Dimanapun
kau berada.
sahabatmu
yang tak pernah kau sadari keberadaannya.
“Branjak pergi menemui segala sesuatu yang sering kita sebut masalah bukan berarti kita akan menjauh dari masalah. Ketika beranjak dewasa nanti, akan ada beberapa masalah yang menampar kita sampai jauh ke dalam pikiran kita, memaksa kita bertindak sesuai dengan logikan dan mencoba berdiri menantangnya”--KG
Benar
saja dan aku membenarkan kalimat itu. Sejenak berkaca pada diri di sela sela kesibukan
pikiran meniti hari dan akan ada masa dimana kita berpikir siang tak seindah dulu dan malam lebih
memberikan warna. Memandang sendu langit malam adalah hak setiap insan, tak ada
yang bisa membatasi hal itu kecuali kita sadar bahwa ketika kita tengah
merintih dan memandangi langit malam yang terlihat sendu di mata kita. Ada
segelintir orang yang sedang berusaha menantang sendunya langit malam. Berdiri
tegak dan melangkah dengan pasti. Masalah di hidup ini bukan saja untuk kita
nikmati kepedihannya dan menjatuhkan kita ke kegelapan yang membawa kita
berpikir bahwa setelah kegelapan ini pasti akan muncul berjuta warna di hidup
kita namun dalam penerapannya itu hanya ada di pikiran kita. Tanpa melakukan
apapun kecuali merenung kita tak akan mendapatkan pelangi yang indah dari hidup
kita. Sekarang berdiri, bukan waktunya tuk istirahat lagi. Berhentilah
menikmati kepedihan hati. Ini hidup kita dan kitalah yang mampu membuatnya
indah.
Silahkan
berdusta pada diri dan berkata tak kan ada lagi yang peduli. Silahkan bergelut
dengan perasaan yang semakin lama semakin menusuk itu. Silahkan saja diam dan
berdiam diri menikmati atsmosfer kamar yang kian panas menyaksikan
pembicaraanmu dengan dinding kamar. Tak ada yang bisa melarangmu tentang hal
ini karna sekali lagi aku katakan bahwa ini hidupmu. Tapi pikirkanlah tentang
keindahan yang ada di luar sana. Sadarlah bahwa ribuan bintang bertaburan di
langit mu yang kau anggap kelam ini. Mereka berbondong bondong bersatu meski
mereka tahu hanya dapat memberikan sedikit cahaya padamu tapi perjuangan mereka
tuk menyinari mu lebih dari apa yang bisa kau bayangkan. Coba melangkah keluar
kamar, coba berjalan di tengah kesunyian, cobalah sekali saja kau hadapkan paras
ke lagit. Disana kau kan dapati senyuman dari orang orang yang menantikan
senyumanmu lagi.
Pergilah
ke tanah lapang. Berteriaklah sekeras kau mau tapi jangan rendahkan dirimu
karena sesuatu. Pergilah ke taman bunga dan tengoklah kemanapun kau mau tapi
jangan pernah salahkan mereka jika mereka lebih indah dari mu. Rumput tak
seindah tulip dan aku yakin kau pernah menginjaknya. Sekarang pergilah
mendekati tulip dan coba injak dia. Seketika keindahannya tak berbekas lagi tak
seperti rumput.
Aku
pernah berjalan melewati taman mawar dan melihat seorang anak memetik setangkai
mawar. Tapi setelah itu pohon tak mengemis ngemis minta setangkai bunga
terindahnya itu di kembalikan lagi. Karna dia yakin suatu saat nanti dia mampu
memperlihatkan pada dunia. Memberi tahukan pada dunia bahwa dia memiliki satu
tangkai lagi bunga mawar yang indah lagi meskipun tak dapat dia lakukan dalam
waktu singkat tapi keyakinannya itu mampu membuatnya bertahan melalui hari hari
demi munculnya bunga mawar yang lebih indah dari yang terpetik itu. Bayangkan
jika saat itu dia hanya bisa merenungi nasibnya. Jangankan matahari, manusia
pun tak kan lagi sudi melihatnya.
Belajarlah
dari matahari. Meski dia sangat mencintai bumi pertiwi ini tapi ketika dating
gelap dia ikhlas membiarkan rembulan menerangi bumi pertiwi meski dia tahu
bahwa sebenarnya rembulan tak mampu memancarkan sinar sendiri.
“untuk apa kau mengemis ngemis pada orang yang telah telak menyakitimu? Bukankah kau seharusnya sadar bahwa ini petunjuk dari tuhanmu bahwa dia tak sebaik yang selama ini kau pikirkan? Untuk apa kau menangis dan memohon dia untuk kembali, bukankah kau ini masih punya harga diri? Bukan seperti ini arti perjuangan cinta!!”--pratamanovelis
Tulisan ini telah terbit secara online di KOMPASIANA silahkan klik DISINI
