Aku mang penulis tapi aku bukan penulis fiktif, crita ini aku tulis berdasakan kisah nyata salah satu temanku yang sekarang masih sekolah di smk telkom purwokerto, demi masa inilah cerita yang bisa membuatku berpikir kalau penghianatan sudah berkembang dimana – mana (aku juga korbannua loh_”). Hehehe,,, persahabatan hanya dijadikan kedok untuk menutupi semua kebiadapannya… mf tapi temanku Lana (bukan nama sebenarnya)kemarin siang jumat 14.30 menceritakan semuanya kepadaku dengan penuh air mata tapi aku tetap tak sependapat dengan jalan pikirannya. Cinta memang buta, tak memandang apapun. Tapi ingat kawankeputusan tu lahir mendahului penyesalan… aku tulis cerita ini atas permintaannya dan berharap agar kalian semua yang sudah membaca crita ni bisa merasakan bagaimana posisi Lana saat itu….
Semarang,21 mart 2008
“Hai!” kupeluk leher Vinda dari belakang. “Kau mau coklat?” kuulurkan sebatang coklat yang telah kukupas kulitnya.
Vinda meraba-raba tanganku dan mengucapkan terimakasih dengan nada yang tak jelas, setelah menemukan coklat itu.
“Kenapa kau di luar? Kita masuk, yuk!” ujarku sambil bersiap mendorong kursi rodanya.
Tapi Vinda menggeleng. “Aku ingin di sini.”
Kubuang nafas berat. Sejenak kemudian kuambil kursi dan duduk di samping Vinda.
“Kau sedang sedih, Vinda?” tanyaku hati-hati.
“Tidak. Aku hanya ingin menghayati suara hujan dari sini,” jawabnya. Dan Vinda tersenyum. Senyum yang jarang sekali kulihat lima bulan terakhir ini. Setelah sebuah kecelakan merenggut penglihatannya, juga melumpuhkan kedua kakinya.
“Setiap mendengar irama hujan, aku merasa bahwa aku memilikinya…”
Aku mengernyit. “Memiliki hujan?”
“Ya. Karena aku tak bisa memiliki bintang.”
Aku mengerjap. Kugenggam erat tangan Vinda, berharap aku bisa memberinya kekuatan lewat genggaman itu. Aku tahu hati Vinda menangis, meski kristal-kristal bening tak lagi mampu jatuh dari kedua bola matanya.
“Bagaimana kabar bintangku, Lana?”
Rasa sesak menghantam hatiku tiba-tiba. Bayangan Raka melintas cepat. Vinda selalu menyebut Raka sebagai ‘Bintangku’. Bintang yang begitu jauh. Meski begitu, Vinda sudah cukup senang hanya bisa melihatnya saja. Tapi itu dulu, saat dia masih bisa menatap Raka dengan kedua matanya. Entah kalau sekarang…
“Dia baik-baik saja,” jawabku singkat. Kulihat Vinda tersenyum. Entah manis atau pahit.
“Vinda, kenapa kau suka hujan?” tanyaku mengalihkan pembicaraan. Aku tak ingin Vinda terlalu lama mengingat Raka.
“Karena aku tak bisa menangis lagi. Aku ingin hujan menggantikan airmataku.”
Aku tertegun.
“Maukah kau jadi kabut untukku, Lana?”
“A-apa ? ? ? ??”
“Maukah kau menjadi kabut yang menyertai hujan dan menemaniku mengenang bintangku?”
Aku mengangguk, sekalipun aku tak mengerti apa maksud kalimat itu. “Iya, aku akan jadi kabut untukmu. Aku janji. Aku akan selalu menemanimu…”
“Terima kasih…” Vinda tersenyum lagi “sayang, aku tak bisa menulis puisi lagi,” dia mendesis.
“Oh… aku akan menuliskannya untukmu, Vin. Katakan saja, dan aku akan menulisnya,” dengan tergesa kucari agenda di dalam tasku.
Vinda mengangguk, dan mulai membuka mulutnya.
“sepotong rasa terdiam di rahim suara……
menunggu terlahir……
menanti selimut senja bergoyang menguak mimpi panjang…..
sepotong rasa itu belum juga bernama…..
ia hanyalah sebuah kebodohan di sudut cahaya yang tumpul…..
cahaya itu mungkin dirimu, mungkin juga dirinya…..
atau mungkin bukan siapa-siapa……”
Diam-diam aku menangis,
T_T
“Aku ingin melihat bintang, Lana…” kutangkap getar pada suara Vinda.
