Selamat sore bro, kali ini ane gak munculin ide ato cerita baru bro karna ini cerita lama yang udah sering ane upload dan beberapa tahun yang lalu pernah nyampah dimana mana. Dalam kesempatan ini ane hanya merevisi sedikit saja cerpen yang pernah ane upload pada tanggal 9 november 2008 dan tanggal 17 january 2009 yang lalu. Cerpen ini udah nyampah dimana mana tapi sore ini ane gak tau kenapa jadi pengen ngrevisi ni cerpen lagi. Ini berdasarkan kejadian nyata masa masa SMK bro waktu ane belum jadi cowok dari cewek tokoh utama di cerpen ini bro dan sekarang dia udah bahagia, dia sudah berkeluarga dan memiliki satu anak yang lucu. Bukan bukan bukan, bukan dengan ane bro tapi dengan temen kuliah ane di STT Telematika Telkom Purwokerto. Gpp bro namanya juga hidup. Meski sampe sekarang ane belum nengokin dia lagi tapi dalam hati ane berdoa semoga kalo udah besar nanti anaknya itu gak berteman dengan anak ane . AAMIIN..Selamat membaca n thanks ya bro dan mampir ke sini
……………………………………..
Langkah kakiku kian berat
menjejak, dan kusadari betapa letihnya aku. Seharian mengurusi majalah sekolah,
betul-betul memeras seluruh energiku. Rasanya sekarang aku hanya ingin cepat
sampai di kos, melempar diri ke atas ranjang, lalu tidur terlelap sampai besok
pagi. Masih ada tiga hari penuh keringat
dan air mata yang menanti, namun sekujur badanku sudah mulai menjerit-jerit
kelelahan. Dan bagaimana bisa si ketua OSIS ceroboh menyebalkan itu masih
tega menyerahkan segala tanggung jawab mengurusi penerbitan majalah sekolah
nanti kepadaku? Andai saja si bodoh itu punya sedikit saja tempat lebih di otak
lemahnya untuk bisa peduli pada penderitaan bawahan tertindas. Fiuh. Apalah.
Yang penting hari ini sudah selesai, dan aku akhirnya bisa pulang. Biarlah
masalah itu kupikirkan lagi besok.
Dengan gontai kuseberangi lantai 1
gedung sekolah ku dengan tas ransel favoritku menggantung berat di pundak
kanan, mencoba mengusir denyut-denyut mengganggu yang mulai menyerang kepalaku.
Keremangan suasana yang familier menyapa penglihatanku. Sudah sore juga
rupanya. Selama rapat evaluasi sekaligus beres-beres tadi aku tidak begitu
memperhatikan waktu. Kulihat bayangan wajahku membias di salah satu kaca kelas.
ya ampun, aku terlihat berantakan. Rambutku awut-awutan, mukaku pucat, dan ada
bulatan hitam menggantung semu di bawah dua mataku. Aduh. Sudah pusing, capek,
jelek, lapar pula. Kusadari aku belum makan apa-apa sejak pagi. Sial. Lebih
baik aku bergegas pulang sebelum maag-ku kambuh.
Melewati ruang osis yang berdiri
tegak tepat di samping ruang UKS, sempat kupejamkan mata ketika semilir angin
sore lembut menerpa wajahku. Aku selalu suka hembusan angin yang sesekali lewat
di daerah itu, entah mengapa. Dan saat kembali kubuka mata, menatap jauh ke
belakang, aku terhenti.
Dia. Terduduk diam sendirian di
tengah tangga yang menuju ke lantai 3 (Terlihat dari depan ruang osis).
Berpangku tangan, masih dengan seragam sekolahnya, ditemani ransel hitam tua di
sisi kirinya.
Tatapanku terkunci pada wajahnya yang
menawan, sementara aku melangkah kearahnya dan kembali menaiki tangga menuju ke
lantai 2 bagai tertarik kuat oleh medan magnet tak terlihat. After all this
time, aku masih tak bisa menolak pesonanya, yang membuatku tak berdaya.
Kesederhanaannya. Begitu tulus, begitu bersahaja.
Aneh. Kenapa dia belum juga pulang?
Dan lidah ini terasa begitu kelu, saat dengan suara bergetar kucoba untuk menyapanya.
“H-hey…”
Hupp. Ia mendongak. Mataku menemui rautnya yang menawan. Rambut pendek acak-acakan. Alis tebal yang menaungi sepasang mata cokelat tetutup kaca mata putih. Hidung mancung. Bibir bersemu merah muda, merekah sempurna. Dan kulit yang cokelat, terbakar matahari. Sebuah senyum manis kontan melengkapi segala keindahan itu saat ia mengenaliku.
