Senja kota ketika rasa mulai terasa
beriris pedih seiring getir mendera
perlahan biru kuning meninggalkan merah merona
sudah sejak siang tadi awan tak mampu terhempas
merangkak melintas batas
menjelma meniru surya
wahai pemilik dusta
mengapa masih saja tertahan selembar kertas?
saya memiliki rasa?
rasa saudara itu milik siapa?
lantas saudara itu di pihak mana?
terlihat lagi gumpalan getir menderu
menggetarkan lagit yang kian memerah
merekah lagi bunga langit
menetes lagi mewakili setiap jeritan
setiap celcius drajat tak terhitung
setiap langkah yang di paksa melangkah
selamat sore kota jogja
maaf aku tak sempat menatap senja mu