Dan aku terlalu lemah untuk tidak menangis. Aku telah terisak memeluknya.
“Langit mendung malam ini, Vin. Bintang tertutup awan hitam. Mereka tak tampak,” bisikku.
“Apa Tuhan benci padaku, Lana?”
Aku menggelang. Gelengan yang tak mungkin terlihat olehnya. “Tidak, Vinda. Tuhan sayang padamu,” jawabku.
“Lalu kenapa Dia mengambil penglihatanku? Padahal aku ingin melihat bintang. Aku ingin bintang, Lana…”
Aku memeluknya labih erat. “Kau masih bisa mendengar irama hujan, Vinda. Hujan itu milikmu.”
“Tapi bintang bukan milikku,Lana…”
“Bukankah kau punya hujan dan kabut?”
“Tapi aku ingin bintang, Lana…”
“Bintangmu selalu tersenyum, Vin. Seperti yang selalu kau harap.”
Senyum Vinda hanya segaris tipis.
“Pasti ada seorang gadis yang sangat dicintainya, ya kawan? Kau tahu gadis itu, Lana?”
Aku mengerjap. “Gadis yang…”
“Pacar Raka,” potong Vinda. “Kau tahu siapa dia?”
Aku tertegun sejenak. Seribu satu rasa tercampur aduk di hatiku. Tapi, tak ada satu pun dari sekian rasa itu yang membuatku tenang.
“A-aku tahu…”
“Pasti dia sangat cantik, ya?”
“Ngggg… tidak, kok. Dia biasa saja.”
“Namanya siapa,Lana?”
“Aku tak tahu namanya,” ujarku berdusta, “aku hanya pernah melihatnya beberapa kali.”
“Dia dan Raka pasti bahagia. Iya kan, Lana?”
“I-iya…”
Lalu hanya gelombang hening yang tercipta di antara kami. Lama. Dan aku harus merajut luka-lukaku agar Vinda tak ikut terluka olehnya. Karena Raka… Ya, karena dia.
^_^
Purwokerto, 3 september 2008
Raka menatapku heran saat aku menumpahkan minumanku untuk kedua kalinya.
“Kau sakit, La?”
Aku mengeleng. “Aku baik-baik saja.”
“Tanganmu gemetar…” Raka menyentuh tanganku. Aku segera menepisnya.
“Kau kenapa?” ada kerutan di dahinya.
“Nanti aku pulang lagi, sayang,” ujarku akhirnya.
Aku dan Raka sekolah di SMK Telkom Purwokerto, yang mengharuskan kami tinggal di kos. Dulu, Vinda pun ada bersama kami. Ah, andai saja sekarang pun masih begitu…
“Minggu lalu kau sudah pulang, kan? Masak mau pulang lagi?” Raka menatapku heran. Aku memang biasa pulang sebulan sekali.
“Aku mencemaskan Vinda,” lirih suaraku sambil menghindari tatapan mata Raka.
“Kasihan dia…” Raka setengah berbisik lirih...
Lebih kasihan lagi andai kau tahu apa yang dirasakannya terhadapmu, tambahku dalam hati.
Raka menarik nafasnya dalam. “Ya sudah. Aku titip salam buat dia, ya… Aku tidak bisa ikut pulang. Aku hanya bisa mendoakannya dari jauh.” Raka menggenggam tanganku. Kali ini aku tak menolak lagi.
Aku menatapnya. Ah, Raka memang begitu baik. Tak salah kalau Vinda sangat mencintainya. Dan aku tenggelam dalam tatapannya yang hangat.
^_^
Semarang,13 september 2008
Kupercepat langkahku keluar dari toko pernak-pernik itu. Sesekali kutatap kalung berbandul ungu di genggamanku. Bandul berbentuk bintang. Aku akan memberikannya pada Vinda. Ah, tapi kenapa tanganku gemetar?
Aku mulai berlari saat tiba-tiba hujan turun. Hujan yang mengingatkanku pada Vinda. Sedang apa dia sekarang? Ya, mungkin saja dia sedang memandangi hujan ini dari tempatnya berada. Mendengar irama hujan yang sangat disukainya.