Hupp. Ia mendongak. Mataku menemui rautnya yang menawan. Rambut pendek acak-acakan. Alis tebal yang menaungi sepasang mata cokelat tetutup kaca mata putih. Hidung mancung. Bibir bersemu merah muda, merekah sempurna. Dan kulit yang cokelat, terbakar matahari. Sebuah senyum manis kontan melengkapi segala keindahan itu saat ia mengenaliku.
“Hey, kak” ia balas menyapa, ragu.
“Belum pulang?” tanyaku, mencoba terlihat kalem. Meski dalam hati aku setengah mati ingin langsung menerjang dan memeluknya erat-erat.
Ia tertawa kecil sembari menggaruk-garuk belakang kepalanya, salah tingkah. “Aku… eh, lupa bawa kunci kos,kak” ucapnya, menghindari tatapan mataku.
Aku ikut tertawa. Kuambil posisi duduk di sebelah
kanannya. Aku ?”
Dahinya berkerut. “Ha?”
“Iya.aku.” Kuangkat alisku, menggodanya. “Well, don’t you mean ‘aku’?”
Ia mendengus, mengangkat bahu. “kakak yang bilang kita harus jaga jarak di sini,” ucapnya sambil merengut. Duh, lucunya.
“Iya, tapi kan kalo lagi ada orang aja,” jawabku ringan. “Sekarang kan kita sendirian, nggak apa-apa. Lagian nggak enak, kaku-kakuan sama aku. Pake manggil ‘kakak’ segala lagi. Aneh banget rasanya.”
Kembali ia tergelak seraya mengangguk, walau kubaca masih ada sedikit ragu bercampur cemas membekas di wajahnya.
Diam. Kuarahkan pandang ke depan, menyapu area gedung lab kompuer yang hampir kosong dihadapanku. Hanya ada beberapa mobil yang kukenali sebagai kendaraan dinas sekolah masih terparkir di samping aula yang terletak tak jauh pun terlihat sepi, tak seperti biasa; Suasana sekolah yang biasanya sibuk terasa amat sunyi di sore hari. Aneh. Tetapi damai.
“Kata teman-temanku, kakak hari ini galak.”
Spontan aku menoleh, menatapnya yang sedang tersenyum nakal dengan pandangan lurus ke depan. Kukerutkan dahi. “Galak? Galak apanya?”
Ia mengangkat bahu. “Nggak tau. Anak – anak Exist cuma bilang, hari ini kamu lain. Murung terus, jarang senyum, jarang ngomong. Kalau ditanya juga jawabnya sinis. Padahal kemarin kan kakak ramah banget sama semuanya.”
Bayangan wajah si ketua OSIS sialan langsung berkelebat di pikiranku, dan aku pun tersenyum. “Oh, mungkin karena aku lagi sebel sama seseorang kali ya,” ucapku.
“Ha?” Ia tampak kaget. “Sama siapa kak? Bu-bukan sama aku, kan kak?”
“Bukan, bukan sama kamu kok,” Kuhela napas panjang. “Ada yang ngasih aku kerjaan tambahan pagi ini, dan aku bingung aja bagaimana cara ngerjainnya.”
“Oh.” Dianggukkannya kepala, lega. “Padahal menurut aku, kakak lebih lucu kalau lagi senyum.”
Kudorong bahunya. “Gombal.”
“I’m only being honest here, sweetheart.”
“Whatever. Tetap saja terdengar gombal.”
“Ih.” Rautnya berubah cemberut. “Dibaik-baikin malah ngeledek. Ya udah. Terserah kakak.”
Aku mendelik ke arahnya.
“Siapa yang ngeledek, kakak ?!!”
“Itu, barusan…” Dipasangnya tampang merajuk. “Ternyata bener. Hari ini kakak galak.”
Kembali diam. Beberapa orang berbaju bebas tak
dikenal berjalan melewatiku naik ke lantai 3. Tentu saja mereka terrhambat
sejenak, dicegat sekaligus ditanya-tanya ketus oleh si satpam menyebalkan yang
senantiasa menjaga sekolah ini
Sebuah tawa kecil tak tertahan menyelip keluar dari bibirku. Membuatnya menoleh. “What’s so funny?”
“Tuh, si satpam kepo beraksi lagi,” bisikku.
