sepinya mengalahkan malam
keringnya bagaikan gurun sahara
heningnya seperti dalam ruang tanpa suara
hampanya kala merindu
ada satu bagian tubuh yang sesak itu
entah dimana,
tabibpun mengaku kalah
yaaa...
rindu menatap tanpa henti mata batin
membuat emosi yang aneh
tujuh putaran tak menemani
suaranyapun tak ada
hanya nama dan parasnya
terpatri
terhayal dalam buai
yang maya
Bagaimana Nanti?