalan. Melihat kejadian itu saya langsung mencoba menepi dan menghampiri ibu itu sembari pura pura beli kopi karna saya lihat ibu itu berjualan kopi dan beberapa minuman hangat.
Singkat cerita akhirnya saya tahu kalau ibu itu hidup dengan berjualan kopi, Sendari pagi perutnya belum kemasukan nasi, itu yg membuatnya menangis. Aku berniat memberinya uang namun ternyata aku hanya bisa menemukan beberapa lembar ribuan di dompetku.
Dalam bisingnya suara motor samar samar aku dengar suara perempuan yg mengelu elukan berbagi untuk sesama. Aku sangat lega. Aku berlari menuju tengah perempatan dan bertemu dengan mahasiswi yg sedang memegang kardus bertuliskan "PEDULI BANJARNEGARA" terdapat uang sumbangan dari para pengendara yg lewat disitu.
Setelah berkenalan akhirnya aku mengetahui bahwa ia bernama Aprilia, salah satu mahasiswi prguruan tinggi disini yg sedang mencari sumbangan untuk membantu korban bencana di banjarnegara.
Aku utarakan maksudku menghampiri dia dan aku ceritakan maksudku. jawaban ringan yg sempat membuatku naik darah "Ini untuk Sodara kita di banjarnegara mas bukan untuk jogja" dan ini cuplikan dialog saya dengan mahasiswa tersebut.
Mahasiswi (A) ; Ini untuk Sodara kita di banjarnegara mas bukan untuk jogja
Saya (G) ; tapi saya dengar tadi mba bilang kalo ini gerakan membantu sesama? Sesama itu sesama yg gimana mba? Apa mbanya buta? Apa mbanya gak tau malu? Meminta dan mengumpulkan dana untuk diberikan ke korban korban bencana alam sedangkan di hadapan mba sendiri ada yg menangis kelaparan?
(A) ; (memanggil beberapa teman temannya)
Saya di ajak bicara di pinggir jalan oleh beberapa teman dari si A. Mereka menjelaskan panjang lebar tentang gerakan mereka membantu banjarnegara dan mereka menuduh saya menghambat mereka dan saya tidak punya rasa tenggangrasa terhadap korban bencana di banjarnegara.
Saya mencari kertas dan bolpoin dari dalam tas dan saya catat lengkap nama,nomor tlp, tempat tinggal dan di bawahnya saya tulis alamat blog ini lalu saya berikan pada Aprillia.
Sebelum pergi saya berjalan ke tengah perempatan dan berteriak tentang arti dari menolong sesama. Saya tak peduli para pengendara itu mendengar atau tidak yg penting saya disini menjelaskan bahwa ketika kita bebondong bondong memberi bantuan pada korban bencana alam seketika itulah ada seorang ibu yg sedang kelaparan dan membutuhkan bantuan dan beliau di depan mata kita. Aku juga jelaskan kalau beliau ini bukan pengemis tapi memiliki profesi. Ibu ini pedagang bukan pengemis. Apa karna ibu ini bukan korban dari bencana alam lantas beliau tak pantas mendapat sumbangan.
Setelah melampiaskan semuanya saya kembali menghampiri ibu tadi dan memohon pamit. Sesampainya di kos saya langsung ambil uang dan pergi membeli 2 bungkus nasi untuk diantar ke ibu tadi.
Mahasiswa tadi sudah tak nampak di sana lagi. Ibu itu masih duduk menjaga barang dagangannya. Aku mengajaknya makan bersama. Sembari bercerita kesana kemari dan tak terasa waktu semakin berlalu. Aku pamit pergi.
Mba Aprillia jika anda baca tulisan ini tolong pergi ke perpustakaan di kampus anda dan pelajari arti kata sesama. Perlu anda ketahui ibu itu sampai bilang kalau boleh dia memohon pada sang pencipta, dia ingin jadi korban bencana juga agar diperhatikan. Apa perlu menunggu menjadi korban bencana alam untuk mendapat sumbangan dari mba Aprillia dan teman Teman?
Kejadian ini di perempatan jetis jalan monjali. Dimalam itu bliau ada di sebelah selatan perempatan dan kadang berpindah pindah sesuai keadaan. Jika anda menemui ibu ibu yg berjualan minuman dengan tempat seadanya. Itulah beliau. Belilah, minumlah walau anda tak merasa haus sama sekali.