Rintihan Komputer Tua ~ pratamagta

Tuesday, September 10, 2013

Rintihan Komputer Tua

tataplah tegas rangkaian bintang-bintang. Cahayanya sedang gemerlapan bak lentera neon yang teramat
menyilaukan mata. Berhayalah sedemikian rupa, mungkin aku dapat menggapainya.
Namun apakah benar itu sebuah bintang atau deretan lampu jalan?
itu kah impian dan cita cita mu?
Tataplah jauh-jauh sana.
Bukankah kamu tak pernah menatap yang seperti itu sebelumnya, apa benar itu bintang? Salah satu bintang terbesar dan menyilaukan mata mu hingga melucuti segala ego mu.
Sibuklah terus dengan semua hal ini. Memangnya kau tak peduli pada mesinku yang memanas.
Siang malam engkau duduk di depanku, meninggalkan orang yang kau sayangi. Membiarkannya pergi berlalu.
Memangnya apa yang kau pandang. Deretan angka,huruf dan symbol yang kau sebut Script.
Semua rangkaian bintang di atas sana pun menyangkal apa yang kau pandang itu bagian dari hidupmu.
Masa bodoh berlarilah tinggalkan kekasihmu itu yang sedang menanti setiap tetes perhatianmu, karena egomu yang mementingkanku.
Ribuan jiwa memandang lesu engkau.
Ribuan bintang di langit menertawakan mu.
Sepatu kulit yang kau semir tadi pagi tak kau hiraukan menyentu tanah penuh becek.
Tatapan sayu mu membulat tajam ke layarku.
Ribuan jiwa menangisi apa yang mereka lihat. Tapi engkau masih tak logis masih saja menatapku, menekan setiap tombol di keyboardku.
kenapa kau tak berteriaklah dan melolonglah sesuka hati mu. Berjam jam diam tak bersuara.
Ikutlah menangisi kemalangan mu.
Semua angan tentang rangkaian bintang yang kau pandangi penuh tanya itu, hanya melambungkan asap tebal ke atmosfir bumi menembus tingkap-tingkap langit.
Teruslah tersedu pilu memikirkan setiap lembaran lembaran itu. Kertas kertas ini yang sedang di timang lembut oleh mu, pantas saja kekasihmu meronta.
Semua ego tentang kegiatan mu membuat mu gila dan membatu hati mu.
Teruslah menangis karena perutmu melilit, teruslah menangis karena engkau kini lemah tak berdaya.
Dan teruslah menatap bintang di langit malam, dengan tatapan seduh mu itu.
biarkan tubuhmu terbaring sejenak. Tinggalkan aku sejenak. Tataplah sejenak dunia luar.
Esok kau hanya berharap menemukan sedikit senyum pada dirimu.
Esok pula gerangan sosok bayangan mu tercium halus melewati embun malam di kamar ini lagi. Sambil menatap layarku, di temani lampu kamar yang redup dan kebisingan di luar kamar mu.
matamu memerah bak bunga mawar merekah..
Engkau bingung engkau putus asa sesaat, menatap bayangan semua orang yang mendukungmu, jauh disana
Tersenyum dan mendengarkan ia memanggil mu! Akhirnya engkau mempunyai waktu untuk berbaring dengan senyuman.
Engkau hanya tersenyum membawa semua cerita yang engkau miliki untuk mereka dengar. seseaat kembali menatapku.
Sekejab dua bintang di langit bercahaya sangat terang, mungkin engkau telah bergabung menjelma menjadi dua bintang di langit malam saat ini.
Hembusan embun angin malam membawa melodi kesan dingin dan suram.
Semangat mengalir deras hingga menyongsong pagi hari nanti, andai aku dapat berucap, ku paksa kau meninggalkanku sejenak. Sayang aku hanyalah serangkaian mesin yang kau sebut komputer.