Ia menoleh ke belakang, melihat orang-orang berbaju bebas tadi sedang adu mulut dengan si satpam. “Whoa. Apa setiap orang yang mau masuk ke dalam gedung sekolah harus melewati tahap itu?” Digelengkannya kepala. “Hari ini udah empat kali aku lihat ada orang nggak dikasih masuk sama dia. Benar-benar sekolah yang aneh.”
“Exactly. Welcome to my world,” Kembali kuhembuskan napas panjang. “I hate to break this to you, honey, tapi kayaknya kamu memilih sekolah yang salah.”
“Mungkin.” Ia mengorek tasnya, mengeluarkan sesuatu yang ternyata adalah sebatang cokelat. Diberikannya cokelat itu padaku yang hanya menatapnya tak mengerti.
“Nih makan, kakak pasti lapar,” ujarnya.
Kuterima cokelat itu dengan bingung. “Kamu… Kok tahu aku lapar?”
Ia tersenyum. “Aku tahu kakak sibuk banget hari ini. Karena sibuk, pasti kakak belum sempat benar-benar makan. Aku kan nyoba kenal kakak.”
Kutatap wajahnya. Ada kelembutan di sana, yang kian menggetarkanku, meluluhkanku.
“Thanks…” desahku akhirnya, terharu.
“Anytime. Janji ya, besok walaupun sibuk kakak tetap harus ingat makan.”
“Uhm… Iya, janji.”
Sembari sibuk mengunyah cokelat, sembunyi-sembunyi kucuri pandang ke arahnya, yang masih terduduk manis di sisi kiriku. childish sekaligus matang. Seakan jejak-jejak kekanakan masih enggan meninggalkannya, walaupun kini ia sudah bisa dibilang beranjak dewasa. Angin sore yang masih bersemilir sesekali mengacak-acak rambutnya, mengibarkan ujung kerahnya. Sebuah pemandangan indah yang menggetarkan.
Ah. Jika memang benar ada sesuatu yang bisa dibilang sempurna di seluruh semesta, bolehkah aku menyatakan bahwa dialah kesempurnaan itu? Karena segala hal yang dimilikinya terlihat begitu tak bercela di hadapanku. Manis. Lugu. Irresistible. Charming. Dan bercahaya. Bersinar terang bagai sejuta bintang di langit malam. Mendamaikan hati bak derasnya rinai hujan.
Aku masih ingat sapaan pertamanya di lorong sekolah,tepatnya di lantai 2 di depan T 2.4. dia datang bersama hanif temannya untuk menemuiku karna dia baru saja tergabung dalam organisasi yang aku pimpin. Sapaan yang dipenuhi suara yang bergetar dan sejuta senyum canggung. Pandangan kami bertemu, dan sejak saat itulah kurasakan reaksi kimia yang berhasil memercikkan bara cinta antara aku dan dia. Nyala api yang tak padam oleh waktu, namun malah mematangkan esensi. Bukankah itu yang semua orang cari?
Sekarang, saat deru jalannya masa telah lewat
berlari cepat, meninggalkan jejak kabur bernama memori, kisah cinta itu masih
saja indah bersemi. Hampir tiga putarran musim cerita ini kutulis
bersama-samanya. Dan apakah aku bahagia? Ya. Tentu saja.
Seperti saat ini, ketika kuhabiskan soreku duduk berdua dengannya di tangga sekolah, menikmati sepoi angin dan lembutnya cahaya matahari yang menerangi.
Tiba-tiba, dalam keheningan yang terjaga baik selama beberapa menit tadi, digenggamnya tanganku.
“Aku senang hari ini,” ucapnya lirih, tulus. “Makasih, ya kak.”
“Ha?” Kutolehkan kepalaku, bingung. “Senang? Senang kenapa?”
“Karena kakak,” jawabnya.
Aku semakin tak mengerti. “Kenapa karena aku? Aku nggak ngapa-ngapain hari ini. Malah tadi kamu bilang aku hostile. Galak. Whatever. Kenapa karena aku?”
Ia menghela napas. Kembali dirogohnya ransel birunya, mengeluarkan buku catatan harian wajib yang setiap rapat Exist harus diisinya.. Dibolak-baliknya halaman demi halaman buku catatan harian bersampul hijau tersebut, menemukan sesuatu, lalu diberikannya buku itu kepadaku, masih dalam keadaan terbuka.
“Karena ini,kak” ujarnya lagi, kembali tersenyum, menyuruhku membaca.
Kuterima buku itu. Kulihat halaman yang membuka. Dan aku tersadar.