Tapi tepat di halaman rumah Vinda, langkahku terhenti. Hei, kenapa banyak sekali orang?
Dan aku belum sempat berkata apapun, saat seseorang menarik tanganku. Arni, adik Vinda. Kenapa dia menangis?
“Kak Vinda sudah pergi,” suara Arni bercampur isak.
“Pergi?” aku hanya sanggup tertegun. Vinda pergi? Apa maksudnya?
Belum sempat aku bertanya, Arni telah berkata lagi, “satu jam yang lalu, dia memanggil-manggil hujan. Kak Vinda bilang, dia ingin menemui bintangnya. Dia bilang, semalam dia mimpi melihat kabut menyelimuti bintang. Dan dia ingin berada di antara kabut dan bintang itu…”
“Kabut? Bintang?” tanyaku histeris.
Arni mengangguk. “Satu jam yang lalu, dia memanggil-manggil hujan. Lalu dengan kalap mengerakkan kursi rodanya ke jalan raya. Kursi roda itu meluncur tak terkendali. Dan saat sebuah taksi lewat, kak Vinda…”
Aku tak menunggu kelanjutan kalimat itu. Aku segera berlari ke arah kerumunan orang yang mengurus jasad Vinda.
“Vinda…” desisku dengan hati perih. Kugenggam kalung di tanganku erat-erat.
“Kenapa kau pergi? Lihat, kubawakan bintang ke pangkuanmu. Aku datang bersama hujan, Vinda… tidakkah kau dengar iramanya? Hujan itu milikmu, Vinda. Milikmu…”
Aku menangis. Mendadak, aku benci diriku sendiri. Bayangan Raka muncul tiba-tiba.
Raka, andai aku tahu, betapa besar cinta Vinda padamu. Seharusnya aku.….. , aku tak boleh membiarkan ketulusan itu tersia-sia. Seharusnya kukatakan padamu, bahwa kau tak boleh mencintaiku, dan aku pun tak boleh mencintaimu… Cintanya lebih besar dari cintaku. Aku jahat telah membiarkannya menangis menunggumu, tanpa mengatakan apapun tentang cinta kita. Aku jahat, Ka… Aku jahat sekali…
“Ah, Vinda… mungkin kau pun membenciku sekarang. Maafkan aku dan semua kebodohanku. Maaf atas perasaan ini. Maaf atas kepengecutanku. Bencilah aku, Vinda…
Bencilah…
Tapi meski begitu, aku tetap ingin jadi kabut dan bersama hujan mengantar kepergianmu yang tanpa cinta …………………………………
Pratama Galang
Semarang,21 mart 2008
“Hai!” kupeluk leher Vinda dari belakang. “Kau mau coklat?” kuulurkan sebatang coklat yang telah kukupas kulitnya.
Vinda meraba-raba tanganku dan mengucapkan terimakasih dengan nada yang tak jelas, setelah menemukan coklat itu.
“Kenapa kau di luar? Kita masuk, yuk!” ujarku sambil bersiap mendorong kursi rodanya.
Tapi Vinda menggeleng. “Aku ingin di sini.”
Kubuang nafas berat. Sejenak kemudian kuambil kursi dan duduk di samping Vinda.
“Kau sedang sedih, Vinda?” tanyaku hati-hati.
“Tidak. Aku hanya ingin menghayati suara hujan dari sini,” jawabnya. Dan Vinda tersenyum. Senyum yang jarang sekali kulihat lima bulan terakhir ini. Setelah sebuah kecelakan merenggut penglihatannya, juga melumpuhkan kedua kakinya.
“Setiap mendengar irama hujan, aku merasa bahwa aku memilikinya…”
Aku mengernyit. “Memiliki hujan?”
“Ya. Karena aku tak bisa memiliki bintang.”
Aku mengerjap. Kugenggam erat tangan Vinda, berharap aku bisa memberinya kekuatan lewat genggaman itu. Aku tahu hati Vinda menangis, meski kristal-kristal bening tak lagi mampu jatuh dari kedua bola matanya.
“Bagaimana kabar bintangku, Lana?”
