Energi Cinta Leila di Capoeira ~ pratamagta

Saturday, August 11, 2012

Energi Cinta Leila di Capoeira


Mentari jingga hampir tenggelam menuju peraduannya di balik gurat perut bumi. Rona senja berpendaran sendu menghiasi dedaunan rimbun di setiap sudut kota Pekalongan. Ratusan burung kecil sang penghuni kota Batik bergegas kembali meringkuk di dalam sarang tersembunyi.

Gantian kelelawar siap-siap berpesta, mencicipi  ranumnya buah merah merekah di pucuk dahan.

Sore ini adalah untuk yang ke sekian kalinya Leila pergi bersama Bella, sepupunya, ke tempat latihan seni bela diri Capoeira di samping Krematrium tepi pantai di Pekalongan.

Dentuman alat musik samba khas Negara Barsil yaitu pandeiro dan gendang   atabaque yang terbuat dari kulit kerbau serta gemerincing nyaring agogô yang mengiringi para capoeirista beraksi, seolah selalu memanggil-manggil nama Leila untuk larut dalam kelincahan gerak Sony.

“Kalau tertarik dengan olah raga  Capoeira ini, cepat saja  bergabung jadi capoeirista. Jangan cuma nonton terus,” kata Bella  mengingatkan Leila seraya  meneguk sebotol air mineral dingin.
Saat itu Bella dan teman-temannya yang lain sedang istirahat.

Leila mengulum senyum. Sebab bukan itu maksud dirinya meluangkan waktu ke tempat latihan  Capoeira ini. Ia  datang ke tempat itu hanya untuk sekedar dapat bertegur sapa dan memandangi wajah Sony.

Lelaki tersebut telah mencuri perhatian Leila. Setiap gerakan yang dilakukan Sony saat latihan Capoeira selalu datang dalam setiap tidurnya.

Di mata Leila, segala yang ada pada Sony sungguh sempurna. Dia tampan, dan pandai menghargai wanita serta tentu saja pandai seni beladiri Capoeira.

“Aku ikutan jadi capoeirista? Sepertinya aku tidak berbakat olah raga bela diri ini.”

“Lalu mengapa rajin sekali menemani aku latihan?”

“Aku ke sini cuma iseng saja. Mau dengar musik samba dan nonton para laki-laki  ganteng beraksi melakukan gerakan ginga.”

Ginga merupakan suatu gerakan dasar Capoeira. Gerakannya mirip kuda-kuda dalam ilmu beladiri lainnya.

“Apa? Apakah aku tak salah dengar?”

“Apakah ada yang salah?”  Leila balik bertanya.

Jawab Bella, “Sedikit…kalau Torra tahu bahwa kamu kesini cuma untuk melihat lelaki ganteng, pasti dia marah.”

“Kurasa Torra tidak akan pernah marah sedikit pun.”

“Kau yakin, Leila?”

“Ya, sebab Torra agaknya tak pernah merasa memiliki aku. Mungkin bagi dirinya, aku ini hanya pelengkap dalam kehidupan rumah tangga kami.”

“Wah, masak? Sedang bertengkar dengan suamimu itu, ya?” selidik Bella.

“Tidak juga. Maksudku, sudah dua tahun belakangan  ini aku dan  Torra  tidak pernah bertengkar. Kami baik-baik saja.”

Leila  membuka tasnya. Dia mengambil sebotol air mineral.

“Aku mau menawarkan air mineral ini untuk Sony,” kata Leila sambil melangkah ringan mendekati Sony dan teman-temannya yang sedang beristirahat.

“Aku butuh teman untuk berbagi,”  tambah Leila.

Bella menggeleng kepala. Dia menebak dalam hatinya bahwa sepupunya yang berusia dua tahun lebih tua darinya itu sedang mengalami masa puber kedua.

“Hop! Tapi tenang saja. Mudah-mudahan suatu hari nanti aku ikut jadi capoeirista,” imbuh Leila.

Setahu Bella, semasa mereka masih sama-sama remaja dulu, Leila adalah gadis pendiam yang sulit mengungkapkan perasaannya, apalagi mengekspresikannya.

Semasa duduk  di bangku SMP dulu, sepengetahuan Bella,  sepupunya itu pernah jatuh cinta pada teman sekelasnya yang jago main volleyball. Sayang si lelaki yang dia taksir itu tidak pernah tahu kalau Leila diam-diam naksir berat. Buntutnya ketika akan lulus dari bangku SMP, Leila patah hati sebab si jago volleyball itu sudah punya pacar  adik kelasnya.