Tadi siang, di rapat yang membosankan, aku sempat iseng membuka-buka catatan harian para anggota Exist yang aku pimpin. Dan dalam catatan miliknya, di salah satu halaman tengah yang masih kosong, kutulisi beberapa baris penggalan lirik sebuah lagu kenangan berdua. Selalu Denganmu, dari Tompi. Lengkap dengan sebuah smiley imut di pojok kanan, dan deretan huruf ‘ILU’ yang kuukir manis tepat di sebelahnya. Tanpa sadar, aku tersenyum. Aku bahkan lupa kalau aku menulis ini tadi siang; mungkin aku terlalu bosan sekaligus fed up dengan si ketua OSIS terkutuk untuk dapat memfokuskan pikiran.
Kuangkat wajahku, menemui parasnya yang sedang sumringah. Kuangkat alisku, sembari menghela napas panjang, saat sepasang sorot cokelat itu mengunci mataku dalam sebuah tatapan manis, penuh arti.
Aku mencintainya.
Aku sungguh mencintainya.
Aku mencintainya seperti sang rembulan mencintai malam. Seperti matahari mencintai teriknya siang. Aku mencintainya selembut daun-daun kemerahan yang jatuh menumpuk di musim gugur. Sedamai suara debur ombak yang menyapa pasir di garis pantai. Seteguh pohon beringin yang tak bergeming tertiup angin. Seindah titik-titik hujan malam yang turun membasahi tanah.
Dan saat ia berdiri, meraih ransel, lalu berbalik menatapku, waktu seakan tersangkut dan berhenti.
“Kamu… Mau kemana?” tanyaku tergagap, tidak siap dengan gesturnya barusan.
Perlahan, diangkatnya bahu. “Where else? Aku mau pulang,kak” ucapnya. “Udah sore, aku mau istirahat.”
“Tapi, tadi katanya kamu lupa bawa kunci…”
Ia tergelak, mukanya memerah. “Aku… Aku tadi bohong ma kakak,” desahnya. “Aku cuma mau nungguin kakak pulang, biar bisa ngobrol sama kakak, sebentar, di sini.”
“Ha?” Aku seperti kehilangan kata-kata mendengar kalimatnya. Hatiku diterpa gelombang ketrenyuhan yang amat sangat; aku hanya bisa memandangnya, lembut bercampur haru, sembari tersenyum tulus.
Sebuah tawa kecil pun terselip keluar dari bibirnya. “Sudah ya kak, aku pulang dulu.”
Kusaksikan sosoknya berjalan gontai menuruni tangga, membiarkanku terus terdiam terpaku pada punggungnya selagi ia melangkah. Diiringi tiupan angin sore yang menerbangkan ujung kemejanya, menyisir jejak rambutnya, membingkainya dalam satu lagi momen sempurna.
Mengapakah aura itu selalu saja berhasil menghipnotisku, menjadikanku diam tak berdaya di hadapan pesona dirinya?
Mengapakah kehadirannya selalu sanggup menghapus segala keluhkesahku dan membuatku kembali bahagia?
Aku pun tak kuat menahan godaan untuk berteriak memanggilnya sekali lagi. “Hey!”
Ia langsung berbalik, bingung. “Apa kak?”
“Sampai ketemu besok!” seruku lantang, mengatupkan kedua tangan membentuk corong di sekeliling mulutku sembari tertawa lebar. “Jangan sampai telat lagi ya!”
Tulus, ia ikut tertawa. Memandangku sekali lagi, mengatakan sejuta kata tanpa perlu mengutarakannya dengan barisan kata-kata. Hanya dalam benak saja.
“Iya! Jangan khawatir, sayang…”
…Kaulah matahari dalam hidupku
Dan kaulah cahaya bulan di malamku
Hadirmu s’lalu akan kutunggu
Cintamu s’lalu akan kurindu
Selalu denganmu… Kasihku, slamanya
Selalu denganmu… Cintaku, bersama…
Tahukah kau diriku tak sanggup hidup bila kau jauh dariku?
Kuingin dipelukmu, s’lalu…
…Kaulah matahari dalam hidupku
Dan kaulah cahaya bulan di malamku
Hadirmu s’lalu akan kutunggu
Cintamu s’lalu akan kurindu
Selalu denganmu… Kasihku, slamanya
Selalu denganmu… Cintaku, bersama…
Tahukah kau diriku tak sanggup hidup bila kau jauh dariku?
Kuingin dipelukmu, s’lalu…