Rasa sesak menghantam hatiku tiba-tiba. Bayangan Raka melintas cepat. Vinda selalu menyebut Raka sebagai ‘Bintangku’. Bintang yang begitu jauh. Meski begitu, Vinda sudah cukup senang hanya bisa melihatnya saja. Tapi itu dulu, saat dia masih bisa menatap Raka dengan kedua matanya. Entah kalau sekarang…
“Dia baik-baik saja,” jawabku singkat. Kulihat Vinda tersenyum. Entah manis atau pahit.
“Vinda, kenapa kau suka hujan?” tanyaku mengalihkan pembicaraan. Aku tak ingin Vinda terlalu lama mengingat Raka.
“Karena aku tak bisa menangis lagi. Aku ingin hujan menggantikan airmataku.”
Aku tertegun.
“Maukah kau jadi kabut untukku, Lana?”
“A-apa ? ? ? ??”
“Maukah kau menjadi kabut yang menyertai hujan dan menemaniku mengenang bintangku?”
Aku mengangguk, sekalipun aku tak mengerti apa maksud kalimat itu. “Iya, aku akan jadi kabut untukmu. Aku janji. Aku akan selalu menemanimu…”
“Terima kasih…” Vinda tersenyum lagi “sayang, aku tak bisa menulis puisi lagi,” dia mendesis.
“Oh… aku akan menuliskannya untukmu, Vin. Katakan saja, dan aku akan menulisnya,” dengan tergesa kucari agenda di dalam tasku.
Vinda mengangguk, dan mulai membuka mulutnya.
“sepotong rasa terdiam di rahim suara……
menunggu terlahir……
menanti selimut senja bergoyang menguak mimpi panjang…..
sepotong rasa itu belum juga bernama…..
ia hanyalah sebuah kebodohan di sudut cahaya yang tumpul…..
cahaya itu mungkin dirimu, mungkin juga dirinya…..
atau mungkin bukan siapa-siapa……”
Diam-diam aku menangis,
T_T
“Aku ingin melihat bintang, Lana…” kutangkap getar pada suara Vinda.
Dan aku terlalu lemah untuk tidak menangis. Aku telah terisak memeluknya.
“Langit mendung malam ini, Vin. Bintang tertutup awan hitam. Mereka tak tampak,” bisikku.
“Apa Tuhan benci padaku, Lana?”
Aku menggelang. Gelengan yang tak mungkin terlihat olehnya. “Tidak, Vinda. Tuhan sayang padamu,” jawabku.
“Lalu kenapa Dia mengambil penglihatanku? Padahal aku ingin melihat bintang. Aku ingin bintang, Lana…”
Aku memeluknya labih erat. “Kau masih bisa mendengar irama hujan, Vinda. Hujan itu milikmu.”
“Tapi bintang bukan milikku,Lana…”
“Bukankah kau punya hujan dan kabut?”
“Tapi aku ingin bintang, Lana…”
“Bintangmu selalu tersenyum, Vin. Seperti yang selalu kau harap.”
Senyum Vinda hanya segaris tipis.
“Pasti ada seorang gadis yang sangat dicintainya, ya kawan? Kau tahu gadis itu, Lana?”
Aku mengerjap. “Gadis yang…”
“Pacar Raka,” potong Vinda. “Kau tahu siapa dia?”
Aku tertegun sejenak. Seribu satu rasa tercampur aduk di hatiku. Tapi, tak ada satu pun dari sekian rasa itu yang membuatku tenang.
“A-aku tahu…”
“Pasti dia sangat cantik, ya?”
“Ngggg… tidak, kok. Dia biasa saja.”
“Namanya siapa,Lana?”
“Aku tak tahu namanya,” ujarku berdusta, “aku hanya pernah melihatnya beberapa kali.”
“Dia dan Raka pasti bahagia. Iya kan, Lana?”
“I-iya…”
Lalu hanya gelombang hening yang tercipta di antara kami. Lama. Dan aku harus merajut luka-lukaku agar Vinda tak ikut terluka olehnya. Karena Raka… Ya, karena dia.
^_^
Purwokerto, 3 september 2008
Raka menatapku heran saat aku menumpahkan minumanku untuk kedua kalinya.
“Kau sakit, La?”
Aku mengeleng. “Aku baik-baik saja.”
“Tanganmu gemetar…” Raka menyentuh tanganku. Aku segera menepisnya.
“Kau kenapa?” ada kerutan di dahinya.