Waktu SMU juga begitu, Leila dua kali jatuh cinta. Namun dipendam begitu saja. Alasannya klasik, katanya tidak pantas seorang perempuan yang lebih dulu mengatakan isi hatinya. Jadilah Leila bagai pungguk merindukan bulan.

Setelah Bella dan Leila sama-sama sibuk kuliah di universitas yang berbeda, Bella tak tahu lagi nasib percintaan Leila.

Hingga suatu hari setelah lulus kuliah,  Leila tiba-tiba mengumumkan rencana pernikahannya  bersama Torra.

Bella sendiri tidak banyak tahu tentang siapa calon suami Leila tersebut.

Dalam pernikahan tersebut, Leila dan Torra dikaruniai tiga orang anak laki-laki tampan…

Bella sesekali melayangkan pandang ke arah Leila dan Sony yang sedang berbincang akrab. Entah apa yang sedang mereka bicarakan.

Wajah cerah ceria tampak terlukis di wajah Leila. Dalam hatinya Bella berdecak, seumur hidupnya belum pernah dia melihat sepupunya tersebut sebahagia itu.

Apakah Sony yang menjadi alasan Leila untuk setia menemani Bella latihan seni bela diri Capoeira?  Begitu Bella menebak.

Pesona musik samba kembali terdengar. Suara dentuman alat musik ritmis yang ditabuh tiga laki-laki capoeirista berambut gondrong kembali menggema.  Melantunkan  nyanyian riang mengiringi para  capoeirista mengayun-ayunkan kaki dan tangannya membentuk gerakan yang indah.

Mata lentik Leila kembali hanyut mengikuti gerakan tubuh Sony yang mengentak-hentak.   Ada getar nuansa indah hadir di relung hatinya.

Leila bertanya jauh ke dasar hatinya yang paling dalam. Apakah ada yang salah dengan perasaannya kali ini bila dirinya terpesona pada seorang lelaki tampan di  Capoeira?  Ups? Lelaki anggota Capoeira itukah atau sesungguhnya Leila jatuh cinta pada seni beladiri Capoeira itu sendiri?

Wanita itu coba menelusui jejak masa lalunya. Mencoba memahami gejolak indah yang ada di hatinya.

Sejak kecil dia butuh cinta dan kasih sayang. Sebuah rasa yang tak pernah dia dapatkan secara utuh.

Sejak kecil dia sudah hidup terpisah dari kasih sayang kedua orang tua. Kedua orang tuanya memilih hidup terpisah dengan alasan yang  tidak pernah Leila ketahui sampai detik ini. Kedua orang tuanya telah membungkus misteri itu  rapat-rapat…

Semula, menikah dengan Torra adalah suata momentum sejarah dalam dirinya untuk menutup lembar pahit dalam hidupnya yang telah kehilangan kasih sayang kedua orang tuanya.  Dia mengira menikah dengan Tora merupakan keputusan yang paling tepat. Dia berharap Torra dapat melengkapi kekosongan batinnya yang butuh kasih sayang dan perhatian.

Namun harapan itu ternyata tidak sesuai dengan kenyataan. Membuat Leila merasa frustrasi.

Perjalanan pernikahannya terasa hambar.

Pagi-pagi sekali Torra sudah berangkat ke kantor. Tengah malam dia baru pulang. Kalau libur, Torra lebih asyik bersama teman-temannya memancing  atau mengendarai moge alias motor gede menyusuri jalan kota Pekalongan. Seolah Leila tiada pernah ada di dalam lembar kehidupan Torra.

Bukan rutinitas seperti itu yang diimpikan Leila. Dia ingin diajak nonton film berdua di bioskop seperti masa-masa pacaran dulu, makan berdua di kafe sambil mendengarkan musik romantis, merayakan hari ulang tahun perkawinan dengan setangkai mawar merah di atas tempat tidur, dan…beribu kejutan romantis yang tidak pernah diberikan satu kali pun dalam perjalanan kehidupan perkawinan yang telah dilalui pasangan Leila-Torra.

Yang lebih menyakitkan lagi bagi Leila adalah Torra tidak pernah merisaukan jika Leila pergi dari rumah selama berhari-hari. Hati Torra tidak pernah tergerak sekalipun untuk menjemput Leila pulang ke rumah. Dia hanya menelpon dengan tenang seraya menanyakan kabar Leila, seolah-olah tak ada yang perlu dikhawatirkannya.