“Nanti aku pulang lagi, sayang,” ujarku akhirnya.
Aku dan Raka sekolah di SMK Telkom Purwokerto, yang mengharuskan kami tinggal di kos. Dulu, Vinda pun ada bersama kami. Ah, andai saja sekarang pun masih begitu…
“Minggu lalu kau sudah pulang, kan? Masak mau pulang lagi?” Raka menatapku heran. Aku memang biasa pulang sebulan sekali.
“Aku mencemaskan Vinda,” lirih suaraku sambil menghindari tatapan mata Raka.
“Kasihan dia…” Raka setengah berbisik lirih...
Lebih kasihan lagi andai kau tahu apa yang dirasakannya terhadapmu, tambahku dalam hati.
Raka menarik nafasnya dalam. “Ya sudah. Aku titip salam buat dia, ya… Aku tidak bisa ikut pulang. Aku hanya bisa mendoakannya dari jauh.” Raka menggenggam tanganku. Kali ini aku tak menolak lagi.
Aku menatapnya. Ah, Raka memang begitu baik. Tak salah kalau Vinda sangat mencintainya. Dan aku tenggelam dalam tatapannya yang hangat.
^_^
Semarang,13 september 2008
Kupercepat langkahku keluar dari toko pernak-pernik itu. Sesekali kutatap kalung berbandul ungu di genggamanku. Bandul berbentuk bintang. Aku akan memberikannya pada Vinda. Ah, tapi kenapa tanganku gemetar?
Aku mulai berlari saat tiba-tiba hujan turun. Hujan yang mengingatkanku pada Vinda. Sedang apa dia sekarang? Ya, mungkin saja dia sedang memandangi hujan ini dari tempatnya berada. Mendengar irama hujan yang sangat disukainya.
Tapi tepat di halaman rumah Vinda, langkahku terhenti. Hei, kenapa banyak sekali orang?
Dan aku belum sempat berkata apapun, saat seseorang menarik tanganku. Arni, adik Vinda. Kenapa dia menangis?
“Kak Vinda sudah pergi,” suara Arni bercampur isak.
“Pergi?” aku hanya sanggup tertegun. Vinda pergi? Apa maksudnya?
Belum sempat aku bertanya, Arni telah berkata lagi, “satu jam yang lalu, dia memanggil-manggil hujan. Kak Vinda bilang, dia ingin menemui bintangnya. Dia bilang, semalam dia mimpi melihat kabut menyelimuti bintang. Dan dia ingin berada di antara kabut dan bintang itu…”
“Kabut? Bintang?” tanyaku histeris.
Arni mengangguk. “Satu jam yang lalu, dia memanggil-manggil hujan. Lalu dengan kalap mengerakkan kursi rodanya ke jalan raya. Kursi roda itu meluncur tak terkendali. Dan saat sebuah taksi lewat, kak Vinda…”
Aku tak menunggu kelanjutan kalimat itu. Aku segera berlari ke arah kerumunan orang yang mengurus jasad Vinda.
“Vinda…” desisku dengan hati perih. Kugenggam kalung di tanganku erat-erat.
“Kenapa kau pergi? Lihat, kubawakan bintang ke pangkuanmu. Aku datang bersama hujan, Vinda… tidakkah kau dengar iramanya? Hujan itu milikmu, Vinda. Milikmu…”
Aku menangis. Mendadak, aku benci diriku sendiri. Bayangan Raka muncul tiba-tiba.
Raka, andai aku tahu, betapa besar cinta Vinda padamu. Seharusnya aku.….. , aku tak boleh membiarkan ketulusan itu tersia-sia. Seharusnya kukatakan padamu, bahwa kau tak boleh mencintaiku, dan aku pun tak boleh mencintaimu… Cintanya lebih besar dari cintaku. Aku jahat telah membiarkannya menangis menunggumu, tanpa mengatakan apapun tentang cinta kita. Aku jahat, Ka… Aku jahat sekali…
“Ah, Vinda… mungkin kau pun membenciku sekarang. Maafkan aku dan semua kebodohanku. Maaf atas perasaan ini. Maaf atas kepengecutanku. Bencilah aku, Vinda…
Bencilah…
Tapi meski begitu, aku tetap ingin jadi kabut dan bersama hujan mengantar kepergianmu yang tanpa cinta …………………………………
Pratama Galang