Padahal saat itu Leila ingin Torra menjemputnya dengan pandangan cemburu yang dibungkus dengan sedikit bumbu amarah cinta.

Ya…sedikit amarah karena cemburu, canda tawa, pujian, rayuan, perhatian, dibukakan pintu mobil bila hendak masuk kedalam mobil, ciuman di kening sambil membisikkan kata I love you, hm…kejutan kecil yang romantis…agaknya semua itu tidak pernah ada dalam kamus hidup Torra.

Padahal semua perhatian kecil seperti itulah yang dibutuhkan Leila…yang dibutuhkan semua kaum wanita pada umumnya di belahan kutub mana pun di muka bumi ini. 

Leila pun enggan mengungkapkan sisi ruang batinnya yang hampa tersebut kepada Torra.

Akankah semua impiannya tersebut dapat diberikan oleh Sony? Siapa peduli pada diri Leila walaupun melolong panjang bak serigala betina yang minta dikasihi dan diberikan limpahan kasih sayang!

Leila seolah baru tersadar dari tidur panjangnya.

Pada bulan-bulan berikutnya, kenyataannya, Leila baru menyadari, ternyata bukan lelaki tampan yang bernama Sony itulah yang membuatnya seolah mendapatklan energi cinta dan bahagia.

Namun seni bela diri Capoeira-lah yang memberikan banyak energi cinta pada dirinya. Energi untuk belajar mencintai diri sendiri…menghargai diri sendiri…menyenangkan diri sendiri…memanjakan diri sendiri dalam sebuah komunitas baru yang dipenuhi dengan aroma persahabatan. Itulah  Capoeira.

Kini Leila telah menjadi capoeirista, sebutan untuk orang-orang yang menjadi pemain Capoeira. Saat belajar Capoeira, selain berlatih jurus-jurus tertentu, para capoeirista ternyata juga diajari filosofi, nyanyian, dan memainkan alat musik khas Brasil seperti pandeiro, gendang  atabaque, agogô, dan yang tak kalah pentingnya adalah berimbau yaitu instrumen yang bentuknya seperti busur panah.

Beberapa orang dari  capoeirista akan memainkan alat musik khas Brasil tersebut. Kemudia pemain Capoeira akan berkumpul melingkar dan bernyanyi lagu-lagu irama samba.

Selanjutnya, semua  capoeirista maju berpasangan secara bergantian untuk saling beradu. Namun gerakan diantara para capoeirista yang sedang beradu ini tidak serta merta bertujuan menjatuhkan lawan. Inilah bedanya dengan bela diri lain. Dalam  gerakannya terlihat cendrung  lambat.  Dua capoeirista yang sedang bertarung tersebut bak penari gagah perkasa.  Oh indahnya.

Ya, Torra adalah Torra. Mungkin dia bukan tipe suami romantis.  Leila beranggapan bahwa sungguh tak adil jika dirinya memaksakan kehendaknya agar Torra berubah sesuai impiannya.

Kini Leila lebih memilih untuk memberikan kebahagiaan kepada dirinya sendiri, tanpa perlu menunggu Torra memberikannya.

Semuanya sekarang mengalir seperti apa adanya, Leila bisa berbahagia dengan menjadi capoeirista. Leila bisa bahagia juga dengan kembali melukis di atas kanvas seperti dahulu lagi untuk dijualnya di galeri lukisan milik Bella di Bali.

Segala hal yang dilakukannya sekarang telah membuatnya lebih berbahagia.

Menurut sejarahnya, Capoeira adalah sebuah seni bela diri yang dikemas dengan tarian.

Sekitar tahun 1500-an orang-orang Afrika yang dijadikan budak di Brazil secara diam-diam berlatih  Capoeira dengan  tujuan mempertahankan diri dari tindakan kesewenang-wenangan sistem perbudakan yang ada pada waktu itu.

Nah, agar tidak dicurigai saat berlatih Capoeira, maka setiap gerakan yang mereka lakukan selalu disertai iringan alat musik tradisional dan nyanyian yang indah.

Jadi Capoeira merupakan  sebuah sistem bela diri tradisional yang dikembangkan di Brazil oleh budak-budak Afrika.

Tahun 1900-an keindahan bela diri Capoeira mulai tersebar ke seluruh penjuru dunia.

Semangat orang-orang Afrika di abad enam belas itu memberi inspirasi bagi Leila untuk tak cengeng menangisi nasib.